HIGHLIGHT

Celoteh Rakyat Jelata

10 Agustus 2012 02:23:15 Dibaca :



Sebagian orang berkata bahwa saya sekarang terlihat (mendadak) nasionalis. Karena apapun yang saya bicarakan selalu ada pesan bahwa kita sudah selayaknya bangga berbangsa Indonesia.


Jika bicara bangga, sudah dari dulu saya merasa bangga. Sejak saya mengenal pelajaran geografi. Mata pelajaran yang sudah membawa saya berkeliling Indonesia tanpa harus mengunjunginya. Dengan membaca dan melihat melalui gambar terlampir yang di sertai beberapa komentar, sangat membuat saya yakin, bahwa Indonesia adalah negara yang patut di banggakan. Kebanggaan saya makin bertambah ketika saya bekerja di bidang jasa yang melayani tour dan travel, karena pekerjaan ini pada ahkirnya membawa mata saya untuk bisa melihat secara langsung keindahan pesona alam negeri ini. Beberapa tempat yang sudah saya kunjungi seperti, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogja, Bali, Lombok, Sulawesi, Kaltim, terlebih daerah Jawa Barat.


Seminggu lagi, tanah dan air ini akan merayakan ulang tahunnya ke 67, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini perayaanya terasa sangat sepi, bahkan seperti tidak terjadi apa-apa. Hiruk pikuk meriahnya sebuah perayaan kemerdekaan tersamarkan oleh persiapan menjelang Lebaran


Padahal, 67 tahun yang lalu, 17 Agustus 1945 adalah momen paling bersejarah, sangat bersejarah. Karena tanggal tersebut adalah satu peristiwa yang mengkukuhkan keberadaan Indonesia di peta dunia. Kemerdekaan sebuah bangsa yang terumus dalam tesk yang di tanda tangani Soekarno selaku presiden, Hatta sebagai wakilnya. Dan sosok Sukarni sebagai juru ketiknya.


Dan kita patut berbangga, di bandingkan dengan negara Israel, negara kita 4 tahun lebih dulu merdeka. Seperti kita tahu, Israel adalah satu negara yang memegang beberapa tampuk kepemimpinan dalam bidang ekonomi di berbagai negara.


Makna perayaan kemerdekaan Indonesia makin lama makin tergerus, seiring makin banyaknya masalah dan konflik yang terjadi di negara ini.


Mulai dari korupsi,SARA hingga konflik agraria yang tidak kunjung reda. Masalah yang timbul seperti sebuah jargon mati satu tumbuh seribu. Di mana semua pihak merasa mempunyai wewenang, hingga orang-orang yang tidak berkompeten ikutan sok sibuk.


Dan rakyat, rakyat semakin lama makin terhimpit oleh janji-janji beberapa wakil rakyat yang dulu katanya akan berjuang membela kepentingan rakyat.


Ketika SD saya sering mendengar bahwa Indonesia terkenal sebagai negara agraris karena sebagian besar rakyatnya bermata pencaharian sebagai petani dan pernah menjadi negara swasembada beras. Kesuburan tanah dan luas lahan yang dimiliki Indonesia semakin mendukung kedudukan Indonesia sebagai negara penghasil beras terbesar. Melihat kondisi seperti ini seharusnya tingkat kesejahteraan petani juga tinggi.


Namun kini, Sejak lima tahun terakhir Indonesia justru terkenal sebagai negara importir beras terbesar dunia. Tidak jarang saya jumpai pemberitaan mengenai konflik-konflik agraria, yang muncul silih berganti tanpa solusi penyelesaian yang tuntas, di Kebumen, Lampung, Deli Serdang dan terahkir di Ogan ilir. Bahkan tidak jarang sampai membawa korban jiwa.


Jika sekarang pp fb saya bergambar Soekarno, bukan karena saya mendadak menjadi sok nasionalis, tapi karena saya bangga. Tetap bangga dengan bangsa ini. Apapun kondisi wajahnya sekarang.


Biarlah rentetan konflik membuat suram cerita bangsa ini, namun perjuangan para pahlawan terdahulu tidak akan pernah saya suramkan.


Saya mengidolakan beberapa tokoh pejuang seperti Bung Karno, karena selain pintar beliau juga piawai dalam memikat hati para wanita. Bung Hatta, beliau sosok yang pendiam namun bersahaja, bahkan pers Jepang memberi julukan "Gandhi of Java" karena ketulusanya dalamberjuang membela rakyat serta anti terhadap kekerasan dalam melakukan perlawanan, Jenderal Sudirman, jiwa juangnya setinggi langit, hingga sakit pun beliau rela di tandu demi memimpin sebuah perjuangan membela tanah dan air ini.


Saya bukanlah sosok yang penting dalam jajaran pemerintahan, saya hanya sosok rakyat jelata yang mempunyai keinginan agar Indonesia selalu di kenang sebagai bangsa yang besar di kancah peta dunia.


Suramnya warna merah putih sekarang terjadi karena sebagian oknum mulai " lupa" pada perjuangan para pahlawan. Hingga membuat suatu aksi yang di luar dari kepentingan bangsa ini. Aksi yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi, sehingga kepentingan golongan menjadi hal yang di kesampingkan.


Itulah wajah Indonesia sekarang, suram dan buram.


Namun, saya tetap bangga pada Indonesia, saya tetap cinta tanah dan air ini. Bagi saya tanah air ini tidak pernah pudar cahaya kejayaannya. Kalaupun surut itu karena beberapa ulah dari penghuninya.


Ibarat sebuah komplek perumahan, akan selalu ada warga yang tidak taat peraturan. Namun hal tersebut tidak bisa di jadikan patokan bahwa perumahan tersebut tidak layak huni. Di samping beberapa warga yang membangkang, masih ada, tepatnya masih banyak warga yang mau dan siap sedia membangun dan mentaati setiap aturan yang sudah di tetapkan.


Jika sebagian orang menghujat negara ini, mengapa kita harus ikut menghujat ?.


Tidakkah itu salah alamat, jika ingin menghujat, hujatlah warga(oknum) yang tidak taat, warga yang tidak mau bertoleransi dengan pihak lain, sehingga egoisme menjadi prinsip hidupnya.


Biarlah saya di katakan nasionalis yang terlambat, tapi bagi saya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.


Tanah air yang saya pijak sekarang bukanlah sesuatu yang memalukan, namun sesuatu yang patut di perjuangkan


Dirgahayu Bangsaku,


Dirgahayu Negeriku.

Jayalah Indonesia.

Inem Ga Seksi

/novi25

TERVERIFIKASI (BIRU)

Kita hanyalah dzat yang tak pandai membaca dan melihat
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?