HEADLINE HIGHLIGHT

Pengisap Shisha Itu Bisa Berbahasa Indonesia

06 September 2012 15:54:59 Dibaca :
Pengisap Shisha Itu Bisa Berbahasa Indonesia
Saya bersama si sopir dan temannya yang sedang mengisap shisha. Perbincangan dengan mereka berlangsung dalam bahasa Indonesia.

Jangan heran jika di wilayah Indonesia terkadang masih terdapat warga yang tidak bisa bicara dengan bahasa Indonesia. Pernah dalam sebuah kunjungan wisata ke Kota Cianjur Jawa Barat tahun 2003, saya dibuat kalang kabut karena seorang pedagang hanya paham bahasa Sunda. Waktu itu, saya ingin membeli souvenir berupa gantungan kunci yang berbentuk kujang. Penjual souvenir itu seorang wanita paruh baya, kira-kira berumur lima puluh tahunan. Saya tanya berapa harga gantungan kunci itu, dia katakan “genep ribu!” Saya yang berasal dari Aceh tidak pernah mendengar kata “genep ribu.” Saya tanya kembali, dia tetap mengatakan “genep ribu” sambil terus “berkicau” dengan bahasa Sunda. Sampai akhirnya seorang laki-laki menengahi, katanya harga souvenir itu Rp.6000 dalam bahasa Sunda disebut “genep ribu.” Peristiwa miskomunikasi di Cianjur itu membuat saya trauma sekaligus menyadari bahwa belum seluruh anak bangsa ini dapat berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Trauma itu terus “menghantui” saya, lebih-lebih ketika menunaikan ibadah haji di Mekkah pada tahun 2007. Cerita jamaah yang sudah pernah berhaji, semua mengatakan bahwa orang Arab di Mekkah tidak bisa berbahasa Indonesia dan Inggris. Benar sekali, begitu mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, komunikasi dengan petugas imigrasi menggunakan bahasa isyarat alias bahasa “tarzan.” Sulit membayangkan, bagaimana jadinya nanti jika berbelanja kebutuhan pangan atau melakukan tawar menawar barang? Trauma peristiwa Cianjur 2003 membuat saya makin khawatir, jangan-jangan akan timbul salah pengertian dengan warga di Mekkah. Dari Jeddah, rombongan saya langsung diantar ke Madinah menggunakan bus. Saya malah terkejut ketika masuk ke beberapa pertokoan di Madinah. Mereka menyapa dengan bahasa Indonesia yang patah-patah. Kata yang paling sering mereka ucapkan adalah “hajji masuk,” “murah,” dan menyebut angka seperti “satu, dua, lima, sepuluh, atau dua puluh riyal.” Saya mencoba menawar baju gamis pada seorang pedagang Arab. Dia memberi harga “tiga puluh riyal,” saya tawar “dua puluh riyal.” Dia mengatakan “haram” (artinya tidak bisa). Suasana keindonesiaan ini juga saya temukan pada para pedagang di Mekkah, baik pedagang Arab, Turki, Pakistan maupun Banglades. Mereka menyapa kita dengan bahasa Indonesia meskipun sepotong-sepotong. Hal yang paling mencengangkan ketika seorang sopir bus berbangsa Arab dapat berbahasa Indonesia meskipun tidak terlalu lancar. Sopir itu bertugas mengantar kami ke Masjid Atas Air di Laut Merah, Jeddah, menjelang pulang ke tanah air. Begitu bus diparkir di dekat taman, sopir itu berteriak “turun, Laut Merah.” Kemudian, bersama temannya, si sopir beranjak ke arah bagasi bus itu. Saya melihat dia mengambil seperangkat peralatan berbentuk piala dari bagasi bus. Saya mendekat, memperhatikan benda itu. Entah bagaimana prosesnya, tiba-tiba dia sudah mengisap sepotong pipa dan menghembuskan asap ke udara. Kelihatannya dia sangat menikmati benda itu. “Ini shisha, enak, mau isap,” kata sopir yang bernama Ahmed dengan bahasa Indonesia yang tersentak-sentak. Walaupun menggunakan bahasa Indonesia yang tergolong parah tetapi bisa dimengerti. Dia mulai bercerita tentang shisha. Menurutnya, shisha atau hookah berasal dari bahasa Persia. Shisha ini rokok orang Arab. Didalam tabung kaca itu diberi berbagai buah-buahan yang dicampur dalam air. Terus, tambah Ahmed, diberi sedikit tembakau dan dipanaskan dengan arang. Kasihan melihat si sopir mengisap arang, saya menawarkan sebatang rokok kretek Indonesia. Dia malah mengatakan, “sigar tidak enak, shisha enak.” Kemudian, dia menjulurkan pipa shisha ke arah saya, “isap, shisha enak.” Saya menolaknya karena belum pernah mengisap shisha. Dari kesemua itu, terdapat satu hal yang membanggakan saya. Meskipun dia berbangsa Arab ternyata mampu berbincang-bincang menggunakan bahasa Indonesia. Sebaliknya, saya merasa sedih manakala mengetahui masih ada anak bangsa yang belum bisa berbicara dalam bahasa Indonesia.

Syukri Muhammad Syukri

/muhammadsyukri

TERVERIFIKASI (BIRU)

Orang biasa yang ingin memberi sesuatu yang bermanfaat kepada yang lain.... tinggal di kota kecil Takengon
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?