HIGHLIGHT

OBJEK WISATA KABUPATEN TEMANGGUNG

05 Desember 2010 10:43:00 Dibaca :

*Geografi*
Kabupaten Temanggung terletak di tengah-tengah Propinsin Jawa Tengah dengan bentangan Utara ke Selatan 46,8 Km dan Timur ke Barat 43 Km. kabupaten Temanggung secara astronomis terletak diantara 110o23´-110o46´30 bujur Timur dan 7o14´-7o32´35 Selatan dengan luas wilayah 870,65 km2 (87.065 Ha). Batas-batas administrative Kabupaten Temanggung adalah sebagai berikut:
- Di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Kendal dan Kabupaten Semarang
- Di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Semarang dan Kabupaten Magelang
- Di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Magelang
- Di sebelah Barat berbatsn dengan Kabupaten Wonosobo.
Wilayah Kabupaten Temanggung secara geoekonomis dilalui oleh 3 jalur pusat kegiatan ekonomi, yaitu Semarang (77 Km), Yogyakarta (64 Km), dan Purwokerto (134 Km).

*Iklim*
Kabupaten Temanggung memiliki sifat iklim tropis dengan dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau dengan suhu rata-rata 22o Celcius sampai dengan 23,6o Celcius. Curah hujan di wilayah Kabupaten Temanggung relatif tidak merata. Hal ini terlihat dari curah hujan dibagian Timur wilayah Kabupaten Temanggung (Kecamatan Kandangan dan Pringsurat) lebih tinggi dibandingkan dengan Kecamatan lainnya, demikian pula dengan waktu musim hujannya yang lebih lama. Curah hujan rata-rata per tahun sebesar 2.163 mm.

*Topografi*
Permukaan wilayah Kabupaten Temanggung termasuk dataran tinggi. Pola topografi wilayah secara umum mirip sebuah cekungan raksasa yang terbuka dibagian Tenggara, dibagian Selatan dan Barat dibatasi oleh 2 buah gunung yaitu Gunung Sumbung (3.340 m dpl) dan Gunung Sindoro (3.115 m dpl). Di bagian Utara dibatasi oleh sebuah pegunungan kecil yang membujur dari Timur Laut kearah Tenggara. Dengan topografi semacam itu, wilayah Kabupaten Temanggung memililki permukaan yang sangat beragam ditinjau dari ketinggian dan luas wilayah/kawasan. Sebagian wilayah Kabupaten berada pada ketinggian 500 m 1000 m (24,3 %), luasan areal ini merupakan daerah lereng gunung Sindoro dan Sumbing yang terhampar dari sisi selatan, Barat sampai dengan Utara wilayah.

*Geologi*
Secara geomorfologi, Temanggung termasuk kompleks, mulai dari dataran, perbukitan, pegunungan, lembah dan gunung dengan sudut lereng antara 0%-70% (landai sampai dengan sangat curam). Kabupaten Temanggung memiliki dua buah gunung, yaitu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, yaitu stadium erupisnya mulai muda sampai tua.

*Demografi*
Penduduk Kabupaten Temanggung pada tahun 2006 (703.346 orang), 2007 (709.343 orang) dan  2008 (716.295 orang yang terdiri dari 357.299 laki-laki dan 358.996 perempuan dengan kepadatan 823 orang per km2).

Jarak dari Kota Temangung Ke Ibu Kota Kecamatan:
1. Temanggung : 0 Km
2. Kranggan : 4 Km
3. Tlogomulyo : 5 Km
4. Bulu : 6 Km
5. Kedu : 6 Km
6. Kandangan : 8 Km
7. Tembarak : 8 Km
8. Parakan : 12 Km
9. Selopampang : 14 Km
10. Kaloran : 15 Km
11. Pringsurat : 16 Km
12. Bansari : 18 Km
13. Ngadirejo : 19 Km
14. Jumo : 21 Km
15. Kledung : 22 Km
16. Gemawang : 23 Km
17. Candiroto : 28 Km
18. Wonoboyo : 33 Km
19. Bejen : 34 km
20. Tretep : 40 Km








OBJEK WISATA KABUPATEN TEMANGGUNG



JUMPRIT



SEJARAH


Jumprit boleh dikatakan sebagai bagian dari sejarah runtuhnya Majapahit. Karena dari catatan yang ada nama Jumprit sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan salah satu penasehat Bre Kertabumi ( Raja Majapahit yang terakhir ) yaitu Pangeran Singonegoro.


Alkisah waktu itu, Kerajaan Islam Demak yang diperintah oleh Raden Patah terus melakukan perluasan daerah termasuk ke dalam wilayah Kerajaan Majapahit.. Ada yang tunduk dan ada yang tidak tunduk terhadap kepemimpinan baru di bawah Raden Patah. Salah satunya adalah Pangeran Singonegoro yang tidak tunduk, sehingga beliau akhirnya mengasingkan diri ke dataran tinggi di daerah Tegalrejo Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Bersama dengan Pangeran Singonegoro waktu itu adalah istrinya dan kedua pengawalnya yaitu Mahesa Aduk dan Endong Wulung serta seekor kera putih yang bernama ki Dipo. Kemudian Pangeran Singonegoro bertapa dan menyebarkan ajaran agama Hindu disekitar daerah Tegalrejo bersama istrinya sampai dengan akhir hayatnya. Setelah Pangeran Singonegoro meninggal sang kera putih ( Ki Dipo ) tetap menjaga makam beserta keturunannya sampai sekarang. Sedangkan kedua pengawalnya Mahesa Aduk dan Endong ukung turun gunung dan akhirnya mendirikan Candi Pringapus yang lokasinya tidak jauh dari makam Pangeran Singonegoro dan bermukim disitu sampai akhir hayatnya.


Sedangkan nama Jumprit sendiri berasal dari salah seorang penduduk Kulon Progo. Cerita singkatnya adalah ketika itu Ki Jumprit, salah seorang penduduk yang tinggal di tepi Kali Progo terkena penyakit kulit yang parah dan tidak bisa disembuhkan. Karena sudah merasa tidak ada yang bisa menyembuhkan penyakitnya maka Ki Jumprit berniat mengakhiri penderitaannya dengan bunuh diri. Pada saat itulah datang wangsit yang memerintahkan agar Ki Jumprit mandi di Sendang yang berdekatan dengan Makam Pangeran Singonegoro. Dan akhirnya setelah mandi di sendang tersebut, penyakit kulit yang diderita sembuh dan selanjutnya Ki Jumprit menjadi juru kunci di tempat tersebut sampai akhir hayatnya. Untuk menghormati keberadaan juru kunci tersebut maka dinamakanlah sendang tersebut dengan nama Jumprit sampai sekarang.


Untuk menuju ke tempat ini tidaklah terlalu sulit, karena hanya berjarak sekitar kurang lebih dua puluh enam kilometer dari Kota Temanggung arah Ngadirejo. Jalan menuju tempat ini dari Temanggung juga terbilang bagus, namun berkelok-kelok dan turun naik seperti pada umumnya kontur jalan pegunungan. Karena sejarahnya tersebut banyak orang yang berkunjung kesini untuk mendapatkan khasiat air sendang jumprit untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Namun diluar itu semua dengan segala kekurangannya tempat ini memang layak dikunjungi untuk sekedar menikmati suasana khas pegunungan atau melepas kepenatan selepas melakukan rutinitas sehari-hari. Puluhan monyet yang menurut sejarahnya adalah keturunan Ki Dipo juga bisa kita saksikan bergelantungan di pohon maupun yang bermain-main disekitar lokasi parkir mobil.




Berada diketinggian sekitar delapan ratus meter di atas permukaan air laut di salah satu sisi Gunung Sindoro menjadikan tempat ini sangat sejuk sekaligus berpadu dengan keindahan alam pegunungan. Namun minimnya sarana dan prasarana juga mempengaruhi minat wisatawan yang berkunjung kesini. Di seberang sendang Jumprit memang terdapat kolam renang namun dengan kondisi yang kurang terawat. Keuntungan lain berkunjung kesini adalah selepas dari Jumprit perjalanan bisa dilanjutkan ke perkebunan Teh Tambi yang indah dan selanjutnya ke dataran tinggi Dieng karena tempat-tempat tersebut merupakan satu arah kalau ditempuh dari arah Jumprit.

CURUG TROCOH

SEJARAH
Curug Trocoh dikenal pula dengan nama Curug Surodipo, untuk menghormati perjuangan Surodipo, pengikut setia Pangeran Diponegoro. Ia pernah dipercaya sebagai panglima perang saat melawan tentara belanda (1825-1830).
Di Desa Tawangsari, Kecamatan Wonoboyo, inilah Surodipo membangun benteng pertahanannya. Di tempat ini pula, Pangeran Diponegoro mengumpulkan para panglima perang dan pengikutnya, untuk menyusun siasat perang gerilya yang sangat melegenda itu.
Seperti dataran tinggi lainnya, Kabupaten Temanggung juga memiliki
Beberapa obyek wisata air terjun (Curug). Yang cukup terkenal antara lain Curug Trocoh (Curug Surodipo) dan Curug Lawe.
Curug Trocoh terletak di Desa Tawangsari, Kecamatan Wonoboyo, sekitar 28 km dari arah barat laut Kota Temanggung. Istilah Trocoh, dalam bahasa jawa, berarti selalu mengeluarkan air. Air di Curug ini memang tak pernah surut, termasuk saat kemarau panjang. Tetapi ketika terjadi penjarahan hutan besar-besaran di awal reformasi, ekosistem di kawasan ini sdikit terganggu. Meski Objek wisata ini disebut juga sebagai Curug Surodipo. Nama ini memang terkait dengan seorang tokoh pejuang bernama Surodipo, yang merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro. Surodipo mengungsi ke Tawangsari, sekaligus untuk menyusun strategi perang melawan tentara Belanda.
Curug Trocoh memiliki keunggulan yang jarang dimiliki objek wisata air terjun lainnya, yaitu mempunyai lima terjunan bertingkat. Ketinggian curug, dari puncak ke dasar sekitar 120 meter. Jarak antara terjunan satu dan terjunan berikutnya rata-rata 20 meter. Selain itu, airnya bersih dan segar.
Di sekitar curug terdapat bebatuan alam yang digunakan untuk duduk bersantai sambil menikmati keindahan air terjun dengan ketinggian yang terjal tersebut.
Apalagi panorama alamnya sangat indah, khas pedesaan, serta berhawa sejuk. Dengan berbagai kelebihan ini, Curug Trocoh layak “dijual” sebagai objek wisata alam dan sejarah.
Tak sedikit pengunjung yang sengaja datang untuk melakukan meditasi, guna meningkatkan kemampuan supranaturalnya. Tempat yang sering digunakan untuk meditasi adalah goa-goa disekitar Watu Godheg. Tak jauh dari air terjun.
Untuk memopulerkan objek wisata ini, Pemerintah Kabupaten Temanggung pernah mengadakan acara jelajah wisata curug Surodipo. Rutenya dimulai dari depan Kecamatan Wonoboyo menuju lapangan Desa Tawangsari yang berjarak sekitar 7 km.
Perjalanan bisa dilakukan dengan mobil atau motor. Dari lapangan, penjelajahan dilanjutkan dengan naik bukit menuju Curug Trocoh yang berjarak 3 km. Kegiatan ini perlu diteruskan dan dikemas lebih baik lagi dimasa datang, sebagai siasat menjaring minat calon wisatawan. Infestor pun sangat berpeluang menanamkan kapitalnya dengan membangun sarana-prasarana wisata di sekitar curug Trocoh.

PELUANG INVENTASI
Sesuai dengan karateristiknya, Curug Trocoh bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata modern, tanpa meninggalkan sifat-sifat alaminya. Dalam hal ini, ada beberapa peluang usaha yang bisa ditawarkan kepada calon investor, yaitu:
Pertama, pembangunan objek wisata air terpadu, yang sumber airnya diambilkan dari mata air di Curug Surodipo. Beberapa fasilitas yang bisa dibangun antara lain:
a.    Kolam renang standar internasional, sehingga bisa digunakan pula untuk menggelar perlombaan renang baik berskala lokal, nasional, maupun internasional.
b.    Kolam arus, di mana para wisatawan bisa menyusurinya dengan perahu kayak dan pelampung.
c.    Papan/menara luncur, dengan track Khusus anak-anak.
d.    Water boom yang sekarang menjadi tren terbaru dalam wisata air.
e.    Pancuran terbuka, yang bisa digunakan untuk membilas tubuh setelah berenang atau sekedar menghilangkan pegal-pegal.
f.    Kolam Pesta air yang di kota-kota besar menjadi tempat faforit anak-anak, dengan aneka permainan anak (misalnya see-saw, banana boat, sepeda air , bantal air, perahu kayak, dll).
Kedua, pembangunan beberapa fasilitas olah raga alternative, misalnya sirkuit gokart, jalur off-road, arena motocross, lapangan woddball, dan lain-lain.
Ketiga ,  pembangunan fasilitas pendukung wisata lainnya seperti taman bermain anak-anak, panggung kesenian (musik, melukis, dll), kios cinderamata, wisma/hotel, restoran, dan lain sebagainya.
Untuk meningkatkan daya tarik wisatawan, investor dapat membangun arena bermain anak-anak di kawasan Curug Trocoh, seperti pembuatan jembatan gantung, flying fox, dan material outbond lainnya yang digemari anak-anak dan kawula muda di perkotaan. Banyak wahana permainan air yang dapat dikembangkan di Curug Trocoh. Misal banana boat, see-saw, bantal air dan lain-lain. Sumber air yang tak pernah kering, termasuk pada saat kemarau pada saat kemarau panjang, menjadi daya dukung tersendiri.




CURUG LAWE





Sebagaimana Curug Trocoh, Curug Lawe juga terletak di kawasan utara Kabupaten Temanggung. Tepatnya di Desa Muncar, Kecamatan Gemawang. Kecamatan ini berbatasan dengan Kabupaten Kendal.
Panorama alam di curug ini tidak kalah dengan memikat dari Curug Trocoh. Perjalanan menuju lokasi juga cukup lancer, dengan jarak tempuh sekitar 26 km dari kota Temanggung ke arah utara.
Lawe, Disebut Curug karena air yang jatuh dari tebing curam itu terlihat bagai benang-benang putih, yang dalam bahasa jawa disebut lawe. Disekitar objek wisata terdapat buah khas gemawang, yaitu cendul (buah kepel), yang jarang dijumpai di daerah lain. Jika sedang musimnya, wisatawan bisa memetik buah kepel dari pohonya secara gratis. Buah ini sangat menyegarkan, sehingga bisa menghapus dahaga para pengunjung.
Pengunjung yang membawa kendaraan pribadi (mobil/sepeda motor) bisa menitipkan kendaraanya di rumah-rumah penduduk terdekat, kemudian berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju lokasi. Objek wisata ini sangat cocok untuk pengunjung yang menguasai wisata petualangan.
Tidak jauh dari Curug Lawe terdapat mata air panas yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati beberapa penyakit kulit dan tulang, karena airnya mengandung belerang.
Dikawasan ini, pengunjung juga dapat menikmati wisata belanja sayuran dan buah-buahan, terutama pisang dengan harga sangat murah, karena langsung dibeli dari petani di Pasar Muncar.

PELUANG INVESTASI
Ada beberapa peluang investasi yang bisa digarap pemerintah daerah maupun kalangan swasta dikawasan Curug Lawe, antara lain :
-    Pembangunan kolam pemandian air panas, baik terbuka (pancuran umum) maupun tertutup (kamar pemandian). Proyek ini cukup prospektif, apalagi lokasinya dekat dengan Semarang, Ungaran dan Kendal.
-    Pembangunan objek wisata air terpadu (kolam renang, kolam arus, kolam pesta air, papan/menara luncur, dan dilengkapi berbagai permainan air lainnya).
-    Perbaikan jalan setapak serta areal parkir.
-    Pengembangan wisata olah raga alternative, mulai dari outband, adventurezone, woodball, hingga arena motorcros dan jalur off-road.
-    Pembangunan fasilitas pendukung wisata lainnya, seperti gazebo, hotel, wisma, vila, homestay, vila, restoran-restoran unik dengan menu temanggung, hingga kios buah, sayuran, dan cenderamata.
-    Pengembangan kawasan agrowisata di sekitar Curug Lawe, dengan komoditas buah, sayuran, dan tanaman hias.









PRASASTI GONDOSULI



Prasasti Gondosuli merupakan salah satu obyek wisata sejarah, bahkan bisa disebut paling bersejarah di Kabupaten Temanggung. Dari tempat inilah wisatawan bisa memperoleh gambaran mengenai kehidupan social budaya masyarakat Temanggung tempo dulu.
Prasasti ini terletak di Desa Gondosili Kecamatan Bulu. Jaraknya hanya sekitar 13 km arah barat . Ditulis pada tahun 832, sesuai dengan candrasengkala yang ada, Prasasti Gondosuli menjadi saksi bisu kejayaan Dinasti Sanjaya, terutama di masa pemerintahan Rakai Patahan (Rakaryan Patapan Pu Palar) sebagai raja di Mataram Hindu (Mataram Kuno).
Nama Rakai Patapan juga dapat dijumpai dalam Prasasti Karang Tengah yaitu ditulis pada tahun 824. Secara keseluruhan luas lokasi situs ini sekitar 4.992 m2.
Untuk menjaga keutuhannya disekeliling prasasti diberikan bangunan beratap seng dan diberi pagar keliling dari besi. Hai ini dilakukan untuk menjaga keamanan dan lebih memberi perlindungan kepada benda yang sangat bersejarah tersebut.

BERWISATA KE MASA LALU
Prasasti adalah segala bentuk tulisan ynag digoreskan atau dipahatkan pada batu, lontar, logam dan benda keras lainnya, yang menyimpan berbagai sumber sejarah di masa lalu. Sebagian besar sejarah Indonesia pun bisa direkam dengan baik setelah adanya penemuan sejumlah prasasti di berbagai daerah.
Dalam prasasti selalu terdapat informasi tentang kejadian di masa lalu. Misalnya pembebasan tanah bagi wilayah-wilayah yang ditetapkan dalam prasasti, penetapan tanah perdikan, perebutan tanahm pembagian kekayaan, puji-pujian kepada air suci yang jernih, angka yang menunjuk tahun tertentu dan sebagainya.
Berdasarkan penelitian Prasasti Gondosuli memuat 11 baris tulisan, ditulis dengan huruf Jawa Kuno, tetapi menggunakan bahasa Melayu Kuno. Bahkan bentuk tulisannya mirip prasasti-prasasti di daerah Sriwijaya Andalas (Sumatera).
Prasasti Gondosuli ditulis/dipahat pada batu besar dengan panjang 290 cm, lebar 110 cm dan tinggi 100 cm, sedangkan bidang yag ditulis berukuran 103 x 54 cm2.
Pada baris pertama terdapat tulisan “Nama Syiwa Om Mahayana, sahin mendagar wa’zt tanta pawerus darma”. (Bakti kepada Desa Siwa, Om Mahayana (Orang Besar). Di semua batas hutan pertapaan, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, mendengarkan hasil pekerjaan/ perbuatan yang baik).
Prasasti ini berisi penghibahan tanah, dimana tanah itu digunakan untuk bangunan suci/ candi, serta untuk memperingati pembangunan patung raja (Hyang Haji) disebuah preseda yang disebut Sang Hyang Wintang.


CANDI GONDOSULI


Slain prasasti, ditemukan pula reruntuhan bebatuan candi yang berserakan disekitarnya. Belum diketahui berapa luas candi tersebut, karena bentuknya sudah tidak utuh lagi.
Batu-batu yang berserakan itu diperkirakan hanya bagian atas candi, sedangkan sebagian besar bangunan candi terpendam dalam tanah. Pernah ada upaya dari pihak terkait, yaitu Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah, untuk melakukan penggalian. Tapi upaya ini dihentikan karena tanah diatas bangunan candi yang terpendam digunakan untuk pemakaman umum. Bahkan ada makam seorang tokoh agama, Kiai Rofi’I, yang dikeramatkan oleh penduduk setempat.
Ahli purbakala dari Australia, Prof Dr JG Casparis, menduga candi Gondosuli dibangun pada abad ke-9. Casparis juga memperkirakan kalau bentuk bangunan candi ini tidak berbeda jauh dari bangunan-bangunan candi yang dibangun pada abad tersebut dan berada disekitarnya.
Candi-candi yang dimaksud Casparis antara lain puluhan candi di Dieng, candi Gedongsongo, dan candi Pringapus di Temanggung. Candi Gondosuli, yang berasitektur Hindu, diperkirakan juga dibangun Rakai Patapan. Ia merupakan salah seorang anak dari sanjaya, raja pertama Mataram Hindu. Rakai Patakan sendiri merupakan raja ke-5.

PROSPEK PENGEMBANGAN KAWASAN GONDOSULI
Lokasi situs Prasasti Gondosuli relatif mudah dijangkau, karena ada fasilitas jalan selebar 6 meter dan beraspal. Selain itu, banyak angkutan umum yang melewati kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung.
Misalnya angkutan umum dengan rute Magelang-Secang-Temanggung-Wonosobo dan sebaliknya, atau Semarang-Secang-Temanggung-Wonosobo dan sebaliknya.
Begitu memasuki desa Gondosuli, suasana pedesaan sangat terasa menyambut pengunjung. Apalagi pada sisi kanan dan kiri jalan terhampar tegalan-tegalan luas, yang ditanami berbagai macam tanaman perkebunan. Mulai dari Tembakau, Cengkeh, dan sebagainya.
Tak jauh dari pintu gerbang objek wisata Situs Prasasti Gondosuli, terlihat pegunungan, rumah-rumah, perkampungan, dan area persawahan yang hijau membentang luas dan berlapis-lapis, sehingga terlihat Artistik. Secara keseluruhan, panorama alam khas pedesaan ini sangat indah, dibalik udara sejuk yang menyegarkan.
Jika berangkat dari Secang, maka sekitar 12 km selepas dari kota temanggung, Anda akan menjumpai jalan simpang di kota kecamatan Bulu (RS Ngesti Waluyo). Dari sini, perjalanan diteruskan sekitar 3 km menuju lokasi Situs yang berada ditengah-tengah perkampungan dan tegalan.
Prospek pengembangan Wisata di Desa Gondosuli cukup cerah. Selain bisa dijadikan Wisata Pendidikan dan Wisata Sejarah, kawasan ini juga bisa disinergikan dengan genre-genre Wisata baru. Misalnya Wisata Belanja. Apalagi sebagian warga Desa Gondosuli menjadi perajin tas mendong dan akar wangi.

Kerajinan ini bisa ditularkan kepada warga Desa lainnya, kemudian dibuat klaster-klaster. Tanaman mendong dan akar wangi di tenun dan dijadikan tas wanita, keset, tempat kosmetik, tempat pakaian kotor, dan berbagai peralatan rumah tangga lainnya yang menarik dan artistik





CANDI PRINGAPUS

Obyek wisata lain di Kabupaten Temanggung yang menarik dikunjungi adalah Candi Pringapus. Sebagaimana candi-candi lainnya, Candi Pringapus tidak hanya menawarkan wisata arkeologi, tetapi juga wisata sejarah, wisata budaya dan wisata pendidikan.
Sesuai dengan namanya, candi ini terletak di Desa Pringsurat Kecamatan Ngadirejo sekitar 22 Km dari arah barat lauta Kota Temanggung. Umurnya sudah cukup tua, yang diperkirakan dibangun pada tahun 850 dan rampung dua tahun kemudian.
Arca-arcanya bercorak Hindu Siwaistis. Jika dicermati, bentuk bangunanya merupakan replika Mahameru yang menjadi lambang tempat tinggal para dewata. Hal ini bisa dibuktikan dari adanya hiasan antefiq dan relief hapsara-hapsari yang menggambarkan makhluk setengah dewa.
Candi Pringapus mengingatkan kita pada candi-candi yang ada di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo dan Candi Gegongsongo di Desa Candi Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang.
Bentuknya hamper sama, Kebetulan ketiga

komplek candi ini berada di kawasan yang berdekatan, sehingga memiliki banyak kesamaan, baik dalam bentuk maupun kebudayaan masyarakat saat itu. Komplek Candi Gedongsongo di Sebelah Utara Candi Pringapus dan komplek Candi Dieng di sebelah baratnya.



KARAKTERISTIS CANDI
Sebagaimana candi-candi di Dieng dan Gedongsongo, seluruh bagian depan dinding Candi Pringapus dalam kondisi tertutup.Bagaimana yang terbuka hanya dinding sebelah barat, berfungsi sebagai pintu keluar masuk. Bentuknya menyerupai altar dan terlihat gagah. Di sisi kiri dan kanan pintu terdapat relief nan indah, menggambarkan sepasang dewa dari kahyangan.
Di bagian dalam, pengunjung bisa melihat Candi berukuran besar, yang menjadi sandaran Dewa Siwa. Tinggi Candi melebihi tinggi pintu, sehingga diperkirakan dibuat erlebih dahulu sebelum proses pembangunan pintu.
Berbeda dengan Candi Gondosuli yang sudah tidak terlihat bentuknya Candi Pringapus relief masih utuh.
Karakteristiknya yang unik membuat banyak wisatawan asing datang ke sini, terutama dari Belanda, Belgia dan AS. Saat liburan, tempat ini ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah termasuk anak-anak sekolah.
Candi Pringapus pertama kali disebut Junghuhn dalam daftar reruntuhan candi-candi Jawa, yang didasarkan pada gambar Hoepermans. Setelah itu, gambar diperbarui oleh Brandes, Van Erp (1909) dan Knebel (1911).
Situ ini juga terkait dengan Candi Perot yang ada di dekatnya (sekitar 300 meter), yang runtuh akibat badai besar tahun 1907 (kini hanya terlihat pondasi saja). Empat tahun sebelumnya, sejumlah arkeolog asing melakukan studi terhadap Candi Perot dan menyusun gambarnya.

MISTERI PERTANGGALAN CANDI
Kapan Candi Pringapus dibangun? Ada yang menyebutkan tahun 850, 852 bahkan ada juga yang memperkirakan tahun 900 atau sesudahnya. Menurut seorang arkeolog, Djulianto Susanto (Menentukan Pertanggalan  Candi; 2003), sampai kini belum ada kesimpulan yang pasti mengenai kapan suatu candi mulai dibangun atau didirikan. Dari berbagai data arkeologi, tidak satu pun yang menyiratkan informasi suatu tarikh secara akurat.
Karena itu, pertanggalan yang diberikan para arkeolog selalu diimbuhi kata-kata “kemungkinan (besar” atau “ diperkirakan didirikan pada abad kesekian pada masa kerajaan anu”. Bukan “didirikan pada tahun sekian oleh raja anu”.
Arkeolog Belanda EB Vogler pernah melakukan penelitian terhadap hiasan kala makara diatas pintu candi sejarah politik kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah. Hasilnya dipetakan menjadi lima periode pertanggalan yaitu :
a.    Periode I, yaitu masa sebelum tahun 650. Ia memperkirakan, ketika itu sudah ada bangunan ang terbuat dari bahan-bahan yang mudah rusak dan lapuk sehingga tanda-tanda arsitekturalnya tidak tersisa lagi.
b.    Periode II (650-760), yang terjadi pada masa pemerintahan Raja Sanjaya dari Kerajaan Mataram Hindu. Gaya bangunan dipengaruhi oleh arsitektur Pallawa yang berasal dari India Selatan. Bangunan-bangunan candi dari periode ini pun sudah rusak, dan tidak mudah teridentifikasi.
c.    Periode III (760-812), pada masa Dinasti Syailendra. COntoh bangunannya adalah Candi Borobudur, Pawon, Mendut, Kalasan dan sari.
d.    Periode IV (8120-928), Pengaruh asing terutama gaya Chandiman (India) mulai memperkaya unsur-unsur candi. Contohnya antara lain Prambanan, sariwanm Plaosan dan Ngawen.
e.    Periode V, yang berlangsung tahun 928 hingga akhir masa Hindu-Jawa. Bangunannya merupakan perkembangan dari gaya-gaya sebelumnya. Bangunan dari periode ini mulai diperkaya dengan unsur-unsur kesenian Jawa Timur, terutama bentuk kala. Contoh bangunannya antara lain Candi Pringapus, Sembodro, Ratna dan Srikandi.



SINDORO DAN SUMBING,
GUNUNG KEMBAR YANG MENANTANG

Sindoro dan Sumbing merupakan dua Gunung yang letaknya berdekatan, serta memiliki bentuk dan tinggi yang hampir sama. Tinggi Gunung Sumbing sekitar 3.340 m (dpl), sedikit lebih tinggi daripada Sindoro (3.155 m dpl).
Jika dipetakan, Sumbing berada disebelah barat daya kota Temanggung dan sebelah Timur kota Wonosobo. Sedangkan Sindoro disebelah barat laut Temanggung danTimur laut Wonosobo. Masyarakat dikedua daerah itu menyebut Sindoro-Sumbing sebagai Gunung kembar. Keduanya menyimpan potensi wisata yang sangat besar, meskipun belum semuanya bisa dikelola secara maksimal.
Selain panorama alam nan indah, dengan udara sejuk dan segar, daerah-daerah dilereng Sumbing-Sindoro potensial dikembangkan sebagai kawasan agro wisata, terutama perkebunan kelengkeng, tembakau, vanila, dan kopi. Kondisi alamnya hampir sama dengan kawasan Gunung Mas, puncak, Bogor.
Gunung yang dipenuhi legenda tentang kesetiaan pasangan dan epos kepahlawanan itu sudah tidak asing lagi bagi para pendaki. Banyak kelompok pecinta alam yang mendaki puncak Sumbing dan Sindoro, terutama pada hari-hari tertentu yang sudah menjadi tradisi.
Dengan berbagai kelebihannya, dinas perhubungan dan pariwisata kabupaten Temanggung berusaha terus menggali potensi-potensi wisata, sambil membenahi sarana-prasarana pendukung dikawasan ini.
Sektor pariwisata, terutama yang berbasis wisata Gunung, bisa dijadikan salah satu primadona unggulan dalam membangun ekonomi kerakyatan di daerah ini. Dinas perhubungan dan Pariwisata berniat mengembangkan kawasan Sindoro dan Sumbing sebagai kawasan wisata terpadu. Terutama dilembah antara Sindoro-Sumbing, dan bagian puncak. Misal dengan menyediakan fasilitas kereta gantung yang menghubungkan kedua gunung itu.
Salah satu kawasan yang diapit lembah Sindoro-Sumbing adalah Kledung, yang dilewati pengguna jalan di jalur Parakan-Wonosobo. Banyak pengguna jalan yang beristirahat di tempat ini, sekedar melihat keindahan panorama alam disekelilingnya yang bisa menyegarkan tubuh dan pikiran. Banyak hal yang bisa dijumpai dilembah gunung itu. Selain keindahan alam, lembah Sindoro-Sumbing juga menawarkan kehangatan dan senyum ramah penduduknya. Terlebih lagi tatkala melihat aktivitas mereka saat musim tambakau tiba.
Panorama alam yang indah dan udara sejuk-segar kini menjadi barang langka diperkotaan, itu sebabnya, mereka sering memanfaatkan hari libur ke objek wisata alam sebagaimana banyak tersedia dikabupaten Temanggung.
Letaknya yang dekat dengan Dataran Tinggi Dieng membuat wisata pendakian Gunung Sumbing dan SIndoro bisa dipromosikan lebih dasyat lagi, misalnya dengan mengundang sebagian wisatawan yang datang ke Dieng untuk berkunjung pulang keTemanggung. Pemerintah kabupaten dan masyarakat Temanggung pun siap memanfaatkan peluang emas ini, demi kesejahteraan masyarakat.

WISATA PENDAKIAN
Salah satu kegiatan yang sudah berjalan dikawasan Gunung ini adalah wisata pegunungan. Pendakian Sindoro-Sumbing biasanya dimulai dari kledung, yang terletak diantara kedua Gunung. Ditempat ini, para pendaki juga bisa menyaksikan matahari terbit dan terbenam.
Jalur pendakian yang menantang, ritual setiap malam 1 sura (1 muharam) dan malem selikuran (21 Ramadhan), hamparan perkebunan teh, aneka ladang sayur, deretan pohon pinus, dan jalur berliku-liku dilembah kedua gunung itu membuat banyak orang ingin mengunjungi tempat tersebut.

GUNUNG SUMBING
Perjalanan wisata ke Gunung Sumbing akan melewati desa wisata Tegalrejo yang juga dekat dengan pemancingan Vale Kambang dan prasasti Gondosuli. Tanah sekitar gunung sangat subur, sehingga hampir seluruh daerah yang landai sampai ketinggian 2.000 m dpl dijadikan areal perkebunan rakyat seperti tembakau dan sayuran.
Pendakian gunung sumbing bisa dilakukan kapan saja. Tetapi puncak keramaian terjadi pada malem selikuran. Ribuan pendaki, yang dipandu para pecinta alam yang berpengalaman dari sumbing Hiking Club (SHC) Temanggung, serta dipantau para petugas terpadu diposko-posko terdekat, mengawali ritualnya dari desa pager gunung, kecamatan Bulu.
Untuk pendakian diluar tradisi malem selikuran, perjalanan bisa dilakukan tanpa harus dipandu petugas. Para pendaki umumnya start dari desa/kecamatan kledung (arah barat laut), atau kampung butuh dan selogowok dikecamatan tlogo mulyo (timur laut).
Bahkan, gunung sumbing juga bisa didaki dari kawasan diluar kabupaten Temanggung. Yaitu arah barat laut dari kampung garung (1.543 m dpl) di desa Butuh, kecamatan Kalijajar (Wonosobo), arah tenggara dari Kalegan (Kabupaten Magelang), dan arah Barat daya dari sapurun (Wonosobo).
Apabila cuaca bagus, pendakian ke puncak menempuh waktu sekitar lima jam. Sebagian dari mereka berziarah kemakam Ki Ageng Makukuhan di Puncak Sumbing. Ki Ageng Makukuhan diyakini sebagai orang pertama yang singgah di Kedu dan memperkenalkan tanaman tembakau.
Ada beberapa pos yang harus dilalui dari base camp hingga kepuncak, yaitu pos I (1.750 m dpl), pos II (2.000 m dpl),pos bayangan (2.500 m dpl), dan bagian puncak (2.850-3.340 m dpl).

GUNUNG SUMBING
Nama           : Gunung Sumbing
Nama Kawah     : Kawah Sumbing
Lokasi           : Desa Pager Gunung, Kecamatan Tjepit, Kabupaten Temanggung
Ketinggian          : 3. 340 m dpl
Wilayah       : Kabupaten Temanggung, Magelang, Wonosobo dan Purworejo.
Kota Terdekat     : Temanggung (Timur laut), Parakan (Utara), Wonosobo (Barat), dan Magelang (Tenggara).
Tipe Gunung : Gunung Api strato tipe B
Pos Pengamatan : Desa Genting Sari, Parakan-Temanggung pada Ketinggian 950 m dpl.

Dipos I (hutan rapat) terdapat shelter dan lahan bivak. Sedangkan pos II (Wilayah Terbuka) didominasi padang rumput dan ilalang. Udara dipuncak cukup panas, angin kencang, dan cuaca cerah, dengan suhu dibawah 12 derajat Celciuse. Puncak terdiri atas batu-batuan, lapangan berpasir, kawah, dan belerang.

GUNUNG SINDORO
Setiap malam 1 sura, ribuan pecinta alam melakukan pendakian Sindoro. Gunung berketinggian 3.151 m itu juga memiliki beberapa keindahan alam, misalnya Telaga Ajaib dan bunga Abadi edelwis di puncak gunung. Para pendaki juga bisa melihat panorama terbit dan tenggelamnya matahari.
Sebagaimana Sumbing, Sindoro cocok untuk melakukan kegiatan wisata alam dan petualangan. Pendakian dilakukan melalui Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung. Selain panorama alam yang indah, pendaki bisa melihat para aktivitas petani di kebun.

GUNUNG SINDORO
Nama       : Gunung Sindoro
Nama Kawah   : Kawah Sindoro
Lokasi           : Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung
Ketinggian        : 3.155 m dpl
Wilayah       : Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Wonosobo.
Kota Terdekat   : Temanggung (Tenggara), Parakan (Timur), Wonosobo (Barat).
Tipe Gunung       : Gunung Api strato tipe B


PUNCAK WONOTIRTO


Di Lereng Gunung Sumbing, di sebuah desa di Kecamatan Bulu, ada kawasan wisata yang cukup digemari, yaitu Puncak Wonotirto. Sepanjang jalan menuju lokasi, wisatawan bisa memandang hutan pinus dari kejauhan dan hamparan tanaman tembakau. Para penggemar wisata pegunungan tentu sangat menyukai suasana seperti ini.
Dari kawasan puncak, kita bisa memandang lepas ke berbagai penjuru. Termasuk pada ujung Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Hal itu dimungkinkan karena Puncak Wonotirto berada di ketinggian 1.900-2.000 m dpl.
Untuk menuju lokasi lereng, wisatawan dapat menggunakan sepeda motor atau mobil. Tetapi sekitar 3 km sebelum puncak, perjalanan harus dilanjutkan dengan jalan kaki. Pemerintah Kabupaten Temanggung sudah menanami 16.000 ha lahan kritis dikawasan ini, dengan aneka komoditas pertanian.

INVESTASI WISATA REST AREA KLEDUNG PASS




Kondisi eksisting
Sebuah anugerah dari Tuhan yang tak terkira pesona alam Kledung dengan  Gunung kembar Sindoro - Sumbing (Gunung Sindoro dengan ketinggian sekitar 3.155 m dpl dan Gunung Sumbing 3.340 m  dpl). Yang unik pada saat ritual setiap malam 1 Sura (1 Muharam) dan malem selikuran (21 Ramadhan) dipandu dari SHC (Sumbing Hiking Club) Temanggung pengunjung melakukan pendakian malam hari sampai puncak dengan  jarak tempuh   sekitar 5 jam. Untuk Kledung sendiri dengan ketinggian 800-2000 dpl, dan suhu udara 18-24 C. Kecamatan Kledung terletak pada perbatasan Kabupaten Temanggung dan Wonosobo, merupakan daerah/kawasan yang dilalui jalur Semarang-Temanggung-Wonosobo-Purwokerto atau dari Jogjakarta-Magelang-Temanggung-Wonosobo-Purwokerto. Setiap hari tidak kurang dari 700-1000 kendaraan melewati jalur ini.
Luas lahan yang tersedia untuk pengembangan kawasan adalah sekitar 3 Ha, di pinggir jalan Provinsi. Saat ini sudah terdapat kedai kopi yang banyak pengunjung.
Nama   : Wisata Rest Area Kledung Pass.
Potensi Pengembangan :
-    Membangun fasilitas kereta gantung di   lereng utara Gunung Sumbing tepat di Kledung Pass.
-    Membangun hotel/restoran yang telah terdukung oleh terkenalnya minum kopi sambil menikmati kesejukan udara dan keindahan alam di trading house Kledung.
-    Pengembangan balai penelitian kentang dilanjutkan agro industri kentang mulai dari budidaya dan industri kecil keripik kentang.
-    Pengembangan saat musim tembakau tiba merupakan experience tourism untuk dapat menikmati pengalaman mulai dari pemetikan, proses, penjemuran merupakan satu-satunya wisata pengetahuan yang paling unik.
-    Agrowisata Kledung Pass dengan  penanaman strawbery, dan sayuran atau holtikultura dengan kemasan  wisatawan dapat  memetik sendiri juga akan menjadi daya tarik wisatawan.
-    Pembangunan Gardu pandang dan  membanguna tempat karaoke keluarga

Lokasi    : Desa Kledung Jl. Raya Kledung Km. 18 Kec. Kledung Kab. Temanggung
Areal : Lahan milik penduduk 10 ha dan lahan milik Pemkab Temanggung 3,5 Ha

Potensi Pendukung :
-    Panorama Gunung terdapat jalur pendek pendakian (tracking) Gunung Petarangan, bagi pendaki level advance disediakan pos pendakian gunung Sindoro yang representarif dan akomo datif.
-    Lahan kering untuk budidaya perkebunan kopi Arabica  dan tersedia   trading house.
-    Trading House, Pembibitan ken tang, Strawbery, Proses peraja ngan komodity tembakau, rumah makan ayam kosek Panajiwo, Star area pendakian gunugn Sindoro
-    Sebagian tanah milik masyarakat dapat dibebaskan.
-    Rumah penduduk dapat menjadi home Stay
-    Ada tanah Pemda sekitar 3,5 Ha
-    Penerangan dari PLN
-    Lokasi cocok untuk area out bond
-    Suhu udara 18 – 25 0C
-    Ketinggian 800 m–2100 m dpl
-    Jalan Nasional
-    Pengelolaan didukung masyarakat


MISTERI POHON WALITIS DI HUTAN RASAMALA



Pohon walitis di kawasan huitan Rasamala merupakan pohon terbesar di lereng Sumbing dan Sindoro. Hutan ini terletak di Desa Jetis, Kecamatan Selopampang, Tinggi pohon mencapai 30 meter, dengan lingkar batang 7,5 meter. Untuk memeluk batangnya saja diperlukan enam orang dewasa yang saling tautan sambil merentangkan kedua tangannya.
Menurut masyarakat sekitar, pohon ini berasal dari tongkat salah seorang pengikut wali, yaitu Ki Ageng Makukuhan yang ditancapkan di tanah. Kawasan Walitis memiliki pemandangan alam yang indah dan udara pegunungan yang segar dan alami.
Di Kawasan ini juga tumbuh rumpun tumbuhan bernama Rasamala. Karena itulah, kawasan tersebut dikenal sebagai hutan Rasamala. Keistimewaan tanaman dan hutan ini adalah tidak mempan oleh api.
Ketika terjadi kebakaran hutan di sebagian kawasan lereng Sumbing dan Sindoro beberapa waktu lalu, hutan Rasamala sama sekali tidak terjamah  api.
Untuk menjangkau rumpun pepohonan Rasamala yang luasnya mencapai 1,5 hektar, para wisatawan harus mendaki melalui jalan setapak. Jarak pendakian ini sekitar 1,5 km dari pohon walitis.

PROSPEK PENGEMBANGAN
Melihat potensinya yang besar, kawasan Sindoro-Sumbing bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata andalan di jateng. Peluang yang bisa digarap antara lain:
- Membangun fasilitas kereta gantung din lereng utara gunung Sumbing, tepat di Kledung Pass.
- Membangun hotel/restoran di jalur strategis, terutama Kledung.
- Pembangunan kawasan agrowisata Kledung Pass.
- Membangun bumi perkemahan dan camping ground di kawasan Walitis, untuk mewadahi kegiatan para pemuda di Jawa Tengah.
- Membangun kawasan khusus (adventure zone) di Kledung Pass.
- Mendirikan event organizer khusus yang menyelenggarakan berbagai kegiatan pecinta alam dan outbond.
- Menciptakan lebih banyak lagi desa-desa wisata

MONUMEN METEORIT



Monumen meteorit merupakan objek wisata pendidikan yang jarang dijumpai di daerah lain. Objek wisata ini terletak di Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu, yang berada di kaki Gunung Sumbing.
Monumen ini dibangun untuk menandai peristiwa alam jatuhnya meteor di ladang penduduk di Desa Wonotirto, pada hari jum’at tanggal 11 Mei 2001, sekitar pukul 09.00. jatuhnya meteor ini sangat mengejutkan masyarakat di sejumlah Desa di Kecamatan Bulu. Sebab terdengar suara gemuruh yang keras dan ledakan yang sangat dasyat.
Fenomena alam yang langka ini kemudian menarik perhatian sejumlah ilmuan untuk menelitinya. Antara lain sejumlah dosen di Sekolah tinggi Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta. Mereka melakukan penelitian, kemudian membangun monumen tepat di lokasi jatuhnya meteor. Bahkan pecahan meteor ikut diabadikan dalam monument itu.
Keberadaan Monumen Meteorit tersebut semakin melengkapi genre wisata di kaki Gunung Sumbing, di samping panorama alam yang indah, udara pegunungan yang sejuk dan menyegarkan, serta potensi agrowisata buah dan sayuran yang amat menawan.
Kini Monumen Meteorit menjadi salah satu objek wisata di Temanggung yang menarik dikunjungi, apalagi didukung oleh kesejukan udara dan keindahan panorama alam dengan latar belakang Gunung sumbing yang kokoh.

