PILIHAN

Anak Manja? Tak Selalu Buruk

17 Februari 2017 01:42:53 Diperbarui: 17 Februari 2017 01:47:35 Dibaca : 144 Komentar : 11 Nilai : 21 Durasi Baca :

Kata seseorang, saya punya bakat manja. Bakat itu masih ada sejak kecil sampai sekarang. Saya mengakuinya, namun saya hanya bermanja-manja pada orang-orang yang paling dekat. Pada orang lain yang tidak begitu dekat, saya segan memperlihatkan bakat manja.

Pernah suatu ketika salah satu anggota keluarga menjuluki saya sebagai anak manja. Dia mengatakannya sambil bercanda. Apa reaksi saya? Tertawa dan berputar anggun di depan cermin. Memainkan tepi gaun putih yang saya pakai. Anehnya, keluarga besar justru tertawa menyaksikan tingkah saya. Kejadian itu saya alami saat saya berumur 6 tahun.

Siapa bilang anak manja selalu buruk? Asalkan kemanjaan itu masih wajar dan bisa diolah secara positif, tak perlu melekatkan stigma negatif.

Banyak yang menyalahkan orang-orang yang terlalu memanjakan anak. Mereka dianggap kurang mengerti ilmu parenting. Anak manja diprediksi tumbuh menjadi pribadi yang pembantah, keras kepala, pemalas, egois, tidak percaya diri, dan tidak punya inisiatif. Apakah prediksi itu selalu benar? Mari kita lihat dari sudut pandang berbeda.

Setiap anak berhak dimanjakan keluarga dan orang-orang terdekatnya. Memanjakan anak bukan hanya hak orang kaya saja. Siapa pun, dari keluarga miskin atau kaya, berhak memanjakan anak. Memanjakan anak dilandasi faktor kasih sayang dan keinginan yang kuat untuk membahagiakan anak.

Anak tunggal, anak bungsu, anak sulung, anak yang paling tampan/cantik, anak terpandai, dan anak dengan kondisi istimewa biasanya yang berpotensi untuk lebih dimanjakan. Situasi-situasi yang mereka alami memerlukan perhatian ekstra dari keluarga dan orang terdekat.

Jika porsi memanjakan anak terlalu berlebihan, akibat-akibat negatif bisa terjadi. Namun jika memanjakan anak masih dalam batas wajar, ada pula akibat positif yang dirasakan si anak.

Anak manja tapi berada dalam batas wajar akan tumbuh menjadi pribadi yang penyayang. Ia tahu bagaimana rasanya dimanjakan dan disayangi. Ia akan mengaplikasikan hal itu pada orang-orang yang disayanginya. Ia tahu bagaimana cara terbaik untuk memanjakan dan menyayangi orang lain. Kelak jika ia dewasa, ia bisa menjadi orang tua yang baik untuk anaknya.

Hal positif lainnya adalah tingkah lucu, imut, dan selera humor yang tak pernah luntur dari si anak manja. Lantaran dibesarkan dalam lingkungan yang baik, tidak kekurangan kasih sayang, dan selalu bahagia, anak seperti ini tak pernah kehabisan cara untuk bertingkah lucu dan imut. Ia memikat semua orang dengan tingkah lakunya yang menggemaskan. Anak tipe ini takkan kehabisan bahan candaan dan mempunyai selera humor yang baik saat berinteraksi dengan keluarga serta orang-orang terdekatnya. Di keluarga besar, ia menjadi pusat perhatian. Ia bisa membuat perhatian semua orang tertuju padanya.

Berikutnya, anak yang mendapat haknya untuk dimanjakan dan diberi kasih sayang takkan ragu untuk menjadi penebar kasih bagi orang lain. Merasa dirinya dicintai, ia akan memberikan cinta kasih yang sama. Ia ingin orang lain ikut merasakan apa yang ia rasakan.

Supel dan berjiwa muda adalah dampak positif yang tak kalah pentingnya. Anak yang dimanjakan dalam batas wajar dan mendapat limpahan kasih sayang dapat berkembang menjadi pribadi yang supel. Ia teman yang baik dan menyenangkan. Ia selalu ingin berjiwa muda meski telah tumbuh dewasa.

Nah, bagaimana cara memanjakan anak dalam batas wajar dan menumbuhkan anak menjadi pribadi yang baik? Simak cara-caranya.

1. Memanjakan anak di waktu yang tepat. Segala sesuatu ada waktunya. Ada saat untuk memanjakan anak, ada pula saat untuk bersikap tegas. Misalnya saat anak mendapat nilai bagus, saat anak meraih prestasi di bidang tertentu, berikan sesuatu yang diinginkannya. Sebaliknya, jika si anak berbuat kesalahan, jangan ragu untuk menegurnya. Membela anak boleh saja, namun lakukan pada tempat dan situasi yang sesuai. Anak berhak tahu mana yang benar dan mana yang salah.

2. Ajarkan anak untuk percaya pada kemampuannya sendiri. Terkadang, biarkan anak melakukan suatu pekerjaan sendiri. Membantu dan memudahkan anak boleh saja, tetapi pastikan dia sudah mencoba untuk berusaha sendiri. Percayalah pada kemampuan anak.

3. Membesarkan hatinya. Saat anak telah melakukan sesuatu dengan usahanya sendiri, lihatlah prosesnya. Bukan hasilnya. Besarkan hati si anak. Pujilah dia. Yakinkan bahwa dia telah melakukan yang terbaik. Pujian pada anak dapat berpengaruh positif bagi kondisi psikologisnya.

4. Ajarkan anak untuk berbagi. Setelah memanjakan, memberinya sesuatu yang diinginkan, dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, anak perlu diperkenalkan pada nilai-nilai kebaikan. Salah satunya berbagi. Misalnya dengan mengajak anak melakukan kegiatan sosial, berkunjung ke panti asuhan, pergi ke rumah sakit, dll. Memotivasi anak menyisihkan uangnya untuk membantu orang lain. Cara-cara sederhana itu bisa dilakukan untuk mengajarkan tentang berbagi pada anak. Meski anak dimanjakan dan hidup dengan limpahan kasih sayang, ia terhindar dari sifat egois. Ia mempunyai motivasi untuk berbuat baik pada orang lain. Anak ingin berbagi kebahagiaan pada orang lain.

Siap menerapkan keempat langkah di atas?

Latifah Maurinta

/latifahmaurintawigati

TERVERIFIKASI

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana