Cerpen

Haha-Huhu

20 Maret 2017   15:55 Diperbarui: 20 Maret 2017   16:11 31 1 2

Aku berlari sambil membuka gerbang rumah. Aku sudah tidak sabar lagi untuk bermain di gang bersama dengan kawan–kawanku.  Seperti biasa, Dion selalu membawa bola plastik. Tak menunggu lama, kami langsung berlarian memperebutkan bola tersebut. Wajah kami selalu terlihat berbunga-bunga, kata ibu. Itulah alasan mengapa ibuku tidak pernah melarangku untuk bermain bersama kawan-kawanku. Lagipula, menurutku, permainan ini sama sekali tidak berbahaya. Hanya saja, terkadang bola kami tak sengaja meluncur ke jalan raya. Ya, saat ini giliranku untuk mengambilnya. Mudah saja bagiku, aku berlari mengambilnya dan bergegas kembali untuk melanjutkan permainan

***

Suatu hari, ibuku mengajakku pergi ke rumah temannya. Aku sangat senang karena rumah teman ibu berada jauh dari kota. Aku menikmati pemandangan alam di sepanjang perjalanan sambil mendengarkan kisah-kisah ibuku mengenai temannya. Sesampainya kami di sana, ibuku asyik berbincang dengan temannya sampai sepertinya aku hanyalah fatamorgana di matanya. Betapa beruntungnya diriku ketika Tante Viona, teman ibuku, meminjamkan tabletnya padaku. Itu bagaikan hiburan yang sempurna bagiku dalam kebosananku. Tak terasa ibuku mengajakku pulang. Aku langsung berterimakasih pada Tante Viona dan pulang dengan gembira. Perjalanan pulang terasa lebih menyenangkan dengan hujan yang menemani kami sepanjang jalan.

***

Hari ini Arel berulang tahun. Arel adalah sahabat karibku sejak kami kecil. Selain Arel, aku juga berteman baik dengan Vito. Mereka adalah tetanggaku yang juga berbagi sekolah yang sama denganku. Usia mereka kini sudah sebelas tahun. Walaupun mereka lebih tua satu tahun daripada aku, aku merasa mereka seperti adik-adikku. Hari itu aku dan Vito tidak berhenti mengganggu Arel. Mulai dari menyembunyikan bukunya sampai menumpahkan banyak sambal ke mangkuk baksonya. Awalnya, dia sedikit merasa terganggu dan merajuk pada kami. Namun, setelah beberapa kali kami mengganggunya, ia justru tertawa terbahak-bahak ketika menyadari bahwa ia telah terjebak oleh kami. Bahkan ketika aku menarik kursinya yang mengakibatkan dia terjatuh ke lantai, ia tetap tertawa lepas. Aku merasa tidak salah memilih teman. Aku berharap mereka juga merasakan hal yang sama.

***

Abyan Azhim. Anak berusia sepuluh tahun yang telah berhasil membunuh tiga orang dalam hidupnya. Sayangnya, ia masih hidup sampai saat ini. Entah berapa banyak orang lagi yang telah Byan bunuh sekarang. Ia bukanlah anak yang istimewa. Tidak cerdas, tidak tampan, tidak pula kaya. Ia tumbuh sebagai anak yang terkenal akan kelembutan dan keceriaannya. Ia memiliki banyak teman. Ia pergi ke masjid setiap hari dengan ayahnya. Ia sering merasakan bahagia tetapi tak jarang pula merasa sedih. Ia hanyalah seorang Abyan Azhim yang polos. Namun, nasi telah menjadi bubur, pendosa tetaplah pendosa, pembunuh tetaplah pembunuh.

***

Orang pertama yang berhasil ia bunuh adalah Ali, seorang pengemudi mobil. Saat itu Ali sedang berada di dalam mobil majikannya. Ali adalah sopir seorang pengusaha kaya yang harus siap kapanpun majikannya memintanya untuk pergi ke suatu tempat. Seringkali, majikannya itu memintanya untuk bergerak cepat demi kelancaran bisnisnya. Ia sering kali merasa letih dan lelah. 

Apalagi, ketika majikannya mengirimnya ke kursus mengemudi untuk memastikan kualitas mengemudinya tidak menurun tetapi semakin meningkat. Saat itu ponselnya bordering, ia mengira bahwa itu adalah majikannya. Betapa terkejutnya dia ketika ia melihat nama yang muncul bukanlah ‘Bapak’ melainkan ‘Sri’. Ternyata Sri meninggalkan pesan yang menyampaikan bahwa Laras, anak mereka, mengalami asma yang tidak kunjung berhenti setelah selama satu jam. Ali langsung menekan pedal gas mobil majikannya itu dan melaju sekencang mungkin. Jalanan terlihat sepi sehingga mendorongnya untuk semakin menaikkan kelajuan mobil itu. Tiba-tiba Byan kecil berlari tepat di depan mobil mewah itu. Selamat Byan atas ketertawaanmu.

***

Viona yang telah baik pada Byan merupakan korban kedua. Kejadiannya memang sudah sedikit terlihat apabila penyebab kematiannya adalah tabletnya. Tablet yang ia pinjamkan pada Byan. Byan menyalakan data seluler tablet tersebut dan meninggalkannya menyala. Kebetulan, rumah Viona baru saja dihuni yang mana belum memiliki penangkal petir. Saat hujan deras mengguyur dan petir menyambar di mana-mana, tiba-tiba ia melihat tabletnya tersambar petir. Ia terdiam. 

Lama. Dadanya terasa sesak. Ia semakin sulit bernapas. Saat ia membuka matanya ia sudah berada di UGD. Semenjak kejadian itu, ia sering dilarikan ke UGD karena serangan jantung. Hingga, di usianya yang ke-45, tiga tahun setelah kejadian petir menyambar, ia meninggal karena serangan jantung yang dideritanya.

***

Masih ingat ulang tahun Arel? Ya, banyak kejadian yang dilakukan oleh Byan terhadap Arel. Tidak! Tidak hanya Byan, Vito pun melakukannya. Mereka berkonspirasi membuat hari Arel saat itu menjadi ceria dengan segala kegilaan mereka. Ya, mereka bahagia saat itu. Mereka tertawa riang bersama seakan – akan tidak akan pernah ada hal buruk terjadi pada mereka. Sampai saat dimana Byan menarik kursi Arel hingga terjatuh keras ke lantai. Mereka pergi ke UKS bersama untuk mengobati sakit di tulang ekor Arel. 

Di sisi lain, tidak ada yang menyadari bahwa ketika Byan menarik kursi Arel ke belakang, kepala Vito, yang kebetulan sedang duduk bersila tepat di belakang kursi Arel, membentur kursi tersebut. Benturan tersebut sangatlah keras sehingga Vito hanya dapat terdiam dan menahan rasa sakitnya. Sore harinya, ia sudah tidak bisa duduk. Malam harinya, ia tidak bisa berjalan. Pagi harinya, ia mengalami koma. Lalu, setelah seminggu koma, Vito meninggal dunia. Dokter mengatakan terjadi pendarahan di otaknya tetapi keluarga Vito tidak ingin menyelidikinya. Kerja bagus, Byan!

***

Hahahaha. Betapa menariknya hidup ini dimana tawa kita bisa bermakna duka bagi  mereka, begitupun sebaliknya. Entah bagaimana ajal akan menjemput kita. Entah bagaimana ajal akan menjemput mereka. Semoga ajal kita benar-benar dijemput oleh Malaikat Izroil, bukan malah oleh bayangan makhluk ciptaan-Nya. Entah apa yang akan terjadi pada Abyan Azhim selanjutnya. Apakah ia akan membunuh lebih banyak orang? Apakah dia akan dibunuh? Apakah dia akan hidup selamanya? Tunggu sebentar, apakah ia menyadari ini semua? Tidak. Tidak sama sekali.

            Jadi, sudah berapa banyak, kawan?

            Tak apa, akupun tak tahu, bisa saja hamparan tulisan hasil tarian jemariku ini akan membunuh kaumku sendiri.

            Kutunggu kalian di Surga.