HIGHLIGHT

Tentang Kebahagiaan

14 April 2010 12:15:00 Dibaca :

Diskursus tentang kematian sama abadinya dengan membincang kehidupan. Ibarat dua sisi mata koin tidak bisa dipisahkan satu sama lain, maka akan sangat mengherankan ketika ada orang yang berupaya mengejar kesenangan kehidupan di dunia namun melupakan dimensi kematian disisi balik kehidupannya. Kesadaran akan eksistensi kemanusiaan bahwa kehidupan dan kematian adalah keniscayaan pada diri manusia membawa kita pada pertanyaan besar; lalu apakah yang dicari manusia dalam hidupnya? Filusuf yunani kuno Aristoteles menyatakan bahwa manusia mencari kebahagiaan. Ya kebahagiaanlah yang dicari manusia, namun ini pun menyisakan pertanyaan lanjutan apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan itu? Mari kita lihat di sekeliling kita. Hampir semua orang yang kita temui akan menjawab iya jika ditanya apakah anda ingin bahagia. Tetapi ketika ditanyakan lagi yang seperti apakah bahagia menurut anda, kita akan mendapatkan banyak jawaban. Seorang miskin akan merasa bahagia jika ia mendapat harta, seorang sakit akan merasa bahagia jika mendapat kesehatan, seorang gadis akan merasa bahagia jika mendapat pujaan hatinya, seorang yang ingin kekuasaan akan mendapat bahagia jika mendapatkan kekuasaaannya. Jadi ternyata dimensi kebahagiaan dalam diri manusia sangat bervariasi. Aristoteles melanjutkan bahwa tindakan dinilai salah apabila tidak mengarah kepada kebahagiaan dan benar apabila mendatangkan kebahagiaan. Pandangan klasik ini ternyata mempengaruhi para pemikir di beberapa abad kemudian hingga melahirkan pandangan yang disebut utilitarianisme. Utilitarnisme sebuah toeri yang diusung oleh David Hume dalam memberikan respon terhadap para pengusung ide moralitas, yang melihat aspek non fisik manusia sebagai unsur penting dalam kebahagiaan. Ide ini kemudian secara luas dikenal melalui pemikiran John Stuart Mill yang mengajarkan bahwa manusia perlu mengejar kebahagiaan yang puncak,yaitu segala hal yang bisa dikejar untuk dinikmati di dunia ini, dan ujung utilitarianisme ini bisa kita lihat pada filsafat hedonisme yang menekankan kesenangan terbesar manusia adalah ketika mereka mendapatkan, memenuhi dan menikmati keinginan-keinginan fisikal.

Di kutub yang lain para moralis bertolak belakang dengan ide ini, bahwa kebahagiaan dan kesenangan tidaklah dapat dicapai melalui pemenuhan fisik semata, bahkan kadangkala fisik menjadi sama sekali tak mampu menjamah kenikmatan-kenikmatan psikis. Bahwa utilitarinis telah tertipu oleh kebahagiaan semu pada pemenuhan fisik semata, sementara kita tahu bahwa fisik terbatas oleh ruang dan waktu, karena itu ia tidak abadi, akan punah di masa nanti. Sehingga yang diperlukan adalah memburu kebahagiaan ruhani, hingga dalam bentuk yang radikal yakni fisik tidak lagi dianggap dapat memberikan kebahagiaan.

Islam merujuk kebahagiaan tidak pada konsep jasmani. Kebahagiaan adalah kondisi jiwa yang dipenuhi keyakinan kuat (iman) tentang hakikat kehidupan kesadaran akan eksistensi kemanusiaannya. Banyak contoh mereka yang bahagia menjalani kehidupan pahit maupun manis, seperti bilal, mus'ab, imam hambali, s quthb, hingga hamka, keyakinan adalah harta yang sangat mahal dalam kehidupan seseorang, kata penyair besar Pakistan M. Iqbal hilangnya keyakinan dari diri seseorang lebih buruk dari suatu perbudakan.
Dalam pandangan psikologi dikenal istilah reframing. Yaitu kondisi dimana kita kembali memetakan sudut pandang kita sendiri dalam melihat persoalan. Sebuah teknik mengub ah sudut pandang, contoh yang bisa kita lihat adalah ketika dua orang salesman dikirim ke Afrika, yang satu putus asa merasa tidak akan bisa closing saat melihat penduduk Afrika yang yang didatanginya tidak ada yang bersepatu. Salesman yang satu lagi ketika melihat keadaan itu langsung menelepon bosnya di Amerika karena menganggap penduduk Afrika yang tidak bersepatu adalah pangsa pasar baru yang potensial. Peristiwa yang sama dimaknai berbeda-beda tergantung kondiisi pikiran dan pemahaman kita. Tentu saja peristiwa boleh sama tetapi keyakinan yang berbeda menentukan hasil yang berbeda pula.
Dalam reframing ini kita harus memandang segala sesuatu dalam sudut pandang yang positif. Jika kita mampu menggunakan pola reframing seperti ini hidup kita akan bahagia.
Pola seperti ini akan membawa kepada syukur akan kehidupan yang telah diberikanNYA. Rasa syukur inilah kunci dari kebahagiaan hidup. Itulah sebabnya dalam Quantum Ikhlas dikatakan bahwa bersyukur mesti mendahului bahagia, karena dengan bersyukurlah kita bisa menemukan kebahagiaan, kebanyakan menganggap bahwa ketika mendapatkan sesuatu barulah bersyukur dan merasakan kebahagiaan.
AlGhazali menyatakan bahwa puncak kebahagiaan adalah mengenal Allah, kelezatan mata adalah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, dan indera lainnya pun begitu. Kelezatan hati adalah mengenal Allah, melalui ayat kauniah dan quliyahNYA. Sementara Filsuf Yahudi Kuno Saadiah ben Yoseph menegaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah menjadi bahagia, yaitu orang yang mampu menjalani hidup secara penuh dengan cara menjalankan perintah dan larangannya
Pada akhirnya AlQuran menggambarkan dua kondisi manusia; mereka yang berjalan menuju kebahagiaan (Sa'adah) dan mereka yang berjalan menuju kesengsaraan (syaqawah) (QS 11:105-108), maka berjalan di atas rel keyakinan akan membawa kepada keabadian yang mendamaikan bukan keabadian yang absurd seperti pandangan kaum Marxis yang menyatakan bahwa kebahagiaan hanyalah terbatas pada kehidupan dunia karena kematian adalah akhir segalanya, bukan pula seperti pandangan kaum spiritualis yang menyatakan bahwa kebahagiaan tidak ada di dunia, tetapi di kehidupan setelah kematian.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?