Abraham/Nabi Ibrahim Mencintai SARA, Indonesia Sentimen SARA

10 Agustus 2012 02:08:34 Dibaca :
Abraham/Nabi Ibrahim Mencintai SARA, Indonesia Sentimen SARA
capture from mikeghouse pluralism image

SARA,  s - a  - r - a - i, שרה - שרי, sebetulnya berasal dari bahasa ARAM, bahasa suku-suku kuno di Timur Tengah; kemudian di Ibranikan; dan juga di Inonesiakan.  SARA adalah nama seorang perempuan cantik; ia adalah isteri (pertama dari) Abraham/Nabi Ibrahim. Abraham temasuk orang-orang termuka di Ur-Kasdim, wilayah kuno antara Eufrat - Tigris (sekarang Irak).

Ketika Abraham melakukan nomade ke arah Timur, ia membawa isterinya, SARA (juga seroang keponakanya yaitu Lot). Abraham/Nabi Ibrahim, sengat mencintai SARA; hampir semua permintaan SARA diikuti oleh Abraham. Bahkan Abraham, karena cinta dan mau menyenangkan SARA, ia ikuti permintaan SARA untuk mengawini salah seorang budaknya. Singkat kata, Abraham/Nabi Ibrahim, bapa semua orang beriman, nenek moyang spiritual agama-agama samawi, sangat mencintai - mengasihi SARA.

S - A - R - A, di Indonesia telah menjadi lain; tak lagi menjadi nama perempuan cantik; mungkin pada masa akan datang, akan hilang SARA sebagai nama anak-anak perempuan di Nusantara. Mungkin akan menjadi sama dengan Herodes, Nero, Galigula, Judas, yang banyak dijadikan nama anjing daripada manusia; karena sifat-sifat pemilik nama mula-mulanya.

Di Nusantara, SARA telah menjadi suku - agama - ras - antar golongan. SARA yang indah, hanya kata-kata biasa; SARA hanya kata - benda - makhluk - sikon, tetapi di dalamnya mempunyai kekuatan maha dasyat, yang memecah belah serta menghancurkan bangsa - rakyat RI. Bahkan NKRI bisa bubar dan menjadi ingatan sejarah hanya karena SARA.

Ko' bisa .... memang bisa.

Suku - agama - ras - antar golongan, tidak salah dan tak dosa serta bukan malapetaka. Itu sudah menjadi jalan hidup dan kehidupan serta takdir diri umat manusia. Seseorang tak bisa memilih terlahir di luar batas-batas SARA yang telah melekat pada orang tuanya. Itu adalah realita, yang harus diterima, tanpa protes diri.

SARA akan menjadi sesuatu yang tak bisa diterima, dibiarkan, menakutkan, memecah, menghancurkan, merusak, jika telah menjadi ... sentimen SARA.

Sentimen SARA, ternyata, telah menjadi sesuatu paling gampang digunakan oleh orang-orang yang otaknya merusak keteraturan sosial - merusak kemanusiaan - merusak damai dan perdamaian - merusak persaudaraan - dan aneka rusak serta kerusakan lainnya.

Mengapa sosok-sosok tersebut ada di Nusantara!? Bukankah, sejak lama (telah) ada dan tercipta hubungan damai dan harmonis antar (dan antara) umat beragama di Nusantara!? Mengapa kini (di sana - sini) menjadi (dan pada banyak tempat sering muncul) disharmoni - intoleran - penuh ketidaknyamanan!?

Ketika menelusuri semuanya itu, ternyata jawabanya ada pada Pemerintah RI. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa ulah pemerintahinilah, yang kini sikon keberagamaan yang miring tersebut merajalela di Nusantara. Mari kita melihat jauh ke belakang :

Pada era lalu, tiba-tiba ada SKB MENTERI yang (katanya) mengatur (sebelum) pendirian rumah ibadah; dan SKB ini lebih tertuju kepada pembangunan bukan mesjid (pembangunan Mesjid tak perlu memperhatikan SKB itu). SKB ini, secara jujur, bukan untuk rakyat (yang berbeda agama) bisa menerima pembangunan rumah ibadah di wilayah tertentu, melainkan terbuka atau MEMBUKA peluang agar rakyat menolak (tidak memberi izin) pendirian rumah ibadah.  aneh bukan … !?

Pada era yang lalu, ada yayasan … Amal Bhakti  …, yang dananya dari pemotongan gaji pegawai negeri (yang beragama Islam); dengan kekuatan-kekuasaan yang ada, yayasan ini membangun mesjid di mana-mana (dan bisa jadi, walau tanpa imb atau izin warga setempat, tak ada satu pun berani menolak; jika berani menolak, maka akan diciduk karena melawan pemerintah dan dituduh intoleran). Entah model ini masih terjadi atau tidak!?

Kemudian, juga sejak masa lalu sampai kini, di banyak kota, tiba-tiba muncul apa yang disebut mesjid negara, mesjid pemerintah, mesjid agung, mesjid kota, serta biasanya berdekatan dengan pusat pemerintahan, dan seterusnya; (dan tidak ada satu pun di negeri ini bernama (gedung) gereja negara, pura negara, vihara negara, dan lain sebagainya); bermunculan juga mesjid-mesjid di Kampus PT Negeri, kompleks tentara, dan lain sebagainya, seakan di negeri hanya ada satu agama.

Dan juga, yang namanya Departemen/kementerian Agama, sejak lama telah muncul lelucon sinis terhadapnya, sebagai Departemen Agama Islam. Juga ada MUI; MUI yang dibentuk oleh pemerintah sebagai salah satu alat untuk membimbing umat, belakangan ini,  malah sebagai corong haram - halal pada/untuk segala bidang; bahkan ucapkan hari raya (yang nota bene hanya ucapan sosial) pun, adalah sesuatu yang haram.

Dan yang paling menyenangkan (buat ku) adalah Institusi Pemerintah (yang terkait) memberi izin berdirinya ormas keagamaan yang radikal - rasis - intoleran - bahkan anti negara. Ormas-ormas ini sangat jelas dan terang-terang menunjukan wajah brutal - wajah kekerasan - wajah intoleran - wajah anti negara - wajah diskrimanis - dan wajah tak bersahabat dengan pemeluk agama. Melalui/dari ormas-ormas ini muncul mereka yang telah menjadi pasukan berani mati, yang bukan membela negara tapi berwajah teroris (bisa jadi, ada pusdiklat teroris di negeri in).

Dan lagi, dalam pengambilan keputusan politik - kebijakan pembangunan - dan lain-lain, pemerintah lebih mementingkan dan berdasar sentimn SARA; ini, semakin membuat tidak ada pemerataan (kemajuan) pembangunan. Juga menghasilkan stigma bahawa pemerintah telah melakukan diskriminasi dan marginalisasi terhadap agama dan umat beragama.  Akibatnya, tidak salah jika di sana-sini (terutama di Wilayah Timur Indonesia) muncul gerakan anti NKRI. Pada diri gerakan-gerakan itu, pemerintah adalah (identik dengan) Islam, dan Islam itu intoleran, radikal, dan tak bersahabat, …  oleh sebab itu perlu melepaskan diri dari NKRI.

Dari situ, sangat jelas bahwa PEMERINTAH RI (dhi. intitusi pemberi izin, Kementerian AGAMA, SOSIAL, KUHANKAM, dan yang terkait) yang PALING BERTANGGUNGJAWAB terhadap GERAKAN-KEGIATAN yang merusak - mempermalukan AGAMA (yang dilakukan) oleh ORMAS-ORMAS RADIKAL tersebut. Pemerintah telah memberi izin untuk para perusak tersebut berdiri dan ada di Negeri ini; dan kadangkala membiarkan mereka berulah.

Walau ada protes - usulan - tekanan dari sana - sini, agar pemerintah membubarkan mereka, tetapi (agaknya) mereka yang berkuasa itu  tak punya telinga dan mata. Protes boleh ada, tapi tetap saja ada PEMBIARAN terhadap kelakuan para makhluk yang permalukan RI tersebut.

LIHATLAH, ulah dan karya yang menakutkan, terjadi di Madura, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sekitar Jabodetabek, Sulawesi, Sumatera, dan daerah-daerah lain, secara merata, pelan tapi pasti … dengan bantuanmedia online, media massa, media elektroni, dan lain-lain, segala bentuk kekerasan fisik - kekerasan psikhologis - kekerasan kata-kata terpancar jauh sehingga berbagai penjuru dunia mengetahui. Orang Indonesia (dan juga warga dunia) menjadi tahu dan kelakuan dan tindakan-tindakan yang merusak serta mempermalukan Indonesia, dari bangsa yang ramah menjadi bangsa yang marah. Dan dampak - ekses - akibat dari ulah yang mempermalukan serta merusak tersebut, banyak orang (terutama mereka yang di akar rumput) di/pada daerah-daerah yang tertentu, memandang - melihat - menilai banyak orang di Nusantara sebagai manusia-manusia yang menakutkan - radikal - intoleran - tidak bersahabat - serta jauh dari norma-norma  keagamaan atau yang biasa ada pada umat beragama. KINI, tergantung pemerintah, dan memang itu gaya politik Indonesia (gaya yang tak mau ada yang kuat dan besar, selain kelompok yang memerinta dan berkuasa), dengan sikon seperti ini, maka Islam akan menjadi semakin rusak di mata masyarakat  Indonesia dan dunia. Keseluruhan yang ada di Indonesia  (elitenya, presidennya, menterinya, pemerintahnya, politiknya, politisinya, penguasanya, parpolnya, polisinya, tentaranya, semuanya) perlu berubah dan perubahan itu harus terjadi sekarang dan dratis.  Berubah untuk menjadikan INDONESIA lebih baik dan bertambah baik; bertambah baik untuk semua tanpa ada sekat-sekat SARA. Pemerintah juga harus menghentikan gaya politik yang membuat-tercipta kaum marginal (karena agama) di Nusantara13435306281366980106

KU MENGHAPUS TANGGAPAN DENGAN CIRI-CIRI KOMENTAR SAMPAH

  1. vulgar, porno, seksualitas dan pelecehan seksual
  2. ancaman, benci, kebencian, permusuhan
  3. makian - caci maki seseorang maupun kelompok
  4. sentimen sara, rasis, rasiali, diskriminasi, dan sejenisnya
  5. menyerang individu
  6. melenceng jauh dari topik yang dibahas
  7. komentar spam, isi komentar yang sama dan berulang-ulang pada/di satu tulisan - artikel - lapak
KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?