PILIHAN

PLTGL (Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut)

20 Mei 2017 09:15:09 Diperbarui: 20 Mei 2017 10:01:53 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Indonesia merupakan negara yang memiliki luas wilayah laut tiga kali lebih besar dari luas daratan. Laut yang luas tersebut menyimpan banyak potensi, seperti potensi sumber daya ikan yang melimpah, potensi wisata, serta potensi sumber energi alternatif. Menurut data yang dikeluarkan oleh Asosiasi Energi Laut Indonesia (ASELI) secara teoritis, total sumber daya energi laut nasional sangat melimpah, meliputi energi dari jenis panas laut, gelombang laut dan arus laut, yaitu mencapai 727.000 MW. Namun, potensi energi laut yang dapat dimanfaatkan dengan menggunakan teknologi sekarang dan secara praktis memungkinkan untuk dikembangkan, berkisar antara 49.000 MW. Di antara potensi sedemikian besar tersebut, industri energi laut yang paling siap adalah industri berbasis teknologi gelombang dan teknologi arus pasang surut, dengan potensi praktis sebesar 6.000 MW.

Berdasarkan survei yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Pemerintah Norwegia sejak tahun 1987, didapat bahwa banyak daerah pantai Indonesia yang berpotensi sebagai pembangkit listrik bertenaga gelombang laut. Lokasinya tersebar di sepanjang Pantai Selatan Pulau Jawa, di Irian Jaya bagian utara, dan sebelah barat Pulau Sumatera yang sangat sesuai untuk menyuplai energi listrik. Namun, potensi tersebut kenyataannya belum dimanfaatkan secara optimal. Jika dimanfaatkan secara optimal, energi laut bisa memenuhi kebutuhan energi seperti listrik untuk beberapa daerah yang berada di pulau-pulau dan daerah perbatasan.

Pembangkit listrik tenaga gelombang laut ini bekerja dengan cara aliran gelombang laut yang mempunyai energi kinetik masuk ke mesin konversi energi gelombang. Kemudian dari mesin konversi aliran gelombang ini dialirkan menuju turbin. Di dalam turbin, energi kinetik yang dihasilkan gelombang digunakan untuk memutar rotor. Kemudian dari perputaran rotor inilah energi mekanik yang kemudian disalurkan menuju generator. Di dalam generator, energi mekanik ini dirubah menjadi energi listrik. Dari generator ini, daya listrik yang dihasilkan dialirkan lagi menuju sistem tranmisi (beban).

Secara mekanis, PLTGL dikenal memakai teknologi OWC (Oscillating Wave Column). Untuk OWC ini ada dua macam, yaitu OWC tidak terapung dan OWC terapung. Instalasi OWC tidak terapung terdiri dari tiga bangunan utama, yakni saluran masukan air, reservoir (penampungan), dan pembangkit. Dari ketiga bangunan tersebut, unsur yang terpenting adalah pada tahap pemodifikasian bangunan saluran masukan air yang tampak berbentuk U, sebab hal  tersebut bertujuan untuk menaikkan air laut ke reservoir. Bangunan untuk memasukkan air laut ini terdiri dari dua unit, kolektor dan konverter. Kolektor berfungsi menangkap ombak, menahan energinya semaksimum mungkin, lalu memusatkan gelombang tersebut ke konverter. Konverter yang didesain berbentuk saluran yang runcing di salah satu ujungnya ini selanjutnya akan meneruskan air laut tersebut naik menuju reservoir. Oleh karena bentuknya yang spesifik ini, saluran tersebut dinamakan tapchan (tappered channel). Setelah air tertampung pada reservoir, proses pembangkitan listrik tidak berbeda dengan mekanisme kerja yang ada pada pembangkit listrik tenaga air, yaitu air yang sudah terkumpul itu diterjunkan ke sisi bangunan yang lain. Energi potensial inilah yang berfungsi menggerakkan atau memutar turbin sehingga menghasilkan energi listrik. Turbin tersebut didesain untuk bisa bekerja dengan generator putaran dua arah. Sistem yang berfungsi mengonversi energi mekanik menjadi listrik terletak di atas permukaan laut dan terisolasi dari air laut dengan meletakkannya di dalam ruang khusus kedap air sehingga bisa dipastikan tidak bersentuhan dengan air laut. OWC ini dapat diletakkan di sekitar 50 m dari garis pantai pada kedalaman sekitar 15 m. Untuk OWC terapung, prinsip kerjanya sama seperti OWC tidak terapung, hanya saja peletakannya yang berbeda.

Pembangkit listrik ini memiliki berbagai kelebihan, seperti energi bisa diperoleh secara gratis, tidak memerlukan bahan bakar, tidak menghasilkan limbah, dapat menghasilkan energi dalam jumlah yang memadai, serta ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan limbah padat, cair maupun gas. Namun, dibalik kelebihan tersebut terdapat beberapa kendala, yaitu pembangkit ini bergantung pada ombak, kadang dapat energi kadang pula tidak, artinya pembangkit tenaga ini tidak pasti dapat digunakan. Kemudian, perlu menemukan lokasi yang sesuai dimana ombaknya kuat dan muncul secara konsisten. Selain itu, pembangkit listrik ini membutuhkan alat konversi yang handal yang mampu bertahan dengan kondisi lingkungan laut yang keras yang disebabkan oleh tingginya tingkat korosi dan kuatnya arus laut.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembangkit listrik tenaga gelombang laut merupakan sumber energi alternatif dengan potensi yang cukup besar dan menjanjikan. Hanya saja, perlu dilakukan riset yang lebih mendalam agar efisiensi energi yang dihasilkan dapat lebih maksimal serta perlu mengembangkan lebih lanjut mengenai teknologi yang digunakan, karena laut ini merupakan daerah yang cukup luas dengan kondisi alamnya yang terbilang cukup keras dan labil (cuaca di laut dapat berubah secara tiba-tiba), sehingga diperlukan alat yang benar-benar cocok untuk diterapkan di daerah laut.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana