Sibodoh pengetahuan
Sibodoh pengetahuan

Ada jarak yang nikmat antara tidak tahu dan tahu. Baik mengetahui sesuatu maupun ketidak tahuan mengetahui sesuatu merupakan anugerah Tuhan yang harus di syukuri. Tidak ada yang sia sia dari ciptaan Tuhan

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Ahok-Anies: Bantahan Toleransi dan Intoleransi

18 Maret 2017   05:06 Diperbarui: 18 Maret 2017   08:48 318 4 4
Ahok-Anies: Bantahan Toleransi dan Intoleransi
Sumber gambar : JPNN.com

Pilkada DKI memasuki babak akhir pertempuran. Ibarat pertarungan di koloseum, gladiator sudah mulai kehabisan tenaga tapi masih semangat menyerang menggunakan senjata. Tentu saja senjata Gladiator di koloseum berbeda dengan senjata di Pilkada.

Kalau senjata di Koloseum berupa pedang kapak dan alat berbahaya lainnya, maka senjata di arena Pilkada adalah permainan kata dan program kerja. Bahkan isu dan fitnah diracik sedemikian rupa sehingga menghasilkan senjata ampuh untuk membunuh karakter lawan sebelum memasuki arena.

Mari kita berfikir kritis menggunakan akal sehat dan logika waras, lupakan dulu kepentingan Pilkada yang membuat kita saling mencaci dan memaki. Bahkan tak jarang salah satu dari kita di bully. Silahkan flashback sejenak apa yang dihidangkan oleh 2 masterchef di Pilkada Jakarta, jadi fokus kita pada apa, bukan siapa. Perhatikan apa yang di bawa, bukan siapa yang membawa.

Sudahkah anda melihat apa yang dihidangkan gladiator pertama, mohon maaf gladiator pertama kita memang ahli dalam menghidangkan sesuatu, maka jangan heran sekarang beliau sedang menuai berkah dari apa yang dihidangkannya di kepulauan seribu.

Gladiator yang pertama juga terkenal karena keganasannya, mengapa demikian? Kok bisa tahu ganas orang pertarungan baru saja dimulai. Jangan bertampang polos seolah mata mandadak minus, jangan bertingkah tuli seakan tak mendengar jeritan warga pinggir kali. Come on, wake up guys.

Next kita saksikan bersama gladiator yang kedua, tidak ganas seperti yang pertama tapi tegas membawa perubahan, jelas menawarkan solusi bukan ilusi. Dengan gaya bertarung tidak seperti gladiator pada umumnya menggunakan keganasan dalam menyerang lawan. Gladiator pendatang baru ini tidak menyerang tapi merangkul. Baginya kalau ingin menguasai arena koloseum tidak perlu dengan menyerang apalagi sampai melukai gladiator lain, cukup diajak kerjasama. Maka jangan heran jika sekelas Nelsen Mandela mengatakan “If you want to make peace with your enemy, you have to work with your enemy. Then he becomes yor partner”.

Saya rasa sudah cukup perkenalan gladiatornya, sekarang kita lanjut senjata masing-masing gladiator (gladiator pertama = Ahok VS Gladiator kedua = Anies). Bagi sahabat yang belum mengerti silahkan baca ini sejenak  

diera kemajuan teknologi ini senjata pun bisa berbentuk digital. Artikel tadi memberikan fakta bahwa Ahok memiliki senjata lebih banyak dari pada Anies. Lewat dunia maya Ahok membeli banyak senjata untuk melawan Anies. Memang bagaimana cara menyerang lewat dunia maya? Lebay amat mana bisa memukul dan menyakiti kalau cuma didunia maya.

Eits nanti dulu bro, ini Pilkada, mainnya bukan polos lagi tapi oplosan. Mari sedikit mikir kenapa sampai Ahok membeli banyak senjata untuk dunia maya, yah betul sekali untuk meraup suara dari penggemar sosmed. Senjata tersebut dimainkan di sosmed untuk mensosialisasikan program, baik Ahok maupun Anies saya yakin melakukan ini. Tapi jangan lupa berita diatas tadi menyebutkan pasukan eh maksudnya senjata Ahok lebih banyak dari pada senjata Anies yang pada ahirnya banyak senjata digunakan untuk hal tidak semestinya. Senjata yang harusnya digunakan untuk sosialisasi program ahirnya digunakan untuk menyerang Anies langsung. Iya menyerang langsung, menyerang dengan membunuh karakter Anies, menyerang dengan memainkan isu-isu untuk menjatuhkan langkah anies dan bahkan menyerang dengan hoax dan fitnah.

Isu yang pertama yang digunakan pasukan ini adalah isu toleran dan intoleran (tidak tolaran/anti toleran). Loh kok jadi pasukan bro? iya soalnya senjata ini sudah bergerak sendiri, senjata yang tadi buat promosi dan sosialisasi sudah memiliki kehendak sendiri membuat lawan seperti dikebiri.

