Mochamad Syafei
Mochamad Syafei pegawai negeri

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pernah juga mengajar di SMP N 228 Jakarta. Suka Menu Lis dan Me Mba Ca. Agar tidak jadi gila ....

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Laki-laki yang Diam

20 Maret 2017   12:33 Diperbarui: 20 Maret 2017   12:53 202 3 0

Laki-laki itu tak mengeluarkan kata apa pun.  Kemarahan yang begitu tebal membakar sorot matanya.  Sorot mata itu benar benar dipenuhi sinar kebencian yang tak mungkin dipadamkan.

Laki itu berdiri terpaku.

Perempuan itu menangis di sampingnya.  Meminta maaf dengan air mata yang terus mengalir.  Tak ada suara apa pun dari perempuan itu.  Tangan perempuan itu memegang lengan laki-laki yang sorot matanya lurus ke depan.

"Tak perlu ada cerita lagi," kata laki-laki itu dalam hati.

Perempuan itu jelas tak mendengarnya.  Karena laki-laki itu memang sudah kehabisan kata-kata.

Angin bertiup kencang.  Beberapa daun terlepas dari dahan.  Meliuk-liuk terjerembab pada liukan terakhir.  Dan laki-laki itu masih mematung.  Dengan lengan yang juga masih diopegang erat oleh perempuan yang masih menangis.

Beberapa kali petir memakakan telinga.  Lalu, senyap tiba-tiba.

Laki-laki itu ingin melangkah.  Tapi juga tak ingin melangkah.  Ada pilihan yang belum tuntas.  Laki-laki itu bimbang.  Menyelesaikan segala urusan atau meninggalkan segalanya tanpa peduli.  

Laki-laki itu masih belum bicara.  Dan perempuan di sampingnya masih belum menuntaskan air matanya.

"Kita harus tuntaskan!" kata laki-laki itu dalam hati.

"Kita tinggalkan saja semua!" kata hati lainnya.

Dan laki-laki itu terus bimbang.  Antara melangkah atau tetap diam.

Sore benar benar hadir dengan nuansa remangnya.  Mungkin sebentar lagi malam akan menutupi dunia ini.  Dan laki-laki itu tetap diam.  Juga perempuan itu tetap menangis dengan air matanya yang jernih.