Mohon tunggu...
Mahfudz Tejani
Mahfudz Tejani Mohon Tunggu... Wiraswasta - Bapak 2 anak yang terdampar di Kuala Lumpur

Seorang yang Nasionalis, Saat ini sedang mencari tujuan hidup di Kuli Batu Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur. Pernah bermimpi hidup dalam sebuah negara ybernama Nusantara. Dan juga sering meluahkan rasa di : www.mahfudztejani.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Berhari Raya dalam Wabah Melanda

23 Mei 2020   11:12 Diperbarui: 23 Mei 2020   11:35 88
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tahun ini, virus Corona telah mewabah ke seluruh dunia. Setiap negara terkait, membuat aturan dan kebijakan untuk mengekang wabah ini untuk terus menyebar dan memakan korban.

Mulai dari pembatasan pergerakan seseorang,   menjaga jarak posisi antar individu, memakai masker setiap berhubungan dan berinteraksi, hingga larangan pulang beraya di kampung.

Siapa sangka, makhluk  kasat mata ini, mampu menyekat hubungan sosial antar manusia. Siapa sangka, makhluk kecil ini mampu menampar kesombongan semua manusia.

Apa rencana Sang Pencipta, mengutus makhluk kecilnya kepada kita semua. Rahasia apa yang ingin disampaikan Sang Khaliq, dengan mengirimkan makhluk kasat mata ini.

Semua manusia dilanda ketakutan, semua negara dilanda kerisauan. Orang kaya tak berdaya, negara digjaya tak mampu berbuat apa. Hingga ekonomi dunia mengalami kemerosotan yang nyata.

Memaknai hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Apakah kita sudah menang sepenuhnya?  Apakah akal kita sudah mampu menaklukkan nafsu sepenuhnya? Apakah fikiran kita sudah tidak lagi diselimuti kekhawatiran tentang wabah ini?

Kita harus sama-sama muhasabah diri, bahwa sebenarnya kita kecil, tiada kuasa apa-apa di Hadapan-Nya. Lebih kecil dari butiran pasir dalam jagat raya ini.

Kekuasaan kita sebenarnya semu, yang bisa lenyap dalam hitungan waktu. Kekayaan kita tiada sebanyak mana, mengapa harus mempamerkan sambil membusungkan dada.

Kita harus menerima kenyataan, bahwa Idul Fitri kali ini dirayakan dalam serba keterbatasan. Terbatas pergerakannya dan membatasi diri dalam merayakan kemenangan.

Ini adalah pengalaman pertama semua orang,  melaksanakan perayaan agamanya dalan keadaan wabah melanda. Bisa jadi kita adalah pelaku sejarah, setelah wabah besar melanda seabad yang lalu.

Intinya lebaran kali ini, kita tidak kemana-mana, namun pintu kemaafan tetap harus terbuka. Dalam zaman ini, banyak cara bersilaturahim tanpa harus berhadap-hadapan langsung di depan kita. Kecanggihan teknologi banyak membantu menguraikan keterbatasan ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun