Dialektika Geologi Nusa Tenggara-Maluku dan Misteri India dalam Mitos Permusuhan Dua Bersaudara Mengenai Penghayutan Benua

20 September 2011 05:23:25 Dibaca :

Oleh Chris Boro Tokan



Menempatkan kisah konflik/permusuhan Dua Bersaudara Sira Paji dan Sira Demon di Kepulauan Solor (Solot) Nusa Tenggara Timur, sebagai awal Konflik Dunia, berdasarkan teori Sundaland dari Oppenheimer yang menegaskan Surga di Timur yang hilang itu. Walaupun dualisme sikap Oppenheimer terhadap lokasi kejadian permusuhan dua bersaudara terbaca dalam bukunya “EDEN IN THE EAST The Drowned Continent of Southeast Asia” 1998, diindonesiakan  “EDEN IN THE EAST, SURGA DI TIMUR, Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara”  2010, (hal. 727).  Bahwa lokasi permusuhan dua bersaudara itu  ditandaskannya antara di Maluku atau di Pantai Utara Papua Nugini. Namun menurut kami tentu yang pasti itu lokasi permusuhan dua bersaudara  terjadi di Maluku dan Nusa Tenggara. Karena dalam cermatan terhadap kisah benua yang hilang,  melalui mitos penghancuran oleh Ekor Ikan Raksasa dan Pembelahan oleh senjata geografis Tombak,  lebih banyak terjadi di wilayah Nusa Tenggara dan Maluku. Apalagi wilayah Pantai Utara Papua Nugini, di waktu itu masih menyatu dengan Benua Kangguru (Australia). Maka jelas bahwa sumber konflik dua bersaudara itu di Nusa Tenggara (Nusa Tenggara Timur), Kepulauan Solor (Solot) Purba, dari ujung Barat Flores sampai ujung Timur Alor. Lokasi yang sesungguhnya (Kepulauan Solor/Solot Purba) sebagai  sumber permusuhan (konflik) Dua Bersaudara ini sekaligus mendukung penegasan Oppenheimer tentang  asal Gen Asli  dan sumber Asal Bahasa Austronesia di wilayah Nusa Tenggara-Maluku.

Dapat tertelusuri awal mula (sumber) konflik sebagai sebab utama, sehingga  terjadi permusuhan dua bersaudara, yakni soal  air susu ibu dan perebutan  saudari kembar untuk dijadikan isteri, seperti dikaji secara khusus oleh Pater Paul Arndt, SVD, dalam Demon und Padzi, Die Feindlichen Bruder Des Solor-Archipels, terpublikasi Athropos, Band XXXlll, (1938), hal 1-58, diindonesiakan  Demon dan Paji, Dua Bersaudara yang Bermusuhan di Kepulauan Solor, (2002) . Akibatnya keduanya berpisah, Sang kakak mendiami wilayah Paji (Pesisir, dari benua), sedangkan  adik tinggal di wilayah Demon (Darat, Daratan, Pedalaman dari Benua), dengan masing-masing pekerjaan si kakak sebagai petani, sedang si adik sebagai penggembala, seperti tercermati dalam Kitab Suci (Genesis 4:2). Belakangan dalam kisah-kisah berkembang juga sebagai petani-nelayan, dan penggembala (peternak)-pemburu. Dalam kedua mitos, tercermati  Benua itu  terbelah berkeping-keping (pulau-pulau) sesuai kisah “pembelahan” dalam mitos senjata geografis tombak Kulabob, dan “penghancuran” melalui mitos Ikan Raksasa yang mengibaskan ekornya. Benua yang terbelah dan hancur berserakan dalam model gugusan pulau Nusa Tenggara, gugusan pulau Maluku, Pulau Sulawesi,  gugusan pulau di Pasifik, dan tentu India dalam  “misteri”  merupakan wilayah Benua yang  hanyut (Atlantis yang hilang) itu.

Permusuhan Dua Bersaudara ini dalam Kitab Suci dijelaskan sebagai Permusuhan Qabil (Kain) dan Habel (Abel) (Genesis 4: 5-16). Setelah membunuh adiknya Habel, dalam ayat  16 ditegaskan bahwa Kain pergi dari hadapan Tuhan dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden. Permusuhan dan pembunuhan dilakukan karena irih hati/ dengki,  akibat persembahan yang mereka berdua (kakak-beradik) masing-masing persembahkan kepada Allah dari hasil karya mereka, ternyata persembahan Abel yang diterima Allah, sedangkan Persembahan Kain ditolak Allah (ayat 2-8).

Permusuhan Dua Bersaudara dan Pembelahan Massa Benua





Roh konflik/permusuhan Dua Bersaudara itu apabila ditempatkan dalam makna pemecahan massa benua di zaman Mezosoikum, tentu terpahami dalam kerangka pemecahan/pembelahan massa benua yang dikedepankan Alan Woods dan Ted Grant dalam buku  “REASON IN REVOLT: Revolusi Berpikir Dalam Ilmu Pengetahuan Moderen”, 2006. Dijelaskan pemecahan Massa Benua Pangea (Zaman Paleozoikum, Zaman hidup Tua) dalam Zaman Mesozoikum atau sering pula disebut sebagai zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan berlangsung selama kira-kira 140 juta tahun, antara 251 hingga 65 juta tahun yang lalu. Disebut juga sebagai zaman reptil, karena  reptil besar  berkembang dan menyebar ke seluruh dunia. Pemecahan awal (Pertama) Massa Benua Pangea, menandai  Zaman Mezosoikum sekitar 180 juta tahun lalu. Pemecahan dalam Sumbu Timur dan Sumbu Barat, menempatkan Samudra Letys yang membagimassa benua Pangea dalam wilayah Utara yang disebut Laurasia, wilayah Selatan yang dikenal dengan Gonwandaland. Kemudian Pemecahan Kedua Massa Benua Pangea  sekitar  120  juta tahun lalu wilayah Gonwanland (Selatan) di Timur menjadi 3 bagian: India, Australia, Antartika. Kemudian Pemecahan Ketiga, terjadi di akhir zaman mezosoikum sekitar 65 s/d 40 Juta tahun lalu, yakni pembelahan dari Utara ke Selatan. Samudra Atlantik memecahi Amerika Utara dari Laurasia, memisahkan Amerika Selatan dari Afrika. Menyebabkan India bergerak dari Selatan, naik menubruk Asia, begitupun Afrika bergerak naik menubruk Eropa.  Pemecahan Ketiga ini mengakibatkan 2/3 dari semua spesies musnah saat itu (hal.332).

Konkritnya dunia terpurba, sebuah Benua dulu (yang hilang)  sebagai wilayah Matahari Terbit dan Matahari Terbenam. Terjelaskan penghanyutan/pemecahan benua itu dalam mitos perpisahan Kakak Sira Paji menurunkan orang Paji,  simbol masyarakat pesisir (masyarakat Petani dan Nelayan),  pulau-pulau  di bagian Selatan Katulistiwa arah Timur Dunia, wilayah Timor, Kepulauan Alor (Nusa Tenggara Timur),  Kepulauan Kiser, Kepulauan Kei Kecil (Maluku), Kepulauan di Perairan Pasifik yang dihancurkan oleh Ikan(bandingkan dengan kisah Kain, Qabil). Sedangkan adik Sira Demon simbol kisah Habel melahirkan masyarakat Demon, simbol masyarakat daratan, wilayah pedalaman luas (masyarakat Peternak dan Pemburu), terjelaskan dalam benua di bagian Selatan Katulistiwa arah Timur Dunia wilayah Nusa Tenggara (minus Pulau Timor, Kepulauan  Alor), Tanimbar, Seram, Banda (Maluku), dan Kepulauan di Perairan Pasifik, diceraiberaikan melalui pembelahan oleh tombak geografis Kulabob.  Kerangka penempatan dan  migrasi turunan Sira Paji   dan Sira Demon  ini, tentu menjadi penuntun untuk memahami roh mitos penghanyutan benua (benua yang hilang) yang populer di sebut benua Atlantis itu, dalam mitos disebut benua Luondona-Wetrili (bandingkan Oppenheimer, hal.406-407).

.Mitos ini  dari dialektika geologi dapat terpahami dalam pemecahan massa benua. Dalam pemecahan massa benua  tahap kedua di Zaman Mezosoikum. Saat itu India masih di posisi Selatan Katulistiwa bagian Timur, sehingga India merupakan bagian juga dari benua yang hilang itu. Sedangkan Papua (Irian) tidak dalam satu daratan dengan benua yang hilang itu, karena saat itu menjadi satu daratan dengan benua Australia. Sebelum itu ada pemecahan massa benua tahap pertama, yakni penentuan sumbu Timur dan Sumbu Barat massa benua dengan dialiri samudra Lethis, sekaligus membagi wilayah utara massa benua dengan Laurasia, sedangkan  wilayah selatan massa benua dengan Gonwandaland.

Berikut pemecahan massa benua tahap ketiga di Zaman Mezosoikum, sekaligus mengakhiri zaman itu dapat dipahami sebagai puncak pemisahan dengan pembunuhan Habel oleh kakaknya Qabil. Saat itu India bergerak naik menubruk Asia, diikuti Afrika (yang terlepas dari Amerika Selatan) bergerak ke atas menempel Eropa,  setelah Eropa terlepas dari Amerika Utara.  Makna pemecahan massa benua tahap ketiga ini dalam tautan mitos dengan permusuhan dua bersaudara,  bahwa dalam telusuran kisah, kelak Kakak menurunkan orang Paji,  simbol masyarakat peisisir benua yang hilang, terserak-kumpul dalam pulau-pulau  di bagian  Selatan Katulistiwa arah Timur Dunia itu,  Nusa Tenggara Timur (Pulau Timor, Pulau Lemnata,  Kepulauan  Alor, ), Maluku (Kei Kecil, Kiser),  Pulau-pulau Pasifik, mencakup Papua dan Australia, Selandia Baru, sedangkan arah Barat Dunia Selatan Katulistiwa mencakup Afrika Selatan, Madagaskar. Berikut Adik melahirkan masyarakat Demon, simbol masyarakat daratan, wilayah pedalaman luas benua di bagian Selatan Katulistiwa arah Timur, Nusa Tenggara (Lombok, Sumbawa, Flores, Adonara, Solor), Maluku (Tanimbar, Banda, Seram), Pulau-Pulau di Pasifik, kelak mencakup Utara-Selatan Katulistiwa arah  Barat Dunia (Jawa-Asia Tenggara), Amerika Utara-Selatan, Eropa dan Afrika Utara). Turunan Sira Demon atau yang mewaris Sira Demon kelak juga menempati bagian Utara Katulistiwa arah Timur Dunia, mencakup Asia (Cina), Eropa Timur (Rusia). Makna lain dari pembunuhan Habel oleh Qabel ini, selain menjelaskan pemecahan tahap  ketiga massa benua,  dapat dipahami juga sebagai Kepunahan Massal yang mengakhiri zaman Mezosoikum dengan menyisahkan 1/3 spesies saat itu, untuk memasuki zaman Neolitikum (zaman Es).

Dialektika Geologi dan Tersingkap Misteri India





Melalui teori Pembelahan Massa Benua oleh Alan Woods dan Ted Grant, telah tersingkap misteri India dalam posisi awalnya di belahan Selatan Katulistiwa arah Timur Dunia, pada waktu pemecahan massa benua tahap kedua di zaman Mezosoikum (zaman Hidup Menengah). Posisi India saat  itu bersama Australia dan Antartika. Dengan demikian menurut kami, saat itu India menjadi bagian dari benua yang hanyut (atlantis yang hilang),  terkisahkan dalam mitos penghancuran benua melalui Ikan Raksasa dan Senjata Geografis Tombak. Kemudian di akhir zaman Mezosoikum terjadi pemecahan massa benua tahap ketiga, yang mendorong India  bergerak ke atas menubruk Asia, sehingga dalam posisinya yang kekinian. Tubrukan India ke Asia membentuk penggunungan Himalaya, yang mengakibatkan pembentukan barisan pegunungan serta memaksa daratan Asia Tenggara bergerak ke bawah (ke Selatan) dengan semenanjung Malaysia serta daratan Pulau Jawa Purba (menyatu daratan Kalimantan dan Sumatra).  Kemudian terjelaskan di akhir Zaman Neolitikum (akhir Zaman Es) bencana Air Bah Nabi Nuh melalui letusan awal mula Gunung Karakatau, terpisah pulau Jawa Purba dari daratan Asia Tenggara, terserak dalam Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Pulau Jawa kekinian bersama pulau-pulau kecil di sekitar, termasuk Pulau Bali sebagai wilayah Dataran Sunda (bandingkan Garis Wallacea-Weber, serta teori Atlantis Arysio Santos).

Tersingkap pula mengapa tema terakhir permainan lempar dadu, para pencundang, yang mewakili klan dari jauh  juga meninggalkan Luang sebagai sisa benua yang hancur oleh Ikan Raksasa di ujung Pulau Timor bagian Timur, menjadi pembuka epik India yang terkenal yaitu Mahabharata. Penghancuran  benua oleh Ikan, diceriterakan pula dalam  versi banjir  ikan Manu di  India. Namun disepakati bahwa ceritra Manu/ikan/banjir ini tidak mempunyai asal-usul Indo-Eropa (Oppenheimer, hal. 391, 392, 407).  Dengan demikian menurut kami menjadi jelas bahwa versi banjir ikan manu di India berasal dari  wilayah Matahari terbit (Nusa Tenggara  dan Maluku). Permainan  Lempar Dadu (Judi) versi India, sedangkan pemaknaan sekarang sebagai sebuah kompetisi (adu kehebatan). Di Pulau Lembata secara geologis ada gunung bernama Laba Lekang (Ile Labalekang). Nama gunung demikian menggambarkan judi purba masyarakat di Kepulauan Solor, sebuah permainan purba, dalam adu ketangkasan   para pemain yang dilengkapi dengan Busur dan Panah (atau sejenisnya) untuk memanah sasaran yang telah disepakati demi menentukan para pemenangnya. Siapa yang dalam adu ketangkasan memanah itu, lebih banyak mengenai (tepat memanah) sasaran maka dia yang menang/memenangi pertarungan itu, atau akan membawa atau memiliki obyek yang dipanah atau dijadikan sasaran panah itu atau dijadikan taruhan dalam adu ketangkasan itu.

Nama Pulau Lembata itu sendiri menyimpan makna Bencana Alam. Terbentuk dari  nama Pulau Lepan dan Pulau Batan. Kedua pulau ini terletak antara pulau Lembata dan kepulauan Alor sekarang. Pulau Lepan tenggelam dan menyisahkan Pulau Batan yang tidak berpenghuni (dalam mitos kebencanaan  menjadi transit para leluhur orang-orang Lamalera, sebelum ada bencana karena Ikan Raksasa yang mengungsikan mereka ke kediaman mereka Lamalera kekinian)) . Dalam mitos yang berkembang bahwa peristiwa itu terjadi saat tenggelamnya Keroko Puken atau bencana Keroko puken. Kelak dalam penelusuran  bukan tidak mungkin ditemukan jawaban pulau Lapan dan pulau Batan merupakan dua bersaudara (Pukau Kakak-Beradik), karena bermusuhan akhirnya adiknya pulau Lempe tenggelam (dibunuh), sesuai versi di Timur wilayah kepulauan purba (Solor). Sedangkan versi di Barat yakni mitos Gunung Wongge berkelahi dengan Gunung Meja memperebutkan Gunung Ia. Fakta kekinian puncak gunung Meja nampak seperti terpotong (terbunuh), bagian dari kepalanya yang terbunuh itu sekarang Pulau Koa (Pulau Karang tidak berpenghuni) di ujung landasan bandara Aroebusman, dalam laut di tepi pantai. Sedangkan Parang sebagai alat untuk terjadi pembunuhan, terlepas dari tangan gunung Wongge, sekarang Pulau Ende (Pulau yang berpenghuni) terletak berhadapan dengan pantai kota Ende sebelah selatan.

Terjawab pula keheranan Pater Paul Arndt  hampir satu abad yang lalu, dalam meneliti permusuhan dua bersaudara Sira Paji dan Sira Demon di Kepulauan Solor (Nusa Tenggara Timur), tahun 1936. Keheranan Paul Arndt   dalam kaitan keyakinan Suku Bangsa Lamaholot tentang  Rerawulan-Tanahekan (Langit dan Bumi), dan Permusuhan Dua Bersaudara itu, ditegaskan  bahwa  adanya hubungan  antara masyarakat Kepulauan Solor dengan Suku Munda di India. Suku Munda yang dikelilingi oleh orang-orang Hindu dari masa sebelum Budhisme, yakni Brahmanisme, (hal 78).Pater Paul Arndt heran, mengapa kisah permusuhan dua bersaudara yang sedang diteliti di lapangan itu, mempunyai kesamaan dan kesesuaian  dalam unsur-unsur kebudayaan yang sekian banyak dan sekian khas dengan suku Munda di Timur Laut India Muka. Karena saat di lapangan mengumpul data, dan sedang menelusuri asal mula permusuhan dua bersaudara itu, ditemukan kenyataan permusuhan yang aneh itu dengan berbagai latar budaya yang sama dalam Anthropos satu tulisan dari P. Rud. Rahmann berjudul Gotheiten der Primitivstamme im nordostlichen Vorderindien (Dewa-dewa Primitiv di Timur Laut India Muka, dalam Anthropos XXXI, 1936).

