Cerpen

Jujur vs Mujur (Part 1)

21 April 2017   09:41 Diperbarui: 21 April 2017   09:46 139 0 0

Siang itu si Kakak yang baru kelas 3 SD pulang dari sekolah dengan kondisi pilu. Ia menangis tersedu-sedu. Air matanya tidak berhenti mengalir dengan suara sesenggukan yang mendera di dalam hatinya. Mamah yang tadinya akan menyambut kepulangan Kakak dengan senyum dan pertanyaan tentang pengalaman di sekolahnya merasa sangat bingung dengan kondisi Kakak. Tapi Mamah sadar bahwa ada yang tidak beres dengan Kakak sehingga dengan penuh kasih Mamah memeluk Kakak erat sembari menenangkannya.

‘cup cup..Kakak.. sudah ayo.. dihapus dulu air matanya. Cerita sama Mamah apa yang terjadi pada anak Mamah yang cantik ini.’

‘A..a..anu.. Maa… i..i..i..tu… Sin..sin..ta Maaa…’

Begitu menyebut nama temannya Sinta, Kakak lantas kembali menangis keras. Nampaknya ada hal besar yang sedang terjadi antara Kakak dan Sinta.

‘Iya.. ga papa.. cup..cup.. ayo sudah dulu nangisnya.. Mamah ambilkan minum dulu ya..’

Setelah beberapa saat Mamah memberikan minuman kesukaan Kakak. Kakak menjadi lebih tenang setelah meminumnya meskipun kondisinya masih sesenggukan.

‘Sudah nangisnya?’ Kakak pun mengangguk.

“anak cantik memang pinter. Sudah bisa cerita?’ kembali anggukan diberikan oleh Kakak kepada Mamah.

‘gini mah, tadi kan ulangan harian di kelas. Terus teman-teman disuruh bu guru untuk pindah-pindah tempat duduk. Bu guru yang menunjuk. Nah Sinta pas duduk di sebelah Kakak. Pas pertama-pertama ulangan semuanya diam. Tapi terus Bu Guru kan keluar sebentar ke kamar mandi, eh pas itu Sinta njawil-njawil Kakak minta contekan. Tapi ga Kakak kasih. Kan kata Mamah harus jujur. Jadi kalo ulangan ga boleh nyotek.’

‘terus Kakak bilang gitu ke sinta. Ga boleh nyontek sin. Harus jujur. Eh sinta nya malah marah. Dia terus nyontek ke temen yang lain. Kakak ga peduli. Yang penting Kakak udah mengingatkan.’

‘pas udah selesai ulangan, bu guru ngoreksi terus diumumin di kelas. Eh nilainya sinta lebih bagus dari punya Kakak. Padahal dia banyak nyonteknya mah.. makanya Kakak marah.’

‘uhm… jadi gitu ya.. sini sayang.’ Mamah mendudukkan Kakak di pangkuannya sambil berkata tenang.

‘Kakak sudah hebat sekali. Sudah melakukan ulangan dengan jujur tanpa nyontek dan ngasih contekan. Mamah bangga sama Kakak. Meskipun nilai Kakak di bawah sinta tapi Mamah lebih bangga karena Kakak ga nyontek.’

‘sayang.. jujur itu pasti mujur. Pasti untung dan membawa keberuntungan. Kalo Kakak ga dapat untungnya sekarang Kakak pasti akan dapat nanti. Tapi kalo sudah ga jujur, orang itu pasti ga mujur, mungkin sekarang aja mujurnya, tapi suatu saat nanti Allah akan menanyai ketidakjujurannya. Allah tahu kok tanpa diberitahu. Jadi Kakak ga usah sedih lagi ya.’

‘Allah tahu Maa kalo sinta tadi ga jujur?’

‘Allah pasti tahu.’

‘biar tau rasa sinta nanti. Allah kok dibohongi. Ya Ma?’

Senyum lantas tersungging di wajahnya yang ayu. Mengusir kegundahan tentang kejujuran dan kemujuran.

-----------------

Salah satu episode kehidupan yang mungkin pernah dialami oleh siapapun. Entah kita mengalaminya sebagai Kakak, sebagai sinta atau sebagai Mamah.

Yang pasti kejadian itu ada saja dalam hidup kita. Kadang kita sudah bekerja dengan sungguh-sungguh dan jujur, tapi malah kita yang kena marah atasan. Adakalanya pula kita berusaha membongkar ketidakjujuran orang lain tapi malah kita yang ditendang.

Inilah yang sering menjadi alasan untuk melakukan tindak ketidakjujuran. Orang merasa memiliki alasan kuat untuk berbohong. Entah sekedar untuk menyelamatkan diri atau memang sudah menjadi kebiasan diri. Tidak jarang kita temui alasan “ah.. ini sudan biasa terjadi.’ Atau ada pula komentar nyinyir “dasar sok suci. Padahal belum tentu dia benar.’ Cukup riskan juga sebenarnya. Tetapi setidaknya, memilki perasaan bersalah jauh lebih baik daripada tidak memilikinya. Karena orang yang sadar bahwa dia salah akan berupaya untuk memperbaiki. Sedang orang yang tidak menyadari kesalahannya akan selalu merasa benar sehingga tidak berupaya apapun untuk menjadi lebih baik.

Yang pasti adalah, jujur itu mujur. Pasti itu.. tapi kadang kemujuran itu tidak kita rasakan sekarang. Bisa saja Allah menyimpannya sebagai tabungan masa depan kita. Bisa pula Allah menghitungnya sebagai ampunan atas dosa-dosa kita sebelumnya. Tapi kejujuran pasti akan membawa keberuntungan.

Saya rasa siapapun sebenarnya memiliki pilihan untuk berbuat dan berkata jujur. Tinggal seberapa beranikah ia memilihnya. Karena Allah telah memberikan setiap manusia kesempatan untuk memilih.