Hampa

23 Oktober 2014 17:32:27 Dibaca :

dikala mentari bersinar


senyum awan lebih menang


di banding angin yang terbang


tapi deray hujan turun


bongkahan kristal membelah angkasa


bercucuran jatuh di pipih


termenung dalam hati akan nan kalbu


mencoba berdiri tersenyum


di bongkahan beling yang menusuk


merasa kedinginan di panas nya mentari memebakar


dunia yang hitam putih memeberikan arti kelabu dalam hidup


berjalan mengikuti kaki


menyosong dunia yang semu


terperangkap di dunia fetamorgana


bisakah daun menjadi bunga


sementara kepompong bisa jadi kupu kupu


bertahan dengan diri yang hina


mencoba agar suci


bagaikan kaktus berbunga molek


bisakah badan derdiri dengan kaki merangkap sementara api berkobar membekukan hati yang terlanjur meleh akan panah cinta yang menusuk kaibu


bukan kah akau yang hampa menunggu penanatian mu tamoa ada yang mengerti maksud hati berbicara bisu di depan cermin berharap



bayangan bisu bisa mengerti namu termelenung di dalam kalbu

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?