Keheranan Paul Arndt  tentang   kesamaan permusuhan dua bersaudara  berlatar budaya Lamaholot di Kepulauan Solor, sama dengan budaya suku Munda di Timur Laut India Muka (hal.68-hal.93) disimpulkan  bahwa tidak boleh dikatakan sebagai suatu kebetulan belaka  (hal.77).  Semuanya itu telah cukup menunjukan, bahwa Hinduisme mempunyai pengaruh yang besar di Kepulauan Solor, demikian Pater Paul Arndt, SVD dalam kesimpulannya pada kalimat terakhir (hal. 83). Ditegaskan  bahwa Doni adalah kebalikan dari Indo dan menunjukan adanya suatu hubungan dengan orang Hindu dalam masa yang kemudian. Kalau demikian orang Munda yang telah mengungsi ke Kepulauan Solor, mungkin masih ada di India dalam abad-abad pertama masa Budhisme. Pada saat ini  Shiwa dan Wisnu belum mempunyai perkembangan seperti yang kita temukan kemudian di Jawa. Baru sekitar permulaan Masehi orang-orang Hindu datang ke Pulau Jawa. Maka pengungsian mereka ke Kepulauan Solor harus terjadi beberapa abad sebelumnya. (hal.92-93).

Berdasarkan teori Tiga Siklus Peradaban Dunia dari Arysio Santos dalam  "ATLANTIS The Lost Continent Finally Found", The Devinitive Localization of Plato'sLostCivilization(2005), diindonesiakan   menambah subjudul: INDONESIA TERNYATA TEMPAT LAHIR PERADABAN DUNIA (2009), kami berpendirian bahwa pendapat Paul Arndt, SVD  tentang pengaruh Hinduisme di Ngadha maupun di Kepulauan Solor,  tentu hanya dapat di pahami dalam siklus peradaban 3 tentang mencairnya es di puncak pegunungan Himalaya.  Dalam siklus peradaban  3,  sebagai bencana yang membuat orang dari India dan sekitarnya mengungsi,  antara lainnya ke Kepulauan Solor,  turunan kekinian menyebut diri Ata Sina Jawa Papan Haka. Namun sesungguhnya jauh sebelumnya terlebih dahulu ada bencana dasyat dalam Siklus Peradaban 1 dan 2, yang membuat orang-orang Lamaholot sebagai bagian wilayah Atlantis yang hilang,  ada yang mengungsi dan terdampar di india dan di berbagai belahan dunia yang lain (hal 59-160 dan  hal 574 s/d 592).

Bandingkan juga dengan Stephen Oppenheimer , bahwa mata rantai Melanesia dan Australia menunjuk bahwa, di Indonesia bagian timur, terlihat hubungan yang jauh lebih kuno dan erat dibandingkan pengaruh India selama 2000 tahun terakhir (hal. 410), dijelaskan dengan bukti hubungan genetik dalam bab 6 mengenai Gen Eva, (hal. 245-284) dan Bab 7 mengenai Orang Asli, (hal 285-314). Tentu bandingkan pula dengan teori Pemecahan Massa Benua oleh Alan Woods dan Ted Grant dalam zaman Mezosoikum (zaman Hidup Pertengahan) yang menjelaskan tentang bagaimana posisi India di era itu (hal.332). Teori pemecahan massa benua ini sumbernya dari Teori Pergeseran Benua yang dicetuskan Alfred Wegner dengan observasinya terhadap kesamaan sisi pantai selatan antara benua Afrika dengan benua Amerika di tahun 1912.

Pikiran Konklusif





Melalui  Teori Atlantis Arysio Santos tentang Tiga Siklus Peradaban Dunia, dan Teori  Sundaland Oppenheimer,tentang Asal Gen Asli, Sumber asal Bahasa Austronesia,  serta Teori Pemecahan Massa Benua Alan Woods dan Ted Grant, Teori Pergeseran Benua Alfred Wegner, secara spirit (substantif),  tentu  sesungguhnya yang benar adalah pengaruh Peradaban Lamaholot (Kepulauan Solor) yang besar  terhadap Hinduisme, bahkan sebelum Hinduisme yakni Brahmanisme di India. Begitupun Peradaban Ngadha di Flores Tengah sebagai wilayah Lamaholot Purba, tentu mempunyai pengaruh yang besar terhadap Hinduisme bahkan Brahmanisme di India. Dalam arti India mendapatkan pengaruh yang cukup besar dari Nusa Tenggara dan Maluku, sebelum 2000 tahun lalu menancapkan pengaruhnya ke Indonesia melalui  Hindu.

Maka itu wilayah Nusa Tenggara – Maluku bersama Sulawesi tertempatkan sebagai wilayah Poros dalam Garis Wallace-Weber. Sedangkan Kep Aru, Irian/Papua ditempatkan dalam Dataran Sahul bersama Australia sebagai wilayah Timur, berpasangan dengan wilayah Barat menjelaskan Dataran Sunda mencakup Pulau Jawa Purba dan daratan Asia Tenggara. Kepurbaan wilayah Poros sebagai wilayah Awal Mula Penciptaan dan Awal Kehidupan semakin tidak tertandingi dari aspek dialektika geologi melalui Bukit Seburi (Ile Seburi) sebagai awal mula penciptaan massa benua melalui figur Masan Doni dan Peni Masan dalam mitos terselamatkan dari bencana banjir antara lain melalui Ikan, Gunung Boleng (Ile Boleng) hidup sepasang manusia Kelake (laki-laki) Ado Pehan dan Kwae (perempuan) Sode Boleng, seturut keyakinan masyarakat itu ceritera yang disadur ke dalam Kitab Kejadian (Genesis) sebagai Adam (Ado) dan Eva (Kwae), kedua gunung ini di Pulau Adonara. Ada lagi sepasang gunung Laki-laki dan Perempuan (Ile Lewo Tobi Laki-laki dan Ile Lewo Tobi Perempuan) di Flores Timur, nama Pulau Lembata dari makna bencana Pulau Lepan dan Pulau Batan (Bencana Keroko Puken),  Nama gunung Laba Lekang (di Pulau Lembata) simbol judi dalam epik Maha Brata India, mitos  Permusuhan Gunung Wongge dan Gunung Meja memperebutkan Gunung Ia, belum lagi sisa-sisa kahwa Gunung Kelimutu dengan Danau Tiga Warna sebagai simbol tiga dunia: Keabadian (surga), Kesementaraan (dunia), Kematian (neraka) di Pulau Flores bagian  Tengah.  Tampil air Lautan Purba di danau Santoda (Pulau Sumbawa).

Begitupun Reptil Purba yang awal kemunculan di zaman Mezosoikum tetap menampakan keberadaan sebagai Ular Raksasa (Buaya Komodo) di Kepulauan Komodo kekinian yang menjadi 7 keajaiban dunia.  Berikut penemuan fosil homo sapiens di Ruteng, Flores Barat, penelusuran Fosil Gajah Raksasa dan Gading Gajah Purba ditemukan  di Ngadha (Pulau Flores bagian Tengah), kekinian gading gajah itu menjadi belis (mas kawin) pernikahan di Kepulauan Solor.  Tetap tumbuh Pohon Cendana di Pulau Timor dan Pulau Sumba (awalnya di Kepulauan Solor), Cengkeh dan Pala di Kepulauan Maluku. Semua menjadi bukti-bukti:  dialektika keunikan geologi, flora-flora khas Purba,  fauna-fauna unik Purba, dan  homo sapiens (manusia moderen) yang menggambarkan  daya tahan identitas sejati dan kewangian eksistensi asli wilayah  Poros sebagai  lokasi Awal Mula Penciptaan Dunia dan Awal Kehidupan Bumi di atas Benua yang terhanyut itu.

Terpahami dalam Dialektika Geologi, bahwa mitos penghayutan benua melalui penghancuran oleh Ekor Ikan Raksasa sebagai bencana vulkanik (letusan gunung berapi di dalam samudera), dan melalui  senjata geografis Tombak sebagai bencana vulkanik (letusan gunung berapi di daratan). Pemahaman ini tentu membantu upaya menyingkap  misteri benua yang hilang sebagai akibat akumulasi letusan gunung berapi baik di dalam samudra maupun di daratan mengepung wilayah Poros. Dapat tertelusuri dari aspek geologis pertemuan lempeng-lempeng benua menghimpit lempeng Benua Atlantis (saling bertubrukan:   Australia dari selatan, Amerika dari barat, dan Asia akibat tubrukan India membentuk Pegunungan Himalaya menyebabkan tubrukan lempeng Asia  Tenggara dari atas), maka terhanyutlah Benua Atlantis.

Terhanyut Benua Atlantis akibat terkepung tubrukan  lempeng tiga benua (Australia dari selatan, Amerika dari Barat, Asia Tenggara dari Utara akibat tubrukan India), memaksa muncul listofer (daratan baru) yang tertebar berbagai pulau-pulau di wilayah Poros (bandingkan garis Wallace-Weber),  serta berbagai pulau yang berserakan di  zamudera Pasifik, juga Kepulauan Filipina. Tebaran daratan baru dari benua yang hilang melalui listofer, terapit oleh dua lempeng samudera yaitu zamudera Pasifik dan zamudra Hindia.  Sesungguhnya lempeng samudra Pasifik sebagai lempeng utama  zamudera Purba (Pasifik) dengan lempeng Benua Purba yang hilang (Atlantis) itu saat pemecahan massa benua tahap kedua di zaman Mezosoikum. Karena  akibat pemecahan massa benua tahap ke 3 (Amerika terbelah dari utara sehingga terpisah dengan Eropa, terbelah ke selatan sehingga terpisah dengan Afrika, maka Afrika bergerak naik menubruk Eropa terbentuk pegunungan Karpatia, bersamaan India bergerak dari bawah menubruk Asia terbentuk pegunungan Himalaya, memaksa daratan Asia bergerak  ke bawah (Asia Tenggara) melalui daratan Jawa Purba  menghimpit di atas lempeng benua yang hilang), maka samudra Purba (Pasifik) itu terbagi ke samudera Hindia dan samudera Atlantik. Sedangkan samudra Lethys sebagai samudera Utama Purba dunia pada saat pemecahan massa benua tahap 1 terjebak sampai kekinian menjadi Laut Tengah di Eropa sebagai akibat akumulasi tubrukan Afrika terhadap Eropa membentuk pegunungan Karpatia ( Afrika yang bergerak naik dari Selatan Katulistiwa  arah Barat, karena terlepas dari Amerika Selatan)  dengan tubrukan India terhadap Asia membentuk pegunungan Himalaya (India yang bergerak naik dari Selatan Katulistiwa arah Timur karena tubrukan lempeng benua Australia terhadap lempeng Benua yang Hilang/Atlantis).

Listofer Benua yang Hilang (wilayah Poros: Kepulauan Nusa  Tenggara minus Bali, Kepulauan Maluku, Pulau Sulawesi), ke Utara termasuk Kepulauan Filipina, sedangkan ke Timur mencakup tebaran pulau-pulau di zamudera Pasifik. Ke wilayah Selatan mencakup Selandia Baru, sedangkan ke wilayah Barat mencakup Madagaskar saat itu berposisi dengan India yang masih berada di belahan bumi selatan katulistiwa arah Timur saat pemecahan massa benua tahap 2.  Posisi pulau  Irian (Papua), merupakan daratan yang terlepas dari lempeng benua Australia di saat lempeng benua Australia bergerak dari selatan menubruk benua Atlantis saat pemecahan massa benua tahap 3 yang mengakhiri zaman Meolitikum, untuk memasuki zaman Neolitikum (zaman es).

Dengan demikian penghanyutan lempeng Benua Atlantis yang hilang itu, terjadi di akhir zaman Meolitikum, terhanyut oleh tubrukan tiga lempeng benua (Amerika, Australia, Asia), tertendes/tertekan oleh tiga lempeng benua itu dan terkunci oleh dua lempeng samudra (Pasifik, Hindia), sehingga sangat menjadi misteri dan selalu sangat-sangat   rahasia mengenai kebenaran benua yang hilang itu. Indikasi garis Wallace-Weber mengenai fauna yang tidak bisa menyeberang dari pulau Lombok ke pulau Bali, atau antara Pulau Sulawesi dengan Pulau Kalimantan, atau Palung Laut Banda yang sangat dalam. Begitupun palung daratan Pulau Timor yang menjadi tumpangan lempeng Benua Australia, memicu  semangat almarhum Prof Johanes untuk memperjuangkan pembagian  hasil  zona (A, B, C) pertambangan minyak di celah Timor secara adil antara Indonesia dengan Australia tempo dulu.

Tentu imaginasi kultural dapat memaklumi pembagian zona  minyak Cela Timor yang tidak adil itu sebagai imbal jasa Indonesia terhadap lempeng Benua Australia yang telah berjasa di era pemecahan massa benua tahap 3 (yang mengakhiri zaman Mezosoikum) dengan menyelamatkan India  dan melindungi wilayah Kepulauan Poros. Menyelamatkan India (mendorongnya bergerak naik ke atas menempel Asia), dan melindungi wilayah Poros (Kepulauan Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, Sulawesi) dengan melepaskan daratan Irian/Papua dalam posisinya kekinian untuk membuat wilayah Kepulauan Poros lebih terlindung dari gerakan lempeng benua Amerika menabrak lempeng benua Atlantis di samudera Pasifik. Masing-masing (India dan Kepulauan wilayah Poros) lebih terselamatkan dari hantaman lempeng benua Amerika terhadap lempeng benua Atlantis, sehingga tidak sampai tercecer berkeping-keping seperti nasib berbagai kepulauan di samudera Pasifik kekinian. Di situ terletak  jasa lempeng benua Australia untuk menyelamatkan kehanyutan benua Atlantis dari terjangan lempeng benua Amerika, sehingga nasib  India dan Kepulauan Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, Sulawesi sebagai ceceran bagian dari Atlantis, tidak separah nasib ceceran Pulau-Pulau di samudera Pasifik.

Jasa lempeng benua Australia itu menjadi semakin berarti, apabila tercermati  di akhir zaman Es (akhir zaman Neozikum) setelah banjir dasyat (Air Bah Nabi Nuh)  pada 11.600 tahun lalu, menempatkan  India sebagai pusat peradaban dunia (Replikanya Salib Atlantis) yang berakhir 3000 tahun lalu. Di saat akhir replika atlantis itu, peradaban dunia bergeser ke Mesir (Dewa Ra, Matahari)  dan Yunani (dengan Filsafat), yang berakhir 2000 tahun lalu. Kemudian 2000 tahun lalu itu peradaban Salib Kristus di Timur Tengah dan Eropa, menyusul 1500 tahun lalu peradaban Bulan-Bintang Arab. Semua peradaban itu berawal atau sumber asalnya dari Atlantis, benua yang terhanyutkan oleh lempeng benua Amerika. Peradaban Atlantis itu dielaborasi oleh filsuf Plato sebagai Peradaban Tinggi Masyarakat Sipil. Dibuktikan oleh Arysio Santos sebagai Peradaban Salib Atlantis, ditunjukan lokasi  dan wilayah benua yang hilang itu oleh Stephen Oppenheimer melalui pembuktian asal Gen Asli dan sumber Asal Bahasa Austronesia di Wilayah  Kepulauan  Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku.***

Dataran Oepoi, Kota Karang Kupang, Tanah Timor, 19 September,  2011.

Chris Tokan

/pinorokan

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Bagi orang BERIMAN TEGUH & BERKEYAKINAN DASYAT, maka KEHIDUPAN menjadi PASTI dan ABADI !!!, walaupun ALLAH mengambil Roh-NYA dari dalam diri kita, akibat DOSA kita di DUNIA ini. ALLAH memisahkan ROH-NYA dengan JIWA-KITA yang tetap HIDUP ABADI, meninggalkan TUBUH kita yang sesungguhnya juga tetap ABADI !!!, namun UNTUK SEMENTARA kembali ke DEBU TANAH mengalami penantian AKHIR ZAMAN !!! Supaya JIWA kita tidak melayang-layang di saat ALLAH mengambil Roh-NYA; Maka YAKIN-lah bahwa KEHIDUPAN itu tetap PASTI dan ABADI, yang mendasari setiap PERBUATAN-KITA di Dunia, demi kemuliaan ALLAH***
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?