PILIHAN

6 Fakta tentang Atmaji Sapto Anggoro menjadi Pengusaha Media

21 April 2017 19:50:40 Diperbarui: 21 April 2017 23:23:40 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
6 Fakta tentang Atmaji Sapto Anggoro menjadi Pengusaha Media
Atmaji Sapto Anggoro. (Foto: istimewa)

Menjadi pengusaha media sepertinya merupakan hal yang menarik untuk dilirik. Apalagi dengan perkembangan teknologi informasi saat ini yang banyak digerakkan lewat media sosial, membuat media informasi menjadi peluang yang menjanjikan jika ditekuni secara serius. Jika pernah tahu media tirto.id atau merdeka.com yang terkadang sering di-reshare oleh para netizen, ada nama Atmaji Sapto Anggoro atau Sapto sebagai sosok yang berperan di belakangnya.

Perjalanan pria kelahiran Jombang pada tanggal 4 Oktober 1966 tersebut di bisnis media sendiri sudah dimuai sejak tahun 80-an. Ada beberapa hal positif yang bisa kita pelajari dari sosok Sapto dalam perannya sebagai pengusaha media.

1. Memulai kerja keras sejak masa kuliah

Sebetulnya tujuan Sapto selepas SMA di tahun 1984 adalah masuk Akpol. Akan tetapi karena tidak diterima, ia lalu sekolah wartawan di Stikosa-AWS Surabaya. Sembari sekolah, di tahun 1986, Sapto menjadi tukang cuci cetak foto BW ukuran besar khusus untuk foto ‘almarhum’ yang usahanya berada di pinggir jalan.

2. Melihat sesuatu secara visioner

Di tahun 1987, muncul teknologi baru dalam bidang cuci cetak foto yang cukup satu jam saja pengerjaannya. Hal ini membuat Sapto berpikir ulang. Dalam benaknya, pekerjaannya saat itu tidak menjanjikan karena bisa tergerus zaman kemajuan teknologi mesin.

Ia pun memilih mengakhiri profesinya meski saat itu ia sudah ahli di bidang cuci cetak foto.

3. Kreatif dan bertindak dengan strategi

Setelah melepas profesi cuci cetak foto dan sempat bingung tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Sapto berkeinginan menjadi penulis. Dalam bayangannya, penulis merupakan profesi dengan skill yang tak tergantikan. Ia lalu melamar menjadi wartawan di Surabaya Pos. Saat itu ada posisi kosong di bagian peliputan olahraga.

Sementara itu, hampir 50 persen teman sekampusnya juga mengirimkan lamaran ke sana. Dan Sapto terpikir bahwa siapun yang melamar menjadi wartawan, bisa jadi belum tentu bisa menulis. Karena itu dalam surat lamarannya ke Surabaya Post, Sapto menyertakan contoh tulisannya.

Kreativitas dan strategi Sapto memang tidak diajarkan di sekolah. Namun hal penting itulah yang membuat Sapto langsung dipanggil kerja dan bahkan tulisannya langsung dimuat. Modal mental ini pun Sapto gunakan saat ia harus menguasai dunia periklanan di detik.com. Meski ia tidak menguasainya, namun Sapto terus mencari cara dan strategi agar perikalan detik.com sukses.

4. Kemampuan menulis terasah dari banyak media

Kiprah Sapto dalam dunia jurnalistik banyak terasah dari beberapa media. Di Surabaya Post sendiri, Sapto sudah bisa mengedit setelah satu setengah tahun bekerja di media tersebut. Lepas dari sana, di tahun 1990 Sapto juga sempat berkiprah di surat kabar Berita Buana Jakarta selama setahun.

Di tahun 1993, Sapto pindah ke Republika. Di media ini, posisi Sapto sampai di tingkat koordinator liputan. Setelah itu ia pun ikut membidani detik.com pada tahun 1998. Pertimbangannya adalah karena masa depan media ada dalam internet. Di sana, posisi karir Sapto diawali sebagai penulis yang terus merangkak ke jenjang koordinator liputan, sampai wakil pimpinan redaksi.

Saat detik.com mendapat invesatasi dari Hongkong di tahun 1999 senilai 24 milyar, karir Sapto makin melesat. Ia mendapat tugas mencari banyak wartawan untuk detik.com.

5. Berani keluar dari zona nyaman dan berani belajar hal baru

Saat meloncat di setiap batu karirnya, bisa dibilang Sapto kerap melepaskan zona nyaman yang telah ia miliki. Misalnya saat ia telah ahli di bidang cuci cetak foto dan banting setir ke bidang jurnalistik. Demikian juga saat ia berpindah dari media Republika ke detik.com. Bahkan di detik.com, Sapto menerima tantangan di bidang periklanan. Meskipun saat itu ia tidak memiliki dasar pemasaran secara offline maupun online, tapi ia mau belajar untuk menguasai karirnya sebagai Marketing Sales Online.

Baginya, dunia periklanan adalah tantangan yang membuat ia harus membuktikan diri kepada tim dan juniornya.

Lepas dari Marketing-Sales, Sapto sempat memegang posisi lain di detik.com yaitu di bagian Produk Development, hingga Direktur Operasional. Dan setelah berada di titik karir direktur detik.com, Sapto malah melepaskan posisi tersebut ketika detik.com dibeli oleh CT-corp tahun 2011. Selanjutnya Sapto mencoba peruntungan di bisnis kliping digital. Ia mendirikan PT Binokular Media Monitoring and Measurement yang masih eksis sampai sekarang.

Tak sampai di situ, karir Sapto terus berlanjut dengan mengambil peran dalam membidani merdeka.com di tahun 2012. Sebagai partner strategis, ia mampu membawa merdeka.com yang merupakan grup Grup Kapan Lagi Network berada di peringkat tiga besar di Indonesia.

6. Berbagi ilmu tanpa dibayar

Kiprah Sapto terus berlanjut dengan membangun Tirto.id pada tahun 2016 dengan menggarap News Analysis Base on Data dan Setimen. Sapto juga membuat Padepokan ASA yang merupakan tempat berbagi untuk mereka yang memiliki keahlian secara terbuka. Tanpa dibayar, sesuai dengan tagline Padepokan ASA yaitu house of sharing and incubation.

Sejak 2015 hingga sekarang Padepokan ASA yang berada di Wedomartani Jogjakarta ini sudah memiliki banyak sekali program.

Atmaji Sapto Anggoro. (*Foto: istimewa)
Atmaji Sapto Anggoro. (*Foto: istimewa)

Kiprah Sapto dalam dunia media juga banyak mengambil peran dalam beberapa asosiasi. Misalnya pada tahun 2009 hingga 2012, ia pernah menjadi Sekjen IMOCA yaitu sebuah asosiasi konten mobile Indonesia.

Sedangkan di tahun 2012 hingga 2015, Sapto juga pernah memegang posisi Sekjen APJII. Ini merupakan asosiasi ISP Indonesia seperti UII Net, Biznet, dan lain-lain.

Hingga kini Sapto sudah menulis dua buku yaitu yang berjudul ‘Legenda Media Online (detikcom)’ yang diterbitkan Penerbit Mocopat tahun 2011, dan ‘Mantra Justru’ dengan pengantar Wapres Jusuf Kalla diterbitkan Penerbit Elex Media Komputindo tahun 2015.

Kesuksesan Sapto sepertinya tak lepas dari keyakinannya yang sesuai dengan kata-kata Steve Jobs. Bahwa hidup adalah sesuatu tentang kecerdasan berpikir. Bukan perkara nasib semata.

Itulah enam hal yang bisa dipelajari dari sosok Atmaji Sapto Anggoro dalam bisnis media.

Ika Maya Susanti

/ikamayasusanti

TERVERIFIKASI

Saya seorang penulis yang saat ini tinggal di Lamongan, Jawa Timur.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana