Menyapa Sepi

16 April 2013 16:52:37 Dibaca :
Menyapa Sepi
-

Menunggu mentarikan tiba dan mengizinkan hati yang berbicara, berkata-kata semaunya. Didalam tenang, hening yang terasa berharap terang menyapa dan menyinari sepi dalam benak. Embunpun akan menghilang diiringi malam, terbang... Dalam kesendirian semua mulai terasa dan mulai menyapa, aku si penyapa sepi. Sebab malampun bergiming, aku dan hening masih karib. Sejenak berfikir lagi, mungkin inilah aku. Karakter yang harus kujalani. Ini anugerah jugakan? Apa ini selamanya? Mungkin ini nyataku, hanya coba mensyukuri dan bersyukur. Menyapa sepi, tak pernah kusangkal sebelumnya. Sudah terbiasa menjalaninya sendiri, meski ingin ada yang menemani tapi tak begitu berarti. Memang pada dasarnya manusia itu sendirian, merasa kehilangan, menikmati rasa suka dan duka, itu semua hanya untuk kesendirian. Manusia lekat akan kehilangan dan akan selalu bertemu kehilangan satu, dua dan seterusnya silih berganti. Gak ada yang abadi, selalu ada yang datang dan pergi. Cukup adilkah? Melawan ketakutanmu aja kalah, bagaimana melawan ketakutan dari luar? Entah darimana datangnya kata-kata itu yang tadinya muncul tanpa permisi. Merasa kesepian dan merasa kehilangan karena aku merasa semua orang meninggalkanku. Ada seakan tidak pernah ada, ada tapi gak mampu merasakan. Waktu itu aku pernah ditampar soal ini, seseorang yang bahkan disebut karib denganku yang berjanji untuk bersamaku dan menarikku dari bolahitam. Mungkin aku menaruh harapan yang salah, dan mungkin seharusnya aku tidak menaruh harapan sama sekali. Atau aku sedang diuji dibagian itu, kelemahanku mungkin berada disitu, agar kuat pada bagian itu. Tapi bukan berarti selanjutnya aku selalu bisa menghadapinya. Manusia, barang, hal, kesempatan, momen, dan lainnya akan datang dan pergi. Hahaha... Nikmati aja apa yang ada sekarang. Belajar ikhlas dan bersyukur, ada yang akan datang untuk kemudian pergi tanpa pertanda. Ketika ada yang datang, siap-siap akan kepergian, kehilangan, lagi dan lagi. Dan ternyata masih belum siap soal itu, kepergian. Masih saja aku berduka akan kepergian. Menurutku berduka akan kepergian jelas tidak salah, aku juga manusia, masih memiliki perasaan. Tapi kalau aku tidak segera keluar dari kedukaan, seperti yang sudah-sudah, aku larut dan menghilang dalam duka. Masih suka bingung soal perasaan dan apa yang kupikirkan, perasaan dan pikiran ternyata kadang gak kompak juga. Ini semua memang sudah jalannya, bukan salahku. Hanya tersenyum melihat kisahku seperti biasanya, tanpa memuja. Sebagai penyapa sepi masih saja aku meluapkannya dengan menikmati hening, sendiri, mengisi tiap lembar kanvas yang sudah tersaji. Dan aku masih sedang mencoba mengurai isi kepalaku, selalu. Semoga saja setelah ini hidupku sedikit tercerahkan, dan sepiku mulai terusik. Ya semoga...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?