HIGHLIGHT

Diundang ke Istana Merdeka Berkat Buku Serial ABG: Guru Memberi Nilai F

13 November 2011 17:01:28 Dibaca :

Prolog

Ketika guru menganggap anak kita di  bawah standar alias bodoh, hati ibu mana yang tidak tercekat; kesal, marah, geram, pokoknya tak mau terima!

Karena kita sebagai ibu, setidaknya merasa paling tahu bagaimana kapasitas anak kita. Bukankah begitu?

"Buktikan, Cinta, ayo, buktikan bahwa kamu tidak bodoh.Kamu pintar dan hebat!" Demikian berkali-kali kubisikkan ke kuping putriku, ketika guru bahasa Indonesia sering (kalau tak mau dibilang;selalu!) memberinya nilai F!

Bayangkan saja,  anak seorang novelis, dan bukan hanya itu; putriku ini sangat kutu buku, usia 3 tahun sudah melahap banyak buku bacaan kanak-kanak. Jadi, diksi dan pemilihan kalimatnya pun, jika bicara bagus. bahkan terasa sangat baku.

Umpamanya;"Mama, dimanakah gerangan Abang?" demikian tanyanya saat usia 3 tahun.

Atau:"Kira-kira Mama punyakah uangnya untuk beli kembang gula itu?"

Ringkas cerita, inilah karyanya ketika diberi nilai F oleh guru bahasa Indonesia. Saat itu dia sudah menulis 3 judul buku, serial ABG yang laris manis.

Diundang ke Istana Merdeka sebagai penulis cilik berbakat bersama putranya Helvy Tiana Rosa, Faiz yang kini sedang melanjutkan sekolahnya di Turki.

Di bawah ini tulisannya ketika kelas 1 SMA, usianya masih 14 tahun. Sekarang Butet sudah lulus S1 dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, usianya baru 21.  Sedang magang advokasi di Dompet Dhuafa Hong Kong, berjuang untuk mendapatkan beasiswa S2 ke Australia.

Mohon doanya, terima kasih; Tabik!

Semoga bermanfaat untuk; spesial para ibu yang tidak doyan posting urusan ngeseks!

@@@

Aku percaya semua itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Aku masih bisa makan, itu karena Mama mencari nafkah. Sama seperti sekarang. Aku bisa bertemu dengan orang-orang ini. Dan aku harus mengorbankan rasa maluku. Tepatnya membuangnya jauh-jauh!

Demi apa? Yup! Demi duduk di depan tiga ratus remaja Islam. Hei tebak, apa yang paling mengerikan? Tiga ratus pasang mata (ditambah beberapa pasang, mereka kan banyak yang pakai kacamata!) memandangiku yang kini mulai berkeringat dingin dalam keheningan. Menunggu sepatah kata keluar dari mulutku yang terkatup rapat ini.

Wuaduuuh! Otakku langsung blank. Yang bisa kulakukan cuma berpikir, seperti apa reaksi mereka nanti kalau aku iseng berteriak; “Boo?!” Atau; “Cool… Meeen!” Hihi, pasti lucu ya!

Hhhh, kutarik napas dalam-dalam. Aku menghabiskan lima menit terakhir bersusah payah menahan diri, agar tidak melaksanakan pikiran gilaku, teriak-teriak atawa jejingkrakan.

“Kita sambut pengarang kita…, Adzimattinur Siregar!”

Oh, sudah waktunya. Tanganku mendadak berkeringat, sekujur tubuhku serasa demam malaria.

Come on, Azzie! Kamu kan sering ikut lomba pidato bahkan sejak umur 3 tahun di TK Nol kecil. Ayo, kamu pasti bisa! Azzie, Azzie, yo! Aku menyemangati diri sendiri. Namun sialnya kembali terngiang ucapan teman-temanku.

Alaaah, orang cadel ternyata bisa nulis juga ya! Eh, liat, liat! Jelek banget tulisannya! Tuh, nilai mengarangnya aja F!

Sana, udah cadel, gagap lagi! Buang-buang waktu aja gabung sama kita! Nunggin kamu ngomong aja lama!

Bu! Azzie mau mengundurkan diri dari final lomba pidato bahasa Inggris! Katanya dia nggak bisa ngomong dengan benar! Ya, kan, Zie? Mendingan juga Tika, ngomongnya lancar.

Oh, ya sudah! Azzie mendingan ikutan lomba mengarang saja, ya!

Dan selalu begitu akhirnya, aku pasrah. Didaftarkan ke berbagai lomba mengarang. Bukan! Bukan lomba pidato seperti yang kuinginkan.

Tapi aku tahu, kesabaranku nggak sia-sia. Aku harus menunjukkan pada anak-anak itu. Betapa berartinya anak gagap dan cadel ini. Juara dua. Nggak jelek-jelek banget untuk anak sepayah aku. Anak yang susah bicara setiap kali aku gugup. Kata Mama, ini masalah psikologis.

