Cerpen

Cerpen | Rasa yang Terulang

20 Maret 2017   08:46 Diperbarui: 20 Maret 2017   08:58 101 1 4

Rasa yang Terulang

Dentang nada alarmku berbunyi seakan mengundang hujan dibalik kaca, cuaca yang hujan membuatku malas untuk bergegas ke sekolah, aku sempat melihat hpku dan astaga waktu sudah menunjukan pukul 6 lewat 10 menit, aku bergegas mandi dan berganti pakaian.

Ini hari pertamaku sekolah di sekolah baruku.  Aku Via murid pindahan dari Bogor yang bersekolah di SMA Tiford, Jakarta. Aku berlari memasuki gerbang sekolah karena sudah terlambat. Tin.... terdengar klakson mobil dari arah belakangku, astaga mobil putih ini mencoba menabrakku, saat aku ingin melabrak supir mobil itu, tiba-tiba seseorang menarik tanganku.

Kamu siapa mengapa menarikku kemari ? “ujarku”

Hai perkenalkan aku Seni, kamu murid baru pindahan dari Bogor itu ya ?, ngomong-ngomong kita satu kelas loh

Iya, perkenalkan aku Via, mengapa kamu menarikku ketika aku ingin melabrak supir mobil yang mencoba menabrakku tadi? “tanyaku”

Maafkan aku, sebenarnya.... yang ada di dalam mobil tadi itu adalah anak populer disekolah ini, mereka paling ditakuti disini oleh siswa lainya, mereka adalah Jelly ketua geng, Cila dan Bety, selain populer mereka juga jago bela diri.

Ohh begitu, mari kita menuju kelas, “ujarku”

Tiba dikelas Ibu Guru memintaku untuk memperkenalkan diri di depan kelas, aku memperkenalkan diri dengan suara lantang. Aku kemudian berjalan menuju bangku yang kosong.

Hai namaku Aldo ujar seseorang yang duduk di sampingku

Hai aku Via

Lalu kami berkenalan dan berbincang- bincang

Kringg.... jam istirahat berbunyi, aku dan Seni menuju ke kantin untuk membeli jajanan, kami bercanda gurau bersama, beberapa saat kemudia takk!! Suara tangan memukul meja tempat kami makan.

Ehh kalian minggir, kami semua mau duduk disini “ujar Jelly ketua geng dri anak populer”

Maksudmu apa, sangat tidak sopan kamu meminta kami pergi, “ujarku”

Sudah mari kita pergi ke meja lainya, “ujar Seni”

Jam pulang sekolah pun tiba aku segera pulang, setibanya dirumah ternyata ada Jelly hendak mencuci pakaianya kepada Ibuku.

Loh kamu, anak pindahan itu ya,,, heh hanya anak tukang cuci, “ujar Jelly”

Aku tidak menghiraukan perkataanya dan aku bergegas masuk ke dalam kamar.

Saat aku hendak berganti pakaian telolettt.... hpku berbunyi, ternyata itu sms dari Seni

‘ Via ayo kita ke pantai membuat tugas Bahasa Indonesia tentang pembuatan film, baru saja Ibu Guru memberi tahuku kamu sekelompok denganku’

Aku segera bergegas ke pantai dan berpamitan dengan Ibu, setibanya aku di pantai aku menemui Seni yang sudah lebih dulu tiba di pantai, ternyata disini ada Aldo juga, dia sekelompok denganku dan Seni.

Saat kami hendak shooting, datang Jelly dan teman-temanya

Eh anak tukang cuci untuk apa kamu disini kamu itu pantasnya di rumah membantu ibumu menyuci haha “ ucapnya sambil menertawaiku”

Hahaha  “teman-temanya ikut menertawaiku”

Jaga ya bicaramu Jelly, memang kenapa jika aku anak tukang cuci, apakah salah untuk aku pergi ke pantai ? “ujarku”

Ohh... jelas salah, kamu pantasnya ada di kolong jembatan haha, anak tukang cuci aja belagu!! “ujar Jelly”

Heh kamu jangan asal bicara!, “sahutku”

Kamu berani nantangin kita?, kita ini anak populer paling ditakuti di sekolah, yang langka tahu!, “ujar Jelly sambil menatap ke arahku”

Terdengar hebat, tapi sama saja seperti binatang, tidak punya otak “ujarku”

Dasar kamu ya “Jelly”,  Jelly lalu menamparku

Hey sudah sudah, “ujar Aldo”

Tanpa sengaja air mata menetes di pipiku, aku berlari dan berdiam di pinggir pantai

Boleh duduk ?  “tanya Aldo”

Tentu saja “sahutku”

Sudah jangan nangis,” ujar Aldo”

Iyaa,,, kamu untuk apa melempar batu seperti itu “ tanyaku”

Hmmm... di dunia ini ada 4 hal yang tidak bisa ditarik kembali.. “ujar Aldo”

Apa saja ? “tanyaku”

Pertama batu yang dilempar ke laut, kata kata yang telah diucap, kesempatan yang hilang begitu saja dan waktu yang meninggalkan kenanganya.. “Aldo”

Hmm... aku jadi ingat, waktu.. waktu bahagiaku, waktu ayahku dapat jabatan tinggi, beliau selingkuh dengan perempuan lain, kemudian akhirnya aku dan ibuku memutuskan untuk pindah kesini.

Sejak saat itu aku dan Aldo mulai dekat kami sering ngobrol bersama, pergi bersama, sampai akhirnya kami berdua memiliki hubungan..

Libur sekolah tiba, aku dan Aldo menjadi jarang bertemu karena rumah kami jauh dan aku sibuk membantu Ibu mencuci pakaian.

Via Via, panggil Ibuku

Iya bu ada apa ?

Seni mencarimu nak “ujar Ibuku”

Lalu aku menemui Seni, ada apa Sen ?

Ikut aku Vi, ini penting. Aku lalu pergi bersama Seni dengan berpamitan terlebih dahulu kepada Ibu

Seni mengajakku pergi ke suatu taman, dan saat aku menoleh ke samping ternyata aku melihat Aldo jalan dengan Jelly. Hatiku seketika rapuh, bagaimana bisa Aldo yang sebaik itu membohongiku.

Aku meminta pulang kepada Seni, aku menangis dan Seni menenangkanku. Terulang lagi sakit yang kesekian kali, yang mana harus aku ikuti hatiku atau takdirku ?

Dulu sesorang pernah bilang, bahwa ada 4 hal yang tidak bisa kembali, satu batu yang dilempar ke laut, kedua kata kata yang telah diucap, ketiga kesempatan yang telah hilang begitu saja, dan yang keempat waktu yang berjalan dan meninggalkan sang kenangan.

Tapi aku yakin perlahan-lahan cinta akan berpulang ke tempat dimana dia terbiasa dirindukan.