PROSPEK PENGEMBANGAN
Meski merupakan monumen langka di jawa tengah, monumen Meteorit di desa Wonotirto, Kecamatan Bulu, itu sebenarnya belum terlalu banyak memberikan wahana pendidikan kepada para pengunjung, yang selama ini didominasi oleh wisatawan lokal.
Kesan yang sering kali muncul adalah pengunjung umumnya datang karena didorong oleh rasa penasaran, belum sampai pada kesadaran untuk melihat fenomena alam bernama meteor. Tidak heran apabila begitu melihat dari dekat, terutama pecahan meteor yang tertanam pada bagian atas monumen, pengunjung biasanya langsung pulang.
Kalau pun masih bertahan di Wonotirto, pada umumnya mereka ingin menikmati kesegaran udara di kaki gunung sumbing tersebut, sembari melihat panorama alam yang indah. Dilain hari, ketika mereka datang lagi kemonumen, nyaris tidak ada sesuatu hal baru yang membuat mereka penasaran.
Oleh karena itu, sangat penting bagi Pemerintah Kabupaten Temanggung untuk menambah wahana pendidikan  disekitar monumen meteorit. Misalnya membangun perpustakaan ataun museum mengenai meteor dan fenomena alam diruang angkasa. Materinya bisa berupa replika, buku-buku, ensiklopedi, bahkan pecahan meteor  yang jatuh di tempat lain.
Penambahan ruang publik, seperti gazebo dan taman bermain anak-anak, juga dapat menjadi salah satu siasat jitu untuk mengundang kembali para wisatawan lama, sekaligus dapat menarik minat calon wisatawan baru. Melalui berbagai upaya tersebut, monumen meteorit diharapkan bisa lebih dikenal masyarakat bukan hanya dari kabupaten temanggung saja, melainkan juga dari berbagai daerah lain di jawa tengah.
Pengembangan monumen meteorit sebenarnya cukup prospektif, karena didukung oleh dua objek wisata lainnya. Yaitu keberadaan goa wonotirto yang berada didesa yang sama, serta objek wisata alam pegunungan dengan latar belakang gunung sumbing.

GOA LAWA



Goa Lawa merupakan objek wisata yang sangat tepat bagi kawula muda, atau siapapun yang berjiwa muda, untuk melakukan wisata petualang menantang alam, misalnya menjelajah semak-semak dan lembah didalam gua.
Goa ini terletak dilembah sungai bodri, tepatnya di Desa Ngalian, Kecamatan Bejen. Desa ini berada di tapal batas kabupaten Temanggung dan Kabupaten Kendal. Dilembah ini terdapat sebuah bukit terjal, dan pada kaki bukit itulah terdapat goa lawa yang indah, terbuat dari bebatuan kapur dengan stalagtit dan stalagmite yang memikat.
Disebut  goa lawa, karena didalamnya banyak dijumpai kelelawar, yang dalam bahasa jawa disebut lawa. Dulu, goa ini jarang dikunjungi orang, kecuali bagi mereka yang ingin bertapa.
Lokasinya mudah dijangkau, karena jaraknya hanya sekitar 300 meter dari jalan raya Temanggung-Kendal. Beberapa waktu lalu, Mahasiswa dari akademi Pariwisata Semarang mengadakan kuliah kerja nyata di Kecamatan Bejen dan melihat betapa besar potensi wisata di sekitar goa tersebut.
Masyarakat Desa Ngalian memiliki tradisi yang bisa dijadikan pendukung wisata, yaitu ritual yang disebut Lampet Dhawuhan.
Dalam ritual ini, siapapun yang menjabat kepala desa harus berkumur air di kali Bodri, kemudian berjalan di pematang sawah, sambil menyemburkan air bekas kumuran ke sawah tempat bertanam padi.

PROSPEK PENGEMBANGAN
DALAM pengembangan objek wisata Goa Lawa, ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk menarik minat kunjungan wisatawan, terutama dari luar Kabupaten, antara lain:
a.    Membangun bumi perkemahan dan camping ground.
b.    Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang terkait denga kegiatan wista petualangan, misalnya outbond dan adventure zone yang menjadi tren orang-orang di perkotaan, hingga arena cross country.
c.    Membangun sarana dan prasarana olah raga alternatif, seperti motocross, off-road dan sebagainya.
d.    Mendirikan homestay, wisma, vila, maupun bentuk penginapan lainnya yang bernuansa pedesaan.
e.    Membangun agrowisata perkebunan di sekitar Goa Lawa.
f.    Membangun kios-kios cenderamata, serta toko perlengkahan kemah.
Pembangunan berbagai sarana dan prasarana pendukung wisataitu dilakukan untuk meningkatkan keramaian di sekitar objek wisata inti.
Beberapa kegiatan ini bisa ditangani langsung oleh Pemerintah Kabupaten Temanggung, tetapi bisa juga didelegasikan kepada pemerintah desa/kecamatan, pihak ketiga (investor lokal/nasional), atau kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Kendal.


GOA WONOTIRTO



Kabupaten Temanggung juga memiliki beberapa objek wisata goa. Setidaknya ada dua goa yang potensial untuk dikembangkan, yaitu Goa Wonotirto dan Goa Lawa. Sesuai dengan namanya, Goa Wonotirto terletak di Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu.
Goa ini ditemukan masyarakat desa setempat pada tahun 2002. Lokasinya berada di kaki Bukit Juranggrawah, sekitar 1 km dari pusat desa. Sebagaimana kawasan di lereng gunung lainnya, desa Wonotirto memiliki panorama alam pegunungan yang indah, karena terletak dalam rangkaian kawasan wisata Gunung Sumbing.
Sayangnya, hingga kini jalan menuju Goa Wonotirto belum beraspal. Bahkan harus naik- turun bukit hampir 1 km dari jalan desa. Beberapa speleolog (ahli dalam bidang kegoaan) dari berbagai daerah pernah datang meneliti Goa Wonotirto. Kesimpulan mereka, goa tersebut layak dikembangkan sebagai kawasan wisata.
Saat ini mulai dibenahi, terutama untuk mendukung pengembangan wisata alam Gunung Sumbing. Pembenahan yang sudah dilakukan antara lain melebarkan ruang Goa yang selama ratusan tahun tertutup longsoran tanah. Kini ruang yang sudah terbuka sepanjang 20 meter, dengan lebar 2 meter dan tinggi juga 2 meter.
Antusias warga untuk mengembangkan goa ini cukup tinggi. Apalagi letaknya dekat Monumen Meteorit yang diresmikan tahun 2002.

POTENSI PENGEMBANGAN

OBJEK wisata goa seringkali dianggap sebagai salah satu genre pariwisata yang relatif statis. Alasannya, tidaklah mungkin untuk mengubah kondisi didalam goa apalagi mengubah struktur stalagtit dan stalagmitnya.
Tetapi bukan berarti objek wisata goa tidak bisa dikembangkan dan tak mampu mendatangkan wisatawan.Goa Wonotirto, misalnya, sangat memungkinkan untuk dikembangkan sebagai objek wisata andalan.
Beberapa upaya yang bisa dilakukan antara lain membenahi kawasan internal (untuk mencapai syarat minimal kelengkapan sebuah goa) dan syarat eksternal (meningkatkan keramaian di sekitar goa).

Pengembangan Kawasan Internal :
a.    Melanjutkan pembukaan ruang didalam goa, hingga mencapai batas maksimal. Biasanya ujung dari rongga di dalam goa berakhir pada sebuah terowongan air.
b.    Memberi beberapa penerangan di dalam goa, sehingga terlihat lebih indah. Hal inilah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kebumen terhadap goa Jatijajar yang mampu menyedot banyak wisatawan dari luar daerah.

Pengembangan Kawasan Eksternal
a.    Membangun bumi perkemahan dan camping ground.
b.    Menyelenggarakan aneka kegiatan yang terkait dengan berbagai kegiatan wisata petualangan, seperti outband, adventure zone, dan arena cross country.
c.    Membangun prasarana olah raga alternative seperti motorcross, off-road, dan lain-lain.
d.    Mendirikan homestay, wisma, atau penginapan khas pedesaan.
e.    Membangun agrowisata perkebunan disekitar Goa Wonotirto.
f.    Membuat jejaring wisata dengan objek wisata terdekat, terutama dengan Monumen Meteorit dan Prasasti Gondosuli (keduanya juga berada di Kecamatan Bulu), Candi Pringapus dan Umbul Jumprit (Kecamatan Ngadirejo), serta taman rekreasi Pikatan Indah (Pikatan Water Park) dan Taman Rekreasi Kartini di Kota Temanggung.
Dua kegiatan pengembangan ini, baik internal maupun eksternal, bisa ditangani langsung oleh Pemerintah Kabupaten Temanggung, didelegasi kepada Pemerintah desa dan kecamatan, pihak ketiga (investor), atau kerja sama antara pemerintah daerah dan pihak ketiga.



MONUMEN BAMBANG SUGENG

Disebelah timur Terminal Bus Kota Temanggung terdapat sebuah bukit kecil. Disitulah berdiri tegak monument Bambang Sugeng, yang selama bertahun-tahun menjadi objek wisata bernuansa sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimasa perang kemerdekaan.
Lokasi monument ini tidak jauh dari taman makam pahlawan, tepatnya disisi timur jembatan Kranggan. Tetapi siapakah Bambang Sugeng? Beliau adalah prajurit TNI, yang dengan pangkat terakhir mayor jendral, yang pernah ditugaskan diTemanggung.
Bambang Sugeng pernah memimpin pasukannya saat Agresi Militer I (1947)dan Agresi Militer II (1948). Ada sebait puisi yang ditulis Bambang Sugeng, dan hingga sekarang masih dapat disaksikan para pengunjung Di Monumen tersebut:” Aku rela, aku tak kecewa, gugur demi nusa bangsa”.
Ya, pasukan Bambang Sugeng memang bertempur dengan gagah- berani, meskipun harus kehilangan sekitar 3.500 prajuritnya, dalam pertempuran melawan Belanda di alur Kali Progo. Sebelum Berperang melawan Belanda, Bambang Sugeng juga memimpin perlawanan menghadapi balatentara Jepang.
Banyak tentara Jepang yang ditawan, namun semuanya mengaku di perlakuan dengan sangat baik oleh Bambang Sugeng. Bahkan di monument ini pun terdapat batu prasasti yang ditulis tentara Jepang yang di tawakan pasukan Bambang Sugeng. Tulisan dengan huruf kanji itu berbunyi “Wampo Daiwa Daigetzu”, yang berarti “ seluruh dunia sekeluarga”.
Para tawanan yang diperlakukan dengan sangat baik itu merasa berhutang budi kepada Bmbang Sugeng. Untuk membalasnya, sampai kini banyak warga Jepang, terutama anggota keluarga eks tawanan, melakukan kunjungan rutin ke Monumen Bambang Sugeng.


PROSPEK PENGEMBANGAN
SELAMA kesadaran masyarakat Indonesia terhadap sejarah dan perjuangan para pendahulu dalam membela bangsa-negara masih kurang, maka objek wisata seperti museum monument perjuangan tetap saja kurang mendapat perhatian yang layak.
Masyarakat masih menganggap berwisata ke kawasan pegunungan dan pantai lebih menyenangkan. Tradisi berwisata masyarakat seperti ini perlu dibenahi secara bertahap, setidaknya ditemanggung. Instisusi pendidikan formal, terutama pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, perlu diminta berpartisipasi dengan cara menjadwal kunjungan mereka ke monument Bambang Sugeng.
Tentu sulit “melibatkan” peranserta masyarakat, khususnya dari kalangan pendidikan, apabila tidak ada penambahan daya tarik dikawasan wisat itu sendiri.
Dengan pertimbangan itulah, maka objek wisata bernuansa sejarah perjuangan bangsa seperti monument bambang sugeng ini perlu dilengkapi dengan museum khusus yang menceritakan keprajuritan diwilayah eks parisidenan kedu, atau setidaknya di kabupaten temanggung. Apalagi selama ini cukup banyak kunjungan warga jepang ke monument tersebut.
Dalam jangka menengah, objek wisata ini juga bisa dilengkapi dengan wahana permainan “ perang-perangan” yang sekarang menjadi tren wisata petualangan bagi kawula muda diperkotaan. Apabila pengunjung makin meningkatkan, boleh juga ditambahkan sarana dan prasarana lainnya seperti kios cenderamata, taman bermain anak, dan lain sebagainya.




PIKATAN WATER PARK
Pikatan telah dikenal oleh masyarakat diluar Kabupaten Temanggung memiliki daya tarik tersendiri karena selain Sumber airnya yang begitu besar dan menyimpan legenda, juga karena terdapat fasilitas kolam renang berstandart Nasional yang sering digunakan untuk ajang lomba renang tingkat Regional dan Nasional.  Saat sekarang ini obyek wisata kolam renang Pikatan yang terletak di Desa Mudal Kecamatan Temanggung semakin terlihat merupakan embrio wisata yang reprensentatif dan dapat diandalkan karena telah dikembangkan menjadi wahana permainan air “PIKATAN WATER PARK” namun demikian masih diperlukan pengembangan guna penyempurnaan. Oleh karena itu dari komoditas yang sudah ada tersebut masih diperlukan investasi untuk :
Nama  : Obyek Wisata Pikatan Water Park.
Potensi Pengembangan :
Pembangunan Wahana permainan air (water slide, flaying fox, kolam renang prestasi, penggung hiburan, dan kawasan budidaya ikan air tawar.
Lokasi : Desa Mudal kec. Temanggung Kab. Temanggung.
Areal : Lahan milik Pemkab Temanggung 4,5 ha.
Potensi Pendukung :
-    Lahan untuk budidaya ikan.
-    Lahan milik Pemda 4,5 Ha, namun untuk pengembangan sebagian tanah milik masyarakat dapat dibebaskan.
-    Rumah makan ikan bakar.
-    Telah dibangun water boom namun masih perlu penyempurnaan.
-    Lokasi cocok untuk area outbound.
-    Penerangan dari PLN.
-    Suhu udara 20  25 0C .
-    Ketinggian 500  1500 dpl.




REST AREA TERPADU PRINGSURAT
Pringsurat merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Temanggung yang letaknya paling strategis karena terletak dijalur utama yang menghubungkan Jogja-Solo-Semarang “Joglosmar” melalui Magelang. Pringsurat yang terkenal dengan sentra komoditas buah Klengkeng di Kabupaten Temanggung, saat ini juga merupakan daerah perluasan/pengembangan Industri dikawasan timur Kab. Temanggung. Perusahaan-perusahaan besar telah berdiri dikawasan ini. Oleh karena itu daerah Pringsurat merupakan wilayah yang membutuhkan investasi guna pembangunan :
Nama : Rest Area Pringsurat.
Potensi pengembangan :
-    Membangun SPBU : 5.550 M2.
-    Memanfaatkan kebun pemda sebagai agro wisata perkebunan, pengembangan dan budidaya  tanaman klengkeng yang sudah ada agar bisa berbuah terus menerus tanpa kenal musim sekaligus cara pengawetan buah /pengalengannya.
-    Demplot deversivikasi tanaman sebagai wahana pengembangan tekhnologi pertanian/perkebunan budidaya, sekaligus sarana belajar bagi petani pembudidaya.
-    Pembangunan sarana promosi dan transaksi dari produk-produk home industri yang ada di Temanggung.
-    Pembangunan/pemanfaatan bangun an yang sudah ada untuk kedai kopi khas Temanggung yang telah memiliki sekitar 12 rasa dan yang terunik ada pada produk Purwaceng, sekaligus untuk terminal buah dan sayuran.
-    Convention hall : 1510 m2.
-    Lahan parkir : 8600 m2.
-    Restoran : 900 m2.
-    Restoran saung :850 m2.
-    Out bond senter : 10440 m2.
-    Cottage : 100 m2.
Lokasi : Desa Pingit Kec. Pringsurat Kab. Temanggung
Areal : Lahan milik Pemkab Temanggung ± 5,4 ha  dan milik penduduk 15 ha dicukupi dari pembebasan tanah masyarakat sekitar.
Potensi Pendukung :
-    Lahan untuk budidaya perkebunan dan   Kawasan industri.
-    Sebagian tanah milik masyarakat dapat dibebaskan.
-    Sudah berdiri kios-kios termasuk fasilitas WC Umum.
-    Lokasi cocok untuk area outbound.
-    Penerangan dari PLN.
-    Suhu udara 20  25 0C .
-    Ketinggian 500  1500 dpl .
-    Pengelolaan didukung masyarakat.



POTENSI AGROWISATA



Istilah agrowisata, atau sering pula disebut wisata agro, makin populer sejak awal dekade 2000-an. Agrowisata adalah kegiatan wisata yang berlokasi/berada di kawasan pertanian, terutama tanaman perkebunan (kopi, teh, cokelat, dll) dan tanaman buah-buahan.
Salah satu daya tarik agrowisata ialah adanya kesempatan bagi pengunjung untuk memetik (memanen) buah dan hasil perkebunan lainnya. Selanjutnya hasil panen ditimbang dan dihargai pengunjung sesuai dengan harga yang ditetapkan pengelola.
Dengan cara tersebut, pengunjung memperoleh kepuasan dan pengalaman yang tak terlupakan. Di Indonesia, konsep agrowisata pertama kali diperkenalkan di sentra perkebunan apel dikawasan Batu, Kabupaten Malang (sekarang termasuki wilayah Kabupaten Batu).
Kini, beberapa kawasan agrowisata juga bisa dijumpai di Jawa Tengah. Beberapa perusahaan perkebunan pun mulai mengembangkan sayap usahanya dengan mendesain sebagian areal kebunnya sebagai kawasan agrowisata. Misalnya kebun Teh Kaligua (Brebes), Kebun teh pagilaran (Batang), kebun teh tambi (Wonosobo), kebun kopi Banaran (Kabupaten Semarang), dan lain sebagainya.
Agrowisata tak sebatas perkebunan. Subsektor peternakan dan perikanan (darat) pun bisa dikembangkan, misalnya sentra kambing Peranakan Ettawa (PE) di Kecamatan Kali Gesing (Purworejo), sentra peternakan sapi perah dicepogo (Boyolali), sentra ikan darat di Ngrajek (Kabupaten Magelang), an lain-lain.
Kabupaten Temanggung juga memiliki potensi besar di bidang agrowisata, terutama agrowisata kebun kopi. Setidaknya ada tiga lokasi yang ideal untuk dikembangkan sebagai kawasan agrowisata perkebunan kopi di Kabupaten ini, yaitu perkebunan Gesing, perkebunan Rowo seneng, dan perkebunan Bojongrejo.

PEKEBUNAN GESING

Desa Gesing hanya berjarak sekitar 12 km dari arah utara kota Temanggung. Sejak dulu, desa ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi robusta terbesar di Temanggung.
Pengelolaan budidaya kopi dikelola oleh kelompok tani ngudirejeki, yang menghimpun 112, 09 ha kebun kopi rakyat disebelah utara permukiman penduduk. Bau harum khas bunga kopi begitu terasa ketika kita memasuki dan menapaki perkebunan kopi.
Wisatawan bisa melihat proses pengolahan kopi yang dikelola kelompok tani, mulai dari pemilihan biji yang dipanen, sortasi buah basah, pengupasan kulit biji, pencucian biji yang masih diselimuti lendir, pengeringan biji kopi, baik secara traisional (di jemur) maupun menggunakan mesin pengering kopi (Oven system).
Sambil mengamati proses tersebut, wisatawan bisa menikmati secangkir kopi hangat yang diperoleh dari seduhan bubuk kopi yang dibuat ibu-ibu petani sebagai hasil produk industri rumah tangga.

PERKEBUNAN BOJONGREJO
Perkebunan Bojongrejo merupakan salah satu perkebunan besar Negara (PBN) yang dikelola PTP Nusantara IX. Lokasinya berada dib Desa Selosabrang, Kecamatan Bejen, sektar 45 km dari arh utara Kota Temanggung.
Areal kebun kopi robusta yang dikelola seluas 642,32 ha, dilengkapi dengan fasilitas pengolahan kopi cara basah yang modern, dengan kapasitas mesin lebih besar dari pada Rowoseneng.

PERKEBUNAN ROWOSENENG
Perkebunan rowoseneng yang terletak di Desa Ngemplak, Kecamatan Kandangan, merupakan salah satu perkebunan besar swasta (PBS) di Kabupaten Temanggung.

Di tempat ini terdapat areal perkebunan kopi rebusta seluas 136,70 ha, yang dikelola oleh PT Naksatra Kejora.
Lokasi yang dilengkapi dengan bumi perkemahan (camping ground) itu dikelilingi pepohonan pinus, sehingga suasananya betul-betul alami dan jauh dari polusi.
Tempat ini dikenal pula sebagai ”kawah candradimuka” bagi para biarawan, room, dan frater. Setiap akhir pekan, Rowoseneng ramai dikunjungi orang, antara lain dari yogyakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan kota-kota lainnya.
Kawasan agro wisata Rowoseneng memang menawarkan nilai plus bagi pengunjung. Sebab kawasan in bukan hanya menyajikan hamparan kebun kopi saja, tetapi juga peternakan sapi perah hingga usaha kecil pembuatan aneka roti. Pengunjung juga bisa melihat proses pembuatan keju dan yoghurt untuk menyelamatkan susu ketika tak laku di pasaran.
Tatkala harga kopi anjlok, petani mengolah sendiri biji-biji kopi menjadi kopi bubuk. “Kopi lantas dijual dalam berbagai kemasan. Bahkan diberi aroma rasa yang berbeda, seperti moka, stoberi, dan coklat. Jadi produk kami mampu bersaing dengan produk lain di pasaran bebas, “kata Romo Beda, manajer pemasaran Agro Wisata Rowoseneng.
Produk roti yang dominan adalah kastangel yang juga menggunakan komponen keju. Kastangel asal Rowoseneng sangat terkenal di Jawa Tengah. Usaha pembuatan roti ini juga didukung alat-alat yang lumayan canggih.

PROSPEK PENGEMBANGAN
Pengembangan kawasan agrowisata tidak cukup dilakukan hanya dengan membenahi kawasan perkebunan itu sendiri. Sarana dan prasarana pendukung pun perlu dibenahi, misalnya memperbaiki jalan menuju kebun, tempat istirahat (gazebo) di kebun, wisma/tempat penginapan, hingga peralatan komunikasi, sarana-prasarana standar lainnya.
Kegiatan jugabharus mampu memberi hiburan dan pengetahuan kepada pengunjung. Misalnya dengan meluncurkan paket coffe walk.
Coffe walk atau kegiatan wisata jalan-jalan di kebun kopi. Di tempay ini, wisatawan bisa mengenal lebih dekat lingkungan alam, antara lain beragam variesta kopi robusta, mengenal teknik budidaya, proses pembuatan bubuk kopi, serta diakhiri dengan duduk santai sambil mencicipi rasa dan aroma khas kopi yang disedu air panas.

PASAR AGROWISATA SOROPADAN


Kabupaten Temanggung termasuk beruntung, sebab Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membangun Pasar Agrowisata Soropadandi Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat. Di tempat ini rutin digelar Soropadan Agro Expo yang diikuti hampir semua daerah di Indonesia.
Pasar ini menempati areal cukup luas, sekitar 6,5 ha, tepat di jalan raya Pringsurat-secang. Pemerintah Provinsi tidak hanya meningkatkan nilai jual produk pertanian melalui Pasar Agrowisata, tetapi juga menjadikan tempat ini sebagai kawasan wisata agro.
Di sini terdapat green house anggrek, sekaligus berkonsultasi mengenai seluk-beluk tanaman anggrek. Ada juga bursa aneka tanaman hias lainnya, yang sekarang sedang digandrungi orang-orang kota.
Pasar Agrowisata Soropadan juga akan dijadikan kebun petik buah. Luas areal untuk tanaman buah sekitar 3,5 ha, antara lain meliputi tanaman durian, rambutan, kelengkeng, salak, melon, semangka, dan tomat. Pengunjung bisa memetik langsung buah langsung dari kebun.

PELUANG INVESTASI
Rencana investasi (baru) di Pasar Agrowisata Soropadan perlu dibicarakan langsung dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, selaku pemilik dan pengelola.
Namun bukan berarti Pemerintah Kabupaten Temanggung tidak bisa memanfaatkan kawasan sekitar, untuk pengembangan wisata baru yang bisa mendukung Pasar Agrowisata.
Sesuai dengan karateristik daerah dan kondisi sosial-budaya masyarakat setempat, ada beberapa peluang inventasi yang bisa dikembangkan di Desa Soropadan, antara lain:
a.    Pembangunan kios-kios buah disepanjang jalan raya Pringsurat Secang, tidak jauh dari lokasi Pasar Agrowisata Soropadan.
b.    Pembangunan outlet minuman dingin, yang berbahan baku dari tanaman buah setempat. Misalnya jus dan sirupkelengkeng, tomat, durian, rambutan, salak nglumut, dan lain sebagainya. Outlet raya dekat Pasar Agrowisata.
c.    Pembangunan outlet minuman hangat , yang berbahan baku dari tanaman local. Misalnya kopi, the, cokelat, dan jahe. Lokasinya bisa disatukan dengan outlet minuman dingin.
d.    Pembangunan resto pemancingan di tepi jalan raya Pringsurat-Secang.
e.    Pembangunan kolam budi daya ikan hias (koi, arwana, maskoki, dll).
f.    Pembangunan kolam renang air hangat.
g.    Taman bermain bagi ank-anak, sehingga bisa menambah minat wisatawan yang datang bersama anggota keluarga.
Diyakini beberapa peluang usaha ini memiliki prospek cerah, karena letaknya yang sangat strategis dan berada di jalur utama lalu lintas Semarang-Yogyakarta dan Semarang-Purwokerto.Selain memunculkan simpul-simpul ekonomi baru, juga bisa lebih menghidupkan kawasan di sekitar Pasar Agrowisata Soropadan.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?