Aku berdiri dan tersenyum. Anak-anak seusiaku membalasnya. Ready, steady, go!

“Assalamualaikum. Saya Adzimattinur Siregar yang nulis buku Cover Boy Lemot. Mmm, sebenarnya deg-degan juga sih kudu ngomong di depan teman-teman sebanyak ini. Sueeer, grogi banget, euy! Tapi makasih banyak udah pada beli, ya. Moga Allah Swt menerima iman Islam kita… eh, hehe…”

Geeer, aula pecah oleh ketawa anak-anak!

Dan bla, bla, bla… Yeee… gile, Coy!

Aku mampu ngomong mrepeeet, nyaris tanpa henti. Ini membuatku terheran-heran sendiri. Uaneeeh!

Dari mana coba kata-kata itu muncul? Mengingat betapa nggak pede-nya aku di sekolah. Sementara saat ini aku berinteraksi dengan anak-anak yang nggak kukenal.

“Wah, buku kamu bagus loh! Terusin ya!” seorang ABG sebayaku mendekatiku. Dia tersenyum tulus.

Dalam hati aku was-was menunggu kata-kata berikutnya. Apa dia akan bicara seperti teman-temanku?

Ah, nulis yang gini mah gue juga bisa!

Tauk! Jelek, payah banget! Belinya aja gue males!

Udah, loe nggak bakat! Nggak usah diterusin, nggak bakal laku!

“Udah dulu, ya!” Dan anak itu pergi dengan senang setelah mendapat tanda tanganku.

Beneran, tanpa penghinaan yang membuatku malu atau sedih. Aku masih terkesima ketika pernyataan-pernyataan terus mencecar.

Dan aku bisa menjawabnya dengan ringkas, dibumbui ngocol. Kok tiba-tiba aku bisa niruin ibuku yang suka ngocol, ya?

Apa yang terjadi? Apa aku berada di Wonderland? Saat itu adalah saat terindahku. Semua orang berbicara tanpa mencela omonganku yang terlalu cepat. Mereka menghormatiku, menganggapku teman yang menyenangkan.

Esoknya…

“Azzie! Tugas mengarang kamu terpaksa harus F lagi! Lihat! Tulisannya jelek sekali! Ini huruf a, apa o sih! Yang ini juga, huruf j besar kok disamakan dengan j kecil! Tulisan sejelek ini mana bisa… bla… blaaa… and blaaa…” Guruku terus mengomel.

“Ibu sudah baca isinya belum?” kataku sopan dan lancar. Perasaan penuh percaya diri masih memenuhi hatiku. Aku tetap biasa-biasa saja, meskipun kelas langsung hening dan anak-anak memandangiku aneh.

Bu Guru terdiam. Dari matanya, aku tahu dia malu. Lalu beliau menatapku kesal sekaligus jijik.

“Jangan menyela omongan guru! Dasar anak tidak tahu sopan santun! Pokoknya kamu ibu hukum! Nilai mengarang kamu tetap F!” Aku mengangkat bahu sambil bergumam. Lalu meminta maaf dan kembali duduk.

“Terserah,” ujarku pelan. Toh, setiap tugas mengarang nilaiku selalu F. Sudah kepalang basah, kenapa nggak sekalian aja nyebur.

Dari nadanya, aku tahu, beliau tidak pernah benar-benar membaca karanganku. Aku bertekad keraaaas banget! Suatu saat nanti, tulisanku pasti jadi bagus. Lalu Bu Guru mau membacanya.

Ketika launching bareng para penulis senior Forum Lingkar Pena di Book Fair 2003, sesungguhnya awal keberanian mengungkapkan ekspresi dan pikiranku.

Bergaul dengan para penulis Islami, Mbak HTR dan kawan-kawan membuatku secara perlahan tapi pasti meraih percaya diri. Kakak-kakak itu memandangku bukan sebagai anak kecil yang punya banyak kekurangan. Melainkan sebagai sosok penulis muda yang berbakat. Cieee, upsss, jangan sampe idungku terbang!

Kesadaran!

Sejelek apapun hasilnya, biarlah bukan hanya guru yang menilai tapi masyarakat pembeli bukuku. Aku menatap ke luar jendela. Burung gereja hinggap di kaca tepat di sebelahku.

Aku tersenyum senang. Nikmat dan berkah kelihatannya masih mengundangku pada hari-hari esok, melalui tulisan Islami.

Pipiet Senja

/pipietsenja

TERVERIFIKASI (BIRU)

Seniman, Teroris Tukang Teror Agar Menjadi Penulis, Pembincang Karya Bilik Sastra VOI RRI. Motivator, Konsultan Kepenulisan, Penyunting Memoar: Buku Baru: Orang Bilang Aku Teroris (Penerbit Zikrul Hakimi/ Jendela)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?