Catatan Seorang Penulis (1)

16 Oktober 2011 10:49:24 Diperbarui: 26 Juni 2015 00:53:46 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Namanya Jack Brainstern, Seorang penulis kolom di beberapa majalah terkemuka di Indonesia. Sudah 40 tahun lebih ia mendedikasikan diri pada dunia kepenulisan. Di usianya yang kini menginjak 63 tahun, ia masih memiliki banyak ide segar, bahkan novel terakhir yang ia tulis menjadi best seller selama beberapa tahun terakhir.


Kehidupan jack sangat sempurna. Ia memiliki segalanya. Sebuah rumah indah bergaya belanda di kawasan tenang di daerah pacet, kota kecil 40 km dari mojokerto. Rumah pertama yang ia beli dari hasil kerja kerasnya. Rumah tempat ia menyendiri dan menulis semua karyanya, dan tentu saja, Rumah tempat ia mengenang saat-saat indah kisah cinta yang ia alami bersama sarah. Wanita istimewa yang terus mendukungnya dalam berkarya. Wanita yang sangat mempesona dengan pemikirannya. Dan tentu saja, wanita yang selalu membuat jack menertawakan dunia.


Sarah memiliki sikap yang menawan lebih dari wanita lainnya. ia mampu berkata dengan cerdas, bahkan ketika ia marah sekalipun. Itulah Sarah o’connor. Sosok yang mampu berkata “Aku bersumpah tidak akan mencintaimu jika kau tidak segera menyelesaikan novel tentang kehidupan kita” dengan senyum yang membuatnya terlihat sangat cantik. Jack menyukai bahan candaan seperti itu. Jack tahu sarah sangat menyayanginya. Dan jack selalu menjawabnya “ Tentu saja sayang, tapi kau terlihat jelek dengan senyum nakalmu itu”. Masa lalu yang membuat jack menatap kosong di keheningan, mata papa yang jujur menunjukan rasa cintanya pada sarah, rasa cinta yang begitu dalam. Bahkan setelah sarah tiada.


Jack masih duduk di kursi plastik dekat jendela kamarnya. Kursi seharga dua puluh ribu rupiah. Berwarna hijau, terlihat mengkilap, dan selalu setia menemani jack dalam menuliskan karyanya. Jack tersenyum, ia merasa puas dengan apa yang dimilikinya saat ini. ia merasa bahwa kejadian-kejadian dalam hidupnya seolah baru saja terjadi. Saat ia terpaksa putus sekolah di perguruan tinggi, atau saat ia dengan terpaksa menjual karya tulisnya kepada penulis lain. Sungguh, jack telah mengalami masa-masa sulit yang tidak pernah ia bayangkan.


Ini adalah pencapaian yang tidak pernah ia rencanakan.Tumpukan-tumpukan novel yang ia tulis menghiasi rak bukunya sendiri. Sangat mengelikan. Ia bahkan masih ingat setiap kisah yang telah ia tulis. Tidak lebih dari kisah hidupnya bersama sarah.


Ia masih berpikir sungguh kehidupan telah membuatnya merasa menjadi orang yang sangat beruntung. Bahkan di usianya yang sudah tidak lagi muda, ia masih merasa dibutuhkan oleh orang lain. Kolom-kolom yang ditulisnya selalu mendapat tanggapan yang baik dari pembaca, tanggapan yang membuat redaksi terus mempertahankannya. Tanggapan yang membuat beberapa orang di redaksi berkata “Kolom Jack yang Tak Tergantikan”. Sungguh ironis, jack masih ingat beberapa tulisan sampah yang ia akui sebagai karya terbaiknya di masa muda dulu. Ditolak dan dibuang. Tidak dihargai, tidak diminati, bahkan tidak dilirik oleh redaksi manapun. Namun itu hanya masa lalu. Kini ia menjadi bagian penting yang tergantikan. Pernah suatu kali ia merasa sudah terlalu tua, pemikirannya mungkin agak ketinggalan jaman, dan ia ingin berhenti menulis. Tapi sepertinya itu bukan lagi menjadi pilihannya. Beberapa redaksi bersikap keras kepala bahwa mereka masih membutuhkan kolom-kolom jack. Bahkan Editor pribadinya sendiri, Mc Arthur berkata “ Apa kau ingin memecatku secara tidak langsung jack?” .


Jack berdiri dari kursi kesayangannya. Ia berjalan melewati beragam penghargaan atas karya-karyanya. Penghargaan yang selalu ia impikan di masa mudanya dulu. Penghargaan yang akan membuat semua penulis iri terhadapnya.


Ia masih melangkah tanpa ragu. Bagaimana mungkin ia yang tidak lagi muda harus bersaing dengan banyaknya penulis muda berbakat di negeri ini. Sungguh merepotkan. Tapi itulah jack, penulis keras kepala yang tidak pernah peduli dengan segala kerumitan manusia. Ia hanya tahu satu semboyan tidak waras, aku hanya ingin menulis dan menuliskan apapun yang ingin kutuliskan.


Ia memasuki sebuah ruangan kecil. Tanpa ada hiasan apapun. Hanya ada sebuah meja kecil dan peralatan tulis menulis usang. Ia kemudian mulai menuliskan kisah hidupnya sebagai seorang penulis. Novel karya terakhirnya sebelum ia menemui sarah di surga. (bersambung)

Jackoo Brainstern

/kolomnis

Penggemar filsafat yang suka menulis kritik, analisis ga jelas dan doyan komentar sesuka hati tanpa berpikir panjang.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL novel fiksi

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana