HIGHLIGHT

Sudah Gaharu Cendana Pula

13 Januari 2010 11:03:00 Dibaca :

Puluhan tahun berselang di sekolah dasar saya mendapat pelajaran bahasa Indonesia mengenai peribahasa dan perumpamaan. Sebagai murid tidak lain kita ‘menghapal mati’ peribahasa-peribahasa ini tanpa mengetahui sebenarnya apa benda-benda yang dijadikan perumpamaan itu. Bahkan setelah anak sayapun mempelajari proverbs yang sama,saya masih sering in the dark dengan tumbuh-tumbuhan atau binatang yang dijadikan permisalan itu. Salah satunya adalah ‘sudah gaharu cendana pula’. Kalau maknanya pasti kita semua sudah mafhum yaitu ‘sudah tahu bertanya pula’ alias pura-pura tidak tahu. Tetapi apa itu ‘gaharu’ dan ‘cendana’?

Gaharu disebut juga agarwood atau jinko adalah sejenis tanaman yang batang kayu dan akarnya mengeluarkan bau wewangian yang khas. Namun batang kayu pohon ini baru mengeluarkan bau wangi setelah dia terinfeksi sejenis jamur kayu. Apabila jamur ini menyerang tanaman ini maka dia akan mengeluarkan sejenis getah untuk menghambat dan mematikan jamur tersebut dan batang yang semula berwarna krem akan berubah menjadi coklat kehitam-hitaman. Jadi tidak semua bagian batang pohon gaharu ini berbau wangi dan kurang lebih hanya 7 persen yang terinfeksi jamur itu yang berbau wangi. Pohon gaharu ini termasuk pohon yang dilindungi karena sudah terancam punah.

Kalau gaharu tidak seluruhnya berbau wangi, maka kayu cendana memang ‘asli’ berbau wangi. Cendana yang juga disebut sandalwood ini memang termasuk golongan ‘kayu wangi’ ( fragrant woods), tetapi dia paling top diantara kelompoknya karena bau wangi kayunya bisa bertahan sampai berpuluh-puluh tahun. Cendana ini sering diambil minyaknya dan dipakai dalam industri kosmetik dengan harga yang amat tinggi.

Kita beralih ke peribahasa lain yang juga cukup dikenal yaitu ’air susu dibalas dengan air tuba’. Apa sebetulnya ’tuba’ ini dan apa kegunaannya ? Dia adalah sejenis tanaman yang disebut juga derris tergolong tanaman polong-polongan yang banyak dipakai untuk pembunuh serangga (insecticide) dan juga untuk racun ikan. Akar pohon ini bila digerus dan ditebarkan ke sungai akan menyebabkan ikan pingsan atau mati sehingga nelayan dapat mengambil tangkapannya dengan mudah. Jadi sudah bisa dibayangkan ’air susu dibalas dengan air racun’ pasti maknanya ’orang yang tidak tahu membalas budi’. Peribahasa yang indah lainnya adalah ’Bagai pungguk merindukan bulan’ dan ’Melihat pungguk di dahan, punai di tangan dilepaskan’ Pungguk dan punai adalah sejenis burung tetapi saya tidak pernah bisa membayangkan seperti apa modelnya burung-burung ini.

Pungguk yang disebut juga barn owl adalah sejenis burung hantu yang kalau sedang diam bertengger memberi kesan seperti menatapi bulan. Dia punya alias banyak sekali (kayak penjahat aja) seperti white owl,church owl,ghost owl,death owl,rat owl, monkey-faced owl dan masih banyak lagi. Sedangkan punai yang diberi nama Inggris thick billed green pigeon adalah burung yang menurut saya memang amat cantik dan hidup di daerah tropis dan sub tropis. Jadi memang tidak bisa dimengerti kalau kita ingin menukar burung punai ini dengan burung pungguk yang memberi kesan horor.

Ada perumpamaan lainnya dengan tumbuh-tumbuhan yaitu ’dunia tidak selebar daun kelor’ dan satu lagi menggambarkan kecantikan seorang gadis yang dilukiskan ’pipinya bak pauh dilayang’. Daun kelor yang disebut juga moringa dedaunannya dapat dipakai sebagai lalapan dan juga berkhasiat untuk obat-obatan. Sedangkan buah pauh yang disebut juga mangifera indica adalah sejenis mangga yang banyak tumbuh di wilayah Asia Selatan. Mungkin perumpamaan ini sesuai karena kulit buah ini halus dan berwarna semu kemerahan.

Gustaaf Kusno

/gustaafkusno

TERVERIFIKASI (BIRU)

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a beauty lover, but not a beautician; a joke lover, but not a joker ! Married with two children, currently reside in Palembang.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?