HIGHLIGHT

Aku dan Binatang (Chapter Siji)

03 Juli 2012 09:11:16 Dibaca :

AKU DAN BINATANG (CHAPTER SIJI)


oleh : margono dwi susilo




Lelaki Jawa dianggap dewasa jika telah memiliki lima hal : wisma (rumah), turangga (kuda), wanita (istri), kukila (burung) dan curiga (keris). Saat masih kanak-kanak saya mempunyai kukila/burung, tetapi menjelang dewasa justru tidak. Ada lebih dari 15 burung -- walau semuanya berharga murah -- mereka adalah : kutilang, cucak, jalak uren, gelatik, puter, manyar, tekukur, penthet, dan yang agak mahal perkutut. Karena ordo burung (aves) yang paling bayak berhubungan dengan masa kecil saya maka saya akan memulai cerita ini dari burung.

Pada mulanya memelihara burung sangatlah mengasyikkan. Belasan sangkar burung dengan aneka rupa warna yang bergelantungan di beranda rumah adalah kegagahan tersendiri bagi anak belasan tahun seperti saya, waktu itu. Apalagi jika mereka berkicau bersautan. Anak lain seusia saya yang hanya bisa main kelereng, dakon, gambar, kwaci atau layang-layang akan terpukau. Saya merasa mempunyai kasta yang berbeda. Apalagi kalau ada yang berguman "wah manuke apik timen yo." Woo kereen!

Tetapi seiring bertambahnya umur keasyikan itu berkurang dan akhirnya bergeser, dari burung ke sepak bola dan koleksi buku. Satu persatu burung itu raib dari kandang. Penyebab utama karena saya sengaja buka pintu kandang, terbang bebaslah ia ke penjuru angin. Saya kasihan, karena tidak rutin lagi memberi makan dan minum. Tetapi memang ada beberapa burung yang saya jual kembali ke pasar Gawok, lumayan untuk beli kaset dangdut bajakan. Waktu itu saya suka Ikke Nurjanah dan Evie Tamala.

Pedagang memang luar biasa kejam saat memberikan harga burung kelas tempe bongkrek. Jika anda beli, mahal. Jika jual kembali, murahnya bukan main. Alasannya macam-macam, biasanya si burung dipandang kurang terawat sehingga dibandrol murah. Ya sudahlah, dari pada mati di kandang atau dilepas, pikir saya. Sebagai contoh, di tahun 1990, burung kutilang muda yang sudah berkicau saya beli dengan uang Rp.3.500,- beberapa bulan kemudian saya jual lagi ke pedagang yang sama dihargai Rp.1.200.- Bagi saya ini kejam, apalagi ia pura-pura acuh, menyebalkan. Pedagang yang lain memberi harga tidak jauh beda, bahkan lebih kejam, Rp.1.000. Waktu itu, seingat saya, harga semangkuk soto, tempe goreng dan segelas es teh manis di kantin SMA Negeri Kartasura Rp.200,-.

Selain ke pasar Gawok - yang hanya buka saat hari pasaran Pon - saya juga hunting burung ke Pasar Legi Kartasura dan Pasar Depok di sekitar Stadion Manahan Solo, naik sepeda ontel, atau terkadang Honda Astrea Prima. Biasanya kami pergi sambil menenteng senapan angin. Jika ada burung yang masuk pandangan mata...dor! Bagi kami semua jenis burung enak dan pantas masuk perut. Tetapi burung favorit sasaran kami adalah Tekukur - dagingnya empuk, berlemak dan cukup tebal. Pokoke maknyus!

Kalau burung tidak dijumpai, alternatif lain adalah Tupai (Bajing). Binatang yang satu ini aromanya amis menyengat, sehingga harus pintar memasaknya. Biasanya di semur atau di goreng kering. Terkadang peluru kami juga menyasar Kalong (sejenis kelelawar). Pokoknya tidak ada rotan, rumputpun jadi.

