HIGHLIGHT

Kan Kubeli Tuhan dengan tuhanku

29 April 2012 08:03:53 Dibaca :

Seorang teman Kompasiana asal Bandung Dewa Gilang Mengutip ungkapan Alm Nurcholis Majid "Tiada tuhan selain Tuhan". tuhan dengan "t" kecil, dan Tuhan dengan "T" besar. Yang bermakna bahwa dalam konsep tauhid yang sebenarnya, kita harus menyingkirkan tuhan-tuhan lain dengan 't" kecil itu untuk sepenuhnya kembali dan berpegang pada Tuhan dengan "T" besar.


Tuhan-tuhan kecil itu bisa bermakna segala sesuatu yang sifatnya material, profan dan duniawi. Sementara Tuhan dengan 'T' yang besar itu menunjukan pada DIA sang khalik, DIA yang satu, DIA tempat bergantung mahluk, DIA yang tidak beranak dan diperanakan, Dia yang keberadaannya tak ada sesuatu apapun yang menyerupai. DIA adan bukan karena diadakan, DIA hadir secara omnipresent dalam makna kehadiran apapun ciptaanNYA di dunia ini.


Namun kini yang terlihat dalam kehidupan social, ekonomi, politik, hukum, semua sudah menyimpan Tuhan dengan ‘T’ besar dalam lemari berlapis, dengan gembok besarnya. Dalam menjalankan segala aktifitasnya, hanya tuhan dengan ‘t’ kecil lah yang mereka percayai dan yakini. Tuhan dengan ‘t’ kecil itu adalah hanya satu kata “UANG”. Apapun seakan demi uang, apapun bisa dibeli dengan uang, termasuk uang itu sendiri.


Coba tengok sekeliling, urusan apa yang tidak dilakukan dengan dan demi uang? Seseorang ingin menjadi PNS, dia harus menyogok dengan harga ratusan juta uang, dalam benaknya pun ketika bekerja sebagai abdi Negara, yaa bagaimana mencari dan mengumpulkan uang.


Seseorang yang ingin mendapatkan proyek pekerjaan, berapa uang yang harus dikeluarkan terlebih dahulu sebagai biaya lain-lain, entah itu fee kah judulnya, atau sharing commitmen kah, atau biaya administrasi. Yang jelas tujuannya uang dan dilakukan dengan cara bermain uang pula.


Seseorang lainnya ingin menjadi anggota DPR/DPRD provinsi maupun Kabupaten/Kota, menjadi pejabat politik entah Presiden, Gubernur atau Bupati/Walikota, mereka harus mengeluarkan banyak uang, membeli perahu partai untuk pencalonan dengan uang, membeli suara rakyat dengan uang, ketika jadipun mereka hanya sibuk bagaimana mengembalikan uang. Hati dan pikirannya penuh dengan aurad uang dan uang.


Seseorang yang ingin menjadi ketua partai, ketua ormas, ataupun ketua organisasi kepemudaan maupun profesi, demi meraih kemenangan pun mereka menggunakan uang, Semua bisa selesai dengan uang, lemparkan jauh konsep idealitas, kapasitas dan moralitas. Yang penting harus menang meskipun harus mengeluarkan banyak uang, uang apa saja. Karena tokh ketika jadi dalam bayangan dia yang jadi pun sudah ada banyak uang yang menanti.


Seseorang yang terkena persoalan pelanggaran hukum, harus berurusan dengan aparat penegak hukum, polisi, jaksa, hakim di pengadilan. Dengan uang, apa yang tidak bisa diatur segala sesuatunya, penggunaan pasal hingga urusan tuntutan berikut kemungkinan putusan yang akan dijatuhkan, sudah bisa dibicarakan. Asal ada sejumlah uang.


Uang telah menjajah kehidupan kita hari ini. Uang sudah menjadi kekuatan maha dahsyat yang dapat menggerakan sebuah kegaduhan, dan membungkam keributan apapun di republic ini. Siapapun yang punya uang, dia akan mampu menguasai dan mengendalikan apapun di republic uang ini. Mau jadi apapun sesuai keinginannya, dengan uang anda bisa.



Uang telah menjadi tuhan dengan ‘t’ kecil. Dan mengalahkan Tuhan dengan ‘T’ besar. Bahkan kalau ada kesempatan dan jalannya, mereka yang merasa punya banyak uang, akan membeli Tuhan dengan ‘T’ besarnya itu dengan uangnya. Naudzubillah.

Usman Kusmana

/kusmanausman

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Menulis itu kerja pikiran, yang keluar dari hati. Jika tanpa berpadu keduanya, Hanya umpatan dan caci maki. Menulis juga merangkai mozaik sejarah hidup, merekam hikmah dari pendengaran dan penglihatan. Menulis mempengaruhi dan dipengaruhi sudut pandang, selain ketajaman olah fikir dan rasa. Menulis Memberi manfaat, paling tidak untuk mengekspresikan kegalauan hati dan fikir. Menulis membuat mata dan hati senantiasa terjaga, selain itu memaksa jemari untuk terus bergerak lincah. Menari. Segemulainya ide yang terus meliuk dalam setiap tarikan nafas. Menulis, Membuat sejarah. Yang kelak akan dibaca, Oleh siapapun yang nanti masih menikmati hidup. Hingga akhirnya Bumi tak lagi berkenan untuk ditinggali....
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?