Kereta Sudah Lewat

23 September 2012 18:12:22 Dibaca :
Kereta Sudah Lewat

Jika kekasih masa lalu datang padamu, setelah engkau menikah dan menyatakan perasaannya padamu bahwa ia sangat mencintaimu. Maka lupakanlah.

Jika ia berkata, bahwa dulu ia terlambat datang kepada orang tuamu karena ia belum siap mengambilmu menjadi istrinya tanpa komitmen apa pun. Maka abaikanlah.

Kereta sudah lewat.....

Saya teringat sebuah cerita kegalauan seorang teman, ketika kekasih masa lalunya hadir kembali dalam kehidupannya. Keduanya telah menikah. Pertemuan diantara mereka sangat klasik, melalui reuni teman-teman SMA. Akhirnya, kisah itu tersambung kembali tanpa sepengetahuan pasangan masing-masing. Semakin intens mereka berbagi pikiran dan perasaan dengan berbagai cara, melalui chatting, telefon, pertemuan diam-diam, dan lainnya. Pertemuan-pertemuan ini membuat pikiran mereka semakin tidak menentu. Ada perasaan bersalah yang sangat luar biasa menikam perasaan hati teman saya. Situasi ini tak pernah ia rencanakan. Bagaimana pun, dan dalam keadaan apa pun, ia ingin menjadi istri yang sangat setia untuk suaminya. Sekali pun suaminya bukan sosok yang sempurna, tetapi mereka sudah hidup bersama belasan tahun lamanya. Ia merasa gelap mata, akal serasa mati, dan otak pun serasa tumpul. Tetapi, mengapa sang mantan seakan memiliki daya magnet yang luar biasa untuk mengobrak-abrik perasaannya untuk hanyut pada kisah-kisah lama.

Ia mulai membandingkan antara suaminya dengan mantan kekasih, dan ia merasa lebih banyak kelebihan-kelebihan kekasih masa lalunya dibanding dengan suaminya. Perasaan itu semakin hanyut tatkala ia berkata bahwa ia masih mencintainya, dan ia begitu menyesali membiarkannya menikah dengan suaminya.

Merenung

Saya merenung mendengarkan kisah ini. Sekali pun saya tidak setuju dengan tindakan-tindakannya, tetapi hal seperti ini dapat menimpa siapa saja, termasuk saya sendiri. Seandainya itu terjadi pada saya, apa yang akan saya lakukan ?

Pertama, saya akan ingat kepada anak-anak. Dalam setiap drama perselingkuhan yang akan menjadi korban utama adalah anak-anak. Tak terbayang, alangkah pedihnya hati anak-anak karena merasa dikhianati, perasaan malu yang tiada terkira mendapati ibu atau ayahnya bukanlah orang yang setia pada keluarga. Untuk setiap perasaan yang dikhianati akan ada kemarahan dan dendam dihati anak-anak. Saya akan begitu khawatir, ketika suatu saat kelak dihari tua, ketika tubuh ini sudah lemah, sakit-sakitan dan tak berdaya terjadi pembiaran dari anak-anak. Disamping itu, perselingkuhan akan meninggalkan contoh buruk dan tragedi bagi perkembangan psikis anak-anak.

Kedua, saya akan ingat kepada suami. Bahwa, ketika kekasih lama yang katanya sangat mencintai itu tak pernah datang untuk meminang dan memberi kepastian. Hanya dia yang menjadi suami saya yang berani datang memberi kepastian dan mengambil tanggung jawab dan mengambil seluruh beban itu di pundaknya. Ketika saya menemukan kekurangannya, yah..impas saja, karena saya pun bukan sosok yang sempurna. Banyaknya kekurangan yang ditemui membuat sama-sama belajar menyikapi dan menahan diri agar kekurangan itu tidak menjadi pertengkaran. Mungkin, saya akan lebih suka memilih mengalah dibandingkan bertengkar. Dalam rumah tangga, tak ada yang kalah dan yang menang, karena rumah tangga bukan arena kompetisi suami-istri.

Ketiga, saya bertaruh kehormatan dihadapan keluarga dan masyarakat. Seorang peselingkuh biasanya menjadi bahan gunjingan dan cibiran masyarakat, dan saya tak sanggup menanggung hujatan-hujatan ini. Dan tentu agar telinga tak mendengar semua ini berarti saya bersembunyi misalnya ke hutan rimba Amazon sana bersama mantan kekasih. Dan setelah melalui rasa penasaran hidup bersama, saya percaya bahwa saya akan menemukan kekurangan-kekurangannya dia. Boleh jadi kekurangannya bahkan lebih parah dibandingkan dengan suami saya sebelumnya. Ketika ia sanggup mengkhianati istrinya, berarti ia akan sanggup pula mengkhianati saya. Dan diantara kami pasti akan selalu mewaspadai satu sama lain. Saya percaya, kerinduan kepada anak-anak akan jadi siksaan terberat dalam hidup saya. Dan saya akan merindukan keluarga lama kembali bersama suami sebelumnya dan anak-anak saya. Artinya, saya tak akan menemukan kebahagiaan dengan suami baru, dalam jangka panjang.

Keempat, saya takut pada Tuhan. Bagaimana saya harus mempertanggung jawabkan kelak di akhirat atas semua ini. Pernikahan disebut dalam Qur'an adalah perjanjian agung. Setiap pengingkaran atas perjanjian itu adalah pengkhianatan. Dan saya tak sanggup berjalan kehadapan Tuhan mempertanggung jawabkannya.

Kereta Sudah Lewat

Akhirnya saya melihat, perselingkuhan itu benar-benar kebahagiaan yang  fatamorgana. Tak akan pernah diberkati sebuah pernikahan hasil dari perselingkuhan, karena mereka sama-sama telah mendzalimi anak-istri-suami masing-masing .

Benar, untuk apa merajut kembali kisah masa lalu. Kereta sudah lewat....

_______

Bandung, 23 September 2012

Sumber gambar : www2.oparana.com.br

Erna Suminar

/ernasu

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Aku ingin.....
melihat hidup sebagai perayaan,
bukannya beban.

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?