HIGHLIGHT

Antara Melting Pot dan Salad Bowl

15 Agustus 2012 02:16:35 Dibaca :
Antara Melting Pot dan Salad Bowl
Salad Bowl (Doc: 3hungrytummies.blogspot.com)

Istilah ini sebenarnya bukan suatu hal yang baru, tapi sudah cukup lama. Bagi mereka yang mendalami kebudayaan, tentunya istilah ini adalah makanan sehari-harinya. Bagaimanakah sebenarnya kita memposisikan kemajemukan? Apakah kita mengikuti pola Melting Pot, Salad Bowl atau homogeneous/ penyeragaman? Melting polt berarti ada semacam peleburan berbagai budaya menjadi satu bentuk dalam pot. Dari berbagai  bahan menjadi satu, from heterogenous to homogenous. Disini terjadi proses asimilasi dari masing-masing bagian. Misalkan kita lihat seperti bubur. Kita coba masukan berbagai bumbu-bumbu, beras, santan, akhirnya wujudnya satu, yaitu bubur.

1344996364206652085
Melting Pot Restaurant (Doc: kasthurisrinivasan.blogspot.com)
Lain halnya dengan Salad Bowl. Kita sendiri tahu, kalau yang namanya salad, baik itu model ala barat maupun salad versi kita sendiri, akan nampak masing-masing bagian, tapi membentuk satu kesatuan yang bernama salad. Tanpa harus ada peleburan masing-masing bagian. Bener tidak? Biarpun kita masukan salad dressing nya, tetap masing-masing bagian masih berdiri sendiri dan mempunyai peran sendiri-sendiri, tapi membentuk satu kesatuan. Jadi kelihatan warna warni yang indah sekali sekali. Persis mirip pelangi. Itulah sebenarnya inti dari semboyan bagi orang-orang Amerika dengan E Pluribus Unum - From Many to One. Kita mungkin menyebutnya dengan Unity in Diversity, indahnya keberagaman atau Bhinneka Tunggal Ika. Bukan menyatukan semua kehendak menjadi satu warna, yang dikenal dengan  melting pot (blended), melebur dan memberikan satu rasa. Yeah istilah kerennya asimilasi. Konon, pendekar atau penganut paham multikultural lebih menyukai istilah Salad Bowl dibanding dengan Melting Pot, karena adanya penghargaan untuk masing-masing individu untuk tetap eksis. Sementara Melting Pot adalah sudah benar-benar melebur, sehingga hanya ada satu rasa,  mirip bubur itu sendiri. Inilah yang sekarang ditolak oleh pendukung multikultural atau kaum pluralis. Karena tidak mengakomodasi kehendak masing-masing individu, mematikan potensi atau peluang individu untuk berkembang yang diibaratkan sebagai bagian dari salad itu sendiri. Bagaimanakah dengan Indonesia? Kita menginginkan Unity in Diversity atau Bhinneka Tunggal Ika, semboyan yang selalu kita dengung-dengungkan. Berbeda-beda tetapi tetap satu. Dan itu sudah berurat berakar sejak dulu kala, bahwa kita menginginkan Bhinneka Tunggal Ika terwujud. Tapi dalam prakteknya, justru negara kita sangat suka sekali dengan penyeragaman atau uniformity. Semuanya mau diseragamkan, bahkan seluruh Indonesia kalau bisa. Anak saya, protes berat waktu pertama kali datang dan masuk sekolah kelas 1 SMP. Kenapa semuanya harus diatur?, sepatu harus hitam, sabuk harus hitam, baju harus seragam dan bahkan rambut pun diatur. Bayangkan, anak kecil pun tidak suka kalau semuanya serba diatur atau diseragamkan. Dari SD sampai SMA seragam. Ditambah lagi, setiap hari Senin harus upacara. Dia bilang, "It likes an army. Why mommy? I don't like it." Ah! lagi-lagi di Indonesia, penyeragaman bisa dijadikan ladang bisnis. Kalau semua dibebaskan, mereka akan dapat proyek apa? Saya malah jadi bingung, apakah proses penyeragaman yang terjadi di Indonesia sama dengan melting pot?,  dimana masing-masing element/ bagian tidak boleh dibiarkan untuk tumbuh. Padahal dalam kenyataannya, kita masih mengakui berbagai suku bangsa, bahasa dan tentunya adat istiadat. Bagaimana menurut Anda? Manakah sebenarnya yang terjadi di Indonesia? Salam,

Rokhmah N Suryaningsih

/nunungsuryani

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Seorang Ekonom, Pengamat Sosial, Ekonomi dan Pasar modal; Wirausahawati; Blogger, Traveler, Food lover, Cat Lover;
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?