Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Karyawan Swasta

Kelahiran Kotanopan Sumatera Utara.Menjadi penulis lepas di beberapa koran lokal Palembang dan nasional.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Darah Mawar

21 April 2017   11:40 Diperbarui: 22 April 2017   09:57 79 0 0
Darah Mawar
darah-mawar-58f98c6f7697739708e4d1d0.png

Prolog

Sebuah ruang yang sepi, pengap. Perempuan berbadan badak itu menyeruduknya. Dia melihat sekeliling, tak ada tempat meminta tolong. Hanya gagang sapu yang terbuat dari rotan yang bisa dijadikan senjata untuk menolong. Sekali tusukan ke selangkang perempuan itu, hanya menghasilkan “aduh” yang pelan. Dasar berbadan badak, alotnya bukan kepalang. Perempuan itu menghempaskannya ke atas kasur. Langit-langit ruangan seketika berputar. Pikirannya suram dan pudar.

“Bedebah!” Dia menggeram mengingat semua itu. Dia mengokang senjata, memasuki dunia ingatan. Dia menerobos pintu. Perempuan badak itu telah menghilang. Sepasang mata kecil dari sudut ruangan, mengilatkan luka. “Aku akan membalasnya! Aku akan membalasnya! Percayalah kepadaku!” Senjata itu meletus. Sepasang mata kecil itu hilang. Ruangan itu lenyap.

Sepuluh tahun lalu itu. Sepuluh tahun yang pasti akan terasa cepat bagi mereka. Tunggulah!

Tubuhnya bergetar menahan gejolak. Sepasang tangan halus dan lentik, mengelus pundaknya. Semuanya harus kembali normal seperti sediakala. Dia tersenyum, nyaris seperti seringaian. Pemilik tangan halus dan lentik itu mengambil begitu saja lembaran uang dari kantong bajunya. Sebuah kecupan genit mengakhiri segalanya. Dia harus bergegas. Dendam harus dibalas.