Legenda Ilyas Leube si Reje Linge

16 Mei 2011 04:28:32 Dibaca :

KENDARAAN roda empat berjejer di kaki bukit Bandar Lampahan, Bener Meriah, akhir April lalu. Ratusan orang berseliweran di sini. Salah seorang di antaranya, Ketua Umum Partai Aceh, Muzakir Manaf.  Berbaju koko hitam, pria yang akrab disapa Mualem ini mengambil wudhu dari kran air di sisi kanan tangga bukit. Lalu mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka ini menapak menuju puncak. Saat Mualem berdoa di sebuah pusara, Pemangku Wali Nanggroe Malik Mahmud dan Doto Zaini Abdullah juga menuju ke tempat yang sama. Begitu pula ratusan orang lainnya yang tergabung dalam Partai Aceh dan Komite Peralihan Aceh (KPA). Di pusara sama, mereka merentangkan telapak tangan memanjatkan doa. Jelas, ini bukan pusara orang biasa. Di batu nisan tertulis nama Ilyas Leube, seorang Reje Linge. Dialah sosok yang sangat melegenda dalam riwayat pergerakan perjuangan di Aceh. Mulai dari penjajahan Belanda, Darul Islam, hingga sampai Gerakan Aceh Merdeka. Dia tak suka melihat rakyat Aceh menderita dan tertindas di bawah kesewenang-wenangan penguasa. Begitu melegendanya dia, namanya mahsyur ke seluruh pelosok Aceh. Di Gayo, tentang Ilyas mengalir dalam cerita Kekeberen (Sejarah Gayo). Diyakini sebagai seorang yang sangat alim, sebagian masyarakat Gayo menganggapnya tokoh sakti mandraguna yang membuat nyali musuh ciut jika berhadapan dengannya. Ilyas Leube lahir di Kenawat, Laut Tawar, Aceh Tengah, pada 1923.  Berdarah biru, dia tercatat sebagai Reje Linge ke XIX. Namun Ilyas tak pernah memposisikan diri dalam pergaulan kalangan elit. Dia lebih suka berada di tengah-tengah petani kopi di Tanah Gayo. Hidup dalam kesederhaan dan bersahaja. “Walau bersertifikasi raja dan ninggrat dalam pergaualan, namun memposisikan diri sama dengan rakyat biasa,” kata Salman Yoga, peniliti dan penulis buku Ilyas Leube. Bahkan, Ilyas lebih dikenal sebagai sosok yang taat dalam menjalankan ajaran Islam. Itulah sebabnya tokoh sekaliber Daud Beure-eh –pemimpin DI/TII di Aceh—tertarik pada Ilyas, dan bahkan menjadikannya sebagai salah seorang intelektual yang juga tokoh ulama di DI/TII. Leube di belakang nama Ilyas bukanlah pemberian ayah kandungnya, Bude Entan. Menimba ilmu sekolah Normal Schol di Bireuen, Ilyas salah satu murid berprestasi yang bagus, selain itu Ilyas juga fasih dalam ilmu agama. Itulah sebabnya Daud Beureueh menjulukinya Leube. Leube bermakna orang yang banyak pengetahuan di bidang agama dan mudah bergaul dengan siapa saja. Nama ujung Ilyas melakat hingga pada anak-anaknya. Selain Daud Beureueh, M. Nur Ibrahim, Daud Beureueh dan ayah Gani juga guru Ilyas Leube saat di Bireuen. Ilyas Leube mulai berinteraksi dengan Daud Beureueh  sejak 1940 ketika sekolah di Normal School Bireuen, kemudian pada 1947-1949 saat perang di Medan Area –Sumatera Utara-- dalam melawan Agresi Belanda ke-I dan ke-II. Saat Daud Beureueh menjadi Gubernur Militer Aceh dan Tanah karo, Ilyas Leube diposisikan sebagai staf khusus. “Interaksi ini terus berlanjut pada pembentukan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) dan deklarasi DI/TII,” kata Salman. Perjuangan Daud Beureueh dan Ilyas Leube berlanjut pada DI/TII. Setelah turun dari gunung bersama Daud Beureueh,  Ilyas Leube fokus membina masyarakat dan membangun usaha sendiri yakni kilang kopi.  Belakangan, Ilyas Leube kembali naik gunung saat melanjutkan perjuangannya dalam gerakan Aceh Merdeka (AM) bersama Hasan Tiro. Ilyas Leube dan Hasan Tiro sudah bersahabat sejak menimba ilmu di Pulau Jawa pada 1940 an. Mereka berbeda kampus. Ilyas Leube menimba ilmu di Universitas Islam Indonesia Jakarta. Sedangkan Hasan Tiro di Universitas Islam Indonesia Jogjakarta.  