Kunjungn Anies ke Habib Riziq, pertemuan dengan Bahtiar Nasir menjadi santapan empuk pasukan Ahok membombardir Anies dengan sebutan kaum intoleran. Anies dianggap sudah bersekongkol dengan kelompok teroris radikal yang anti toleran.

FYI berikut tentang toleransi menurut Anies dan Ahok. Kata Anies Indonesia bukan untuk satu dua  golongan. 


Sementara Ahok dalam menanggapi perbedaan adalah seperti ini 

Baca sejenak tingkat toleransi warga Jakarta    

maka sangat tidak masuk akal jika mengatakan yang mendukung Anies adalah adalah mereka yang intoleran sedangkan yang mendukung Ahok adalah yang paling toleran. Logika macam apa seperti ini, sangat tidak masuk akal dan salah satu pembodohan yang kejam.

Warga Jakarta tahu dan paham bahwa masalah Jakarta adalah ketidak adilan dan kesewenang-wenangan. Bahwa masalah Jakarta adalah kesenjangan dan keberpihakan kepada pengembang. Masalah Jakarta adalah kegaduhan dan tidak dijalankannya pembangunan sumber daya manusia.

Sementara dilain pihak pasukan Ahok mengklaim diri sebagai penjaga gerbang toleransi, senjata yang banyak tadi digunakan untuk memoles dan memperindah sesuatu yang sebenarnya dalamnya berbau busuk. Penggusuran didalihkan relokasi, banjir tidak ada cuma genangan dan reklamasi dibiarkan menguap menjadi rintik hujan yang mengguyur nelayan Jakarta.

Pasukan Ahok dikerahkan membuat isu supaya dipercaya masyarakat bahwa yang memilih Anies adalah intoleran tapi mereka lupa kalua Ahok adalah terdakwa kasus toleransi antar umat beragama. Kemudian dengan gaya politisi senayan mereka mengatakan “itu adalah ulah oknum tertentu yang mempolitisasi”. Wahai jiwa jiwa pasukan Ahok jawaban kalianlah yang mempolitasasi? Apapun dalil yang disampaikan, bagaimanapun cara kalian mengelak sebuah fakta hukum tidak bisa ditolak hanya dengan opini. Apalagi opini itu disampaikan oleh pasukan yang secara logika memang dibayar untuk menjadi senjata.

Isu toleransi dan anti toleransi adalah salah satu isu dari sekian banyak isu yang digunakan pasukan Ahok. Maka saya kali ini hanya membahas satu isu ini, mudah-mudahan yang lain bisa menyusul atau teman, sahabat, sohib, bro yang lain bisa ikut melengkapi silahkan.

Poin terahir yang ingin saya tambahkan adalah bergabungnya partai perindo yang mendukung Anies Sandi di Pilkada DKI. Dukungan ini sebenarnya sudah membantah fitnah intoleran kepada Anies. Dukungan ini fakta bahwa masalah Jakarta adalah ketidak adilan dan kurangnya pembangunan manusia.

Gagasan Anies Sandi untuk membangun masyarakat Jakarta menarik Perindo yang kebetulan tujuannya adalah mensejahterakan Indonesia. Ada kesamaan berfikir antara Anies Sandi dengan Perindo bahwa jika ingin memajukan suatu kota yang pertama dibangun adalah persatuannya. Anies Sandi terbukti bisa mempersatukan seluruh agama, suku, dan bangsa. Selanjutnya setelah persatuan ini kokoh baru membangun manusianya. Menjadi gubernur Jakarta menjadi pemimpin bagi semuanya, bukan pemimpin satu atau dua golongan semata.

Antara Ahok dan Anies secara kasat mata saja Anies lah yang diterima oleh semuanya, bukan Ahok. Kita masih ingat betul tentunya kejadian Ahok diusir dan kabur menggunakan angkot saat kampanye. That’s right, Anies bisa menjadi jembatan pemersatu antar semua warga Jakarta yang heterogen. Anies mampu berdiskusi mengambil jalan tengah antara para pihak yang berkonflik sehingga diharapkan tidak ada lagi kasus penggusuran dan pertikaian yang memakan banyak korban.

Setelah semua bisa disatukan Anies, barulah lanjut melakukan pembangunan. Iya betul, pembangunan manusianya dulu, salah satunya cara membangun manusia adalah dengan menghadirkan pendidikan yang tidak hanya gratis, tapi tuntas dan berkualitas. Apakah sudah dijalankan oleh Ahok? Sudah, apakah sudah maksimal dan merata? Belum, malah ada kasus UPS yang semakin menambah kinerja buruk dalam pendidikan.

ah sudahlah, bini sudah menanti mengajak bermesraan dengan sang pemilik DKI yang sejati, Tuhan yang Maha Pemberi.  Selamat subuh kawan, sruput dulu……