Beda Aksi Pemain ISL dan IPL dalam Menuntut Hak Mereka

16 Juni 2012 17:34:44 Dibaca :
Beda Aksi Pemain ISL dan IPL dalam Menuntut Hak Mereka
Aksi simpati APPI (dok. FDSI)

Setelah melakukan aksi simpati dan 'sensasi' dengan jongkok 1 menit di awal pertandingan, APPI kembali melakukan aksi simpati sebagai bentuk keprihatinan pada rekan-rekan pemain bola lainnya yang sampai saat ini masih belum menerima haknya. Sebelum memulai pertandingan antara Sriwijaya FC vs Arema Indonesia, seluruh pemain dari kedua kesebelasan memakai kaos putih yang bertuliskan "Deritamu Deritaku Juga". Aksi ini mendapat sambutan meriah dari puluhan penonton yang memadati stadion Jakabaring Palembang. Sayangnya, masih terjadi adanya dikotomi antara pemain yang di ISL dan di IPL. Jika para pemain yang berkompetisi di ISL masih sebatas malu-malu kucing, beda halnya dengan para pemain di IPL. Mereka lebih tegas dalam menuntut haknya dengan cara melakukan mogok latihan dan mogok main yang sebenarnya. Pemain-pemain PSM Makassar sepakat mogok latihan sampai terpenuhinya tuntutan mereka, yakni gaji yang sampai saat ini belum terbayarkan. Sementara itu, pemain Persijap Jepara menolak berangkat ke Padang untuk bertanding melawan Semen Padang dalam laga lanjutan IPL. Begitu pula dengan pemain Persija (IPL) yang menolak bertanding di Bantul melawan Persiba Bantul. Mogok main memang mengandung konsekuensi yang besar, yaitu hukuman bagi klub. Namun, jelas cara ini lebih memberi efek jera daripada hanya sekedar aksi simpati. Jika klub terkena hukuman dari otoritas kompetisi, manajeman tentu akan berpikir ulang dan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi hak para pemainnya agar lain kali tidak terjadi mogok main dan terkena hukuman. Terjadinya perbedaan aksi antara pemain di ISL dan IPL menunjukkan APPI belum bisa mewakili suara pemain sepakbola Indonesia, tidak sesuai dengan tagline APPI sendiri yakni #Pesepakbola Bersatu. Yang bisa dilihat, mereka terkesan hanya mewakili pemain yang tergabung di salah satu kompetisi, dalam hal ini ISL. Meski pada pertemuan 28 Mei kemarin terdapat juga perwakilan pemain dari IPL, tapi faktanya aksi-aksi yang dilakukan para pemain dari ISL tidak diikuti oleh pemain di IPL. Tidak ada aksi jongkok 1 menit di IPL, dan tak ada pula pemakaian kaos Derita. Apakah aksi-aksi simpati dari APPI bisa membuat manajemen klub memenuhi tuntutan pemain? Tetap saja belum bisa, sebagaimana yang diakui presiden Sriwijaya FC Dodi Alex Reza. Menurut Dodi, dengan dilarangnya APBD untuk klub sepakbola, klub-klub kini memang kesulitan untuk memenuhi tanggung jawabnya terkait masalah gaji pemain. SFC sendiri sampai saat ini terus berusaha untuk memenuhi kewajibannya pada para pemainnya, meski masih ada keterlambatan pembayaran. Hal yang lebih mengejutkan diungkapkan salah satu pemain asing dari klub yang berada dibawah konsorsium. Menurut anggapan pemain asing yang tidak ingin disebutkan identitasnya ini, pihak konsorsium terkesan sengaja memperlambat pembayaran gaji pemain karena kompetisi musim depan harus dilebur jadi satu. Dengan kata lain, konsorsium enggan melunasi kewajibannya karena belum pastinya format kompetisi musim depan. Pihak konsorsium hanya berusaha menyelesaikan kompetisi IPL untuk musim ini. Tidak terbukanya isi perjanjian antara klub dan konsorsium membuat para pemain di klub tersebut kesulitan untuk menuntut hak mereka. Sebagai wadah dari para pemain sepakbola, APPI seharusnya bisa meniadakan perbedaan kompetisi, karena meski terdapat dua kompetisi, tetap saja yang bermain itu pemain sepakbola, bukan pemain olahraga lain. APPI harus bisa membuat aksi yang lebih nyata, dan mempersatukan para pemain dari kedua kompetisi tersebut, sesuai dengan tagline mereka #Pesepakbola bersatu. Dengan aksi nyata semisal mogok main massal, paling tidak PSSI dan juga konfederasi yang lebih tinggi seperti AFC/FIFA akan bisa melihat dengan jelas permasalahan yang melanda pemain sepakbola Indonesia. Ada sebuah cerita tentang sisi lain legenda sepakbola Argentina, Diego Armando Maradona dalam menyikapi gaji pemain yang terlambat dibayar. Sewaktu bermain di Boca Junior, Maradona didatangi oleh tiga orang pemain dari klub divisi 3 Argentina. Pemain-pemain tersebut menceritakan bahwa klubnya sudah tidak lagi membayar gaji pemainnya selama 6 bulan. Mendengar hal tersebut, Maradona kemudian mengumpulkan semua kapten klub di Argentina, hingga kemudian dalam 48 jam mereka memutuskan untuk mogok main sampai gaji 3 pemain tersebut dilunasi. Ternyata, selama aksi mogok massal tersebut, akhirnya banyak pemain yang juga mengeluhkan hal yang sama, yakni gaji mereka terlambat dibayar. Aksi mogok main massal itu akhirnya berlangsung selama 2 bulan, hingga kemudian klub-klub bersedia melunasi gaji para pemainnya. Selama aksi mogok main, Maradona selalu pasang badan dan melindungi pemain yang sudah berani bicara tersebut. (sebagaimana diceritakan oleh pemain asing yang bersangkutan). Kita harapkan, dari APPI bisa muncul pemimpin yang berani meniru langkah Maradona tersebut. Mengajak seluruh pemain sepakbola Indonesia mogok main massal, daripada hanya sekedar aksi simpati kecil yang ternyata tidak diikuti oleh pemain-pemain lainnya.

Himam Miladi

/primata

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?