Mohon tunggu...
ACJP Cahayahati
ACJP Cahayahati Mohon Tunggu... Insinyur - Life traveler

tukang nonton film, betah nulis dan baca, suka sejarah, senang jalan-jalan, hobi jepret, cinta lingkungan, pegiat konservasi energi dan sayang keluarga

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Artikel Utama

Beli Lotere untuk Plat Mobil

26 Desember 2015   18:43 Diperbarui: 27 Desember 2015   10:44 660
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Pudong, Shanghai (dok pribadi ezn)"][/caption]Berita kemacetan parah di tol menuju Bandung dan Puncak, kemarin dan kemarinnya lagi bukan hanya saya baca di berita mainstream online tapi juga kabar-kabar keluarga serta teman dari Jakarta di whatsapp dan medsos. Begitulah, fenomena abad terkini, liburan serentak dan macet seperti saudara siam dan terjadi sebetulnya tidak hanya di Indonesia, di jalan-jalan tol utama Jerman juga terutama kalau saatnya musim panas, musim liburan atau jam pergi pulang kantor, uuuhhh ya penuh, apalagi di tol A8 dekat Stuttgart .. wah langganan macet.

Abad gemilang dunia otomotif juga memiliki dua muka, tidak hanya membuat dunia transportasi melesat cepat tapi juga saat 'waktu tumbuk' menyebabkan macet bahkan terhenti, sehingga merubah wajah jalan menjadi tempat parkir yang mengular. Namun, kondisi Jakarta memang sudah parah karena per tahun pertumbuhan kendaraannya saja 12% sementara pertumbuhan jalan hanya 0,01%.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta dan sekitarnya bertambah sebanyak 5.500 hingga 6.000 unit kendaraan per hari. Di mana pertambahan didominasi sepeda motor yang mencapai 4.000 hingga 4.500 per hari. Sedangkan kendaraan roda empat mengalami pertumbuhan sebanyak 1.600 unit per hari. Yah ... kondisi timpang ini harusnya tidak membuat heran bila kemacetan di Jakarta dari hari ke hari semakin parah dan terjadi tidak hanya saat liburan serentak.

Nah... bagaimana orang Jerman menanggulangi arus kendaraan tumplek di jalan saat liburan? Sudah lama orang Jerman mengatur setiap negara bagian yang bertanggung jawab terhadap sistem pendidikan negara bagiannya, memiliki waktu libur yang tidak serentak se-Jerman. Jerman memiliki 16 negara bagian (sejenis provinsi), negara bagian NRW misalnya liburan musim panasnya selalu mulai awal atau pertengahan bulan Juli sedangkan negara bagian Bayern selalu mulai akhir Juli atau awal Agustus. 

Macet tapi Emisi Gas Buang Jalan Terus

Yang saya miriskan dengan kemacetan Jakarta-Puncak-Bandung ini adalah bukan hanya waktu yang terbuang dan kekesalan, kebosanan dalam kemacetan tapi juga emisi gas buang kendaraan. Bayangkan saja, ppm demi ppm (part per million) gas buang mulai dari CO, CO2, NOx dan partikel dihembuskan dari knalport detik demi detik karena motor kendaraan terkondisikan melakukan pembakaran tidak sempurna dan AC mobil pun digenjot habis-habisan. Belum lagi bila memikirkan borosnya bahan bakar ... hhhhhh ... tahun 2014 saja bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada 2014 kelebihan penyaluran 841.890 kiloliter dari jatah yang ditetapkan 45,46 juta kiloliter menjadi 46,48 juta kiloliter. Mungkin tahun 2015 nasibnya tidak akan jauh berbeda.

Banyak negara menerapkan berbagai strategi untuk mengurangi jumlah mobil di jalan. Bagaimanapun berlibur, melihat-lihat tempat indah, menjenguk keluarga di kampung halaman menjadi kebutuhan manusia modern. Ditambah dunia otomotif dan teknologi merekayasa pesawat, kereta dan tentu saja mobil sehingga transportasi menjadi semakin mungkin dan cepat. Namun apa daya bila jumlah mobil dan kendaraan membludak tak terkontrol.

Jerman menerapkan beberapa hal yang menjauhkan orang selalu naik mobil:

1. Uji kir dan uji emisi mobil yang sangat ketat. Penguji mobil seperti Tüv, Dekra dan GTÜ mampu membuat mobil tidak layak jalan entah itu dilihat dari segi keamanan maupun dari segi lingkungan masuk tempat pembuangan. 

2. Biaya parkir yang tinggi dan tentu saja angkutan massal baik mampu membuat orang lebih memilih naik bus atau sepeda daripada mobil pribadi.

3. Kesadaran kesehatan mendorong orang untuk bersepeda dan jalan kaki.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Otomotif Selengkapnya
Lihat Otomotif Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun