PILIHAN HEADLINE

Memahami Medan Tempur 'Tukang Omong' dan 'Tukang Tulis'

20 Maret 2017 20:22:06 Diperbarui: 21 Maret 2017 10:13:31 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Memahami Medan Tempur 'Tukang Omong' dan 'Tukang Tulis'
sumber gambar ; https://3.bp.blogspot.com/

Artikel ini saya tulis setelah dapat ‘Ide' dari pertanyaan klasik Facebook; “Apa yang anda pikirkan?”.

Mungkin sebelum mendirikan facebook, Mark Zuckerberg  sudah paham medan tempur ‘tukang omong’ dan ‘tukang tulis’. Jadi, dia ingin pertemukan keduanya di facebook.

Menulis bukan pekerjaan gampang, namun juga bukan sesuatu yang sulit. Kata orang gaul; "mudah-mudah sulit". Istilah ‘mudah-mudah sulit’ tidak ada dalam khasanah bahasa Indonesia resmi tulisan. Bila mengacu pada standar kepenulisan  akademis, maka istilah tersebut dianggap salah. Bagaimana bisa didapatkan satu makna 'frasa kalimat' dari sebuah istilah dibentuk dari kata saling bertolak belakang?  

Kata ‘mudah’ memiliki makna tersendiri yang jelas dan terukur. Demikian juga frasa ‘sulit’ juga memilikinya. Makna keduanya berbeda makna secara ekstrim. Secara akademik kedua kata itu tidak bisa dikawinkan untuk dapatkan ‘keturunan makna’ baru. 

Namun jangan kuatir, pada tatanan non-akademis, istilah ‘mudah-mudah sulit’ bisa 'kawin dan berbahagia'. Keduanya mampu ‘membentuk keluarga’ baru dan dapat tempat layak sebagai bagian dari ‘menjelaskan sesuatu’. Istilah tersebut dimasukkan kategori keluarga ‘idiom’.

Idiom bisa dibentuk dari kata-kata yang tak lazim digabungkan. Dari perspektif akademis, hasilnya berupa kalimat yang terkadang tampak aneh, lucu dan menggemaskan. Idiom itu dapat menjelaskan sesuatu yang dapat dimengerti oleh orang yang mendengar atau membacanya. Orang yang berkecimpung dalam dunia ilmiah pun sering memakainya dalam bahasa lisan untuk menjelaskan sesuatu yang ilmiah. Tujuannya agar mempermudah pemahaman pemirsa. Itulah hebatnya Bahasa Indonesia, kaya dan lentur.

Banyak orang ketika melihat sebuah tulisan, misalnya tulisan pendek, kemudian menganggap si Penulis mengerjakannya dengan mudah. Pembaca tulisan itu mungkin tidak tahu bahwa si Penulis harus berjuang keras saat 'menciptakan' tulisannya. Dia harus 'bersusah payah' mentransfer apa yang dipikirkan (ide-yang bersifat abstrak) kedalam susunan kata (kalimat) agar pemikirannya menjadi sebuah pesan yang bisa dipahami pembaca sesuai keinginannya sebagai Penulis,  dan bukan keinginan si Pembaca.

sumber gambar ; http://image-serve.hipwee.com/
sumber gambar ; http://image-serve.hipwee.com/
Perjuangan terberat seorang Penulis adalah menentukan setiap kata untuk membentuk kalimat. Ada dua hal besar yang harus dihadapi si Penulis, yakni 'Menemukan Kata' dan 'Memilih Kata'. Ini persoalan utama yang tidak mudah ketika akan membuat tulisan. Ketika kedua hal itu sudah didapatkan atau dilewati, dia akan menghadapi fase selanjutnya yakni meramu kata untuk menghasilkan 'diksi' yang menarik. 

Sebenarnya tidak ada batas yang jelas antara fase menemukan/memilih kata dengan meramu diksi. Kedua fase ini saling terkait dalam satu masa pembuatan tulisan. 

Proses menulis kalau bandingkan dengan orang berbicara akan terlihat unik. Jangan heran bila orang yang 'banyak cakap' alias 'tukang ngomong' ternyata belum tentu mudah menulis secara benar apa yang dipikirkannya. Padahal kalau dilihat dari kecepatan dia bicara, seolah semua kata sudah dimilikinya dan akan gampang diungkapkan dalam bentuk tulisan yang benar.

Beda ‘Tukang Omong (pembicara)’ dengan ‘Tukang Tulis (penulis)’adalah pada medan tempur atau medan perang. Dalam medan perang si ‘Orang Banyak Cakap’ tertumpu pada keberanian (psikologis) berbicara secara ‘real time’ (saat itu juga). Pembicara yang memiliki ide bagus, menguasai masalah dan punya banyak perbendaharaan kata akan hilang percuma kalau secara mental sudah 'ciut' duluan di hadapan pendengar. Hal ini seperti itu tidak dihadapi seorang Penulis. Medan tempur penulis adalah menemukan/mencari kata dan memilih kata, dan tidak realtime. Dia bisa melakukannya dalam waktu yang relatif lama dan berulang.

Menemukan kata

Seringkali sebuah ide sudah ‘terlihat’ matang dan  tersedia di dalam benak penulis. Namun ketika akan dituangkan dalam bentuk tulisan, ternyata  dia harus 'berjuang' menemukan atau mencari kata-kata yang tepat untuk membentuk suatu wujud tulisan dari ide yang ada di benaknya.

Perlu dipahami bahwa ‘Ide’ bersifat abstrak-belum ada wujud pasti. Ide hanya berupa semesta raya tentang sesuatu. Untuk itulah ‘Ide’ butuh media agar menjadi ‘Wujud’ terlihat dan bisa dipahami si pemilik ide dan orang lain. Media itu adalah dunia menulis atau aktivitas menulis. Hasil wujud 'Ide' dalam tulisan adalah rangkaian kata atau kalimat yang menjadi representasi ‘Ide’ tadi.

Perjuangan si Penulis di dalam 'dunia menulis' untuk menemukan rangkaian kata (kalimat) yang tepat seringkali membuatnya harus termenung lama hanya untuk mendapatkan sebuah kata. Orang yang lemah daya juang-nya seringkali ‘melarikan diri' atau 'menyerah’. Dia angkat tangan ketika harus menulis. “Ampun, bro....gue kagak jadi nulis, deh”.  Heuheuheu...! Karena situasi itu, ‘ Ide’ yang sudah dia miliki hanya tetap jadi sebuah ‘Ide’. Tak akan menjadi tulisan apapun.

Memilih Kata

Seorang calon penulis (belum menghasilkan tulisan) ada yang memiliki banyak kata. Kekayaannya (referensi) itu tidak serta merta membuatnya mudah membentuk kalimat. Persoalannya adalah situasi memilih kata yang tepat sesuai konteks ide.

Banyak kata tersedia, dari yang sejenis (satu family) maupun yang tidak. Ketika harus menjelaskan ide tentang sesuatu, tidak semua kata yang sejenis bisa digunakan. Harus dilakukan pemilihan kata. Contoh kata yang sejenis berdasarkan sifatnya : Sepi, Hening, Sunyi. Dalam menulis fiksi, misalnya puisi, si Penulis harus jeli memilih salah satu dari ketiga kata itu untuk dapatkan kedalaman makna yang mampu menciptakan imaginasi para pembaca. Bila salah menentukan pilihan, akan mempengaruhi imaginasi ‘romantisme’ atau ‘dramatisasi ide’ di tulisan.

Pekerjaan fase ‘Memilih Kata’ merupakan lanjutan dari  fase ‘Mencari Kata’. Jangan anggap enteng fase ini. Pada fase ‘Memilih Kata’ ini sama beratnya dengan ‘Menemukan/Mencari Kata’.

Ketika anda 'Mencari Kata' bisa saja menemukan banyak kata, namun semua itu tidak bisa sembarangan digunakan karena akan berpengaruh pada ‘performance’ tulisan. Kalau salah pilih maka oleh para pembaca tulisan anda akan dianggap   tulisan ‘kacangan’ atau  murahan, tidak elegan, kasar, provokatif, jelek dan lain sebagainya.

