Bandung: Everlasting Beauty

08 Agustus 2012 13:16:41 Dibaca :
Bandung: Everlasting Beauty
langit cerah, secerah hati ini :)

*sebuah catatan lama dari blog :)

Pekan lalu, ketika long weekend di awal bulan april. Saya memutuskan pergi ke Bandung, berniat untuk mengunjungi adik saya yang kuliah di Bioengineering ITB. And you know? For the first time, I visited Bandung a week ago!

Saya naik kereta bisnis Argo Parahyangan yang menurut saya semacam kereta kelas ekonomi. Mungkin karena naik bukit2 jadi jalannya sangat pelan, berasa kelas ekonomi deh, apalagi panas terik gini, kipas angin kurang berkontribusi. Bukan manja, tapi saya sudah biasa naik kereta untuk proletar (baca: ekonomi), karena saya naik bisnis, jadi saya boleh berharap sesuai yang saya inginkan kan? Cepat dan tidak kepanasan. Tapi harapan saya buyar ternyata, baiklah, focus ke pokok bahasan.

Pemandangan perbukitan begitu asri ketika menuju Bandung. Sawah yang menghijau dan sungai yang masih asri. Ketika saya sampai di stasiun Bandung (pukul 14.15), hawa kuno menyeruak. Stasiunnya bener2 gaya retro, gak gaya minimalis modern kayak stasiun Gubeng, Surabaya yang keliatan sedikit angkuh. Akhirnya kami memutuskan pergi ke Pasar Baru for the first destination.

Di sana, saya berburu sepatu, batik dan kaos bertuliskan Bandung 2012 everlasting beauty (yang menginspirasi judul artikel saya ini). Saya akhirnya mendapatkan ketiga barang itu setelah capek menyusuri ketujuh lantai Pasar Baru. Adik saya dapat dua sepatu dan dua baju batik, serba DUA, karena di sini harganya sangat murah, yang penting kita bisa MENAWAR. Penjual di Pasar Baru bisa menaikkan harga 2-3 kali lipat dari harga normal, jadi pandai-pandailah menawar (sepertinya saya mewarisi sifat Bapak yang pandai menawar, sometimes, hehe).

Setelah waktu semakin senja, kami memutuskan segera bergerak dan kembali ke ITB untuk sholat Ashar. Mampir sejenak di kantin Salman ITB buat mengisi bahan bakar. Setelah selesai akhirnya saya bisa mengabadikan jejak saya di ITB untuk pertama kalinya, setelah pernah mendambakannya waktu SMA kelas 3 dulu. Saya pun sudah sangat bahagia karena adik saya bisa kuliah di sini GRATIS setelah saya menerima info Beasiswa ITB Untuk Semua dari grup facebook SMADA NGANJUK yang saya ikuti (padahal saya sekolah di SMADA KEDIRI).

Ada kejadian yang ajaib, saya dibuntuti kucing sedari saya mengambil foto di area kampus ITB. Sepertinya kucingnya juga pengen ikut diabadikan. Tak hanya itu, ketika kami beranjat ke daerah hotspot, dia ikut juga. Bikin saya bingung, hal apa gerangan yang menyebabkan dia mengikuti saya. Saya hanya punya roti kering dan air mineral, saya tidak membawa ikan asin :D

Malam semakin merapat, kami pun menuju kontrakan salah satu teman ALD dengan naik angkot dan saya bermalam di sana, sementara adik saya tinggal di asrama Sangkuriang ITB. Pagi menjelang, kami memutuskan berjalan kaki dari Simpang Dago menuju Monumen Dipati Ukur, mumpung ada car free day. Akhirnya saya bisa melihat Unpad. Lalu kami kembali berjalan kaki ke Gedung Sate. Di sepanjang perjalanan menuju Gedung Sate, banyak penjual yang berjualan di Lapangan Gasibu dan jalan2 lain sekitar Gedung Sate. Di Bandung barangnya murah2, saya pikir ini bisa menyebabkan orang-orang bisa konsumtif habis ngiler pas tahu harganya. Alhamdulillah saya bisa meredam keinginan dan hanya beli oleh2 buat teman2 di kantor.

Ada juga nih kejadian lucu yang menimpa saya. Ketika kami ingin memasuki areal Gedung Sate, ada dua orang satpam berpakaian safari yang mencegat kami dan meminta KTP saya, mereka sepertinya curiga. Okelah, memang penampilan saya seperti ini Pak, berjilbab dan membawa tas backpack item penuh muatan, tapi isinya baju dan makanan Pak. Saya hanya bisa menghela nafas masygul dan menyerahkan KTP saya, yang penting kan saya bisa masuk. Hore,,,, istirahat sebentar lah di areal Gedung Sate.

Setelah waktu menunjukkan jam 9.30 pagi, kami segera bergegas keluar dan di jalan kami menemukan makanan yang yummy. Sop buah durian! Adik saya bertanya,”mau mampir?” saya mengangguk, cukup Rp 11.000 Anda bisa menikmati sop buah macam2 plus durian yang yummy di belakang areal Gedung Sate…..

Akhirnya jam 11.15 saya meninggalkan Bandung dengan travel menuju Jakarta Pusat. Walau hanya dua hari satu malam, rasanya saya kurang puas, next time, ke Bandung lagi dan nikmati keindahan panoramanya. Keindahan yang abadi! Sampai jumpa Paris Van Java.

Allegria Mila

/milamawaddah

TERVERIFIKASI (HIJAU)

#1 pecinta sajak, novel, kisah inspiratif #2 baginya: menulis adalah sebuah cara untuk mencari jalan keluar :)
http://milamawaddah.blogspot.com/

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?