Mohon tunggu...
Rahman AshShaff
Rahman AshShaff Mohon Tunggu... Seniman - Illustrator and art lover

Illustrator and art lover

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Ekonomi Kreatif, Tren Milenial atau Peluang Menuju Kemajuan?

25 April 2019   00:00 Diperbarui: 25 April 2019   08:12 2000
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Membicarakan tentang pergerakan kaum millenial memang tidak pernah ada habisnya. Bagaimana tidak, segudang fenomena yang terjadi belakangan ini mulai dari kisah perundungan seorang remaja bernama Audrey yang viral, perbuatan tidak beretika para pelajar terhadap gurunya, juga anak SD yang ketagihan film porno yang dapat dengan mudah diaksesnya melalui koneksi internet, dan lain sebagainya. Dan banyak pihak menuding kemajuan teknologi dan perilaku para milenial lah penyebabnya.

Namun, apakah benar kemajuan teknologi informasi hanya memberi dampak yang buruk? Saya rasa tidak adil, dan kurang cerdas juga jika kita hanya melihat segala sesuatunya dari satu sisi saja.

Sebagai perbandingan atas banyaknya fenomena negatif yang pelakunya adalah para "millenialis", jika kita mau bersikap adil, ada banyak, bahkan sangat banyak prestasi dan kontribusi positif yang juga mereka torehkan.

Rich Brian adalah salah satu contohnya. Seorang Rapper muda yang mampu melesat ke pasar musik internasional dengan karya-karyanya.

Berbagai platform karya anak bangsa pun turut berperan dalam pertumbuhan Product Domestic Bruto (PDB) dimana tercatat Rp 125 Triliun pada tahun 2017 masuk dari kontribusi e-commerse yang mayoritas adalah karya generasi milenial.

Bukan hanya itu saja, berbagai platform yang dibuat untuk tujuan kegiatan sosial seperti reblood, kitabisa.com, dan wecare.id pun turut berperan dalam menyalurkan bantuan dari para dermawan kepada saudara-saudari kita yang membutuhkan bantuan.

Jika dilihat dari usianya, rata-rata pendiri platform-platform tersebut tidak lebih dari 30 tahun. Sebut saja Men's Republic, Crowde, Teralite, PayAccess, Ruang Guru, Sale Stock, Fabelio, dan masih banyak lagi platform lain yang didirikan oleh para generasi muda usia antara 20 hingga 29 tahun.

Jadi, masihkah kita akan menyalahkan kaum millenialis atas segala macam persoalan moral dan etika? Lagi pula, jika berkaca pada masa lalu, di setiap zaman pasti selalu ada tantangan yang harus di hadapi. Masalah moral dan etika pun sudah ada sejak dulu, hanya saja karena teknologi informasi yang sudah sangat maju saat ini membuat segala sesuatunya mudah menyebar dan ter-blowup.

Dampak positif ataupun negatif yang dihasilkan itu tergantung pada bagaimana cara kita memanfaatkan teknologi itu sendiri. Dan yang terpenting adalah bagaimana kita mendidik dan mengedukasi generasi penerus untuk lebih bijak dalam meghadapi tantangan zaman yang serba cepat dan terbuka saat ini.

Ekonomi Kreatif sebagai Sebuah Tren
Belakangan kreativitas anak muda mejadi sangat mudah untuk disalurkan. Terlebih dengan berbagai kemudahan untuk saling terkoneksi dan berbagi, membuat sharing informasi dan implementasi ide-ide kreatif menjadi sangat mungkin untuk direalisasikan. Tanpa melihat batas wilayah dan jarak setiap orang dapat saling terhubung.

Indonesia merupakan sebuah negara kesatuan yang kaya akan budaya. Kreativitas bangsa kita sudah bukan hal yang baru. Bahkan jauh sebelum tahun 1945 bagsa kita mampu menciptakan berbagai karya yang hebat seperti batik, ukiran, bangunan candi, tarian, dan sastra yang unik dan diakui dunia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun