Saya Malu Sama Dewa Gilang

12 Juni 2012 13:24:18 Dibaca :

Perkenalan saya dengan Dewa Gilang terjadi ketika rame-ramenya membahas pertikaian yang terjadi di persepakbolaan Indonesia, apalagi kalau bukan antara IPL dan ISL. Saya dan Dewa Gilang memang berbeda pendapat. Dia mendukung IPL, sedangkan saya mendukung ISL. Tapi salutnya, dia selalu bilang, "Tolong kritisi saya ya kak!"

Ah ............, panggilan inilah yang membuat saya tersanjung. Ternyata menurut pengakuannya, dia baru berumur 15 tahun. Sejak umur 9 tahun, dia sudah mengagumi pemikiran Gus Dur. Wah, hebat betul. Waktu itu sebenarnya saya kurang percaya. Tapi mungkin saya termasuk orang yang suka memendam perasaan. Dan saya pun tak juga mempertanyakan kebenarannya, baik langsung ke orangnya, atau dengan memposting tulisan. Biarlah itu menjadi pikiran saya yang terus terpendam.

Tapi ternyata di kemudian hari, banyak tulisan para kompasianer yang mempertanyakan kebenaran akun Dewa Gilang. Ada yang menyerangnya dengan mengatakan bahwa dia menggunakan akun fiktif (palsu). Tidak mungkin orang seumur dia (15 tahun) mempunyai pemikiran yang begitu luas. Pemikiran dia bukan saja pemikiran orang dewasa, tapi lebih sebagai pemikiran orang dewasa yang memiliki intelektualitas tinggi. Dan kehadirannya di kompasiana yang baru sebentar, ternyata telah menelurkan lebih dari seratus tulisan. Sangat hebat .......! Jika benar dia baru berumur 15 tahunya, pastilah dia seorang kutu buku. Tapi ada beberapa kompasianer yang membelanya. Para pembelanya mengatakan, tak usahlah kita mempertanyakan umurnya, tapi bacalah apa yang dituliskannya.

Selama ini saya memang tak pernah mempermasalahkan umurnya. Saat itu saya percaya saja bahwa dia umurnya masih 15 tahun. Tapi meskipun begitu, saya tak pernah meremehkan dia. Dalam perbincangan di ruang komentar, saya tetap memanggilnya dengan Mas Dewa Gilang. Yah, saya memang selalu menghormati siapa pun dengan panggilan Pak, Bu, Mas atau Mbak.

Tapi pernah satu kali saya mengungkapkan kalimat yang "meremehkan" dia. Dalam hal ini karena saya memandang dia yang masih muda, dan "mungkin belum tahu banyak hal tentang arti kedewasaan". Hal ini terjadi dalam perbincangan di tulisan dia yang berjudul "Wooiii Komapsianers! Ada Yang Bisa Jelasin Musik Setan Itu Apaan Ya?". Dalam tulisan dia yang menyatakan ketidaksetujuannya dia tentang adanya musik setan, dia sempat menyindir saya tentang "pertobatan" saya untuk menjauhi musik setan karena membaca majalah rohani Kristen (padahal saya muslim). Mungkin dia menganggap saya naif dengan "pertobatan" itu.

Setelah sekian kali saling bertukar komentar di tulisan tersebut, akhirnya saya mengatakan,

"Itu juga yang saya rasakan dulu waktu masih muda. Menyukai lagu-lagu cadas dan menjauhi lagu-lagu religius. Tapi itu masa lalu. Seiring bertambahnya kedewasaan, apalagi jika sudah berkeluarga, anda pasti akan merasakan arti kembali ke fitrah manusia".

Ah, saya telah menganggapnya sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang kedewasaan. Atau mungkin itu adalah jawaban pamungkas saya akibat kewalahan dengan kepandaiannya dalam berdiskusi? Saya jadi malu, karena ternyata dia sangat pintar dan punya intelektualitas yang tinggi. Terus terang saya mengakui, intelektualitas saya jauh di bawah dia.

Dalam kebimbangan saya yang masih mempertanyakan usia dia sebenarnya, saya juga tetap malu seandainya dia orang dewasa yang membuat akun fiktif (palsu) bernama Dewa Gilang. Jika dia ternyata orang dewasa, berarti saya telah menganggap orang dewasa sebagai anak kecil yang belum memahami arti kedewasaan.

Akhirnya saya harus sadar. Tidak usahlah mempertanyakan siapa sebenarnya Dewa Gilang. Bahkan terus terang saya ingin belajar dari Dewa Gilang. Meskipun dia seorang NU, dan saya warga Muhammadiyah, itu tak akan menghalangi saya untuk belajar dari dia. Dan saya pun tidak boleh merasa tua untuk terus belajar.

Dewa Gilang, siapa pun anda, saya salut .....................

Farid Wadjdi

/farid_wadjdi

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Lulusan arsitek yang bekerja di perusahaan kontraktor nasional.
Mengelola blog "Arsikons - Arsitektur dan Konstruksi", yang mencoba berbagai referensi dan pengalaman di bidang arsitektur dan konstruksi.

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?