Lebih Bersyukur Sehabis Nonton Pentas Teman-teman Tunarungu

13 Januari 2012 18:14:54 Diperbarui: 25 Juni 2015 20:55:51 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Lebih Bersyukur Sehabis Nonton Pentas Teman-teman Tunarungu
13264782331793718364

Beberapa hari menjelang pergantian tahun, tepatnya pada Rabu, 28 Desember 2011, ada sebuah pertunjukan seni yang tidak biasa tersaji di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Sebuah komunitas seni yang terdiri dari teman-teman kita yang tunarungu, yang bernama Deaf Art Community (DAC), memperingati hari jadinya yang ke-7 sekaligus membuat pementasan bertajuk ”Aku Ingin Menjadi Kupu-Kupu”. Menurut Broto Wijayanto –pendiri sekaligus pengasuh DAC- yang malam itu bertindak sebagai pembawa acara, pementasan tersebut dapat berlangsung atas kebaikan hati seseorang yang kaya raya, sehingga penonton tidak dipungut bayaran sepeser pun.

Ada beberapa hal yang tidak biasa mesti dilakukan oleh penonton malam itu. Jika kami bermaksud memberi apresiasi kepada teman-teman di atas panggung, kami tidak bertepuk tangan, tapi melambaikan kedua tangan yang diangkat ke atas. Jika kami menyukainya, kami bisa mengacungkan salam tiga jari (dikenal dengan sebutan ’salam metal’) yang sesungguhnya bermakna ’I love you’. Maka berkali-kali kami melambaikan tangan kami melihat penampilan mereka yang menari, menyampaikan puisi visual, sulap, dan pantomim. Semula saya tidak bisa membayangkan musik apa yang akan mengiringi penampilan mereka. Ternyata di sebelah kanan depan panggung terdapat sekelompok pemuda yang tergabung dalam kelompok ’Indonesian Beatbox Jogja’ alias BEJO, yang menampilkan musik yang dikeluarkan dari mulut. Mereka adalah musisi pengiring pentas malam itu. Melihat teman-teman yang tuli tampil di atas pentas menimbulkan kekaguman tersendiri bagi kami. Terutama ketika mereka menari hip-hop dengan suasana amat nikmat dan mengasyikkan, padahal mereka sama sekali tidak mendengar suara musik apa pun! Ternyata meski mereka tidak dapat mendengar suara di luar mereka, namun mereka tetap mampu mengikuti irama dari detak jantung mereka sendiri. Apa yang disampaikan oleh dua ibu dosen seni sehabis pementasan cukup mewakili apa yang dirasakan oleh penonton. Semoga DAC akan terus berkarya dan semakin kreatif di masa mendatang. Seusai menyimak aksi teman-teman DAC membuat saya lebih bersyukur atas segala karunia Ilahi, baik yang saya miliki maupun yang tidak saya punyai. Mereka yang tuli -sekaligus tak bisa bicara dengan suara mereka- saja sanggup menikmati hidup, tampil dengan sangat percaya diri, dan jelas sekali mereka adalah orang-orang yang sangat bersyukur. Benar kata Mas Broto bahwa mereka merupakan guru yang baik karena kita –yang merasa normal dan sempurna- ternyata justru bisa belajar banyak dari mereka bagaimana sebaiknya menyikapi hidup ini.

Tulisan ini juga terpajang di blog pribadi saya : http://apresiasiseniluhur.blogspot.com/

Foto : http://cekitdotfree.com

Luhur Satya Pambudi

/luhursatya

Seorang lelaki sederhana yang suka menulis cerpen, soal sepak bola, dan bisa pula perihal lainnya.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article