Bukan Sekadar Mimpi atau Ilustrasi

02 April 2013 12:58:56 Dibaca :

Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Dira dengan segelas cappuccino dan Devan dengan roti bakar rasa strawberry kesukaannya. Mereka adalah dua bocah yang bersahabat. Minggu malam ini Devan sengaja datang ke rumah Dira, karena ayah dan ibunya sedang keluar. Keluarga Dira dan Devan sudah saling mengenal karena mereka sudah akrab sejak SMP.

Di luar rumah terdengar suara hujan yang terus menderas disertai halilintar yang dahsyat. Tak ada kendaraan lalu lalang seperti biasanya. Orang-orang lebih memilih untuk berteduh di dalam rumah masing-masing.

“Dir, kemarin ayahku bilang kalau aku nanti harus sampai S3. Tapi aku nggak yakin” curhat Devan dengan wajah memelas.

“Hahaha… lucu kamu”, sahut Dira spontan.

“Leh, kok malah ketawa. Aku ini lagi sedih ceritanya” sewot Devan tidak terima.

“Dev, kalau kamu nggak yakin bisa, ntar juga nggak bisa beneran tuh” tutur Dira sedikit memberikan saran.

“Emang kamu pikir dengan berfikir bisa sesuatu itu akan terwujud begitu saja? Nggak banget kan? Semua itu butuh usaha Dir”

“Ya kamu usaha dong. Tau nggak sih, kamu itu sebenarnya cerdas” saran Dira serius

“Ha?? Udah deh nggak usah bohong. Orang blo’on gini di bilang cerdas” sanggah Devan tidak terima.

“Buktinya kamu itu nggak pernah belajar. Tapi rangking sama sekali nggak pernah diatas 5, apalagi kelasmu kumpulan anak unggulan semua”

Tin….tin….tin….. suara bel mobil ayah Devan memecahkan perbincangan mereka. Segera Deva berpamitan untuk pulang. Malam semakin larut tanpa cahaya bintang seperti biasanya. Dira gadis kecil bermata sipit dan berjilbab yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Hal itu terjadi sejak Dira duduk di kelas 2 SMP hingga kelas 2 SMA ini. Ayah Dira sudah menjadi teman Tuhan beberapa tahun yang lalu. Aktivitas gadis bermata sipit ini hanya berkecimpung dengan dunia maya, blogging, menulis dan social network. Blog dengan judul “Be Professional” adalah salah satu blog yang menjadi teman keseharian Dira.

***********

Hari berganti begitu cepat, 24 jam sudah menghilang. Kini pagi datang dengan sejuta cahaya matahari yang hangat dan penuh harapan. Gadis kecil bermata sipit itu mengayuh sepedanya untuk menuju sekolah. Perjalanan yang harus ditempuh Dira untuk sampai di sekolah sekitar 1 jam. Ditelusuri jalan yang masih basah bekas hujan kemarin malam. Dira adalah siswi di SMA Negeri 45 Jogjakarta. Sekolah Dira terkenal elite dibandingkan sekolah yang lainnya.

“Dir, aku punya penelitian baru”, teriak Devan dari belakang

Dengan lagak cueknya Dira berpura-pura tidak mendengar suara Devan.

“Dirraaaa…..” panggil Devan setengah teriak

“Ada apa Dev? Meneliti dengan kamu endingnya juga nggak jadi ntar” Jawab Dira dengan santai.

Nggak, kali ini harus jadi. Kita nanti harus rapat di tempat biasa, Oke?” tutur Devan dan langsung menghilang dari pandangan mata Dira

Loh…” Gumam Dira sedikit kesal

Hari Senin kali ini terasa begitu membosankan untuk kehidupan Dira. Delapan jam pelajaran yang penuh dengan pelajaran eksak membuat otaknya begitu lelah. Mata sipitnya semakin sayu dan nampak murung tak seperti biasanya.

Lamunan Dira mulai terlukis saat dia duduk sendiri di depan ruang kelas. Dipegangnya sebuah netbook berwarna hitam. Dia teringat akan beberapa tahun yang lalu saat perekonomian keluarganya jatuh bangkrut. Sakit, sedih, dan rasa marah masih terlintas di lubuk hatinya.

“Heh sipit, sengaja lupa atau emang nggak mau bantu sih?” suara Devan bubarkan lamunan Dira

Astaghfirullah, baru ingat aku” maaf Dira akan kelupaannya

Huh!!” nada kesal yang sering dikatakan Devan

“Maaf banget Dev, sumpah tadi aku lupa”, jelas Dira

Au ah, mending aku nggak minta bantuan kamu aja. Daripada balasnya gini” sewot Devan. Dan segera meninggalkan Dira yang penuh penyesalan. Laki-laki berkacamata itu sudah sangat marah pada sahabatnya. Dia merasa sekarang Dira bukan sosok sipit yang bersemangat seperti dahulu.

“Tuhan… masalah apa lagi yang harus aku emban? Nggak pantas banget kalau aku harus jadi sahabatnya. Mungkin mulai sekarang aku harus menghindar, keadaan keluarga kita sudah tidak sepadan Devan. Keluargaku sekarang kere Dev, udah nggak pantas kalau kita harus bersahabat seperti ini. Kalau kamu tahu keadaan ini, pasti kamu malu banget” Kata Dira dalam hati menjelaskan. Hari menjelang petang. Akhirnya gadis sipit itu memutuskan untuk meninggalkan SMA Negeri 45 Jogjakarta.

*******

Malam kembali hadir ditemani bintang yang indah di langit. Di ruang tamu terlihat gadis berjilbab yang sibuk dengan netbook hitam di depannya, dialah si mata sipit Dira. Rutinitas Dira setelah belajar adalah menulis di blog, entah itu menulis cerpen, novel, atau hanya ungkapan yang tak penting untuk dikatakan. Dengan lihai tangan Dira menari-nari di atas keyboard ditemani alunan lagu-lagu Avriel Lavigne. Tanpa disadari beberapa kali handphone Dira terus bergetar yang menandakan ada telepon. Hingga 10 menit kemudian Dira tersadar dengan keadaan handphone yang ia taruh di kursi sampingnya.

“Hallo…” sapa Dira dengan ramah

“Hai Dir, ini aku Devan. Maaf tadi udah marah-marah nggak jelas ke kamu”, suara Devan menjelaskan permohonan maafnya akan kejadian tadi siang.

“Hmmm… iya nggak apa”, sahut Dira menegaskan

“Besok buat konsep untuk penelitian ya, kali ini aku yang bakal ke kelasmu. Jadi nggak usah takut lupa lagi” jawab Devan

Emmmm…. Gimana ya?? Mending niat untuk penelitian ditunda aja deh Dev. Kamu konsentrasi ke UN sama SNMPTN aja. Toh, itu lebih penting” saran Dira menjelaskan

“Emmm……” sahut Devan terdiam

“Hallo, Devan. Masih hidup kan?”, suara Dira meyakinkan.

“Benar juga sih Dir, masa depan ku lebih penting daripada penelitian konyol ini, dan aku harus bisa menjadi seorang dokter”, jawab Devan menerima saran Dira

“Ciiieh dokter nih ceritanya? Amiin deh… Ya udah aku mau blogging dulu nih” sahut Dira untuk mengakhiri

Done”, suara Devan mengakhiri percakapan.

Kembali tangan gadis sipit itu menari-nari di atas keyboard. Ditulisnya semua impian dan strategi kehidupannya kelak, semua itu tertuang di dalam proposal kehidupan. Sebuah rahasia tentang kehidupan si mata sipit tersebut.

******

Keesokan harinya di SMA Negeri 45 Jogjakarta ada agenda istighosah untuk mendo’akan kesuksesan para siswa kelas 12 dalam menjalankan UN. Sejak pukul 08.00 WIB seluruh siswa sudah mulai berbondong-bondong menuju ke masjid.

Tanpa disadari air mata Dira menetes di tengah do’a pagi itu. Ia berpikir tak perlu susah-susah mengindar dari Devan, karena 1 bulan lagi laki-laki berkacamata itu akan segera pergi jauh untuk gapai impiannya. Namun entah kenapa hati Dira begitu sesak menerima kenyataan itu. Dalam setiap sujudnya ia selalu berdo’a untuk sahabatnya tersebut, berdo’a demi kesuksesannya.

“Aku harus bisa menjadi seorang dokter” Kata-kata yang terus Dira amini ketika teringat. Ia sangat mengetahui bahwa Devan memang benar-benar ingin menjadi dokter.

“Dir… Dira…” panggil salah satu teman dari belakang

“Iy… iya… ada apa?” sahut Dira setengah tebata-bata

“Itu, anu…. De….” Kata-kata itu terputus

“De… apa?” Tanya Dira bingung

“Devan Dir, tadi dia kecelakaan saat berangkat ke sekolah. Dan sekarang ada di rumah sakit” teman Dira menjelaskan.

Innalilahi… rumah sakit mana? Ayo kita segera ke sana” kata Dira serius

“Setia Budi, Dir. Iya, ayo”

Pikiran Dira sudah melayang kemana-mana, untaian do’a terus ia panjatkan demi keselamatan sahabatnya. Kecelakaan yang dialalami Devan memang lumayan parah, telah terjadi pendarahan yang sangat parah di otaknya. Mengetahui informasi tersebut pikiran Dira semakin menjad-jadi. 1 jam perjalanan yang ia tempuh bersama seorang temannya membuahkan hasil yang kurang memuaskan, karena nyawa Devan sudah tidak bisa tertolong lagi. Sesampai di depan ruang UGD Dira duduk terkulai lemas, air mata yang penuh penyesalan terus megalir. Ia sangat tidak percaya akan kepergian Devan untuk selamanya, bukan untuk gapai impian dokternya.

“Nak, ini tadi ada pesan dari Devan. Silakan dilihat” ucap ayah Devan sambil memberikan satu lembar kertas yang bertuliskan sesuatu.

Makasih, om” jawab Dira dan segera ia baca deretan kata yang tertulis acak-acakan tersebut.

----------Sipit, aku nitip mimpi dokterku, maaf telah kejam. Aku tahu kamu ingin menjadi penulis, tapi mohon gapaikan mimpiku ini. Kamu pasti mampu menjadi seorang dokter yang sesuai mimpiku selama ini. Teruslah menjadi sahabatku yang terhebat, penuh akan keceriaan.--------------------

Devan Devana Satria

“Kata yang penuh makna dan sedikit paksaan. Semoga aku bisa Devan, dan tenanglah di sana wahai sahabatku” Kata Dira dalam hati.

******

Hari terus berganti dengan sewajarnya. Bulan terus berlalu dengan sendirinya. Dira sosok gadis sipit berjilbab yang terus tegar menjalani kehidupan dengan ibunya semata. Kehidupan yang sudah tak sama dengan beberapa tahun yang lalu, saat ayahnya msih berada di dunia bersamanya. Saat perusahaan keluarga besarnya jaya. Tapi itu semua sekarang hanya tinggal cerita, semua telah sirna. Perjuangan kehidupan Dira mulai terasa begitu berat. Ia harus benar-benar pandai menabung untuk biaya hidup ini. Untuk menggapai seluruh impiannya.

Aktivitas keseharian Dira sekarang lebih banyak untuk menulis. Hal ini dia lakukan untuk memperoleh penghasilan demi memenuhi kebutuhan. Mesikupn satu hari hanya dapat mengantongi Rp 12.000 Dira tidak putus asa untuk melakukan beberapa pekerjaan yang ia mampu.

“Sudahlah Nak, biar ibu saja yang mencari biaya hidup ini” tutus ibu Dira

Nggak Bu, Dira ini masih muda. Dan Dira nggak mau kalau masa muda ini hanya Dira gunakan untuk bersenang-senang saja” tandas Dira menjelaskan

“Tapi, nanti nilai kamu malah hancur gara-gara sibuk mencari biaya hidup”

“Nggak akan bu, insyaAllah Dira bisa membagi waktu kok. Ibu sendiri kan tahu kalau Dira nanti harus bisa jadi dokter, dan…..” kata-kata Dira terputus

“Dan… itu semua membutuhkan biaya yang sangat banyak. Iya kan?” sahut ibu Dira dengan penuh perhatian

“Iya Bu, maka dari itu Dira lebih memilih mulai merencanakan dari sekarang bagaimana langkah-langkah Dira” jawab Dira penuh keyakinan

Pagi kembali hadir dengan lintasan hangat cahya mentari yang penuh akan harapan. Kicauan burung, semilir angin menambah dahsyatnya karunia Illahi. Si mata sipit mulai menggali rizki untuk kehidupannya hari ini. Mengantarkan Koran ke setiap rumah penduduk, membantu mengantarkan gorengan ke setiap kantin sekolah SD yang berada di sekitar rumahnya. Itulah langkah-langkah Dira demi raih kesuksesannya kelak. Tak jarang ia sampai di sekolah dengan keringat yang terus bercucuran.

*******

Satu tahun sudah Dira si mata sipit mengayuh kehidupannya dengan tegar. Dan kini ia telah duduk di bangku 12 SMA. Dira selalu bilang “Ini posisi Devan satu tahun yang lalu” ke teman-teman terdekatnya. Itu semua ia rasakan saat banyaknya tugas, tryout, dan bimbingan belajar yang terus menghiasi hari-harinya. Namun dengan aktivitas yang padat seperti itu, Dira tetap bisa menulis untuk menghasilkan uang demi cita-citanya. Tak terasa sudah hampir 1 tahun Dira menjadi penghuni kelas 12 yang terletak di pojok atas SMA Negeri 45 Jogjakarta. Dan kini, tinggal 1 bulan lagi Ujian Nasional akan segera diselengggarakan. Ribuan do’a dan usaha terus Dira lakukan bersama para teman seperjuangannya. Namun, ketika H-10 menjelang pelaksanaan Ujian Nasional Dira terjatuh sakit. Dia dinyatakan terkena typus dan dokter sangat menganjurkan agar dia istrihat di rumah dengan tenang.

“Bu, apa aku akan mengulang satu tahun lagi?” tanya Dira sedih

Nggak akan sayang. Ibu selalu berdo’a untuk kesembuhan kamu” tutur ibu Dira sambil memeluknya

“Aku harus bisa jadi dokter seperti amanah Devan Bu. Dan aku akan menyembuhkan orang-orang yang tersiksa layaknya Devan saat itu” Kata Dira penuh harap

“Ibu selalu dukung kamu sayang” balas ibu Dira

Hari semakin berjalan cepat, keadaan Dira belum membaik juga. Hari-hari Dira masih terus ia gunakan untuk istirahat di dalam kamarnya. Hatinya begitu gundah memikirkan bagaimana nasib Ujian Nasionalnya kelak. Guru dan teman-teman selalu memberikan dukungan pada Dira untuk selalu positive thinking, namun Dira bukanlah sosok yang bisa tenang dengan sesuatu hal. Hingga akhirnya ia terkulai lemas sampai hari Ujian Nasional dilaksanakan. Pihak Sekolah mengizinkan Dira untuk mengikuti Ujian Nasional susulan. Meskipun demikian ia tetap tidak dapat tenang begitu saja.

********

Penantian Dira sudah bisa terjawab, karena hari ini adalah waktu pelaksanaan Ujian Nasional susulan. Segala sesuatu dan persiapan sudah ia lakukan demi kesuksesan Ujian Nasional ini. Pukul 08.00 WIB Ujian dimulai, Dira mengerjakan soal demi soal dengan teliti dan penuh percaya diri. Empat hari Ujian Nasional dilewati dengan penuh keyakinan bahwa ia pasti akan berhasil.

3 hari menuju pendaftaran SNMPT, Dira mata sipit sudah mengisi seluruh formulir pendaftaran universitas yang ia tuju. Dira sangat mendambakan Universitas Airlangga Surabaya, Fakultas Kedokteran yang di di incar sejak kepergian Devan sahabatnya. Tuhan memang Maha Adil dan Bijaksana, sehingga nama Dira Sentosa dengan puasnya dapat lulus dalam seleksi perguruan tinggi negeri tahun ini. Impian Dira tercapai, impian Devan pun juga terwujudkan.

“Dev, aku berhasil. Aku adalah calon dokter. Mimpimu sudah aku tempuh Dev” ucap Dira disamping makam sahabtanya itu.

Created: 090696

****

intan dita

/intandita

intan dita wira dwi wahyuni_I love writing_to be good writer
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?