Ikrom Zain
Ikrom Zain Hanya Guru Kelas SD

Hanya seorang Guru SD

Selanjutnya

Tutup

Hari Terakhir Ujian Sekolah

20 Mei 2017   21:34 Diperbarui: 20 Mei 2017   22:02 14 0 0

Surat tugas itu tergeletak di atas meja. Menunggu untuk saya bawa pulang. Saya mendesah pelan. Kenapa saya jadi yang keluar?

“Ini terakhir buat Bapak. Kan tahun depan Bapak sudah tak di sini. Anggap saja sebagai kenang-kenangan”.

Saya masih mengingat kata-kata Bapak Kepala Sekolah seminggu sebelumnya. Saya hanya tak mengerti, biasanya segala administrasi pelaksanaan ujian di sekolah saya yang banyak mengerjakan. Kalau saya yang tugas keluar, lantas bagaimana?

(Hari Pertama)

Saya datang beberapa menit sebelum pukul setengah tujuh pagi. Gerbang sekolah masih terbuka separuh. Saya harus membuka gerbang dengan sempurna lantaran kecilnya pintu masuk. Selepas memarkir motor, saya lalu mencari letak ruang pengawas. Tak jauh dari parkiran motor, saya menemukannya.

Suasana masih sepi. Tak ada siapapun. Hanya suara anak-anak kelas 6 yang sayup-sayup saya dengar sedang mengikuti tambahan pelajaran. Dengan rasa heran, saya lalu duduk di sebuah kursi sofa yang saya yakini itu adalah kursi tamu. Di depannya, ada sebuah kertas bertuliskan nama-nama pengawas ujian. Termasuk, nama saya.

Sepuluh menit kemudian,  saya memainkan gawai. Lalu, munculah seorang ibu separuh baya tergopoh-gopoh membawa toples berisi makanan ringan. Beliau lalu menyalami saya dan meminta maaf jika tak ada siapapun yang menemui dan menyambut saya. Saya hanya  bisa tersenyum ramah. Respon yang (cukup) diplomatis.

Tak lama kemudian, muncul tiga pengawas lain. Ah, mungkin saya yang terlalu pagi. Tapi, pengalaman di sekolah saya tahun lalu, paling tidak pukul 6 pagi, di sekolah sudah banyak yang datang. Selain anak-anak Kelas 6 tentunya.

Beberapa saat kemudian, sang kepala sekolah datang. Seorang ibu, yang saya lihat dari nomor induk pegawainya beberapa tahun lagi akan purna. Beliau lalu menyalami kami. Tanpa banyak kata, beliau membuka pengarahan kepada pengawas ujian.

Pukul setengah delapan saya bersama satu rekan pengawas dari sekolah lain masuk ruangan. Saya mendapat kejutan. Bukan karena apa, sebagian besar rambut anak-anak peserta ujian berwarna kemerah-merahan. Saya yakin, itu bekas cat rambut. Namun, saya masih menyimpan kejutan saya. Tugas besar dimulai.

Selepas membagikan LJK dan soal, saya mulai mengisi daftar absen dan identitas peserta. Lagi-lagi, saya mendapat kejutan.  Di sebuah nama, tertera tahun kelahiran sang anak yang bagi saya tak lazim. Tahun ini, siswa yang mengikuti ujian, rata-rata berangka kelahiran tahun 2004 dan 2005. Sang anak memiliki tahun kelahiran 2000. Saya mengernyitkan dahi. Berarti, 17 tahun. Sontak saya melihat foto peserta dan melihat sang anak.

Benar, seorang remaja laki-laki asyik duduk di bangku belakang. Asyik memberi tanda silang pada LJK. Memang, sepintas tak ada yang salah. Namun, melihat ukuran tubuhnya, saya menemukan perbedaan jauh dengan teman-temannya.

Sudah esema kan harusnya? Batin saya. Tapi, saya tak mau memikirkan lagi. Yang penting, ujian bisa berjalan lancar.

Hari kedua, ketiga, dan keempat

Saya masih bosan dengan dua jam tanpa melakukan apapun. Kadang, saya berkeliling kelas. Melihat gerak-gerik mereka yang sepertinya aman-aman saja. Selepas dua jam, pekerjaan mengurutkan LJK pun dimulai. Selepas LJK kembali tersegel, saya segera memberikan kepada Ibu Kepala Sekolah.

Di hari keempat, sang ibu kepala sekolah mulai bercerita kepada kami tentang sang anak yang menjadi misteri. Sang anak yang memiliki inisial A, memang mengalami masalah yang cukup pelik. Sang ayah, pernah tertimpa kasus pencurian yang sebenarnya bukan murni kesalahannya. Kebetulan, sang ayah bekerja sebagai tukang rombeng (tukang pengumpul barang-barang bekas). Suatu ketika, sang ayah mendapat sebuah barang besi rongsokan dengan harga yang lumayan.

Naas, ternyata barang tersebut adalah bekas hasil curanmor. Sang ayah terkena pasal pencurian sebagai penadah dan harus diganjar kurungan penjara selama beberapa bulan. Mulai itulah, si A menjadi tidak lagi terurus karena ibunya juga bingung dengan kasus yang menimpa.

Si A lalu bergabung dengan komunitas punk. Mengamen dan melakukan kegiatan negatif lain.  Jarang masuk sekolah karena malu, hingga tak naik kelas. Pihak sekolah masih mempertahankan si A lantaran bisa dibilang memiliki potensi akademik yang cukup baik. Hingga tahun ini, dengan bimbingan yang cukup intensif, si A bisa mengikuti ujian.

Hari Kelima

Baru saja diceritakan hari sebelumnya, Si A tak datang hingga beberapa menit sebelum bel tanda ujian dimulai. Guru Kelas 6 panik. Beliau meminta izin untuk menjemput A di rumahnya. Sang kepala sekolah meminta kami untuk bersiap jikalau kondisi terburuk harus mengawasi si A di rumahnya. Pihak sekolah hanya ingin si A bisa menyelesaikan pendidikan dasarnya. Tidak tertunda lagi.

Untunglah, si A muncul selepas bel berbunyi. Rupanya, keterlambatan si A lantaran ia tak memiliki bawahan baju pramuka. Entah ke mana, sebagai gantinya, ia memakai bawahan merah. Kombinasi seragam yang aneh karena ia memakai atasan pramuka lengkap dengan hasduk merah putih. Tak apa, yang penting si A bisa mengikuti ujian terakhir.

Bel tanda mengerjakan soal usai. Kami segera mengurutkan LJK lagi dan menyegelnya. Memberikannya kepada sang kepala sekolah. Di akhir pertemuan ini, beliau terus memohon maklum atas kekurangan sekolahnya. Beliau tak bisa berbuat banyak lantaran sekolahnya cukup miris keadaanya. Penjelasan yang saya amini dalam hati ketika menengok plafon yang cukup mengerikan, kamar mandi siswa yang jorok, dan kelas-kelas yang kusam. Tapi, saya maklum. Satu-satunya dana dari sekolah adalah dana BOS. Apesnya, tahun ini, dana BOS tak kunjung cair.

Selepas menerima nasi kotak kenang-kenangan terakhir dari sekolah yang saya awasi, saya bergegas pulang. Memacu motor keluar dari gang sekolah tersebut. Tak berselang lama, saya melihat keceriaan anak-anak sekolah sebelah. Sekolah negeri favorit yang selalu bersaing dengan sekolah saya (yang juga favorit). Memiliki fasilitas lengkap dan aneka prestasi yang layak dibanggakan.  Tak lama juga, mata saya memandang sebuah pusat perbelanjaan maha besar. Bersanding dengan aneka tempat hiburan, restauran, hingga aneka spanduk hiburan bertebaran di jalan.

Saya hanya bisa menatap nanar dan memendam dalam hati, kenapa kasus seperti si A bisa terjadi. Di sebuah sekolah kecil yang seperti terabaikan. Padahal, sekolah ini berdiri di sebuah kota yang katanya kota pendidikan.

Sekian, mohon maaf jika ada kesalahan. Salam.