Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Karyawan Swasta

Kelahiran Kotanopan Sumatera Utara.Menjadi penulis lepas di beberapa koran lokal Palembang dan nasional.

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Cerpen | Tuan Marsis

21 April 2017   17:03 Diperbarui: 22 April 2017   01:48 424 9 1
Cerpen | Tuan Marsis
ilustrasi: shutterstock

Aku menulis terburu. Sangat terburu.

“Sudah selesai, Osman?” Lelaki itu melintas lagi, kali ke sepuluh dalam lima minggu ini.

“Sebentar, Tuan!”

“Sebentar? Selalu saja sebentar!” Dia berlalu sambil bersungut.

Aku memang seorang penulis, tapi bukan pengarang yang bagus. Apalagi untuk menulis surat untuk  dia. Haruskah aku berbohong telah membencinya? Umpama aku bisa membencinya hari ini, namun hari lain membantah, tentu tak lucu, kan!

Lagi pula bagaimana aku harus menulis kata-kata indah agar dia tak sakit hati? Tak cemburu, lalu meninggalkanku dengan amarah menggebu? Ah, sebenarnya aku masih takut kehilangannya!

Dulu sekali aku dan dia sangat akrab. Dalam setiap tulisanku, tanpa namanya, terasa hambar. Aku merasa tersanjung setiap kali kami bertemu. Bahkan dalam malam dingin dan berhujan, terasa hangatnya memeluk erat tubuhku.

Hingga waktu kemudian membiarkanku menerka-nerka apakah dia tulus menyintaiku? Bagaimanapun, seringkali di antara jeda tertentu, aku merasa dia tinggalkan. Aku cemburu jika dia terlalu peduli dengan urusan lain, atau lelaki lain, mungkin. Atau bukannya aku yang kemudian diam-diam sesekali melupakannya?

Pertemuan dengan Tuan Marsis adalah muasal keretakan hubungan kami. Di senja yang remang, dalam sebuah gerbong kereta malam, tanpa sengaja tempat duduk kami berhadapan. Aku sedang asyik menulis tentang hujan dan dia. Hanya sebuah puisi. Kendati sebuah puisi, tapi telah lima lembar kertas terbuang, menggumpal di sudut jok. Apakah sangat sulit bagiku mengutarakan rasa cinta?

“Cintamu kepadanya hanyalah kesia-siaan,” kata Tuan Marsis tiba-tiba. Kertas keenam akhirnya menemui ajal di sudut jok. Aku merasa terganggu. Tepatnya pada kata-katanya yang seolah menelanjangi.

“Darimana kau tahu?”

“Aku selalu tahu, dan selalu mau tahu.” Dia tertawa lirih. “Panggil aku Tuan Marsis!”

“Tuan? Hahaha! Bagaimana mungkin aku menjadi jongosmu?”

Dia tak tersinggung.

“Aku memiliki segalanya yang menjongoskanmu. Suatu saat kau akan percaya dia tak tulus menyintaimu. Bila kau besertaku, hidupmu akan lebih berwarna. Mau harta, aku punya. Kesenangan lain-lain, aku punya. Bahkan apa yang pernah dia berikan kepadamu dapat pula kuberikan. Sudahlah, jangan menjadi pungguk merindukan bulan!”

Perjalanan dalam kereta mulai membosankan, apalagi bersama lelaki sekelas Marsis. Aku tak yakin bisa bersahabat dengannya. Menjijikkan! Tak ada sama sekali yang menarik dari tampilan Marsis. Cuma, ucapannya sangat manis, seolah menelikung hati.

Pertemuan kami yang pertama itu kuanggap selembar kertas usang, yang bisa dibuang ke tong sampah. Sudah beratus kali aku berdekatan dengan seseorang dalam berbagai perjalanan darat, air dan udara. Semua bisa kunetralisir agar tak sampai mencederai cintaku kepadanya. Selalu saja ada pertemuan yang tak sengaja dengan beragam orang. Tentu saja ada perjumpaan, kemudian perpisahan, kemudian semua hilang ditelan waktu yang bergulir kencang.

Kau juga mungkin pernah mengalaminya. Mengenal seseorang di suatu tempat pada suatu masa. Bisa saja kalian menjadi sangat akrab. Atau, bisa saja menjalin cinta kilat, siapa yang tahu! Tapi seperti kataku, pertemuan itu seperti kilat juga, akan pupus. Bukankah ada dia yang telah menjalin cinta denganmu sekian lama? Yang selalu menunggumu kembali, kendati diatahu kau tak jujur tentang wangi parfum yang asing itu. Wangi parfum yang melekat di baju, sebelum kau sempat ke binatu.

Tapi sungguh, kali itu lain. Begitu keras usahaku menghilangkan Tuan Marsis dari ingatan dan harapanku, tubuhnya seolah mengkristal, padat membekuk. Kucoba membujuk hati agar lebih dan lebih menyintainya ketimbang si brengsek Marsis, toh ragu selalu melarung.

***

“Masih ada tulisan Mas dimuat di koran?” tanya istriku.

“Maksudmu yang belum ditranfer honornya?”

Dia meringis, lalu mengangguk. Sudah berulangkali keuangan kami menipis, hingga berulangkali pula aku menahan malu meminjam uang kepada saudara tuaku.  “Sudah diransfer semua. Tulisanku belum ada lagi yang dimuat. Sekarang yang jago mengarang banyak. Sedangkan lahan mengarang terbatas. Apalagi orang sekarang bosan dengan karang-karangan. Tak hanya penulis fiksi yang suka mengarang, juga pejabat, juga calon wakil rakyat.” Bicaraku melebar ke mana-mana. Itu sebenarnya hanya senjata, hingga topik pembicaraan kami hijrah dari masalah ekonomi ke masalah sosial-politik.

“Kapan ya hidup kita bisa lebih mapan seperti si Safri itu. Sekarang dia sudah memiliki mobil dua….”

“Juga beristri dua! Kau mau aku berbuat begitu?”

Hening.

“Mau?”

Dia menggeleng. “Aku hanya ingin mobil dua! Mas selalu pintar mengalihkan pembicaraan.”

Di hari lain wajahnya seterang purnama. Aku heran, padahal hampir dua minggu aku tak menghasilkan apa-apa berupa uang. Dan kutahu dia tak hanya telah mengutang di warung, juga menjual kalung emas.Kenapa tak ada hujan tak ada angin, dia berubah begitu?

Lebih terkejut lagi melihat hidangan di atas meja makan. Tak pernah-pernah lebih mewah dari sayur bening, ikan asin dan sambal belacan. Tapi kali itu ada ayam goreng, kari daging, setoples kerupuk udang, juga semangka yang merona merah. Dapat rejeki darimana dia? Atau, dia kembali ke jalannya? Terbayang aku temaram lampu jalan dan kaki-kaki jenjang yang menjaja di sepanjang trotoar.

“Jangan pernah menganggap aku seperti dulu!” Istriku langsung membantah, sebelum aku mengajukan kecurigaan.

“Lalu, darimana semua ini kalau bukan dari lelaki?”

“Ini memang dari lelaki!”

Sekelebat aku membayangkan kasur kusut dan selimut menggelimpang. Bau khas lelaki, juga rambut yang kasar.

“Nah, benar, kan?” Mataku menyelidik.

“Tapi ini bukan seperti lelaki yang sekarang bersarang di perkiraan Mas. Dia orang baik. Kenalan---ah... sahabat Mas. Tuan Marsis!”

Aku ingin tertawa terbahak-bahak. Ingatanku menjalar cepat ke wajah orang itu. Sialan! Tuan Marsis tahu kalau untuk merayuku meninggalkan dia bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Dia cerdas memanfaatkan orang-orang terdekatku.

Lambat, tapi pasti. Istriku mulai meminta macam-macam kepada Tuan Marsis. Juga dua anakku.

“Minta emas, dong!”

“Mobil, Pa!”

“Motor balap keluaran terbaru!”

“Baju di butik yang mahal itu!”

“Jalan-jalan ke Amrik!”

Mati aku! Untungnya semua itu mulus diluluskan Tuan Marsis. Bahkan suatu ketika aku  tergoda ingin memiliki mobil sedan edisi terbaru, besoknya mobil itu sudah berada di depan rumah.

Tetangga-tetangga heran. Bagaimana mungkin seorang penulis, tiba-tiba hartanya berjumpalitan? Kalau menuduh korupsi, tak ada pasal melakukannya. Penulis bukan pegawai. Mungkin lebih pas dicurigai memakai ilmu klenik. Pesugihan, misalnya. Tapi adakah Tuan Marsis sosok yang layak menjadi teman pesugihan? Untukku, no! Istriku?

Mataku jelalatan. Cemburu menganak sungai.

“Apa yang kulakukan bersama Tuan Marsis? Tak ada!” lanjut istriku membantah tuduhan yang tak masuk akal itu.

“Bisa jadi, kan! Coba, apa imbalannya hingga dia selalu menuruti seluruh kemauan kita?”

“Bukankah Mas yang pernah mengikat janji dengannya?”

“Janji apa?”

“Tak tahu!”

Setelah itulah Tuan Marsis sering menyambangi rumahku. Awal mula dengan sikap manis. Kemudian berubah bengis, menyuruhku memutuskan hubungan dengan dia.

“Aku mau putus dengan dia, tapi berikan aku kesempatan menulis surat.”

Tuan Marsis terkekeh. Berliur matanya. “Menulis surat? Untuk apa? Tak perlulah surat-suratan. Putuskan saja dengan kata-kata. Selesai!” Wajahnya hampir melahap wajahku saking dekatnya. “Kau tak ingin lebih kaya dari ini? Lebih berkuasa? Memiliki pengikut yang banyak? Osman, banyak orang yang rela jungkir-balik agar mendapat restu, bisa berkawan denganku. Tapi aku tolak mentah-mentah. Ini, aku yang mendatangimu. Tinggal kau mengatakan bersedia putus dengan siapamu itu, amat susah-payah.”

“Ijinkanlah aku!”

Akhirnya dia mengijinkan. Akhirnya untuk hari-hari yang berkelebat seperti angin, aku tak juga bisa menyelesaikan selembar saja surat perpisahan. Terbayang betapa selama ini telatennya dia menerima setiap maaf dariku, lalu menggumpal seluruh salah untuk dilupa. Terbayang pula selama ini kala terpuruk, tak ada tempat berkisah selain dia. Apakah aku mampu melupakan perhatian dan cintanya? Kucintai diasekali, diamencintaiku sepuluh kali. Seperti laku orang tua terhadap anaknya, maka seperti itu pula lakunyakepadaku.

* * *

Istriku marah besar. Anak-anakku marah besar. Seperti buntelan sampah, aku mendorong tubuh Tuan Marsis ke luar rumah. Aku telah memutuskan untuk tetap bersama dia. Mengganti huruf kapital di bagian depan menjadi; Dia. Begitulah seharusnya pengagungan atasnya.

Aku tak perduli ancaman-ancaman bahwa Marsis akan menarik seluruh harta pemberiannya. Bahkan kemudian menghancurkan keutuhan rumah tanggaku. Kujawab hanya bahak dan sebaris kalimat yang membuatnya terpekik dan menutup telinga. Dia lari terbirit-birit seolah menghindar dari kilat yang saling menyambar.

Kemudian seperti katanya, harta bendaku raib ditelan bumi. Harta istriku. Harta anak-anakku.

Istriku, selanjutnya minggat karena tak tahan malu jatuh miskin. Anak-anakku yang tak lagi mendapat kenikmatan dunia, pun pergi mencari tuannya. Aku dengar mereka sekarang bersama Marsis, entah di mana. Sementara aku dapat menghirup napas lega di sebuah kontrakan kecil. Baru saja aku bercerita kepada Dia, sebuah cerpenku dimuat di sebuah koran bertiras besar.

---sekian---