Dua tokoh ini bertemu dalam sebuah ideologi yang sama. Itulah sebabnya, jejak mereka dimulai pada pergerakan politik pemuda nasional. “Di sana mereka baru bertemu, sebelumnya hanya saling mendengar nama saja,” ujar Salman. Pada 1975, Ilyas Leube menunaikan ibadah Haji. Sedangkan Hasan Tiro berada di Amerika. “Begitu tahu Ilyas berada di Mekkah, Hasan Tiro langsung terbang untuk bertemu Ilyas Leube,” kata Salman. Pada saat bertemu inilah mereka membicarakan soal Gerakan Aceh Merdeka. Komunikasi dengan Hasan Tiro berlanjut. Pada awal 1976, Hasan Tiro bersama Zainal Abidin Tiro dan Ayah Gani serta beberapa tokoh lain kembali menemui Ilyas di Takengon. Lima hari berkomunikasi tiada henti, membuat Hasan Tiro dan Ilyas Leube semakin dekat. “Bahkan Hasan Tiro diajak keliling Danau Laut Tawar dan berfoto bersama di Bontol Kubu (benteng pertahanan Gayo),” kata Salman. Usai bertemu di sana, Hasan Tiro kembali ke Amerika. Berdua mereka mengikat janji bertemu di Gunung Halimon, Pidie, pada 1976. Sebelum berangkat, Ilyas berpesan kepada istrinya Salamah Binti Salihin Inen Hudna.  “Jaga kerukunan keluarga, jangan sampai kocar- kacir,” pesan Ilyas Leube dalam Bahasa Gayo. Pada Deklarasi Aceh Merdeka di Gunong Halimon, Ilyas mendapat jabatan Menteri Kehakiman. Selain itu, nama Ilyas Leube dalam struktur Aceh Merdeka juga ditempatkan dalam Dewan Syura bersama Ilyas Cot Plieng, Hasbi Geudong, dan Ayah Sabi. Adapun Hasan Tiro adalah Wali Nanggroe. Ilyas Leube yang pernah sekolah kehakiman di Banda Aceh pada  1942 ini dikenal sosok yang gigih mempertahankan eksitensi GAM. Tiada henti bergerilya. Naik dan turun gunung, hingga kemudian sampai ke Jeunib, Kabupaten Bireuen. Di sana Ilyas Leube mendirikan gubuk kecil tempat istirahat bersama empat anak buahnya. Tempat tersebut berjarak sekitar 4-6 kilometer dari desa Pandrah, Jeunib.  Belakangan tempat ini diketahui oleh Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) –sekarang disebut Komando Pasukan Khusus (Kopassus)—dan Koramil Jeunib. Pada 16 Mai 1982, saat Ilyas dan empat anak buahnya sedang salat ashar, gubuk ini dikepung RPKAD. Letusan bedil membahana. “Saat itu yang menjadi korban tiga orang,  dan satu lagi hanya terluka saja,” kata Salman. Salah satu yang wafat adalah Ilyas Leube. Tokoh kharismatik itu telah wafat. Tetapi bagi jamaah gerakan, juga istri dan enam anaknya, dia seolah masih hidup. Begitu juga pada sanubari masyarakat Tanah Gayo. Ilyas Leube wafat meninggalkan lima wasiat yang sangat bermakna yang dititipkan kepada istrinya, Salamah Binti Salihin Inen Hudna. Ilyas mengatakan, bahwa suatu saat akan terjadi lima hal sebagai tanda kerusakan ummat sebagai tanda bergesernya nilai ke-Islaman di masyarakat. Pertama, ulama meh i pengat. Maksudnya ulama kurang mendapat peran dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Selanjutnya, tingkah laku ni simemude meh rusak, yaitu tingkah laku generasi muda nya rusak atau di luar koridor Syari’at. Ketiga, pemimpin perasat. Maksudnya pemimpin tidak lagi amanah sebagai pemimpin dan sudah tidak mendapat kepercayaan dari masyarakatnya walau terpilih melalui pemilihan oleh rakyat. “Semua urusan umunya berkiblat kepada uang. Jika pun memberi sumbangan maka dirasakan berharap imbalan dan dalam hal pekerjaan atau jabatan selalu keluarga dan kerabat yang diutamakan,” kata Salamah kepada wartawan. Pergeseran nilai keislaman yang keempat dikatakan jema kaya jengkat. Artinya, orang-orang kaya menjadi sombong, angkuh dan takabur. “Mereka terus memperkaya diri sendiri dengan segala cara tanpa peduli halal atau haram. Dan parahnya tidak suka bersedekah kepada orang lain yang membutuhkan,” katanya.  Terakhir adalah beru bujang gere ne mengen manat. Pemuda dan pemudi sekarang tidak lagi mendengar dan sudah tidak mau peduli dengan amanat orang tua. Rombongan Meuntro Malik, Zaini, dan Mualem, selesai berdoa di pusara Ilyas. Lalu satu persatu mereka menuruni anak tangga. Berpamitan pada Salamah yang masih terlihat bugar di rumah berdinding papan yang tak jauh dari pusara. “Kami harus mengamalkan semua wasiat dari tokoh yang sangat kami hormati itu,” kata Mualem. Lalu mereka meninggalkan tempat ini. Sebuah makna dari kedatangan mereka tentu terpatri dari sini. Makna kepemimpinan di Aceh sesuai wasiat Ilyas Leube. Partai Aceh memang sudah menetapkan hati mengusung pasangan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf sebagai calon pemimpin Aceh pada 2011 ini. (Seperti Dimuat Tabloid Politik Orang Aceh BERANDA edisi MEI 2011)

Jauhari Samalanga

/joenyawoung

praktisi seni Aceh di Banda Aceh. Dibesarkan dan lahir di Aceh Tengah 19 Januari.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?