A Loy ( Kisah Nyata Saya Dengan Anak Majikan)

01 Maret 2013 16:35:56 Dibaca :
A Loy ( Kisah Nyata Saya Dengan Anak Majikan)
-

A LOY

( Tulisan yang saya angkat dari kisah nyata  saya dengan anak majikan)

Gadis itu diam-diam sering memandang wajah saya. Entah sudah berapa kali dia bertanya, mengapa saya orang Indonesia, bukan orang Hong Kong. Mengapa saya harus meninggalkannya.Lalu pipi kuningnya merona merah menahan kekecewaan dan kesedihan.Mata sipitnya menggenang air mata.

Kisah ini bermula, ketika Saya tiba di bandara Kai Tak, Hong Kong. Kurang lebih sembilan belas tahun yang lalu, di bulan Agusus.. Seorang lelaki seumuran saya kurang lebih empat puluh tahunan.Berambut coklat agak botak. Tubuhnya tegap kekar boleh dibilang pendek tapi tidak terlalu pendek, menemui saya. Dia menunjukkan kertas hijau tertempel foto saya. Kertas kontrak kerja yang saya tandatangi di PJTKI, yang akhirnya membuat saya sampai di hadapan lelaki ini. Istriyalah yang mengontrak saya, tentu Istrinya juga yang menyuruh suaminya menjemput saya.

Sepanjang perjalanan kami diam, Saya lebih banyak berjalan menunduk di sampingnya.Jalannya begitu cepat, Saya sering tertinggal. Dengan bahasa isyarat dia menyuruh Saya, berjalan disampingnya lagi. Kemudian kami naik  Bis. Di dalam bis, saya hanya melihat sopir tidak ada kondektur. Sebelum kami duduk, dia menempelkan selembar kartu ke sebuah alat berbentuk empat persegi panjang, yang terletak dekat Sopir. Setelah kartu menempel ke alat tsb, menimbulkan bunyi “Tut” . Dia melakukan dua kali dengan kartu berbeda tapi serupa warnanya, yaitu warna pelangi.

Saya bingung, risih dan malu, ketika dia duduk di samping saya. Tentu saya tidak bisa menolak. Saya tenang kan perasaan saya, bukankah ketika naik Bis, sering sebangku dengan orang yang tidak saling kenal. Dia lalu asik mengobrol di telpon, entah dengan siapa, sebab saya tidak memahami bahasanya.

Ternyata bahasa kantonis yang saya pelajari ketika di penampungan PJTKI, tidak ada hasilnya. Terbukti ketika diam-diam sudah saya tajamkan pendengaran untuk menangkap apa yang dibicarakannya tapi sia-sia. Satu kalimat pun tidak bisa saya pahami.

Bis yang saya naiki, bertingkat dua dan bersih. Penumpangnya duduk diam, acuh satu sama lainnya. Tapi saya menangkap ada juga orang yang memangdang saya dengan tatapan aneh. Saya tidak berani lama-lama menatapnya.

Tanpa sengaja di kaca jendela terlihat sangat jelas wajah, seorang perempuan polos tanpa make up berwajah tirus pucat berminyak. Berambut pendek model lelaki . Sangat tidak cosok dengan bentuk wajahnya yang persegi dengan tonjolan rahang di kanan kiri pipinya. Perempuan itu mengenakan hem warna putih berkrah hitam. Berjaket hitam. Celana panjangnya juga hitam.Duduk memangku tas plastic warna hitam pula bertuliskan “ PT BINA MANDIRI”. Saya sangat kaget! Saya amati, oh! Itukan diri saya sendiri.

Tiba-tiba dada saya sesak,ini bukan mimpi sebab saya belum tidur atau tertidur. Saya sudah berada pada tempat asing, segalanya serba asing. Saya tidak punya siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Di dalam tas yang saya bawa, hanya ada dua stel baju dan celana bahan kaos untuk kerja. Ada juga satu stel gaun panjang sepertiga betis warna coklat muda dengan baju atasan model jas berwarna cokla kotak-kotak. Saya memasukkannya di tas, setelah acara pemeriksaan tas. Semalam sebelum diterbangkan ke Hong Kong. Tentu tanpa sepengetahun ibu asrama yang sangat judes dan cerewet di penampungan PJTKI. Gaun itu, kesukaan suami, dia selalu memuji saya cantik, dengan gaun tsb.

Delapan dus bedak penghilang bau badan, merknya sudah ditentukan PJTKI dan harus dibeli di PJTKI juga. Menjadi bagian isi tas yang saya bawa juga. Bedak itu setiap hari harus dipakai, sebab orang Hong Kong, tidak suka bau keringat. Ketika seorang kawan, protes. Tmidak mau mebeli bedak ingin memakai penghilang bau keringat produk lain, dia malah diancam tidak akan diterbangkan. Saya merasa aneh sebetulnya, melihat persediaan bedak sampai nyaris memenuhi gudang yang lumayan besar.

Yang sangat saya sesalkan adalah larangan untuk membawa mukenah dan Alquran. Katanya orang Hong Kong, sangat takut melihat orang memakai mukenah. Dilarang membawa Alquran, tujuan ke Hong Kong hanya untuk kerja titik! Begitu berulang yang dikatakan ibu asrama.

Bahkan foto anak saya yang saya selipkan di buku pelajaran bahasa kantonis, dirampasnya. Dengan alasan foto anak atau keluarga jika ikut dibawa, hanya akan membuat menangis. Orang Hong Kong sangat tidak suka melihat orang sedih apalagi sampai menangis! Sehingga ketika pengambilan foto untuk keperluan menjadi pembantu ke Hong Kong, harus tersenyum. Saya ingat, susahnya untuk bisa tersenyum walau hanya sesaat untuk keperluan pengambilan foto. Ketika bayangan perpisahan yang panjang dengan suami, anak dan orang tua, juga sikap menyakitkan pihak PJTKI, yang suka membentak-bentak. Untuk bisa menghasilkan foto dengan ekpresi wajah ceria dengan senyuman sampai dilakukan pemotretan berulang kali.

“ Lok ce a!,” suaranya keras mengagetkan saya.

Mungkin artinya turun, sebab dia beranjak dari duduknya. Saya lihat beberapa orang juga sudah berjalan mendekati pintu Bis.

Saya kembali mengikuti langkah kakinya lagi, juga masih dengan tanpa obrolan sepatah kata pun. Kali ini dia bersiul-siul, lagu asing tentunya di telinga saya. Entah kami sudah berapa kami menyeberangi perempatan. Berjalan di deretan pertokoan. Badan saya mulai terasa panas, berkeringat, akibat berjalan cepat dan jaket yang saya kenakan. Saya lihat ke atas, matahari garang! pantas rasanya dari sekian orang yang saya temui di jalan berbaju minim, hanya saya yang berjaket. Jadi teringat ini musim summer! ( bersambung).

Mega Vristian

/megavristiansambodo

Seorang ibu rumah tangga dengan delapan anak.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?