HEADLINE HIGHLIGHT

Uniknya Panen Padi di Belitong

30 Januari 2012 12:43:56 Dibaca :
Uniknya Panen Padi di Belitong
Suasana ngetam padi

Keunikan cara panen padi di Belitong baru saya alami langsung kemarin. Saya katakan unik, karena cara panen padinya berbeda dari cara panen yang selama ini saya lihat. Seperti di Jawa Barat, saya pernah melihat petani memanen padinya dengan cara membabat batang padi kira-kira 10 cm dari akar,  jerami dan tangkai  padi dipangkas semuanya, batang padi tersebut di kumpulkan dan dipukul-pukul pada papan miring agar gabah terpisah dari tangkainya. Sementara di Belitong, acara panen padi atau yang biasa disebut "ngetam padi" dilakukan dengan cara lain. Di sini acara panen padi sama sekali tidak menggunakan pisau dan alat perontok. Petani hanya menggunakan "tabik" semacam kantong yang terbuat dari daun lais dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan gabah sementara. Tabik diberi tali dan disangkutkan ke pinggang bagian muka. Proses pemanenan terjadi dengan petani langsung mengambil gabah dari tangkainya dan dimasukkan ke dalam tabik. Petani mengambil gabah dari satu rumpun ke rumpun berikutnya dengan berjalan maju. Jadi, pemanenan berlangsung hanya dengan mengambil gabah yang sudah  siap panen, sementara gabah yang belum siap atau masih hijau ditinggalkan untuk kemudian dipanen lagi ketika sudah siap panen. Kemudian timbul pertanyaan dari kepala saya, lalu bagaimana nasib rumpun-rumpun yang sudah dipanen tersebut? apa dibiarkan saja atau dibabat? dan ternyata jawaban petani sederhana, ya dibiarkan saja sampai rumpun padinya kering, mati, dan membusuk. Untuk menanam lagi, mereka akan menunggu rumpun membusuk atau pindah ke lahan lain pasca panen yang sebelum-sebelumnya. Saya mencoba menerka-nerka, kenapa cara panennya seperti ini. Kalau dipikir-pikir memang cara ini efektif, mengingat padi yang ditanam adalah padi ladang bukan padi sawah jadi memudahkan mobilitas petani untuk mengambil langsung gabah. Kemudian ketinggian rumpun yang hampir sepinggang orang dewasa, tentu lebih mudah panen dengan cara seperti ini dibandingkan bila harus membungkuk-bungkuk membabat rumpun dari bawah. Tenaga yang dikeluarkan juga relatif sedikit, karena langsung memanen gabahnya. Berbeda dengan cara panen lain yang harus memisahkan lagi gabah dari tangkainya. Kemudian untuk membiarkan lahan yang sudah dipanen dibiarkan sampai membusuk, dirasa juga sesuai dengan konsep "bera" lahan. Jadi lahan dibiarkan beberapa lama untuk menstabilkan kembali haranya, tekstur dan strukturnya. Ditambah lagi dengan jerami yang ditinggalkan, ini akan menambah kandungan hara tanah sehingga sangat baik untuk periode tanam selanjutnya. Ternyata cara ngetam padi ini sudah menjadi tradisi masyarakat Belitong selama bertahun-tahun. Puncak acara panen padi tersebut adalah dengan diadakannya "maras taun", yang merupakan pesta masyarakat sebagai rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Biasanya acara ini diadakan setahun sekali oleh daerah-daerah yang masyarakatnya menanam padi. Berikut adalah dokumentasinya: 13279228881164761832

13279231361471556868
Cara panen gabah
13279232671205573157
Tabik yang sudah hampir penuh
1327926575271728746
Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk
1327926893320919868
Pemindahan gabah dari tabik ke keranjang yang lebih besar
13279267171640494340
Pengangkutan keranjang yang sudah penuh
1327927054442360810
Sebagian hasil panen siang itu

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?