Mohon tunggu...
Mas Yunus
Mas Yunus Mohon Tunggu... Dosen - Beyond Blogger. Penulis ihwal pengembangan ekonomi masyarakat, wisata, edukasi, dan bisnis.

Tinggal di Kota Malang. Bersyukur itu indah. Kepercayaan adalah modal paling berharga. Menulis untuk mengapresiasi. Lebih dari itu, adalah bonus.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Tradisi Loloskan Muridnya Masuk PT Luar Negeri: Mengapa Justru Lahir dari Pesantren?

11 Mei 2015   07:33 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:10 13716
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption id="attachment_421543" align="aligncenter" width="700" caption="Foto Dok. Pribadi (Banner PP Amanatul Ummah) Dipajang di Tepi Jalan"][/caption]

Di tengah perdebatan tentang urgensi hasil Ujian Nasional (UN) sebagai sebagian persyaratan lanjut studi, ada fakta bahwa lembaga pesantren yang mampu menembus Perguruan Tinggi (PT) luar negeri. Hebatnya, ini dijadikan tradisi oleh pesantren tersebut. Tidak saja mereka bisa diterima di Al-Azhar Mesir yang notabene berlabel universita Islam, tetapi juga bisa masuk perguruan tinggi di Jepang hingga Australia. Lembaga pendidikan itu adalah Pondok Pesantren "Amanatul Ummah" yang berada di daerah Pacet, Mojokerto Jawa Timur.

Sebagian jawaban atas pertanyaan itu dapat diperoleh, ketika saya pada 10 Mei 2015 berkesempatan melihat langsung proses pembelajaran di Pesantren "Amanatul Ummah" . Meski terlihat sederhana secara fisik, likungan pesantren itu terkesan relatif indah, bersih dan asri, karena didukung oleh lingkungan alam tak jauh dari lokasi wisata Trawas. Kebetulan, saat berada di sana, lembaga ini sedang melakukan seleksi penerimaan santri baru. Pada hari itu juga, Sang Kyai sedang bersiap menerima tamu dari luar negeri.

[caption id="attachment_421544" align="alignleft" width="600" caption="Foto Dok. Pribadi (Pos Penjaga Depan PP Amanatul Ummah)"]

14330623401119801793
14330623401119801793
[/caption]

Sekilas Tentang Prestasi Pesantren "Amanatul Ummah"

Prestasi gemilang lembaga pendidikan ini, tak bisa dilepaskan dari sosok sang pengasuhnya, yaitu Dr. K.H. Asep Syaifuddin Chalim, MA. Beliau adalah sosok kyai pendidik yang mampu mengubah orientasi pendidikan pesantren sarat dengan komitmen mutu dan prestasi. Pada saat beliau memberi ceramah di hadapan para santri sesaat sebelum mengikuti seleksi, sang kyai dengan sikap kebapakan dan penuh semangat mengatakan:

"wahai anak-anakku"! Lembaga pendidikan unggulan "Amanatul Ummah" menjamin murid-muridnya lulus 100% berklasifikasi A dengan penuh kejujuran dan percaya diri karena pemrosesan dan sistem yang kompetitif berupa dauroh (remidi), try-out,  dan pembahasan tuntas. Menjamin lulusannya diterima di perguruan tinggi sesuai pilihannya baik di dalam maupun di luar negeri".

Lebih lanjut beliau katakan: "meski dengan sarana prasarana terbatas, para santri Amanatul Ummah" diterima di UGM, ITB, UI, ITS, UNAIR, UB, STAN, dan perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Ada juga yang diterima di Maroko, Rusia, Jepang, Turki, dan Australia. Bak sang marketer, motivator nan penuh ihlas, kurang lebih dia tegaskan dalam kesempatan itu: "kuncinya wahai anak-anakku, kalian harus punya cita-cita tinggi, semangat belajar, sering shalat malam, percaya diri dan berkarakter jujur. Insyaallah, dengan bimbingan para guru di sini, semua cita-cita itu akan terkabulkan".

Sekedar menyebut beberapa prestasi yang diperoleh, beberapa muridnya  diterima di University Tohuku Jepang, Sydney School of Business & Tech, Australia; North Eastren Federal Univ, Russia;dan tentu saja perguruan tinggi Islam seperti Al-Azhar, Mesir. Dikatakan oleh Kyai, mengapa harus jauh-jauh hingga sekolah ke luar negeri? ya, karena ini tuntutan masyarakat. Demikian beliau menegaskan di hadapan ratusan murid yang hendak diseleksi pada gelombang pertama 2015.

Dilihat dari jurusan yang berhasil mereka tembus juga variatif , seperti kedokteran umum, teknik industri, farmasi, hospitality, Teknik Mesin & Dirgantara, Teknik Elektro, Akuntansi, dan lain sebagainya. Seorang santri yang bernama Aditya Rizki Arifin misalnya, diterima di jurusan teknik industri ITB dan University Tohuku Jepang; Gigant Yolansya Rafsanjani (2014) diterima di kedokeran umum Unair Surabaya; Bahrul Yusuf Efendi (2014) di Jurusan Akuntasi STAN Jakarta; dan Hadyan Destya Aufar di Diploma, Sydney School of Business, Australia.

Memang belum semua alumninya diterima di PT luar negeri, tetapi sebagian besar mereka lolos di PT Negeri dan PT Swasta pilihan dalam negeri. Prestasi ini kiranya patut mendapat apresiasi, di tengah-tengah perdebatan UN saat ini, dan wacana Program Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang pernah mengemuka yang kemudian menghilang. Padahal, per 1 Januari 2016 saatnya kita menghadapi ASEAN Community.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun