Choirul Rosi
Choirul Rosi Pegawai

Cerita kehidupan yang kita alami sangat menarik untuk dituangkan dalam cerita pendek.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Teana - Al Urn (Part 9)

19 Mei 2017   08:49 Diperbarui: 19 Mei 2017   09:55 9 0 0
Teana - Al Urn (Part 9)
teana - dokpri

Di Kerajaan Nabataea sangat sibuk. Para pelayan kerajaan sedang mempersiapkan jamuan makan untuk menyambut kedatangan Ghalib.

Semua pelayan istana sibuk dengan urusannya masing – masing.

“Bagaimana persiapan pestanya?” tanya Raja Aretas IV.

“Hampir selesai Yang Mulia. Besok pagi sudah siap segalanya.” jawab Arwas – kepala pelayan kerajaan.

“Bagus, pastikan semuanya sempurna. Aku tak mau mengecewakan Ghalib.” ucap Raja.

“Baik Yang Mulia.”

***

“Suamiku… Makanlah yang banyak. Semalam kau hanya makan beberapa suap saja. Aku tak mau kau sakit.” jawab Daleela sambil mengambilkan makanan dan lauk untuk suaminya Ghalib.

“Iya, terimakasih istriku. Semalam aku sangat mengantuk. Jadi aku hanya makan beberapa suap saja. Kali ini aku tak mau mengecewakanmu. Aku akan makan masakan yang kau masak untukku.” jawab Ghalib sambil tersenyum kepada Daleela.

Pagi itu mereka berdua makan dengan lahapnya. Sepotong ayam kalkun bakar berbumbu rempah lengkap, beberapa iris daging kambing yang diasap dengan lumuran madu diatasnya serta sebuah kendi berukuran sedang berisi anggur yang paling enak.

Nampak diatas meja terdapat sekeranjang buah – buahan segar serta beberapa biji kurma segar diatas cawan kecil.

Tiba – tiba…

“Permisi Tuan… Kami utusan kerajaan hendak menyampaikan titah dari Raja Aretas IV untuk anda.” ucap salah seorang prajurit kerajaan dari luar rumah Ghalib.

Setelah mendengar suara itu, Ghalib menghentikan sarapannya.

“Sebentar istriku, aku lihat dulu siapa yang ada diluar itu.” ucap Ghalib kepada istrinya setelah ia meletakkan piring makanannya yang belum selesai.

“Iya suamiku. Aku tunggu disini.” jawab Daleela.

Sesampai diluar rumah, Ghalib menghampiri salah seorang prajurit.

“Ada apa wahai prajurit?” tanya Ghalib.

“Maaf Tuan, hamba membawa surat dari Raja untuk Tuan.” jawab prajurit sambil memberikan surat yang dimaksud.

“Terimakasih.”

Ghalib membuka surat itu. sebuah titah dari Raja Aretas IV yang ditulis diatas selembar kulit domba dalam Bahasa Aram. Bahasa yang digunakan Bangsa Nabataea.

Setelah membaca dan mengerti isi surat itu, Ghalib meminta pena dari prajurit dan menandatanganinya.

“Ini, berikanlah kepada Raja.” perintah Ghalib.

Beberapa menit kemudian prajurit itupun pergi. Ghalib lalu masuk kembali kerumahnya.

“Ada apa suamiku? Kau dapat tugas dari kerajaan lagi? tanya istrinya.

“Tidak istriku. Aku diundang ke kerajaan untuk sebuah jamuan makan disana.” jawab Ghalib singkat sambil melanjutkan sarapannya.

“Siapa saja yang akan dijamu oleh Raja Aretas IV?”

“Kami bertiga.”

“Bertiga? Maksudmu kau, Haydar dan Manaf?”

“Iya benar. Kita bertiga diundang ke kerajaan untuk melaporkan hasil pekerjaan kita selama berada di Kota Petra.”

“Oh begitu. Terus kapan kau akan menjemput Manaf? Bukankah rumahnya di Tabuk?”

“Kau benar. Sebaiknya aku suruh pelayanku untuk menjemputnya sekarang juga. Agar Manaf tidak kemalaman di jalan.”

“Sebaiknya memang begitu.” ucap Daleela.

“Istriku, Apa kau melihat Ziyad?” tanya Ghalib.

“Tadi aku lihat ia sedang memanen kebun kurma kita dibelakang. Coba kau lihat disana.”

“Baiklah.” ucap Ghalib.

Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Daleela membereskan meja, membersihkannya dan membawanya ke dapur.

Ghalib segera pergi ke kebun. Pergi menemui Ziyad.

Sesampai disana…

“Ziyad, kemarilah sebentar…”

“Iya Tuan, ada apa Tuan?”

“Segera kau siapkan dua ekor unta. Berangkatlah ke Tabuk sekarang juga. Bawalah bekal secukupnya. Temui Manaf disana. Katakan padanya untuk menghadapku sekarang.” ucap Ghalib.

“Baik Tuan, hamba berangkat sekarang.”

“Iya, cepatlah.”

Ziyadpun berlalu meninggalkan majikannya.

Kemudian Ghalib kembali masuk kerumahnya. Berganti pakaian dan pergi menemui sahabatnya Haydar.

“Apa? Diundang ke istana? Kau bercanda ya?” ucap Haydar dirumahnya yang kecil.

“Aku tidak membohongimu Haydar. Aku tadi telah membaca surat dari Raja. Dan aku sudah mengutus pelayanku untuk menjemput Manaf di Tabuk.”

“Jadi kita bertiga diundang ke Kerajaan?” tanya Haydar gugup.

“Kita bertiga.” ucap Ghalib pelan.

“Oh Dewa, aku takut sekali menghadap Raja. Baru kali ini seumur hidupku aku menghadap Raja secara langsung.” ucap Haydar dengan muka masam.

“Kau tidak perlu takut Haydar. Kita tidak berbuat kesalahan.”

“Iya, benar katamu Ghalib. Kita tidak perlu takut.” jawab Haydar. Kali ini sambil tersenyum.

“Jadi, persiapkan pakaian terbaikmu. Berpenampilanlah yang sopan. Jangan terlihat acak – acakan besok. Kau ingat itu.” ucap Ghalib.

“Iya Ghalib. Aku akan ingat pesanmu.”

***

Malamnya, Manaf dan Ziyad tiba dirumah Ghalib. Manaf dijamu makan malam oleh Ghalib. Sebuah makan malam yang cukup sederhana.

“Jadi, apakah kau siap untuk bertemu Raja Aretas IV besok? tanya Ghalib kepada Manaf.

“Tentu saja Ghalib. Aku sudah siap. Bahkan aku juga ingin bertemu Raja secara langsung untuk menyampaikan temuanku di Kota Petra. Aku ingin memberi saran kepada Raja.”

“Baguslah kalau begitu. Raja pasti akan sangat senang mendengar saranmu.”

Makan malampun selesai. Mereka berdua beristirahat. Melepaskan lelah yang melanda tubuh mereka selama seharian.

Tak terkecuali Haydar. Iapun beristirahat. Namun istirahat dalam kekalutan. Terbayang – bayang bagaimana rasanya bertemu Raja secara langsung.

“Oh Dewa… Bantu aku untuk memejamkan mataku ini.” gumam Haydar dari balik bantalnya.

***

Setelah sarapan, Ghalib dan Haydar segera berangkat menuju Al Urn. Kerajaan Bangsa Nabataea yang berada di pegunungan Al Khuraimat.

Mereka berdua menjemput Haydar terlebih dulu. Lalu berangkat bersama – sama.

“Apakah tidurmu nyenyak Haydar?” tanya Manaf.

“Tidak begitu nyenyak.” jawab Haydar singkat sambil menahan rasa kantuknya.

“Sepertinya begitu. Matamu kelihatan sangat sayu. Kurang tidur.” balas Ghalib sambil tersenyum.

“Sudah… kalian berdua jangan mengejekku.” ucap Haydar bersungut – sungut.

“Hahaha… Maafkan kami Haydar.” ucap Manaf.

Perjalanan mereka kali ini tidak melelahkan. Karena jarak yang mereka tempuh cukup singkat.

Hanya dalam beberapa menit, mereka telah sampai di Al Urn.

“Tuan Ghalib beserta rombongan telah tiba….” teriak salah seorang prajurit kerajaan yang berjaga di depan pintu gerbang.

“Haydar, jangan banyak bercanda. Tunjukkan wibawamu sebagai seorang pria dihadapan raja nanti.” bisik Ghalib saat memasuki Al Urn.

“Iya Ghalib, aku mengerti maksudmu.” jawab Haydar tegas.

Mereka bertiga memasuki ruangan utama kerajaan. Disana telah menanti para pembesar kerajaan. Teman – teman Ghalib. Mereka saling melempar senyum kepada Ghalib. Menjabat tangannya dan ssaling merangkul satu sama lain sebagai tanda penghormatan.

Tak terkecuali Haydar dan Manaf. Mereka berdua mendapatkan perlakuan serupa sama seperti Ghalib. Namun kehadiran mereka berdua di kerajaan disambut dengan ribuan tanda tanya. Siapakah mereka ?

***

“Hamra… Dimanakah nampan sesajiku? Apakah kau melihatnya?” teriak Aairah dari dalam dapur.

“Iya Nyonya… Hamba yang menyimpannya.” ucap Hamra dari depan rumah Aairah.

Hamra segera berlari kecil memasuki rumah begitu mendengar majikannya memanggil namanya. Lalu ia mengambilkan nampan untuk majikannya itu.

Sebuah nampan bulat pipih dari keramik berwarna putih dengan sebuah lukisan bergambar burung elang mengepakkan sayapnya.

Burung yang dipercaya oleh Bangsa Nabatea sebagai simbol perlindungan.

“Ini nampannya Nyonya.” ucap Hamra sambil menyerahkan nampan yang dibawanya.

“Terimakasih Hamra, Oh ya… Sudahkah kau cuci bersih buah – buahan yang aku taruh di meja depan?” tanya Aairah kepada Hamra.

“Sudah Nyonya. Semuanya sudah bersih. Hamba meletakkannya didalam keranjang di meja depan.”

“Bawa kemari.”

“Baik Nyonya.”

Aairah masuk kedalam kamarnya. Ia mengambil sebuah kotak kayu mahoni kecoklatan berukir bunga yang sangat indah.

Ia membuka kotak itu. mengeluarkan sebuah kalung mutiara putih. Memakainya sambil mengamati dirinya didepan cermin.

“Indah sekali….” gumam Aairah dalam hati sambil menyisir rambut panjangnya yang berwarna merah kecoklatan itu.

Aairah berdiri. Merapikan jubahnya yang berwarna biru. Memakai kerudungnya. Lalu ia menyapukan bedak yang terbuat dari serbuk bunga ke pipinya. Mengoleskan daun sirih yang telah ditumbuk halus. Sehingga bibirnya berwarna merah senja. Sangat sempurna.

Sementara itu dirumah Daleela terlihat lengang. Nampak Daleela sedang kebingungan. Ia sendiri. Tak ada pelayannya. Mereka semua sedang bekerja di kebun.

Sedangkan suaminya Ghalib sedang berada di Al Urn dan belum pulang hingga sekarang.

Daleela sendirian.

“Bagaimana ini? Aku tidak punya apapun untuk ritual nanti sore. Dupa telah habis, buah – buahan belumlah dipetik. Memetik sendiripun aku tak sanggup memanjatnya. Qasr Al Farid lumayan jauh. Tak cukup satu dua jam untuk pergi kesana.” gerutu Daleela.

Dengan langkah kebingungan mondar – mandir didalam kamarnya, Daleela berpikir keras. Ia mencari cara untuk mendapatkan keperluan ritualnya. Mengingat hari hampir menjelang sore.

Tiba – tiba ia teringat Aairah tetangga sekaligus teman baiknya itu.

“Aairah….” ucapnya sambil tersenyum lebar.

Setelah ia merias dirinya, memakai jubah dan kerudung yang bagus. Daleela bergegas menemui Aairah. Meminta bantuannya.

***

Raja Aretas IV telah mendengarkan laporan dari Ghalib. Dan ia merasa sangat puas atas hasil kerja Ghalib dan para sahabatnya itu.

“Terimakasih Ghalib. Tidak salah aku memilihmu untuk menjalankan misi ini. Oleh karena itu, sebagai imbalan atas hasil kerjamu aku akan memberimu sekotak koin emas.” ucap Raja.

“Prajurit….!” teriak Raja Aretas IV sambil menepuk kedua telapak tangannya sebanyak dua kali.

Tak lama setelah tepukan itu, dua orang prajurit kerajaan keluar dengan membawa sebuah kotak kayu berukiran kepala Dewa Dhushara.

“Terimalah…” ucap Raja Aretas IV.

Ghalib berdiri dari tempatnya. Lalu ia melangkah maju. Membungkukkan badannya sedikit sambil menyilangkan tangan kanannya di dadanya. Sebuah tanda penghormatan kepada Raja.

Raja Aretas IV mengangguk sambil tersenyum kepada Ghalib. Ghalib kembali ke tempatnya semula.

“Dan untuk kedua sahabat Ghalib, aku akan memberi mereka sebuah jabatan. Haydar akan menjadi tangan kanan Ghalib. Ia akan membantu semua urusan Ghalib. Menemaninya saat menjalankan tugas kerajaan. Dan Manaf akan aku angkat menjadi pemahat khusus makam keluarga kerajaan dan makam para pembesar kerajaan. Ia akan aku beri sebuah rumah di Qasr Al Binth.” ucap Raja Aretas IV yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari seluruh pembesar kerajaan yang hadir saat itu.

Setelah Raja Aretas IV berkata demikian, ia beranjak dari kursinya. Masuk kedalam. Semua pembesar kerajaan berdiri dan memberikan penghormatan kepada Raja.

Para pelayan istana keluar sambil membawa puluhan nampan berisi hidangan lezat untuk menjamu para pembesar kerajaan.

Mereka semua sangat menikmati jamuan makan tersebut.

***

Hari telah sore. Di langit matahari nampak kemerah – merahan. Udara mulai sedikit dingin di Qasr Al Binth.

Aairah dan Daleela berjalan menyusuri sebuah tebing kecil diantara dua batu cadas. Tak jauh dari Qasr Al Binth. Hamra mengikuti mereka berdua dari belakang.

“Cantik sekali kau Aairah. Cantik seperti biasanya.” ucap Daleela saat itu.

“Terimakasih, kau juga Daleela. Semua wanita itu cantik. Kau, aku, Hamra dan semua wanita di dunia.” balas Aairah.

“Maksudmu?” tanya Daleela.

“Wanita dikodratkan sebagai penghias bagi lelaki. Dengan kodratnya itu, ia bisa menaklukkan dunia. Membuat lelaki bertekuk lutut padanya. Jatuh kedalam pelukannya. Ia akan nampak cantik jika bisa menggunakan kodratnya itu dengan tepat. Kau paham maksudku?” tanya Aairah.

“Sedikit…” balas Daleela yang nampak kebingungan.

“Seiring berjalannya waktu kau akan mengerti dengan sendirinya.” ucap Aairah sambil tersenyum kearah Daleela.

Tak berapa lama akhirnya mereka bertiga sampai ditempat ritual. Sebuah tempat tak jauh dari Qasr Al Binth.

Berada disebuah lorong kecil diantara dua batu cadas besar. Tepatnya disebelah barat Qasr Al Binth.

Udara dingin berhembus cukup kencang. Menerbangkan debu – debu ke udara. Hari mulai gelap. Matahari bersinar menerangi lorong itu dengan sedikit cahaya. Membuat lorong itu nampak agak terang.

“Letakkan disana Hamra. Nyalakan kedua obor itu.” perintah Aairah.

“Baik Nyonya.” jawab Hamra. Lalu ia melangkah maju menuju sebuah altar kecil didepannya.

Altar itu terbuat dari batu cadas besar yang dipahat membentuk persegi dengan permukaan yang datar. Tepat diatas altar itu, di dinding batu cadas terdapat pahatan kepala Dewa Dhushara yang dikelilingi pahatan berbentuk kotak.

Sedikit kebawah, terdapat dua buah obor menempel di dinding tebing sebagai penerangan disaat malam. Hamra menyalakan obor itu dengan cara menggesekkan dua buah batu kecil yang dipungutnya. Suasana menjadi terang benderang kemerah - merahan.

Lalu ia meletakkan dua nampan sesaji diatas altar. Mengisinya dengan buah – buahan segar yang dipungutnya dari dalam keranjang.

Kemudian ia mengeluarkan dua ikat dupa. Meletakkannya kedalam kendi kecil yang sudah ada diatas altar itu. membakarnya hingga mengepulkan asap beraroma harum ke udara.

Hamra kembali ke tempatnya semula. Bergabung dengan majikannya dan Daleela yang telah bersimpuh didepan altar. Ia mengambil tempat dibelakang mereka.

“Aairah… Terimakasih atas bantuanmu.” bisik Daleela.

“Iya Daleela, sudah kewajibanku menolongmu. Menolong teman baikku. Kebetulan aku memiliki hasil kebun yang berlebih. Sehingga bisa aku berikan untukmu sebagian.” jawab Aairah pelan.

“Iya Aairah, aku do’akan semoga kau lekas memiliki keturunan seperti yang kau inginkan. Semoga Dewa mengabulkan keinginanmu.”

“Terimakasih Daleela. Terimakasih atas do’amu. Ayo kita lakukan ritual ini sebelum hari bertambah gelap.” ucap Aairah.

“Baiklah…”balas Daleela.

***

Malam itu dirumah Daleela…

“Bagaimana pertemuanmu dengan Raja? Apakah berjalan lancar?” tanya Daleela kepada suaminya Ghalib.

“Semua berjalan lancar. Kau tahu? Apa yang Raja berikan untukku hari ini?” tanya Ghalib sambil memeluk istrinya ditempat tidur.

“Aku tidak tahu, apa itu suamiku? Sekotak koin emas? Kedudukan tinggi? Atau apa?” tanya Daleela penasaran menatap suaminya.

“Hampir benar.”

“Hampir benar? Maksudmu?”

“Raja memberiku hadiah sekotak koin emas. Itu sebagai upah atas kerjaku selama di Kota Petra.”

“Waah… Selamat suamiku.”

“Tapi ada yang lebih berharga daripada koin – koin emas itu.”

“Apa itu?” tanya Daleela makin penasaran.

“Ia memberiku seorang pembantu di kerajaan. Pembantu sekaligus sahabatku.”

“Haydar…” jawab Daleela tegas dan yakin.

“Kau benar. Haydar. Ia lebih berharga daripada sekotak koin emas.”

“Kau benar suamiku. Kepercayaan seorang sahabat dan kesetiaan seorang teman melebihi apapun di dunia ini. Kau beruntung mendapatkan Haydar.” ucap Daleela pelan sambil memeluk erat suaminya.

“Iya istriku. Aku sangat berterimakasih kepada Dewa atas pemberiannya kepadaku hari ini.” ucap Ghalib pelan sambil membelai rambut istrinya.

Tiba – tiba Daleela terbangun. Ia mengambil posisi duduk disebelah suaminya yang sedang merebahkan tubuhnya.

Memandangi wajah suaminya dengan penuh kasih sayang.

“Ada apa istriku?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu Ghalib.” jawab Daleela dengan suara pelan.

Ghalib menegakkan tubuhnya. Kini mereka berdua dalam posisi duduk bersebelahan diatas ranjang.

“Apa? Katakanlah.” ucap Ghalib sambil memegang kedua tangan Daleela.

“Aku ingin memiliki anak lagi.”

“Anak?”

“Iya suamiku. Aku ingin ada yang menemaniku dirumah saat kau pergi bertugas. Aku tak mau sendirian disini. Seperti tadi siang.” jawab Daleela datar.

Ghalib memeluk istrinya. Ia teringat kejadian tiga tahun lalu. Saat istrinya keguguran. Anak yang mereka harapkan tidak terlahir ke dunia. Ia dan istrinya dilanda kesedihan berbulan – bulan.

Ghalib memandang wajah istrinya. Membaca  isi hatinya. Lalu ia mencium keningnya.

“Kita akan punya anak lagi.” jawabnya kemudian.

“Terimakasih suamiku.”

Lalu suami istri itu pelan – pelan memejamkan matanya. Melarutkan diri dalam sunyinya malam. Tenggelam dalam mimpi yang indah.

Sementara itu dirumah Aairah…

Rashad dan Aairah masih nampak diluar. Duduk berdua berdampingan menikmati cahaya bintang di langit yang biru.

“Bagaimana ritualmu hari ini?” tanya Rashad.

“Lancar. Tadi aku berdo’a bersama Daleela.” jawab Aairah.

“Kau berdo’a apa?” tanya Rashad sambil memandang wajah istrinya itu.

“Seorang anak.”

“Lalu?”

“Dan banyak yang lainnya. Termasuk untuk keluarga kita.”

“Semoga Dewa mengabulkannya.”

“Iya suamiku. Aku juga berharap demikian.” jawab Aairah sambil memeluk erat tubuh suaminya itu.

Tak lama kemudian mereka berdua masuk kedalam rumah. Beristirahat melepas lelah.

Hari makin malam. Diluar  Qasr Al Binth nampak sepi. Angin malam berhembus cukup kencang. Terasa dingin menusuk tulang.

Hewan – hewan malam mulai  nampak berkeliaran. Sekedar untuk jalan – jalan atau mencari makan.

Beberapa obor yang menyala di depan rumah – rumah mulai dimatikan satu persatu.

Diluar hanya nampak  beberapa orang yang berjaga – jaga. Duduk mengelilingi api unggun yang menyala kecil.

Sesekali terdengar pelan suara gurauan dan percakapan diantara mereka.

“Apakah kau mengantuk?” tanya salah seorang penjaga.

“Tidak.”

“Baiklah, ayo kita lanjutkan permainan kita.”

***