Ada waktu khusus bagi kami berburu burung. Biasanya malam liburan. Kami berburu burung Gereja atau Pipit yang bertengger di pohon Waru sewaktu gelap sehabis isya, saat burung terlelap di alam mimpi. Begini caranya, pertama anda harus mendeteksi pohon yang sering dipakai kelompok burung untuk bermalam. Untuk mengetahuinya anda harus keliling kampung kala senja tiba. Burung yang terbang dari tegalan dan sawah akan masuk kampung dan hinggap di pepohonan untuk istirahat. Nah tandai pohon tersebut, sebanyak mungkin.

Langkah kedua anda perlu bantuan lampu senter, so perburuan ini harus dilakukan minimal dua orang (kecuali anda punya tiga bilah tangan). Jangan harap bisa membidik burung yang berukuran lumayan seperti Tekukur, karena mereka membuat sarang di pohon yang tinggi, seperti pohon kelapa, cahaya lampu senter tidak akan sanggup menjangkaunya. Untuk perburuan malam anda harus puas dengan burung yang bersarang di pohon yang tidak terlalu menjulang - seperti pohon waru - seekuran jempol orang dewasa, seperti Gereja atau Pipit.

Pengalaman saya, burung Gereja dan Pipit yang tertidur lelap tidak akan respon terhadap lampu senter, sehingga pemburu bisa menembak dengan leluasa. Usahakan bidikan anda tepat sasaran - jantung atau kepala - agar langsung jatuh dan tidak mengganggu burung disampingnya. Kesulitan utama justru saat membedakan burung dan daun kering. Lampu senter dengan daya dua baterai cukup kesulitan membedakan tubuh burung dengan daun kering, hampir mirip. Jika tim anda sudah ahli, stock burung dipohon tersebut bisa disapu bersih. Dalam sekali call of duty saya dan tim bisa membawa pulang 15 sampai 20 ekor burung. Lumayan untuk lauk makan malam. Goreng garing, enak tenan!

Jikapun anda tidak punya senapan angin - ketapel tidak saya rekomendasikan karena saya tidak pernah berhasil - tetaplah bisa berburu burung. Cara yang dahulu biasa kami gunakan dengan menggunakan perangkap, kami menyebutnya songgrok. Songgrok ini terbuat dari plastik kresek warna hitam, diberi galah panjang. Bayangkan seperti songgrok untuk memetik buah mangga. Cara kerjanya sederhana. Anda harus mampu mendeteksi keberadaan sarang burung, biasanya disela-sela buah pisang. Sarang tersebut terbuat dari kombinasi jerami, ranting dan daun kering. Tempelkan songgrok ke mulut sarang dan suruh tim anda menggoyang pohon pisang. Dijamin burung yang kaget dan keluar sarang akan masuk ke lubang plastik kresek. Jika beruntung satu keluarga burung bisa anda tangkap. Bagi kami - anak-anak kampung - segera terbayang lezatnya daging burung. Walau hanya berukuran sejempol dan agak menggelikan, tetapi tetap uenake pol!

Satu lagi teknik mendapatkan burung, yaitu dengan memakai pulut, getah lengket, yang saya sadap dari Pohon Bendo - sejenis pohon nangka raksasa - yang tumbuh di dekat sungai pinggiran kampung kami. Butuh waktu setengah hari untuk mendapatkan pulut seukuran setengah bola pingpong, cukup untuk menjebak seekor burung seukuran kutilang, tekukur atau penthet.

Binatang secerdas apapun pastilah punya kebiasaan. Dan kebiasaan burung yang harus anda amati jika ingin menangkapnya adalah tempat hinggapnya. Untuk memudahkan eksekusi, deteksi tempat hinggap yang mudah terjangkau, misalnya di tonggak pematang sawah. Ditempat itulah kami oleskan getah bendo berwarna putih kecoklatan. Kami menunggu ditempat tersembunyi. Saat burung terjebak pada pulut, secepat kilat kami serbu. Ini krusial. Sering burung yang sudah terjebak bisa meloloskan diri karena hanya menginjak pulut dengan satu kaki saja. Jadilah kami pelari tercepat di dunia. "Horeee dapeett!" atau... "asuuu ucul!" - selain insting, kejelian dan kesabaran, mengumpat adalah mantra wajib bagi pemburu burung.

Ordo binatang selanjutnya yang akrab dengan saya adalah binatang melata atau reptilia. Sesungguhnya agak sungkan saya menceritakan sesi ini. Tetapi baiklah. Pada tahun 1982, senior kami di kampung menginisiasi pembentukan klub sepak bola anak-anak, diberilah nama PS.Palapa. Tentulah sebuah klub - sebetapapun kecil dan udiknya - tetap butuh kostum, dan itu hanya bisa didapat dengan iuran. Para senior dengan kewenangan dan pengalamannya mematok harga kostum Rp.1.500,- - angka yang cukup fantastis untuk anak SD kelas satu seperti saya. Untuk mendisiplinkan anggota dalam melunasi iuran, panitia memberi sugesti, barang siapa yang pertama melunasi iuran akan mendapat kostum nomor punggung 10 (Adjat Sudrajat), kedua nomor 9 (Bambang Nurdiansyah), ketiga 17 (Zulkarnain Lubis), dan seterusnya saya lupa.

Sebenarnya mudah saja saya meminta uang pada orang tua, tetapi itu opsi terakhir. Saya dan sohib sudah punya jalan untuk mendapatkan uang. Waktu itu banyak anak-anak di kampung kami kena penyakit gudiken (kulit gatal-gatal). Menurut pengalaman warga kampung kami sejak zaman azali obat penyakit kulit yang cespleng adalah daging Kadal. Singkat cerita saya dan sohib mendapatkan banyak order untuk mencari daging Kadal, seekor dihargai Rp.100,- Ini peluang manis, walau menjijikkan.

Kami mempersiapkan alat, namanya cis, tombak kayu dengan ujung dari jeruji besi sepeda yang dikikir runcing. Dengan tombak cis kami menyerupai manusia purba, tampak sangar tetapi bodoh, berkelana di kebun dan sawah berburu Kadal. Tidak mudah rupanya. Kami baru sadar bahwa Kadal mempunyai indera ketujubelas, mampu mendeteksi jika diburu. Saya kesal. Biasanya kadal berkeliaran, ini kok tidak menampakkan batang hidung sama sekali. Terpaksa kami merubah taktik, yaitu dengan mengobrak-abrik gerumbul dan sangkrah habitat persembunyiannya. Hasilnya nampak, beberapa ekor kadal lari terbirit-birit, dan...cis beterbangan menuju reptil kecil yang ketakutan itu. Tetapi akhirnya kami sadar, bukan cis yang dibutuhkan, tetapi kecepatan dan ketepatan tangan, batu, kayu dan sandal kami dalam menghajar Kadal. Walau susah payah, dalam seminggu kostum warna biru Italia bisa kami sandang, PS Palapa nomor punggung 6, (nomor yang tetap saya minta waktu pembagian kostum bola di kantor sampai saat ini). Saya masih ingat, dengan kostum baru, dengan rasa bangga yang membuncah, kami - yang telah melunasi iuran - berparade keliling kampung. Semua peserta parade berpikiran sama, suatu saat akan diterima menjadi anggota PSG (Persatuan Sepak Bola Gawok) atau Arseto Solo. Wuih huebuatnya!

Oh ya, ada beberapa ekor Kadal yang ditolak oleh pembeli karena penyok berantakan. Tetapi jangan khawatir, reptilia ini tetap punya tempat yang nyaman : perut kami. Nyamleng tenan! Mungkin karena itu pula PS Palapa sering menang.

Dari generasi Laskar Kadal ini seingat saya tidak ada satupun yang berhasil mewujudkan impiannya menjadi pemain sepak bola ternama, diterima di klub PSG, apalagi Arseto. Semua sadar bahwa kami tidak berbakat, beruntung saya yang pertama sadar.

Margono Dwi Susilo

/margonods

Pendidikan : SD-SMP-SMA di Sukoharjo Jawa Tengah; STAN-Prodip Keuangan lulus tahun 1996; FHUI lulus tahun 2002; Magister Managemen dari STIMA-IMMI tahun 2005; Pekerjaan : Kementerian Keuangan DJKN
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?