Memaafkan Diri Sendiri

03 Januari 2013 08:22:02 Dibaca :

Ketika semua memang tidak memungkinkan untuk di ulang. Ketika semua tidak beroleh lagi kesempatan untuk direvisi. Ketika semua telah siap untuk dihidangkan. Ketika... Ketika semuanya memang telah begitu adanya. Ketelanjuran adalah anugerah yang dipaksakan. Rela tidak rela. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Senang tidak senang. Tetap sahaja tak bisa ditolak lagi. Semakin ditolak akan semakin menyakiti diri kita sendiri. Sudah tidak ada lagi pilihan lain kecuali menerima. Berlapang dada. Memafkan diri kita ini. Sudah tidak berfaedah penyesalan. Pengandaianpun juga tidak akan mampu memperbaiki keadaan. Ya sudahlah.!!! Memang hal terberat dalam hidup adalah sikap kita dalam meyalahkan diri sendiri. Kita sepenuhnya sadar bahwa seseorang yang lain tidak bertanggung jawab atas apapun yang terjadi dalam hidup kita. Jadi sama sekali tidak ada gunanya menghujat ataupun menyalahkan orang lain atas sesuatu yang tidak menyenangkan yang terjadi pada diri kita. Awalnya begitu menyakitkan, sangat menyesakkan. Begitu tersiksanya jika harus menghakimi diri, memaki dan menghukumnya  tanpa pemaafan. Tak pernah boleh diri kita menyalahkan orang lain atas semua hal yang terjadi pada diri kita ini. Merefleksi, intropeksi dan evaaluasi diri. Kita juga...tidaklah bijak jika menghakimi diri dengan berlebihannya. Kita hendaknya menyadari dan memaklumi keterbatasan-keterbatasan diri . Menerima apapun dan bagaimanapun keadaan diri kita sendiri. Tidak ada pilihan lain. Yang bisa kita lakukan adalah menerima kemudian mencari jalan penyelesaian. Apa guna kata mengapa jika membuat diri kita semakin terpuruk sahaja. Ganti dengan bagaimana agar nuansa rasa dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sehatkan diri. Bugarkan olah rasa. Apa yang terjadi memang sudah seharusnya. Tak bisa  kita memaksakan semua harus berjalan sesuai dengan keinginan. Bukankah pengalaman adalah guru yang baik yang bekerja demi kepentingan kita dan tahu segi mana yang terbaik untuk diri kita. Kesalahan kita adalah pengalaman kehidupan yang mengajarkan kepada kita akan arti penting suatu kebenaran dan kebijaksanaan. Kita kembalikan sahaja semuanya pada Tuhan. Semoga diwaktu yang akan datang kita dapat melakukan sesuatu itu jauh lebih baik lagi dari sebelum-sebelumnya. Lupakan masa lalu, usahakan untuk perbaikan kehidupan diwaktu yang akan datang... Masa lalu telah berlalu tepat sesaat setelah apa yang terjadi pada diri kita ini. Waktu yang tidak bisa diulang tak perlu terlalu dikecewakan. Sekarang saatnya untuk melangkah menatap masa depan. Memaafkan diri sendiri, bersahabat dengannya untuk perbaikan kesalahan dihari ini dan kemajuan kehidupan diwaktu yang akan depan. Sore di Asrama MUBA 10 Mei 2011, 15.49 WIB

may sun

/may_sun

Happy Ending... To Ope Be Ge Te
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?