Sebuah tulisan akan tampak bila ditulis oleh penulis pemula, penulis kawakan, si Mahir, atau si Ahli dan lain sebagainya. Padahal, seringkali sebuah tulisan ‘murahan’ sebenarnya memuat sebuah Ide yang bagus dan menarik. Tapi karena si Penulis tidak mahir memilih kata, jadilah tulisan ‘murahan’ (terlepas dari kesengajaan si Penulis memproduksi tulisan murahan dengan motif tertentu).

Seorang yang sudah mahir menulis sekalipun seringkali harus berulangkali mengedit (mengganti kata) di tulisannya karena ada pilihan kata yang tidak tepat. Jadi para penulis pemula tidak perlu minder karena si Mahir pun terpaksa ‘berjuang keras’ dalam menulis. Heuheuheu....rasain!

Upaya memilih kata bersandar pada kekuatan ; Logika, Rasa, dan Karsa. Ketiganya saling terkait dan merupakan 'struktur segitiga' yang jadi fondasi kata. Jadi dalam memilih 'kata' harus berdasarkan struktur segitiga tersebut.

Elemen 'logika' mengarah pada pemikiran logis/masuk akal yang dikandung kata dikaitkan dengan ide. Elemen 'rasa' mengarah pada kedalaman makna kata, sedangkan elemen 'karsa' adalah upaya merangkainya dalam konteks kalimat dan semesta ide. Pembahasan lebih dalam tentang 'struktur segitiga' tersebut akan saya tulis kemudian dalam bentuk artikel tersendiri, agar artikel ini tidak terlalu panjang dan bikin bosan pembaca...heueheu!

Cara Menemukan Kata dan Memilih Kata

Cara ‘menemukan kata’ dan ‘memilih kata’ selain dengan perenungan juga butuh proses belajar yang panjang, yakni banyak membaca tulisan orang lain. Ini memang tips dasar dan klasik. Kata Mukidi, penasehat spiritual saya, dengan banyak membaca kita jadi berwawasan luas. Dengan membaca tulisan orang lain maka kita bisa menambah perbendaharaan kata, memahami Ide dan cara si Penulis menentukan (memilih) kata yang tepat untuk menjelaskan idenya tersebut.

Saya sering menulis artikel politik di Kompasiana. Ya, namanya politik tentu terkait pilihan politis tertentu. Untuk 'memperkaya referensi kata dalam hal kepenulisan politik, saya tidak hanya membaca tulisan yang sama dengan saya pilihan politiknya, namun juga tulisan-tulisan politik yang berseberangan dengan pilihan politik saya.  Dengan begitu, saya bisa memahami ide si Penulis dan bagaimana dia menemukan dan  memilih kata bagi tulisan yang sesuai pilihan politiknya. Sebisanya saya komen di tulisannya demi ‘membayar pencurian' atau 'belajar gratis' saya atas ide si Penulis. Selain itu sebagai silaturahmi dengan ‘lawan politik’. Heuheuehu....! Ini baru contoh dari satu semesta raya Ide yang sama. Tentunya banyak tulisan dari kanal lain atau bahkan media luar yang  layak dibaca untuk memudahkan kita menjadi ‘Tukang Tulis’ di Kompasiana.

Demikianlah tulisan ini saya buat dengan penuh kesadaran, tanpa paksaan atau tekanan dari pihak manapun, hak hak hak! Harapan saya, dengan  membaca artikel ini anda bisa menjadi “Tukang Omong’ sekaligus “Tukang Tulis”  yang baik. Kalau anda bisa memiliki dua kemampuan tukang tersebut maka anda akan dapat hadiah sepeda dari saya (dalam wujud gambar). Heuheueheue...!

Salam Tempur Tukang Tulis

---

Peb20/03/2017

sumber gambar ; http://farm5.static.flickr.com/4116/4889764047_09629ac704.jpg
sumber gambar ; http://farm5.static.flickr.com/4116/4889764047_09629ac704.jpg

Pebrianov

/pebrianov

TERVERIFIKASI

Bersukarialah dengan huruf, kata dan kalimat. Namun demikian jangan mengambil yang menjadi milik Tuhan, dan berikanlah yang menjadi hak kaisar. Celeguk !
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana