Ika Septi
Ika Septi lainnya

penyuka musik, buku, film dan kerajinan tangan.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan highlight

Megadeth: Sweet Revenge

20 Maret 2017   16:22 Diperbarui: 20 Maret 2017   17:13 116 9 3
Megadeth: Sweet Revenge
Megadeth di ajang grammy awards ke 59. sumber : beritagar

Akhirnya pecah juga jerawatnya Dave Mustaine, setelah melewati empat dekade yang sibuk dengan 15 album studio, di usianya yang ke 55 tahun, piala penghargaan tertinggi di bidang musik, Grammy Awards pun dapat ia genggam bersama seluruh personil bandnya, Megadeth. Konsistensi dan kerja keras, itulah yang selalu di lakoni oleh salah satu band pionir trash metal yang berdiri sejak tahun 1983 di Los Angeles, California itu.

Dystopia-lah yang telah membawa Dave Mustaine, David Ellefson, Kiko Loureiro, dan Chris Adler yang selanjutnya digantikan oleh drummer asal Belgia Dirk Verbeuren dapat berpuas diri menyandang gelar The Best Metal Performance di peringatan Grammy Awards ke 59 bulan Februari 2017 lalu setelah 11 kali perjalanan mereka terhenti hanya sampai di nominasi.

Dystopia adalah sebuah track merangkap judul album yang rilis pada bulan Januari 2016 silam dari band yang merupakan bagian dari The Big Four of Trash Metal bersama Metallica, Antrax, dan Slayer itu. Tangan dingin Mustaine telah membuat album yang covernya menampilkan perubahan bentuk maskot mereka, Vic Rattlehead menjadi semacam cyborg itu menjadi album yang layak untuk dinikmati oleh para pecinta musik  heavy dan trash metal tentunya.

Mengikuti perjalanan Megadeth dari awal terbentuk sampai sekarang adalah hal yang sangat menarik. Band yang tidak tertandingi prestasinya dalam hal gonta ganti line up itu terbentuk dari sebuah rasa dendam kesumat seorang Mustaine kepada Metallica, band dimana ia bernaung sebelumnya. Seperti diketahui pentolan Metallica, James Hetfield dan Lars Ulrich telah mendepak Mustaine karena masalah klasik yang banyak merundung para musisi rock, yaitu alkohol dan obat-obatan dengan bumbu perselisihan personal tanpa ada kesempatan kedua. Mustaine yang sedikitnya telah menyumbangkan buah pikirannya yaitu masing-masing empat lagu di album Kill em All, salah satunya Mechanix yang menjelma menjadi The Four Horsemen dan dua lagu di album Ride the Lightning itu merasa tersakiti. Diantara keperihan hatinya pemilik nama lengkap David Scott Mustaine itu pun langsung membentuk band baru bernama Fallen Angels.

Kemistri adalah hal yang dibutuhkan demi terbentuknya sebuah band yang solid namun hal itu rupanya tidak ditemukan oleh pemegang sabuk hitam Taekwondo dan Ukidokan Karate itu di band barunya. Pria yang merupakan duta besar World Taekwondo Federations itu pun lalu membubarkan band yang usianya baru seumur jagung. Sampai suatu hari secara tak sengaja ia di pertemukan dengan dua teman satu apartemennya yaitu David Ellefson dan Greg Handevidt yang selanjutnya membentuk Megadeth dengan mengikut sertakan Dijon Carruthers pada drum.

Album demi album di rilis diantara tambal sulam personil. Album debutan mereka adalah Killing is My Bussines ... And Business is Good, rilis pada tahun 1985 secara independen dan mendapatkan sambutan hangat dari para pecinta musik metal. Sedangkan album pertama mereka yang dinaungi label besar Capitol Records adalah Peace Sells ... But Who's Buying? Yang di rilis tahun 1986, diikuti dengan album berjudul So Far So Good... So What?. 

Pada tahun 1990 album yang diganjar sertifikat platinum bertajuk Rust in Peace keluar diikuti dengan album-album berkelas platinum lainnya yaitu Countdown to Extinction, Youthanasia dan Cryptic Writings. Namun keberuntungan rupanya berhenti menyapa mereka karena di tahun 1998 dimana album mereka yang berjudul Risk gagal di pasaran. Kegagalan tidaklah membuat band yang lirik lagu-lagunya di dominasi dengan tema sosial, politik, kematian, perang, dan agama itu berhenti berkarya karena tiga tahun setelahnya mereka kembali merilis album bertajuk The World Needs a Hero. 

Di tahun selanjutnya sang frontman harus membekukan bandnya karena masalah penyakit yang tengah menderanya ditambah dengan hengkangnya sang bassist Ellefson seiring dengan memejahijaukan Mustaine dengan tuntutan ganti rugi sebesar 18,5 juta dollar atas masalah pembagian royalti yang tak berimbang. Hal itu  membuat tiga album Megadeth selanjutnya yaitu The System has Failed, United Abominations, dan Endgame di rilis tanpa campur tangan Ellefson yang lebih memilih sibuk dengan band barunya F5 yang ia dirikan bersama mantan personil Megadeth lainnya Jimmy DeGrasso.

Namun ada ungkapan bahwa jodoh tak kan lari kemana. Setelah bertahun-tahun pergi dari band yang membesarkannya sang bassist pun akhirnya kembali bergabung dengan Megadeth untuk album Thirteen, Super Collide dan tentu saja Dystopia. Bagaimana pun ikatan persahabatan yang telah mereka bangun sejak puluhan tahun lalu itu tidak layak hancur karena masalah finansial semata. 

Kesuksesan Megadeth menjadi band thrash metal multiplatinum adalah salah satu pembalasan dendam yang manis bagi Mustaine.  Betapa tidak bertahun-tahun lamanya, pria yang sering berseteru dengan personil band lain diantaranya dengan Suicidal Tendensis, Slayer dan Panthera itu  menyimpan rasa perih hati karena dicampakan Hetfield dan Ulrich walaupun faktanya perselisihan itu telah berakhir dengan damai, terbukti mereka kerap berkolaborasi dalam satu panggung.  

Namun tidak hanya sampai disitu karena pria yang berada di peringkat 19 dari 100 gitaris heavy metal terbaik sepanjang masa versi Guitar World Magazine itu pun akhirnya mendapatkan kemenangan lain yang juga sama manisnya. Betapa tidak, Mustaine yang kerap menyandang gitar BC Rich, Jackson dan Flying V itu akhirnya dapat tersenyum bahagia dengan memenangi Grammy Awards yang penyerahannya di latar belakangi dengan lagu milik Metallica, Master of Puppets yang menurut beberapa metalheads hal ini adalah sebuah kekurangajaran dari penyelanggara Grammy.  Selain itu Mustaine pun tercatat menduduki peringkat pertama 100 gitaris metal terbaik versi Joel Mc Iver, jauh meninggalkan Kirk Hammet, gitaris penggantinya di Metallica yang harus cukup puas berada di peringkat 5.

Dari kisah perjalanan karir Mustaine dan Megadeth-nya ini dapat dikatakan bahwa gumpalan rasa dendam bila di olah dengan baik demi suatu pencapaian dalam arti positif akan menghasilkan sebuah hal yang maha dahsyat.

Nah, bagi teman-teman yang rindu menikmati permainan cepat nan berat ala Mustaine dan kawan-kawan seperti di nomor Hangar 18 atau Tornado, tanggal 7 Mei nanti, mereka akan tampil di acara tahunan Hammersonic yang akan di helat di Jakarta.  

Sekian.