HIGHLIGHT

Burung Pipit yang Belajar Terbang

17 Maret 2013 11:28:04 Dibaca :
Burung Pipit yang Belajar Terbang
-

Alkisah, dahulu kala hiduplah seekor burung pipit. Burung pipit kecil yang tidak mau terbang. Benci terbang. Tidak mau terbang. Burung pipit yang aneh. Begitu kata burung-burung yang lainnya.Dan satu lagi keanehan burung pipit ini. Dia benci burung elang. Konon burung elanglah yang membuat dia tidak ingin terbang. Burung elang telah menghancurkan hatinya. Mengapa? Entahlah. Kemudian datanglah seekor bebek. Bebek yang jelek. Bebek yang tidak bisa terbang. Tentu saja bebek tidak bisa terbang. Mulanya bebek itu tidak peduli pada burung pipit ini. Mau belajar terbang atau tidak si burung pipit, bukan urusan sang bebek.Ditambah lagi, si burung pipit kadang-kadang mengejek sang bebek ini. Bebek yang jelek. Bebek yang buruk rupa. Dan bebek ini tidak menggubris apa yang dikatakan burung pipit.Keadaan mulai berubah ketika ada perlombaan terbang. Perlombaan terbang sesama burung. Bukan perlombaan terbang sesama bebek. Ingat, bebek tidak bisa terbang. Burung yang bisa terbang.Burung pipit ingin ikut lomba terbang. Ingin dapat hadiahnya. Hadiahnya terbang bersama burung elang. Ya, terbang bersama burung elang. Burung yang dibenci burung pipit ini.Burung pipit mulai belajar terbang. Dia mulai melompat-lompat. Mulai mengepakkan sayap. Namun tetap burung pipit ini tidak bisa terbang. Sang bebek pernah melihat burung pipit ini berlatih terbang. Berlatih terbang di persawahan yang sunyi. Melihat si burung pipit jatuh dalam lumpur di sana karena gagal terbang.Kemudian, sang bebek mulai mendekati si burung pipit. Mau mengajari burung pipit ini terbang. Burung pipit ini hanya mengangguk ketika sang bebek mengatakan bahwa ia ingin mengajarinya terbang.Menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, sang bebek mengajari burung pipit ini terbang. Namun tetap burung pipit ini tidak bisa terbang. Dan entahlah, sudah berapa kali perlombaan terbang sudah diadakan terlewati diikuti burung pipit ini. Yang jelas, burung pipit tidak pernah mengikuti satu perlombaan terbang. Karena ia tidak bisa terbang.sang bebek mulai memutar otak, bagaimana supaya si burung pipit bisa terbang. Dan akhirnya diputuskan oleh sang bebek, ia akan meninggalkan si burung pipit beberapa waktu lamanya. Kemana? Pergi ke puncak gunung tertinggi dimana si burung elang tinggal. Dengan hanya berjalan, sang bebek mencari tempat tinggal burung elang. Dan akhirnya ia menemukannya. Menemukan sang burung elang sedang menangis. Katanya, ia merindukan burung pipit. Katanya, ia mencintai burung pipit. Sang bebek bingung apa hubungan antara si burung pipit dengan si burung elang. Keluargakah? Ayah dan anakkah? Burung elang pun datang menuju rumah burung pipit. Bukan sambutan gegap gempita yang ia dapatkan. Tapi kemarahan sepasukan burung pipit besar. Burung pipit besar yang tidak pernah mengajari si burung pipit kecil terbang.Sang bebek terkena akibatnya juga. Burung-burung pipit besar mematuknya. Mematuk tubuhnya hingga terkoyak. Mematahkan hati sang bebek. Sang bebek terluka. "Jangan ganggu burung pipit kecil," itu kata burung-burung pipit besar. Sekali lagi, mereka burung-burung pipit besar yang tidak pernah mengajari burung pipit kecil terbang. Burung-burung pipit besar bahkan mengatakan kepada sang bebek bahwa sang bebek ini gila. Burung-burung pipit besar mempengaruhi hati si burung pipit kecil ini untuk percaya bahwa sang bebek adalah bebek gila. Bukan hanya mempengaruhi tapi mereka memaksa burung pipit ini untuk percaya.Burung pipit kecil akhirnya percaya kepada burung-burung pipit besar bahwa sang bebek itu gila. Burung pipit bahkan tidak mau bertemu dengan sang bebek. Si burung pipit kecil berharap sang bebek terpanggang api dan mati. Terdengar suatu waktu oleh sang bebek, si burung pipit mulai bisa berdamai dengan si burung elang. Burung elang membawakannya banyak buah-buahan segar dari puncak gunung ia tinggal. Buah-buahan segar itulah yang membuat pikiran burung-burung pipit besar berubah. Karena buah-buahan segar, burung-burung pipit besar menyambut si burung elang besar dengan sukacita. Dan akhirnya burung pipit ini bisa mendapat hadiah. Hadiah yang ia harapkan. Hadiah yang dulu hanya bisa didapatkan jika mengikuti lomba terbang.Ya, hadiah terbang bersama burung elang. Tapi, tunggu dulu. Burung pipit ini tidak terbang di samping burung elang. Tidak di samping, tidak di atas, di bawah, di depan atau di belakang burung elang. Burung pipit ini hinggap di punggung burung elang. Itulah mengapa burung pipit bisa terbang bersama burung elang. Lebih tepatnya diajak terbang. Karena si burung pipit kecil ini tetap tidak bisa terbang. Dan waktu pun berlalu cepat. Burung pipit masih hidup bahagia bersama burung elang. Masih mendapat perlindungan dari burung-burung pipit besar yang tidak pernah mengajari ia terbang. Hingga sekarang pun, si burung pipit tidak bisa terbang. Tidak ada yang mengajari ia terbang. Bagaimana dengan sang bebek? Ada di mana dia? Terpanggang apikah? Matikah? Tidak. Sang bebek tidak terpanggang api. Sang bebek tidak mati. Dia sedang berjalan. Entahlah kemana tujuan sang bebek. Yang jelas ia berjalan sambil menutup matanya. Paruhnya berkomat-kamit. Ia tampak sedang berdoa. Bukan tampak berdoa. Sang bebek memang berdoa. Berdoa sambil berjalan? Gilakah? Tidak. Sang bebek tidak gila. Dia sedang berdoa. Berdoa supaya si burung pipit kecil bisa terbang suatu hari nanti.

Heryanto -

/heryantospd

Mahasiswa S2 Business Management at Indonesian University of Education, Bandung
Twitter: @HeryantoSPd

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?