Bahaya di Dunia Pendidikan “Internet, Copas dan Plagiarism”

21 Juli 2013 02:59:24 Diperbarui: 24 Juni 2015 03:15:32 Dibaca : 1936 Komentar : 2 Nilai : 1 Durasi Baca :

Internet bagaikan dunia kedua. Tempat untuk menemukan hal yang sulit didapatkan di dunia nyata. Dengan fasilitas search enginenya, hampir semua informasi bisa ditemukan. Fasilitas copas, membuat informasi-informasi ini lebih mudah untuk dimiliki. Namun, ada yang lupa diri dan terjebak ke dalam bahaya akut di dunia pendidikan, yaitu plagiarism.


Bukanlah hal yang baru bila setiap orang yang terlibat di bidang pendidikan akan bergantung dengan materi-materi yang tersedia online di internet. Bagi mahasiswa, dengan kemampuannya browsing di internet, tugas kuliah menjadi lebih mudah dan cepat terselesaikan. Menulis esai, membuat makalah, sampai membuat skripsi bukanlah hal yang sulit lagi. Ditambah lagi, bila dosen-dosen mereka sudah tua dan tidak terlalu up to date dengan materi-materi di internet.


Cukup dengan mengetikkan kata kunci dari informasi yang mereka cari, ribuan materi tentang itu langsung tersedia dalam hitungan detik. Dengan hanya memblock tulisan yang didapat, kemudian click kanan, pilih copy, tinggal mememindahkannya ke halaman microsoft word pribadi dengan mengclick paste. Dengan begini, satu tugas esai bisa selesai dalam lima menit, satu makalah ilmiah bisa kelar tanpa berpusing ria, bahkan satu skripsi bisa selesai dalam hitungan hari. Mudah bukan.


Plagiarism



Tidak hanya mahasiswa saja, kalangan pengajar, seperti guru dan dosen pun ada yang menempuh jalur tersebut, baik untuk melengkapi materi pengajaran mereka maupun untuk tugas menulis mereka. Cukup buka internet, ketik kata kunci, copy and paste deh. Lalu, salah kah tindakan seperti ini? Bila kita berfikir sederhana, jawabannya tidak. Kenapa? Kalau materi-materi yang tersedia online tersebut tidak boleh di copy, seharusnya tidak usah di posting di internet bukan? Kenapa harus dibagi kalau tidak ingin dicopy? Seperti itulah kira-kira alasan sederhananya.


Namun, bila kita berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan, tindakan copy paste dari internet ini bisa mengantarkan kepada sebuah masalah besar di dunia pendidikan, yaitu plagiarism. Tidak sedikit professor, guru besar, dosen ataupun guru-guru di sekolah yang akhirnya terjebak ke dalam tindakan plagiarism. Karena tuntutan akademik harus menulis, ide sulit keluar, browsing di internet, ketemu satu artikel, kemudian copy dan paste. Dengan sedikit modifikasi, ganti judul, hilangkan beberapa paragraf, jadilah milik pribadi. Bila guru-guru besar saja bisa terjebak ke dalam plagiarism, apalagi mahasiswa.


Plagiarism secara sederhana dapat diartikan sebagai tindakan mengcopy tulisan orang lain, baik dalam beberapa kalimat, paragraf, ataupun secara utuh tanpa mencantumkan sumber tulisan itu.  Keberadaan internet dan fasilitas copy dan paste terlihat meningkatkan jumlah kasus-kasus plagiarism di dunia pendidikan. Dahulu, sebelum ada internet, copy dan paste dilakukan dengan cara mengetik ulang informasi yang telah tersedia dalam bentuk media cetak, seperti buku, jurnal dan lain-lain. Saat itu, angka plagiarism masih tidak terlalu tinggi karena butuh waktu untuk mengetik ulang bahan-bahan tersebut. Sekarang, kasus plagiarism naik drastis. Kemudahan dalam mencari bahan di Internet serta mengcopy-pastenya, ikut andil dalam meningkatkan jumlah kasus plagiarism ini.


Turnitin


Kita tidak bisa menyangkal bahwa sebagian besar skripsi, thesis, artikel maupun esai dari mahasiswa, guru ataupun dosen yang dibuat dan dikumpulkan di Indonesia mungkin mengandung tingkat presentase plagiat yang tinggi. Kita hanya masih sulit untuk menemukan cara mengetahuinya. Apalagi yang dimaksud plagiat adalah mengcopy sebagian atau keseluruhan isi tulisan yang sama persis dengan sumber aslinya tanpa mencantumkan sumbernya, karena pengetahuan kita terbatas. Tetapi, hal ini tidak berlaku di luar negeri.


Di Amerika, sejak tahun 1990-an, telah digunakan sebuah software anti plagiarism yang bernama turnitin. Cara kerja software ini adalah dengan menyimpan ribuan data-data semua tulisan, terutama yang tersedia online, mulai dari artikel-artikel ilmiah, skripsi, disertasi, buku, sampai tulisan-tulisan yang tersedia di website-website. Bila ingin mengecek seberapa besar presentase keaslian dari sebuah tulisan, cukup upload saja ke dalam software ini dan akan keluar presentase kesamaan tulisan itu dengan tulisan-tulisan yang telah dibuat sebelumnya.


Awalnya software ini digunakan oleh universitas-universitas besar di amerika, seperti Harvard University, untuk mengecek keaslian esai-esai yang ditulis oleh calon-calon mahasiswa mereka. Kemudian, karena software ini bisa bekerja cepat dalam mengecek presentase plagiat dalam sebuah tulisan, sebagian besar universitas-universitas besar di luar negeri sekarang menggunakannya. Oleh sebab itu, pelajar-pelajar Indonesia yang menimba ilmu di luar negeri biasanya sangat merasa sekali kesulitannya menulis dengan tingkat plagiat yang rendah.


Sewaktu masih studi di University of Manchester lalu, aku merasakan kesulitan ini. Aturan di universitas mengatakan bahwa bila angka presentase kesamaan tulisan dengan tulisan-tulisan yang lain melebihi 10%, maka akan dipanggil. Awalnya, aku tidak mengetahui hal ini. Alhasil, tulisan pertamaku langsung mendapatkan teguran dari dosen. Bingung, sekaligus panik. Apalagi, kuliah S2 di Inggris belum tentu akan lulus dengan title Master. Bila tidak memenuhi persyaratan minimalnya, mahasiswa Master bisa hanya lulus dengan title Postgraduate Diploma atau setara S1. Saat itulah, aku mulai belajar dan membiasakan diri menghindari plagiarism.


Cara mereka mengetahui tingkat keaslian sebuah tulisan dari mahasiswa juga sangat mudah. Mahasiswa cukup diminta untuk submit tulisannya di software turnitin universitas, lengkap dengan identitas diri mereka dan nama dosen yang mengajar. Nanti, di layar komputer si dosen, akan muncul tulisan mahasiswa tersebut, lengkap dengan presentase kesamaannya dengan tulisan-tulisan lainnya, seperti tugas-tugas mahasiswa terdahulu, artikel-artikel di jurnal-jurnal yang telah terbit maupun di buku-buku. Tulisan-tulisan yang samapun langsung ditandai oleh software ini. Jadi, sang dosen pun tidak terlalu sulit mengetahui dan menjelaskannya kepada mahasiswa tersebut.


Beberapa universitas di Indonesia telah mulai menggunakan software turnitin. Ini merupakan suatu bentuk usaha untuk memperbaiki wajah pendidikan di Indonesia. Penggunaan software ini bisa menekan angka plagiarism yang terjadi di dunia pendidikan. Para makelar pembuat skripsi tidak akan mudah mengindarinya. Dosen dan guru-gurupun akan mulai menghargai hak tulisan-tulisan orang dengan mulai belajar paraphrase dan mencantukan sumber asli dari setiap tulisan yang dikutip.


Copas


Pada dasarnya, tujuan disediakannya fasilitas Copas ini sama seperti tujuan dibuatnya alat-alat teknologi lainnya, yaitu untuk mempermudah pekerjaan penggunanya.  Pemindahan tulisan menjadi lebih cepat dan mudah. Bayangkan bila setiap tulisan yang ingin dipindahkan harus diketik terlebih dahulu, betapa repotnya saat memindahkan tulisan-tulisan yang panjang bila harus diketik ulang kembali semuanya.


Sama seperti alat-alat teknologi yang lainnya, kecerdasan dan kesadaran pengguna adalah hal yang penting agar fasilitas ini dapat berfungsi untuk hal-hal yang baik. Di bidang pendidikan misalnya, copas bisa digunakan dengan syarat si penulis mencantumkan sumber asli dari tulisan tersebut. Dalam hal ini, si penulis bisa menggunakan metode direct quotation (kutipan langsung). Pada situasi lain, penulis bisa copas sebuah contoh kasus atau text ke dalam tulisannya. Selama sumber asli dicantumkan dengan benar, tidak ada yang salah dengan copas.



Budi Waluyo

/mind-di

TERVERIFIKASI

An IFPer & a Fulbrighter | An alumnus of Unib & University of Manchester, UK | A PhD student at Lehigh University, Penn, USA. Blog: sdsafadg.wordpress.com. Twitter @01_budi. PIN BBM: 51410A7E
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana