HIGHLIGHT

Mencari Tanya (Catatan Ulang Tahun)

11 Januari 2012 12:53:43 Dibaca :
Mencari Tanya (Catatan Ulang Tahun)

Ini catatan sederhana pada hari ulang tahunku 2 tahun yang lalu. Aku bagikan lagi untuk semua Kompasianer yang berulang tahun hari ini, atau yang berulang tanggal, seperti Raquella yang bertambah usia sebulan hari ini. Mari... Entah sejak kapan, aku sering pamer pada beberapa sahabat, bahwa aku mempunyai rumah buku. Rumah yang mungil dan nyaman dengan 26 jenis huruf yang tidak selalu aku tata rapih, termasuk beragam tanda baca yang belum pernah aku hitung persis jumlahnya: koma, titik, seru, tanya, petik, dan seterusnya - juga tidak selalu akuĀ  letakkan di tempat yang pas bahkan lebih sering kubiarkan terserak begitu saja di bawah kolong ranjang, tercecer di lubang kloset, terselip di sela-sela tumpukan pakaian kotor, dan seterusnya. Maka ketika butir-butir huruf tak lagi cukup untuk menghitung usia, aku kelabakan lalu celingak-celinguk mencari tanda-tanda baca yang tercecer dimana-mana. Sebenarnya, aku tak perlu lama-lama mencari karena tanda-tanda baca tercecer dimana-mana di dalam rumah dan halaman rumah buku-ku yang tidak seberapa luas. Tetapi aku pilih kasih. Aku ingin memakai tanda baca yang spesial untuk penanda angka 27 usia. Maka aku mulai menyisir setiap ruang yang tak terhitung jumlahnya. Ah, rumah mungil ini rupanya punya begitu banyak ruangan di dalamnya. Tidak ketemu. Kemudian aku menuju halaman dan terbelalak sendiri melihat ceceran butir huruf dan tanda baca yang banyak dan bertumpuk-tumpuk. Ya ampun, rupanya aku makin jarang menyapu halaman-halaman buku dengan sapu baca! Dimanakah tanda baca spesial itu? Aku sapu halaman dengan sapubaca yang tersisa beberapa lidi rapuh saja. Tidak ketemu juga. Dan aku tiba-tiba menyadari bahwa aku tidak tahu tanda apa yang ingin kupilih. Aku pun duduk di satu-satunya kursi kayu tua di halaman dan mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri, tanda apa ya? Ya ampun..bukankah aku sedang bertanya? Kenapa tidak terpikir sebelumnya untuk memilih tanda TANYA? Aku pun bangun dan mulai mencari TANYA. Dimanakah ia? Kenapa begitu sulit ditemukan? Saya mulai dari awal saja, mulai dari tempat pertama yang kutelusuri sebelumnya: kolong ranjang. Tidak ada disitu. Yang ada hanya beberapa tanda KOMA yang meringkuk di sela-sela banyak tanda TITIK. Aku cari di lubang kloset. Juga tidak ada. Hanya ada beberapa huruf I yang meringkuk bersama huruf A dan T, juga sekelompok huruf S dan lima temannya yang sedang megap-megap entah kenapa. Aduh, sebenarnya masih banyak lagi ruangan yang aku telusuri tetapi aku tak punya sisa waktu yang cukup untuk menceritakannya kembali. Aku singkat saja laporan pandangan mataku : tak ada TANYA di mana-mana! Dalam lelah dan bingung, tiba-tiba ide muncul begitu saja. Aku akan tanyakan pada huruf dan tanda baca. Bukankah mereka sering bahkan selalu bersama-sama: bernyanyi, menangis, berteriak, tertawa, berdoa, bergosip ria? Mereka pasti tahu dimana TANYA bersembunyi, paling tidak salah satu dari mereka pasti tahu. Aku mulai dari si TITIK, tapi dia hanya jawab singkat, "dia duduk-duduk bersama si KOMA tadi pagi, si TANYA main gitar dan KOMA jadi solo vokalis." Aku pun berpaling pada KOMA yang asyik meringkuk, mungkin lelah bernyanyi, atau karena cuaca musim hujan sedang dingin-dinginnya. Tapi jawaban KOMA malah bikin tambah bingung, "tadi dia bilang mau ke halte busway, tapi dia tidak bilang hendak kemana, mungkin pergi menjemput kekasihnya." Hah? TANYA punya kekasih? Astaga...aku aja masih jomblo entah sejak kapan dan sampai kapan. Masih dengan pikiran yang jungkir-balik aku tetap tanyakan satu persatu pada setiap huruf dan tanda baca. Semua jawaban sama: tidak tahu! Ah, sepertinya pencarian ini sia-sia. Maka aku pun duduk termenung lelah. AKu pun menyadari bahwa rumah buku-ku makin jarang kurawat, halamannya makin jarang aku sapu, huruf dan tanda baca makin jarang ditata rapih. Mungkin TANYA tercecer di salah satu sudut ruang hati, atau di bawah kolong ranjang mimpi, atau di atas meja pikir, entahlah. Sudahlah, aku mesti relakan dia raib untuk sementara.Tapi dengan apa saya tandai usia 27? Ah, aku tidak boleh pilih kasih. Setiap huruf dan tanda baca punya kekhususan masing-masing. Biarlah kali ini tak ada tanda. Aku perlu waktu untuk jalan-jalan sejenak keluar rumah. Biar tidak narsis. Biar tidak seperti kodok dalam tempurung. Biar mataku belajar melihat bahwa di luar sana ada banyak rumah buku yang indah. Biar aku bisa belajar menata rumah sendiri. Maka aku pun jalan-jalan dan mampir di pondok puisi Mas Joko. Ah, lama tak mampir, Mas Joko tetap menyambut hangat seperti biasa. Saya disuguhi segelas sajak. Ini dia: Selamat Ulang Tahun, Buku Selamat ulang tahun, buku. Makin lama kau makin kaya saja. Tambah cerdas pula. Aku saja yang tambah parah dan sekarang mulai pelupa. Maaf, aku tidak bisa kasih hadiah apa-apa selain sejumlah ralat dan catatan kaki yang aku tak tahu akan kutaruh atau kusisipkan di mana. Sebab kau sudah pintar membaca dan meralat dirimu sendiri. Kau bahkan sudah tidak seperti dulu ketika aku berdarah-darah menuliskanmu. Dan aku agak curiga jangan-jangan kau (pura-pura) pangling dengan saya. Selamat ulang tahun, buku. Anggap saja aku kekasih atau pacar naasmu. Panjang umur, cetak-ulang selalu! (Joko Pinurbo, 2003)

Fian Paju

/fianpaju

TERVERIFIKASI (HIJAU)

__ sedang menunaikan ibadah mengetik kata.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?