HIGHLIGHT

Pulang Kerja, Berangkat Kuliah Bawa Bayi

28 Mei 2012 19:51:57 Dibaca :
Pulang Kerja, Berangkat Kuliah Bawa Bayi
Salah satu kampus yang memberi kesempatan pekerja untuk kuliah pagi/sore/malam

Bekerja sambil kuliah pastinya menyisakan jutaan suka duka para mahasiswa bahkan para dosennya. Betapa tidak, menuntut ilmu di perguruan tinggi tidaklah sama dengan pendidikan dasar atau menengah. Ada beberapa aspek yang menjadi kelebihan universitas; lebih ilmiah, lebih mandiri, lebih kreatif, lebih mahal dan beberapa kelebihan yang lainnya. Sedangkan kesibukan pekerjaan menjadi penghalang untuk serius dalam kuliah.

Seseorang yang bekerja namun masih memiliki keinginan dan kekuatan untuk menempuh pendidikan tinggi, dituntut penuh kesadarannya dalam menyesuaikan waktu kuliah. Misalnya dengan mengambil waktu kuliah malam atau UT.

Ulasan tentang para pekerja yang kuliah berikut adalah bocoran seorang dosen mahasiswa Universitas Terbuka S1 di sebuah pelosok kota T. Salah satu warna-warninya adalah mahasiswa yang memakai sandal jepit atau bahkan membawa seorang jabang bayi!!!

***

Perlu membaca buku sebelum mengikuti kuliah

“Bukunya sudah dibaca dirumah?” Tanya Susi (nama samaran), dosen lulusan magister program UNNES Semarang.

“Beluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuum” Sorak para mahasiwa Universitas Terbuka yang rata-rata berusia sudah tak muda.

“OK, kalau begitu ada pertanyaan? Meski jengkel lantaran para mahasiswa belum membaca buku tutorial tebal itu dirumah, teman saya ini ingin mengetahui sampai dimana ketidakpahaman materi bahasa Inggris yang diajarkannya dua kali seminggu di sebuah pelosok desa.

“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak” Lagi-lagi jawaban serempak mereka membuat dongkol teman saya yang juga mengajar S1 di UNNES Semarang.

Begitulah gambaran suasana mengajar di sebuah ruangan SD yang dipinjam oleh UT setiap hari sabtu dan minggu itu. Mereka yang rata-rata berprofesi sebagai petani, pedagang, guru, ibu rumah tangga dan buruh itu hampir tidak pernah siap dalam menghadapi tutorial, kepala kosong karena buku tak sempat dibaca.

Apapun kesan perempuan beranak empat itu pada peserta didiknya yang tak sempat membaca, semangat mengajarnya tak pernah luntur. Ia digaji 1,5 juta sebulan (8 kali mengajar) ditambah Rp 800.000 untuk transport, keinginannya untuk menghidupi keluarga sebagai single parent itu menyemangati janda umuran 40-an itu dalam bersabar hati menularkan ilmu kepada mahasiswa-mahasiswi dari desa itu.

Mendengar keluh kesahnya lewat SLI seharga 0,4 Euro/menit itu membuat saya sakit perut, kebanyakan tertawa. Tapi saya kira, belum membaca buku materi sebelum kelas dimulai tak hanya di UT ini. Seingat saya, banyak mahasiswa S2 di kelas kami waktu itu juga masih jarang menyimak buku sebelum dibahas karena keterbatasan waktu (harus kerja seharian dulu baru kuliah malam, capek dan ngantuk). Bedanya adalah, pola pikir teman-teman magister waktu itu, seperti balon yang ditiup sehingga langsung bisa mengikuti materi kuliah begitu dimulai. Buku belum tersentuh ? Sudah biasa.

Berpakaian bebas rapi

Masih ada cerita kerja sambil kuliah di UT. Misalnya saja saat tiba-tiba kelas kosong, hanya beberapa orang mahasiswa saja yang hadir.

„ Loh, kok tumben pakaiannya rapi banget ?“ Perempuan yang suka humor itu menyentil segelintir mahasiswa yang chic hari itu. Biasanya mereka berpenampilan seadanya; ada yang pakai kupluk (red: pecis hitam), Blangkon (red: topi ala Jawa dari kain batik), kaos oblong dan sandal jepit!

„Oh … habis kerja lalu kuliah, kita langsung kondangan, Bu. Teman kita ada yang kawin“

„Loh, yang lain kok tidak kuliah dulu baru kondangan? „ Teman saya menyarankan agar lain kali mahasiswa hadir dulu, baru ke acara, agar tak ketinggalan materi. Jangan menganggap enteng lantaran kuliah di Universitas Terbuka yang memang agak longgar dibanding kuliah di universitas lain pada umumnya.

Apalagi sang dosen harus sekitar satu jaman naik bus umum untuk menuju pelosok desa demi mengajar mahasiswa UT tersebut. Belum lagi derita di dalam bus (keinjek kaki pedagang buah, bau ikan atau ayam dari penjual yang kulakan, bau keringat para kuli, dan masih banyak lagi suka duka di dalam bus masuk desa,). Dandanan sang dosen yang rapi, wangi dan cantik jadi luntur dalam sekejap. She needs to touch up!

„Nggak bisa, Bu, habis nyambut damel, ada yang langsung tugas katering, ada yang bantu manghayubagyo, ada yang dapat bagian nyinom … eh, ibu mau titip amplop, nggak?“ Si mahasiswa ngeles.

„Walah … gaji saja saya baru dapat kalau akhir semester kok suruh ngamplopi ….“

Hahaha, mules perut ini waktu Susi cerita ke saya. Saya membenarkan anjuran kawan baik saya ini bahwa sebaiknya para mahasiswa untuk semaksimal mungkin rajin datang untuk tutorial seminggu sekali itu. Meski bea UT itu murah, tetapi jika sering bolos, apa jadinya ilmu di kepala ? Buat apa bekerja dan uangnya dibuang untuk kuliah yang tidak ditekuni?

Soal tampil bebas rapi, sersan (serius tapi santai) pada awalnya dibahas teman saya ini karena kebanyakan berpakaian semaunya meski masih ada yang pakai seragam kantor. Namun akhirnya Susi memaklumi para mahasiwa UT di pelosok desa itu untuk boleh tampil ala kadarnya, daripada pusing sendiri.

Semoga saja, para pekerja yang nyambi kuliah di universitas lain juga menyesuaikan diri. Meski ada pepatah „Don’t judge a book by its cover„ saya masih beropini ; berpakaian itu adalah sebagian dari penghargaan diri dan juga menghargai orang lain. So, just concern on it.

Pengerjaan tugas dan persiapan ujian yang matang

Susi menjelaskan bahwa ia tak tega memberikan nilai C pada mahasiswa-mahasiswinya. Dengan kebaikan hatinya, ia ikhlas menorehkan tinta berbentuk huruf B. Selain mereka sudah bekerja keras seharian, tak tega rasanya memandangi wajah orang-orang desa itu jika diberi nilai buruk. Meskipun demikian, ia menekankan pada mereka bahwa pembuatan tugas dan persiapan tes atau ujian harus benar-benar diperhatikan.

Kalau tidak salah, banyak dosen di perguruan tinggi yang saya kenal meninggalkan tugas baik individual maupun kelompok layaknya PR demi kreativitas dan pendalaman materi yang telah diberikan. So, do it.

Patuhi peraturan

Lantaran manusia itu bermacam-macam memang perlu dibuat peraturan tertulis maupun tak tertulis dalam proses belajar mengajar. Sayangnya, hal itu belum termaktub dalam lingkup Universitas Terbuka di sebuah desa yang saya ceritakan ini.

Bagaimana rasanya menjadi seorang dosen yang melihat seorang mahasiswi datang untuk mengikuti kuliah sambil menggendong bayi ? Peserta kuliah itu bahkan wara-wiri ke kamar mandi untuk mengganti popok, sekedar menenangkan kerewelannya, bahkan menyusui !

Saya rasa mematuhi peraturan tak tertulis “Dilarang membawa bayi saat mengikuti kuliah” bisa diterima hampir semua mahasiswa. What do you think?

Susi hanya geleng-geleng kepala. Barangkali ia paham betul, si baby sitter atau siapapun yang dititipi sang jabang bayi itu tak bisa kerja 24 jam demi si mahasiswi yang telah bekerja dari pagi hingga siang tapi tetap harus berangkat kuliah sore-sore. Mungkin saja peserta kuliah itu tak tega meninggalkan sang anak dengan orang lain pada malam hari atau memang tidak ada siapapun di rumahnya yang bisa menjaga bayi, mau tak mau dibawa masuk kelas sembari kuliah ya momong bayi. Ah, ada-ada saja.

Lagi-lagi saya terbahak-bahak karena Susi bercerita suasana kuliah seperti di hutan. Suara burung mencicit, kambing mengembik dan sapi melenguh layaknya irama biasa di telinga, amat berisik. Bukankah suasana kuliah yang tenang mendukung proses belajar mengajar?

Dan tentu saja peraturan lainnya ….

***

Selain tips diatas, saya pernah mempraktekkan beberapa hal dalam menempuh kerja sambil kuliah (S1-S2) sebagai berikut ;

1. Memanfaatkan istirahat siang di kantor untuk mengerjakan tugas atau membaca buku kuliah/catatan.

2. Karena waktu yang sempit untuk kembali ke rumah, bawa keperluan kuliah, bekal makan pagi dan siang (kadang jajan), pakaian ganti dan perangkat mandi tak lupa masuk tas saya jika pergi ke kantor. I did it all in our office.

3. Mencatat keperluan kerja dan kuliah dengan rapi dalam buku agenda (sebelum punya high-tech) dan pada XDA kemudian. Mencentang yang sudah dikerjakan agar terlihat apa yang harus dituntaskan.

4. Menjalin hubungan yang harmonis dengan para dosen dan karyawan merupakan satu aspek keberhasilan dalam kerja sambil kuliah. Tak kenal maka tak sayang. Semakin sayang, informasi lebih banyak diterima.

5. Kontak yang baik dengan teman-teman sekelas demi keberhasilan mengerjakan tugas bersama (a great team work).

6. Mendengarkan dengan seksama saat dosen mengajar adalah titik terpenting. Jadi sekalipun tidak belajar sewaktu akan ujian tapi masih ingat poin-poin bahan ajaran, ujian lancar.

7. Asupan vitamin atau suplemen secukupnya demi stamina.

8. Minum air putih sebanyak-banyaknya agar tetap fresh (aktivitas bekerja dan kuliah membutuhkan cairan tubuh yang tak boleh kurang).

9. Meminta dukungan moril dan pengertian dari keluarga.

10. Tentunya … rajin berdoa. Manusia berusaha, Tuhan menentukan.

To sum up, bekerja sambil kuliah itu melelahkan sekaligus menantang. Sebaiknya tak kalah sebelum bertanding, jangan patah semangat dan semoga sukses! (G76)

Sumber: Curhatan dosen UT kota T pada hari Minggu, 27 Mei 2012 via SLI.

Gaganawati Stegmann

/gaganawati

TERVERIFIKASI (BIRU)

Wanita Indonesia di Jerman, ibu RT, VHS; menanam kebaikan saja tidak cukup, teruslah menjadi baik. Gaganawati@googlemail.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?