Bincang Sastra Bersama Mochtar Pabottingi

21 Mei 2013 02:04:49 Dibaca :

Catatan Much. Khoiri


Kemarin malam saya dihubungi oleh Prof. Mochtar, begawan analis politik terkemuka yang sastrawan ini, setelah beberapa kali berkomunikasi lewat email. Kami berbincang tentang persiapan acara Bincang Sastra yang akan dihelat di Auditorium Prof. Dr. Leo Idra Ardiana FBS Kampus Lidah Wetan Unesa pada 22 Mei 2013 pukul 14.00-16.00.


Saya belum pernah bertemu beliau, kecuali lewat karya-karyanya. Namun, dari setiap tuturan lisan dan tertulis, saya menangkap kematangan intelektualitas dan kedalaman penghayatan sastranya. Ini menambah kesan saya untuk beliau setelah menyimak biografi dan membaca buku terbarunya Burung-Burung Cakrawala (2013) yang diberikan mas Satria Dharma dua pekan silam.


Eureka Academia mensponsori acara literasi yang ditunggu-tunggu ini, yang didukung oleh Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Panpelnya kolaborasi HMJ kedua jurusan, yang harus secara maraton menyiapkan segala sesuatunya. Saya sudah mengecek persiapan teknis dan rundown acaranya.


Dalam acara yang insyaallah bakal meriah ini saya didapuk menjadi moderator. Karena itu, ada baiknya saya mamperkenalkan nara-sumber  yang gentleman ini—penulis intelektual publik terkemuka di negeri ini menawarkan kritisisme dan sekaligus optimismenya pada ketercerahan cakrawala Indonesia, beserta secuplik sinopnis dari buku terbarunya.


LEBIH DEKAT DENGAN PROF. MOCHTAR


Menurut berbagai sumber, Mochtar Pabottingi, (lahir di BulukumbaSulawesi Selatan1945), adalah seorang penulis Indonesia, baik non-fiksi mapun fiksi. Namun banyak orang mengenalnya sebagai seorang Peneliti Utama bidang perkembangan  politik nasional di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) daripada sastrawan.  Penghayatan sastranya membuat analisis politiknya holistik dan bernas.


Tahun 1973 ia menamatkan kuliahnya di Jurusan Sastra Ingggris Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Tahun 1984 lulus M.A. dari Universitas Massachusets (USA), dan tahun 1989 lulus Ph.D. dari Universitas HawaiiHonolulu (USA).


Ia pernah menjadi redaktur Mercu Suar dan Harian Kami (keduanya edisi Sulawesi Selatan), Ketua Seni Budaya Muslim Indonesia di Ujungpandang, penggiat Teater Gadjah Mada, redaktur majalah Titian, dan sekarang sebagai peneliti LIPI di Jakarta.


Ia menulis puisi, esai, cerita pendek, dan artikel.  Tulisannya kerap dimuat di majalah dan surat kabar Pelopor YogyaBasisHorisonBudaya JayaPrisma dan Tempo.  Puisinya juga dimuat dalam antologi puisi Linus Suryadi AG Tonggak 3 (1987), dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam antologi puisi On Foreign Shores: American Images in Indonesian Poetry (1990).


Ia menjadi redaktur buku berjudul: Islam: Antara Visi, Tradisi dan Hegemoni Bukan Muslim, kumpulan esai terbit 1986. Buku kumpulan puisinya berjudul Dalam Rimba Bayang-bayang terbit 2003. Buku terbarunya, yang dinilai Seno Gumira Ajidarma sebagai novel otobiografi, berjudul Burung-Burung Cakrawala (2013).


Ia mengakui rumah dan buku ikut membentuk kepribaiannya. Rumah telah membentuk karakternya seperti sekarang. Sementara buku membukanya pada keluasan cakrawala.


Kecintaannya pada buku bermula dari rumah orangtuanya yang terletak tiga kilometer dari Bulukumba. Ayahnya adalah gerilyawan penentang Belanda. Sebelum bergerilya, ayahnya membelikan buku pelajaran membaca berjudul Si Didi dan Si Minah ketika usianya genap lima tahun. Buku itu dilahap habis.


Kegemaran membaca karya sastra berlanjut. Mochtar yang ketika remaja tergolong nakal, jatuh hati pada puisi Soekarno berjudul "Berdiri Aku" yang bercerita tentang kecintaan kepada Tanah Air. Konon, ia hafal luar kepala puisi itu dan ia kerap diminta tetangganya untuk membacakannya keras-keras di beranda.


Di tengah kesibukannya sebagai Kepala Pusat Penelitian Politik dan Kewilayahan LIPI, kegemaran masa kecilnya membaca karya sastra tetap berlanjut. Intensitas bacaannya pada karya Milan Kundera mengarah pada keterpesonaan. Pesan Kundera yang kental ditangkapnya adalah munculnya kecenderungan masyarakat untuk mencari kembali identitas yang telah terkubur oleh ambisi materi atau kekuasaan.


Kecintaan pada karya sastra itulah yang membuat analisis politiknya lebih holistik. Semasa menjadi mahasiswa, ia aktif berpolitik bersama teman- temanya di Yogyakarta dengan kelompok studi politik "Juli 73". Ia tak pernah meninggalkan puisi, sastra, dan politik. Ia mengakui adanya lingkaran unik keterkaitan sastra dan politik saat menemukan, menyukai dan hafal puisi Soekarno berjudul "Berdiri Aku".



BURUNG-BURUNG CAKRAWALA


Dirangkum dari berbagai sumber, buku Burung-burung Cakrawala (BBC)  ini masih cukup segar karena baru saja terbit pada tanggal 17 Januari 2013 lalu. Beberapa hari setelah terbit, buku ini banyak direkomendasikan sebagai bacaan segar oleh tokoh-tokoh yang populer.


Buku setebal 386 halaman ini  berisi kisah sejati ini merupakan kesaksian yang kaya, hidup, dan orisinal tentang apa arti dan fungsi Tanah Air serta kemerdekaan bagi seorang anak desa. Seperti sejumlah anak serupa, ia kemudian bertumbuh menjadi manusia yang jiwa dan badannya terbangun mengikuti citra diri dan impian Para Pendiri Bangsa-deretan eksemplar burung–burung pelintas benua, penjelajah cakrawala.



Sebagai narasi diri, ini adalah rekaman tangan pertama si anak desa tentang bagaimana ia menjadi sembari sekaligus memotret masyarakat bangsanya dan masyarakat mancanegara lewat kota-kota di mana ia berkiprah selama tiga zaman.

Di saat terbang lintas benua menjelajah lapis-lapis cakrawala, ia pun bercinta serta bersaksi cerdas tentang masa dan dunianya, tentang impian-impian pribadi dan ideal-ideal berbangsa yang terus dijunjungnya. “Indonesia tak pernah bisa dipisahkan dari ketercerahan cakrawala.” Hakikatnya, ini adalah suatu kesaksian yang merayakan Indonesia.


Nah, masih ingin tahu lebih banyak tentang Mochtar dan proses kreatifnya?  Ingin tahu bagaimana begawan politik yang sastrawan ini membaca puisi dan nukilan BBC-nya?  Saya tunggu pada Bincang Sastra yang akan dihelat di kampus Lidah Wetan ini. Sampai jumpa dengan jiwa-jiwa kreatif. *



Surabaya, 20 Mei 2013


Much. Khoiri



Meretas Mimpi Lintas Generasi


http://www.kompasiana.com/much-khoiri


http://www.mycreativeforum.blogspot.com

Much. Khoiri

/much-khoiri

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Penulis dan Dosen Sastra (Inggris), Creative Writing, Kajian Budaya dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Trainer dan Perintis 'Jaringan Literasi Indonesia' (Jalindo). Alumnus International Writing Program di University of Iowa (USA, 1993); dan Summer Institute in American Studies di Chinese University of Hong Kong (1996). Kini menjadi Kepala UPT Pusat Bahasa Unesa. Anggota redaksi jurnal sastra 'Kalimas'. Karya-karya fiksi dan nonfiksi pernah dimuat di aneka media cetak, jurnal, dan online—dalam dan luar negeri. Buku-bukunya antara lain: "36 Kompasianer Merajut Indonesia" (ed. Thamrin Sonata & Much. Khoiri, Oktober 2013); "Pena Alumni: Membangun Unesa melalui Budaya Literasi" (2013); antologi "Boom Literasi: Menjawab Tragedi Nol Buku" (2014), buku mandiri "Jejak Budaya Meretas Peradaban" (2014) dan "Muchlas Samani: Aksi dan Inspirasi" (2014). Eseinya masuk ke antologi "Pancasila Rumah Kita Bersama" (ed. Thamrin Sonata, 2014) dan papernya masuk buku prosiding "Membangun Budaya Literasi" (2014). Menjadi penulis dan editor buku "Unesa Emas Bermartabat" (2014). Buku paling baru "Rahasia TOP Menulis" (Elex Media Komputindo, Des 2014).
Blognya: http://mycreativeforum.blogspot.com
dan
www.kompasiana.com/much-khoiri.
Melayani KONSULTASI dan PELATIHAN menulis karya ilmiah, karya kreatif, dan karya jurnalistik.
Alamat: Jln. Granit Kumala 4.2 No. 39 Perumnas Kota Baru Driyorejo (KBD) Gresik 61177.
Email: much_choiri@yahoo.com.
Kontak: 081331450689
Tagline: "Meretas Literasi Lintas Generasi"

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?