PILIHAN

Dia Bukan Kartini

21 April 2017 10:43:45 Diperbarui: 21 April 2017 10:58:46 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Dia Bukan Kartini
(Dari kiri: Fajar, Fatur, Bunda)

Pendar matahari pagi membias. Cahayanya merangsek masuk melalui kaca jendela kamar. Rupanya pagi tak lupa janjinya. Ia kembali datang menyapa semesta, meski sedikit tergopoh-gopoh. Ah ... kantuk ini masih enggan melepasku. Mengapa datang terburu-buru?

Sebuah aroma khas menggodaku, serupa bisikan untuk segera berucap selamat tinggal pada bantal dan selimut, juga pada rasa ngantuk.  Ya ... itu aroma kopi hitam yang telah terhidang di meja. Kusambar ponsel yang tergeletak disampingku.

“Selamat Hari Kartini,” sebuah pesan menyasar layar ponselku.

“Oh ... Hari Kartini rupanya,” batinku.

Siapa Kartini?

Menurut catatan sejarah, ia bernama lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiingrat. Lahir di Mayong, Jepara, Jawa Tengah, pada 21 April 1879 silam. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara kala itu. Kartini adalah keturunan ningrat. Beliau wafat pada 17 September 1904 di Rembang.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat menjadi Bupati pada usia 25 tahun. Pangeran Ario dikenal sebagai bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya.

Di usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Disinilah Kartini belajar Bahasa Belanda. Tapi, setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah. Meski berkeinginan melanjutkan sekolah, apa daya ia tak dapat izin dari orang tuanya. Sebagai seorang gadis, Kartini harus menjalani masa pingitan hingga sampai waktunya untuk menikah. Ini adalah tradisi yang harus dilakukan pada saat itu.

Beruntung, Kartini ada bekal sewaktu sekolah. Karena sudah bisa membaca, masa pingitan itu ia isi dengan banyak membaca koran, dan majalah Eropa. Dari sini ia tertarik dengan kemajuan berpikir perempuan Eropa.

Sebagai buah dari aktivitas membacanya, ia kemudian menemukan banyak sahabat pena yang alamatnya ditemukan dari koran dan majalah Eropa yang dibacanya. Aktivitas Kartini bertambah. Ia mulai menulis surat untuk sahabat penanya itu. Salah satunya bernama Rosa Abendanon.

Pada surat itu Kartini curhat, menumpahkan segala kepenatan pikiran. Ia ingin seperti wanita Eropa. Berpikir maju dan memiliki hak yang setara dengan kaum lelaki. Inilah yang pada akhirnya kemudian dikenal dengan perjuangan emansipasi wanita, yakni sebuah perjuangan menuntur hak kesetaraan gender.

Kartini menikah pada 12 November 1903 dengan Bupati Rembang kala itu, bernama R.M.A.A, Singgih Djojo Adhiningrat. Sayang sekali, Kartini menjadi istri ke-4.

Kontroversi soal Kartini berawal pada 2 Mei 1964. Pada tanggal yang sama Presiden Soekarno menerbitkan Kepres No. 108 Tahun 1964 tentang penetapan Kartini sebagai pahlawan nasional, dan hari lahirnya 21 April, diperingati setiap tahunnya sebagai hari besar.

Pengistimewaan Kartini terkesan pilih kasih. Sebab ada banyak pahlawan wanita lainnya yang jasa dan perjuangannya bahkan jauh melampaui Kartini. Mereka adalah Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Martha Christina Tiahahu, Rohana Kudus, dan beberapa nama lainnya. Jika Hari Kartini ada, mengapa tidak ada Hari Dewi Sartika?

Anomali Kartini

Saya tidak bermaksud untuk turut ambil peran pada debat kontroversi ini, tapi beberapa poin ini patut didiskusikan.

Pertama, bahwa Kartini berkontribusi pada kemajuan berpikir, khususnya dalam bidang kesetaraan hak gender, saya katakan ‘Iya’. Itu adalah jasa beliau, dan untuk itu kita layak berterima kasih.

Kedua, dalam perjuangannya menuntut kesetaraan gender melalui surat-suratnya, Kartini tidak berasal dari ruang sosial yang sudah mengadopsi tradisi kesetaraan gender.  Ia merupakan bagian dari kelompok yang diperjuangkan. Kartini tersentak membaca kehidupan wanita Eropa yang bebas dan merdeka. Berbeda jauh dengan keadaannya yang dipingit, dipoligami, dan dikekang. Oleh karena itu, besar kemungkinan motif utama perjuangan Kartini adalah untuk kepentingan dirinya sendiri.

Aktivitas membaca Kartini yang kemudian berkembang ke surat-suratan adalah pengisi waktu saat ia menjalani masa pingitan. Artinya, sebelum masa pingitan itu tiba ia tidak merasa gerah dengan kondisi bangsa yang terjajah.

Maksudnya, dari sudut pandang ‘memberi’ dan ‘menerima’, kisah Kartini lebih kental pada posisi keinginan untuk menerima. Tidak seperti Cut Nyak Dien dan Dewi Sartika yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk perjuangan merebut kemerdekaan. Ia meninggalkan keluarga dan zona nyamannya.

Ketiga, kepandaian Kartini menulis surat (bukan surat cinta untuk starla) yang membuat hari lahirnya dinobatkan sebagai hari besar, menurutku memang sedikit kurang fair. Kartini bisa membaca dan menulis surat karena keberuntungannya lahir dari keluarga ningrat. Dengan status ningrat itu ia memiliki kesempatan untuk sekolah.

Maksudnya adalah ketika Kartini mengunakan apa yang dia pelajari semasa kecil untuk berjuang, mestinya bernilai sama dengan pahlawan wanita lainnya. Bukankah mereka berjuang untuk kepentingan yang sama, kebebasan.

Keempat, meski sedikit agak kolot, mengagumi gaya hidup wanita Eropa yang tidak hanya merupakan bagian dari bangsa imperialis, tapi juga mengadopsi budaya liberal, bertentangan dengan spirit perjuangan ketika itu.


Dia Lebih Dari Sekadar Kartini

Tanpa mengabaikan jasa-jasa Kartini, bagiku ada dua orang wanita yang jasanya jauh melampaui Kartini. Dia lebih dari sekadar Kartini. Mereka adalah Ibuku tersayang dan Istriku tercinta.

Di tengah keterbatasan banyak hal, ibu tidak mengeluh. Ia dengan susah payah membesarkanku. Ia tak peduli dengan keadaannya, ikhlas memberikan apapun yang ia punya hanya untuk sekadar memastikan anaknya dapat tersenyum.

Memang, ia kurang pandai berkata-kata melalui surat. Tapi dengan sikapnya yang tak memikirkan apa yang akan diterima dari perjuangannya menurutku lebih dari sekadar kepandaian menulis surat. Cukup dengan melihat anaknya tumbuh besar, bisa sekolah, lalu mandiri. Hanya itu, ia sudah puas. Memang begitulah sejatinya pahlawan, lebih banyak memberi dari pada menerima.

Dia adalah pahlawanku, Ibuku tersayang, Setiawati.

Tak beda jauh dengan Ibu, sosok pahlawan wanitaku yang lahir pada 13 September 1980 silam ini juga jauh melampaui Kartini. Model perjuangannya dalam hal kesetaraan gender, ia lakukan tidak dengan cara meminta, tapi memberi.

Ia mewakafkan waktunya untuk perjuangan kesetaraan gender. Di pagi buta, ia berperan sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Menyiapkan sarapan dan segala hal yang bisa dilakukan untuk suami dan anak-anaknya. Sesaat setelah itu, ia telah siap dengan pakaian kantornya.

Ia mengabarkan pada dunia bahwa bukan hanya kaum lelaki atau para suami yang bisa mencari nafkah. Wanita pun bisa. Ini adalah perjuangan kesetaraan gender yang begitu nyata. Ia memilih model perjuangannya dengan cara ‘memberi’, bukan meminta untuk menerima seperti Kartini.

Dia adalah pahlawanku, Istriku tercinta, A. Sitti Aisyah Arifin

Terima kasih Ibuku;

Terima kasih Istriku;

Terima kasih pahlawanku;

Kalian adalah pahlawan sejati dalam hidupku;

Kalian bukan Kartini;

Kalian lebih dari sekadar Kartini.


Irwan Ali

/irwan_ali

Hanya Mencoba Hidup Dengan Wajar. Mengalir seperti air ...!!!
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana