HEADLINE HIGHLIGHT

Perceraian Emosi (Emotional Divorce)

29 November 2011 01:06:43 Dibaca :

Ilustrasi Admin. - - By. Julianto Simanjuntak*** Seorang pengusaha beken, sebut saja Roy. Bisnisnya hebat, uangnya banyak. Tapi Sayang rumah tangganya tidak harmonis, selalu konflik dengan istri.  Salah satu sebabnya Roy berkali-kali affair. Dini istrinya mengidap depresi, sebab Suaminya  tidak pernah  berubah, malah makin parah. Selain tertekan secara emosi karena ulah suaminya, Dini merasa makin kesepian. Sebab suaminya makin sering keluar negri. Kalaupun di Jakarta sering menginap di hotel dengan teman kencan. Dini  hanya  sendirian  di rumah bersama pembantu, sementara  Anak tunggal mereka sudah setahun sekolah di luar negeri. Lama Dini ingin bercerai dengan Suaminya, hanya dia menunggu Roy yang berinisiatif. Sebab dia sendiri takut dengan aturan agamanya. Meski Dini dan Roy serumah, sesungguhnya mereka sudah lama tercerai secara emosi. ***** Perceraian dalam perkawinan semakin meningkat di tanah air. Kementrian Agama Angka perceraian Sepanjang tahun 2009 mencatat terjadi  250 ribu kasus perceraian.  Angka ini setara dg 10 % dari jumlah pernikahan di tahun 2009, yakni sebanyak 2,5 juta. *) Namun jumlah pasangan yang mengalami  keterpisahan emosi (emotional divorce) seperti kasus Dini tentu jauh lebih banyak.  Banyak pasangan yang bertahan tetap dalam satu rumah seringkali hanya demi anak, status sosial, alasan ekonomi hingga aturan  agama. PERCERAIAN EMOSI Sesungguhnya banyak pernikahan bertahan satu rumah tetapi sudah tidak satu jiwa. Ada yang masih seranjang, pisah ranjang hingga pisah kamar. Komunikasi sangat minim, dan kalaupun ada saling menyakitkan. Seperti kasus Dini. Umumnya perkawinan seperti Dini, dimulai  tanpa visi yang jelas,  ketrampilan minim, dan  kecerdasan emosi yang miskin. Tidak heran  membentuk perkawinan yang sakit.  Jika tidak dibantu sebagian pasangan itu suatu saat akan benar-benar bercerai Ada beberapa ciri perkawinan yang terpisah secara emosi Pertama, Pasangan  lebih banyak terlibat dalam komunikasi yang menghukum daripada memuji atau menghargai. Mereka  sering bersikap reaktif (negatif) terhadap stimulus pasangannya. Responnya sering diberikan dengan cara yang sama dengan bagaimana stimulus itu diberikan. “You hurt me, I hurt You”. Kedua, mereka cenderung berjuang untuk merubah perilaku pasangannya dengan menggunakan taktik kontrol. Misal dengan sengaja menahan kebaikan kepada pasangannya. Contoh, seorang suami yang sudah berjanji akan berlibur akhir tahun, namun bisa secara sepihak membatalkan liburan. Tujuannya tak lain dan tak bukan agar istrinya kecewa. Ketiga, secara sadar atau tidak terbentuklah  koalisi yang membuta, misalnya,  anak dan ibu sangat dekat satu sama lain dengan tujuan merugikan (menyerang) ayahnya. Sang Ibu menceritakan kejelekan sang Ayah, agar si anak ikut membenci Ayahnya. Atau dengan cara si Ibu menjadi “malaekat” yang sangat baik bagi anak agar pro dengan si Ibu membenci ayahnya. Keempat, adanya sifat yang kaku sekali. Merasa diri lebih benar dan Kaku dalam prinsip atau pendapat. Akibatnya satu atau keduanya susah menerima pendapat pasangan. Bahkan menunjukkan apriori, menyatakan kesalahan di depan orang, atau  sengaja  mengabaikan pasangan. Kelima, perpisahan emosi disebabkan telah menyimpan kesalahan bertumpuk. Disertai dengan Miskinnya jiwa memaafkan, jiwanya tidak lentur untuk menerima kesalahan. Tidak heran setiap kesalahan masa lalu dibawa hingga hari ini. Pola cuek dan mendiamkan pasangan berhari-hari hingga berbulan lamanya menjadi biasa. Kalau berpisah umumnya mereka tidak lagi saling merindukan. Dalam beberapa kasus malah ada yang berharap pasangannya cepat meninggal. Aneh tapi nyata. PERTOLONGAN PERTAMA Tidak mudah membantu pasangan dengan kondisi emotional divorce. Sebab umumnya pasangan ini tidak memiliki  kemampuan untuk memecahkan masalah, bahkan dalam masalah sepele sekalipun. Mereka tidak punya kemampuan menjaga berfungsinya keluarga secara efektif. Apalagi masalah sudah menumpuk dan menahun. Hati mereka dipenuhi luka dan kemarahan tersembunyi. Jika kita ingin membantu pasangan keluar dari situasi ini ada beberapa hal yang perlu kita sarankan 1. Mengidentifikasi masalah-masalah yang ada. Bedakan antara mana akibat masalah dengan sumber (sebab) masalah. Yang diatasi  dulu tentu bukan akibatnya, tapi sumbernya. 2. Menyarankan klien curhat atau konseling ke orang yang tepat. Mencari konselor atau terapis perkawinan adalah solusi yang baik. Jangan sembarangan cerita, termasuk pada ortu dan kerabat dekat. Bisa berabe nanti. Pasangan sudah tidak bisa mengatasi sendiri “perceraian emosi ini”, Sebab masing-masing  sudah tidak netral mengatasi konflik. 3. Mengembangkan  alternatif tindakan apa yang bisa dilakukan, khususnya yang disarankan penasehat perkawinan. Misal, saya biasanya menyarankan mereka ambil waktu cuti dan liburan bersama untuk waktu yang cukup lama. Mengatur waktu makan bersama secara rutin sau atau dua kali seminggu di luar rumah. Atau mengadakan kegiatan seperti dulu saat masih pacaran, nonton misalnya. 4. Minta mereka Bertindak cepat dalam menjalankan kesepakatan dengan konselor. Jangan menunda. Misal, segera  meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat. Segera mengganti no HP agar tidak bisa dihubungi WIL/ PIL yang menjadi salah satu masalah. 5. Meminta konselor atau salah satu sahabat terpercaya menjadi mediator. Mereka menjadi pihak ketiga yang mencek perkembangan yang ada, dan berusaha terus meningkatkan keintiman. TIPS Beberapa tips bagi konselor saat membimbing pasangan membangun relasi emosi ke arah yang lebih sehat (berikut tugas yang wajib dilakukan pasangan) 1. Spesifik. Membantu mereka menemukan jalan keluar konflik secara detail sesuai dengan akar konflik. 2. Berorientasi pada masa sekarang dan masa depan. Memecahkan  konflik tanpa menyinggung kejadian masa lalu/yang sudah terjadi. Buang kecenderungan memutlakkan sesuatu. Janganlah merasa diri paling benar atau punya solusi yang paling hebat dalam konflik ini. 3. Melatih klien mendengarkan secara aktif. menyiapkan waktu dan respon yang aktif seperti ; memandang pasangan, menghentikan aktifitas yang lain, empati, dll, saat konflik terjadi. 4. Gunakan pernyataan pesan “Saya”. Menyampaikan perasaan tanpa menyerang/menuduh  pasangan. Misal: "Sory, saya tadi pagi kecewa karena Papa batalkan janji mendadak...". Jangan gunakan kalimat ini: "Itulah, Papa memang tidak bisa dipercaya, janji tapi selalu tidak menepati...!" 5.  Ingat bahwa tindakan yang diambil untuk memecahkan masalah bukanlah untuk diterapkan selama-lamanya. Situasi dan kondisi konflik yang berbeda dikemudian hari harus diperhatikan dalam memecahkan masalah, tidak selalu dengan pemecahan yang sama. 6. Pecahkan masalah satu demi satu. Buatlah inventaris permasalahan yang ada. Tetapkan bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah terciptanya saling pengertian. kepentingan masing-masing pribadi pasangan tidak didahulukan. 7.  Ketahuilah bahwa sikap anda menentukan makna apa yang anda berikan pada fakta yang ada. Janganlah menutup-tutupi perasaan yang sesungguhnya. Belajar terbuka dan apa adanya. 8. Waspada, jangan ucapkan kata-kata kasar, yang membuat pasangan Anda putus asa dan kecewa. Gunakan kata yang membangun. Jika tidak sanggup atau kemarahan memuncak, tundalah waktu berbicara 9. Kerjakan sekarang juga. Konflik yang terjadi harus segera diselesaikan tanpa menunda-nunda dan lakukan kesepakatan  sehingga membuat konflik  segera terselesaikan. Usahakan selesaikan emosi negatif sebelum matahari terbenam. 10. Optimalkan kondisi : tempat, suasana, keadaan psikis, waktu, adalah hal yang sangat mendukung untuk pasangan mencari jalan keluar. Misal, tanyakan pada pasangan kapan dia punya waktu yang santai untuk nicara. Usahakan ekspresi wajah yang nyaman dilihat pasangan Anda. 11. Terbukalah dengan apa yang anda rasakan dan pikirkan. Usahakan agar pasangan anda mengetahui perasaan dan pikiran anda yang sesungguhnya 12. Berikan kesempatan/waktu untuk pasangan berubah. Ingat  perubahan membutuhkan waktu. Utamakan proses, bukan hasil. Demikian juga fokuslah pada kelebihan pasangan bukan kekurangannya PENUTUP Setelah beberapa kali konseling, selalu Tentukan batas waktu yang digunakan untuk membicarakan setiap masalah yang diutarakan klien. Jangan biarkan pasangan menunda menyelesaikan  masalah. Ajarkan agar masing-masing melakukan tugas sesuai kesepakatan yang diambil bersama Anda sebagai konselor Akhirnya Jangan lupa, Masalah perkawinan umumnya tidak terjadi di dalam perkawinan, tetapi terjadi sebelum pernikahan. Minimnya persiapan, pengenalan pasangan dan Minimnya ketrampilan memelihara perkawinan. Tanpa skil perkawinan dan kematangan emosi pasangan maka bisa mengancam stabilitas hubungan pasangan. Ya. Oleh karena itu setiap orang yang mau menikah hendaknya belajar Ketrampilan perkawinan

'Advokat' Hebat, Gratis Pula

Moga berguna JULIANTO SIMANJUNTAK || Bacaan Len Sperry & J. Carlson. Marital Therapy. Love Publishing Company, Colorado, 1991 William Lederer, Don Jackson. The Mirages of Marriage. (New York: WW Norton & Co, 1968) *) http://esg-news.com.nasional/2010/02/27/1587/angka-perceraian-2009-meningkat.html

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?