Rencana Manusia vis a vis Rencana Allah

20 Juni 2017 09:45:20 Diperbarui: 20 Juni 2017 10:18:41 Dibaca : 41 Komentar : 1 Nilai : 0 Durasi Baca :

RENCANA manusia tidak pernah sempurna. Manusia boleh bercita-cita merencanakan sesuatu apapun, bahkan yang mustahil sekalipun. Tak ada larangan bagi manusia untuk bercita-cita.

Dalam bahasa agama, kita mengenal dua istilah dalam merumuskan harapan manusia atau rencana manusia. Pertama Tarajji dan yang kedua Tamanni. Tarajji adalah harapan atau rencana yang mungkin tercapai, sementara Tamanni adalah rencana yang tidak mungkin teralisasi.

Dua kategori ini menunjukkan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Mereka wajib berharap dan berencana, tetapi mereka juga harus sadar bahwa bersama mereka ada keterbatasan, sebagai wujud kemanusiaannya yang dhaif.

Kesadaran ini akan mengantarkan kita pada sebuah sintesa: Seindah-indahnya rencana manusia dibangun sangat mungkin hasilnya tak seindah yang kita pikirkan. Serapi apapun rencana manusia diatur hasilnya boleh jadi tak serapi apa yang termaktub dalam pikiran kita.

Tentu juga berlaku hukum sebaliknya: Adakalanya niat dan rencana manusia disusun secara biasa-biasa saja, tetapi hasilnya malah luar biasa.

Inilah realitas yang tak bisa kita ingkari bahwa rencana manusia akan selalu terbatas jika tidak disertai rencana Tuhan. Kemanusiaan manusia tidak akan sempurna jika tidak ada aspek Ketuhanan yang menyertai.

Realitas ini pula yang membuka kesadaran batinku dalam petualanganku selama tiga hari terakhir di Bandung. Kunjunganku ke Kota "Paris van Java" ini membuahkan banyak fakta atau hasil yang sesungguhnya di luar rencana, di luar skenario. Bahkan hari-hariku yang dihabiskan di sana pun sungguh juga sangat di luar rencana. Misterius. Unpredictable. Di luar jangkauan rencana yang ku bangun sebelumnya.

Ketika aku berencana A, maka yang terjadi bisa A minus, A plus, bisa pula A kuadrat, dan bahkan A kubik. Saat aku merencanakan bersua pamanku tiga hari lalu, sore itu tidak terwujud. Baru keesokan harinya bisa terwujud, itu pun baru terwujud sore hari, atau hampir 2x24 jam. Hasil pertemuan pun tak sesuai ekspektasi. Tak bisa memberikan solusi secara langsung, paman masih mengusulkan aku bertemu adiknya yang dianggap jauh lebih mumpuni. Ia beri aku alamat dan nomor kontak yang bisa dihubungi.

Akupun 'terpaksa' mabit di kediaman kawanku. Besoknya, aku coba hubungi nomor yang diberi paman, hasilnya nihil. Baru sore hari lagi ada informasi jikalau adiknya tengah sakit.

Aku pun berencana kembali ke Jakarta. Tapi rencana itu pun kembali berubah setelah secara mengejutkan, istri temanku di Bandung yang oleh dokter diprediksi akan melahirkan pada 15 Juni, justru lebih cepat delapan hari dari perkiraan dokter. Imbasnya, ia yang tadinya berencana melahirkan di Tasikmalaya pun, gagal terwujud.

Aku pun mengurungkan niatku pulang dan memilih membantunya sebisaku. Semalam aku berencana pulang sehabis sahur, tetapi rencana itu juga tak membuahkan hasil karena fisikku yang sudah kecapean. Aku coba memejamkan mata untuk waktu 1-2 jam, tapi malah aku terbangun saat sinar matahari sudah terik. Aku terlelap lebih dari 6 jam.

Subhanallah! Sebuah rencana di luar apa yang kupikirkan. Imbas dari itu semua aku baru bisa pulang sekitar pukul 10.00 lebih atau sekitar hampir pukul 11.00 karena harus melihat bayi yang baru dilahirkan terlebih dahulu. Akhirnya, aku kembali ke Jakarta. Prediksiku, pukul 14.00 maksimal aku sampai di DPR, tempatku mengais karunia-Nya. Tapi prediksi itu juga tak berjalan lancar, padahal aku sudah merencanakan dengan kecepatan yang maksimal. Di sepanjang tol Purbaleunyi, laju kecepatan mobilku 100-130 km/h. Namun saat masuk tol Cikampek-Jakarta, rencana ini semuanya berubah karena kemacetan yang dahsyat, ditambah pula kemacetan di Tol Lingkar Dalam.

Salah satu Aspri dari anggota DPR tempatku bekerja menanyaiku, "Bang, di mana? Komandan nanyain". Aku jawab, " Masih di tol".

Di kemacetan itu pula aku melajukan kendaraanku dengan hati-hati, menjaga jarak dengan mobil di depanku agar tidak menyeruduk. Eh, malah sebuah mobil taksi Blue Bird yang menyeruduk mobilku dari belakang. Sebuah peristiwa yang lagi-lagi di luar kehendakku.

Inilah rencana manusia. Sesempurna apapun rencana manusia disusun, tetap jauh lebih canggih rencana Allah yang Maha Sempurna. Tak ada yang mampu mengalahkan rencana Allah. Inilah yang oleh Allah berkali-kali ditegaskan dalam Firman-Nya dengan kata "Wa makara Allahu", atau di ayat lain dengan kata " Wa yamkuru Allahu".

Konteks Kekinian

Fenomena ini sebenarnya bukanlah fenomena baru. Kemenangan David (Daud), pasukan Thalut atas Goliath (Jalut), kegagalan rencana Abrahah al-'Asyram, seorang gubernur dari Abyssinia (Kekaisaran Ethiopia) dalam menghancurkan Ka'bah karena dijatuhi batu panas oleh burung Ababil dan gagalnya Firaun menaklukkan Musa bahkan ia tenggelam di Laut Merah adalah peristiwa-peristiwa sejarah yang menunjukkan secanggih apapun rencana manusia jika tak diizinkan oleh Allah ia tidak akan pernah terjadi.

Dalam konteks DKI baru-baru ini, ia pun menemukan kebenarannya. Gagalnya Ahok kembali terpilih atau vonis penjara 2 tahun dalam kasus penistaan agama adalah bukti sahih bagaimana sesungguhnya rencana manusia itu tak mampu membendung rencana Ilahi. Ada rencana di balik rencana. Ada skenario di balik skenario.

Hari-hari ini kita juga dihadapkan dengan berbagai skenario yang coba diciptakan sedemikian rupa oleh manusia. Salah satunya rencana yang disetting oleh manusia dalam melumpuhkan Habib Rizieq sebagai komandan perjuangan umat Islam Indonesia. Hari ini kita berani menyebutnya sebagai komandan perjuangan umat Islam karena perlawanannya terhadap rezim penguasa. Kepemimpinannya dalam menggerakkan umat Islam layak diapresiasi, sehingga keberadaan umat Islam di Indonesia tak bisa disepelekan, tak bisa dihina. Meskipun mereka tidak duduk dalam kekuasaan tapi power pergerakannya tak bisa dikesampingkan.

Konon, perlawanan dan keberanian Habib Rizieq inilah yang membuat penguasa tak nyaman, merasa kurang nyenyak tidur, kurang enak makan bahkan khawatir akan tumbang di tengah jalan, sehingga berbagai sekenario pun diciptakan. Di antara yang teranyar adalah kasus chat mesum Habib Rizieq dengan Firza Husein. Meski sulit mencari bukti, tapi kasus ini terus "digoreng" bahkan hingga Rizieq berstatus DPO. Prosesnya pun begitu cepat.

Tidak sedikit yang menganggap ini semua ini hanya skenario untuk meruntuhkan moral Habib Rizieq. Jika benar demikian, yakinlah jika Allah menghendaki, moral Habib Rizieq bukan runtuh, justru semakin tinggi, perlawanan justru akan semakin kuat, dan bahkan bukan mustahil, umat akan semakin menyimpan harapan perubahan negeri ini di pundak Habib Rizieq.

Saya pribadi melihatnya bahwa di balik rencana manusia ini, apapun pangkatnya, apakah manusia itu berpangkat letnan, jenderal, presiden, dan seterusnya, bagi Allah itu tidak ada tidak ada pengaruhnya. Bagi Allah, "everything is easy". "If there is impossible things for human, that's not for Allah. For Him, everything is possible". Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Itulah jalan Ilahi, jalan kehendak tanpa batas.


Wallahu a'lamu bi al-shawab

Tol Lingkar Dalam, Gatot Subroto, Jakarta Selatan 7 Juni 2017

Pukul 15.21 WIB.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana